Breaking News

Cara penggunaan pestisida tanaman organik

Bertanam secara organik sangat erat hubungannya dengan pestisida organik. Karena pestisida non-organik (kimia) sama sekali tidak boleh digunakan dalam bertanam secara organik. Berikut ini diberikan beberapa contoh pestisida organik yang sering digunakan oleh para petani yang melakukan cara tanam secara organik.

Pada dasarnya, pestisida organik tersebut dibuat dari ekstrak daun-daunan, terutama terutama yang pahit direndam dalam air, lalu disemprotkan. Cairan tersebut juga dapat berfungsi sebagai pupuk daun. Ada tiga ramuan yang digunakan ialah sebagai berikut.

membuat cairan pestisida

1. Ramuan A

Bahan-bahan pada daftar berikut tidak harus ada semua, tetapi semakin banyak bahannya, semakin baik hasilnya.
  1. Daun kumis kucing satu genggam besar.
  2. Daun mangkokan satu gemgam besar.
  3. Daun gingseng (Indonesia) satu genggam besar.
  4. Daun sirsak satu genggam besar.
  5. Daun bunga matahari satu genggam besar.
  6. Daun ketepeng kebo satu genggam besar.
  7. Daun sampang satu genggam besar.
  8. Daun dan buah pace (mengkudu) satu genggam besar.
  9. Daun awar-awar satu genggam besar.
  10. Daun johar satu genggam besar.
  11. Daun senggugu satu genggam besar.
  12. Daun midi satu genggam besar.
  13. Daun tembakau satu genggam besar.
  14. Daun kelor satu genggam besar.
  15. Daun nimba satu genggam besar.
  16. Buah lerak lebih kurang 10-20
  17. Umbi gadung lebih kurang 1 umbi tergantung besarnya.
  18. Batang dan daun brotowali satu genggam besar
  19. Buah dan daun mahoni satu genggam besar.
  20. Buah dan daun pepaya satu genggam besar.
  21. Buah dan daun mahkota dewa satu genggam besar.
  22. Akar tuba 1-5 akar.
Bahan-bahan tersebut kemudian direndam dalam drum ukuran 200 liter dengan air lebih kurang 100 liter, lalu ditambahkan garam lebih kurang 0,05 kg, kapur lebih kurang 1 kg, dan pupuk kandang lebih kurang 5 kg. Semua bahan tersebut diaduk merata, lalu dibiarkan selama 2-4 minggu. Bila akan digunakan, ambil air 1 liter cairan rendaman tersebut, lalu disaring dan dicampur (diencerkan) dengan 9 liter air.

2. Ramuan B

Kunyit sebanyak 1 kg diparut (diblender), dimasukkan dalam 10 liter air, lalu didiamkan beberapa minggu. Bahan ini kemudian dicampur dengan ramuan A dengan perbandingan 1:2. Bila akan digunakan, campuran tersebut diencerkan dengan perbandingan 1 bagian air bahan : 5 bagian air bersih, kemudian disemprotkan. Ramuan ini dapat berfungsi sebagai insektisida, fungisida, maupun sebagai pupuk daun.

3. Ramuan C

Bubur tepung belerang sebanyak 100 g ditambahkan 100 g bubur kapur direbus dalam 2 liter air. Kemudian, bahan disaring dan cairannya dicampur dengan 1 liter ramuan B, 2 liter ramuan A, dan 5 liter air bersih.

Ramuan ini dapat dipergunakan untuk menghalau tikus, walangsengit, belalang, kumbang kayu, lalat, dan lain-lain. Pisang yang terserang penyakit layu dapat diberi campuran ramuan A, B, dan C serta ditambah tepung belerang (bubur belerang). Pemberian lewat bonggol (pangkal) pisang yang telah dilubangi. Dengan demikian, anakan pisang akan sehat tidak terserang penyakit lagi.

Baca juga : Cara menanam wortel

Pestisida organik dalam buku natural crop protection

Dalam buku natural crop protection, diulas beberapa pestisida organik yang dapat digunakan dalam pertanian organik, seperti urin sapi, kotoran sapi, dan abu kayu. Selain itu, juga diulas mengenai cara menangkap ulat tanah dan lalat buah.

1. Urin sapi

Urin sapi dapat dipergunakan untuk mengendalikan hama serta penyakit yang disebabkan cendawan dan virus. Urin sapi dikumpulkan dalam satu bak terbuka dan dibiarkan selama 2 minggu terkena sinar matahari. 

Secara umum, Pada waktu akan disemprotkan, urin diencerkan dengan air, perbandingan 1:6 untuk sayuran, konsentrasi yang terlalu tinggi dapat menyebabkan daun terbakar. Perbandingan yang tepat biasanya akan diperoleh setelah berpengalaman. Contoh dosis lainnya, yaitu sebagai berikut :

  • Perbandingan 2 bagian air : 1 bagian urin dapat mengakibatkan aphid mati lebih kurang 60%, dan ulat tomat mati lebih kurang 10%.
  • Bila urin tidak diencerkan, aphid yang mati lebih kurang 95%, ulat mati lebih kurang 67%, dan laba-laba lebih kurang 83%. Karena bila tidak diencerkan dapat merusak tanaman, sebaiknya urin diencerkan dengan perbandingan 1:1.
  • Urin yang ditambah dengan kunyit, nimba, dan tembakau dapat digunakan untuk mencegah virus mosaik bila disemprotkan 2-3 kali setiap minggu.

2. Kotoran sapi

Kotoran sapi kering lebih kurang 3 genggam besar dapat dicampur dengan 10 liter air dan setiap hari diaduk selama 14 hari. Untuk mengurangi bau, dapat ditambah tepung tanah liat atu tepung batu serta mineral-mineral. 

Sesudah lebih kurang 2 minggu, cairan kotoran sapi dapat diencerkan dengan air 3-5 kali, kemudian dapat disemprotkan pada tanaman untuk mencegah kerusakan (gangguan) dari binatang dan dapat berfungsi sebagai pupuk.

3. Abu kayu

Ada empat macam ramuan yang menggunakan abu kayu, yaitu sebagai berikut:
  • Setengah cangkir abu kayu, setengah cangkir kapur, dan 4 liter air dicampur sampai merata lalu didiamkan beberapa jam. Setelah itu disaring dan dapat disemprotkan untuk mengendalikan kumbang mentimun atau larvanya.
  • Enak sendok minyak tanah dicampur dengan 1 kg abu kayu dapat digunakan untuk mencegah serangga pengisap. Caranya dengan menaburkan campuran tersebut pada pagi hari seminggu dua kali. Sebaiknya jangan menggunakan abu dari sabut atau tempurung kelapa karena dapat merusak daun.
  • Abu kayu juga efektif mengendalikan cendawan, seperti busuk daun, jamur makan penuh abu kayu dimasukkan dalam 1:1 air dan diaduk, kemudian dibiarkan semalam. Esoknya, campuran tersebut disaring dan dicampur dengan sour milk atau butter milk. Sebelum disemprotkan, laurtan ini diencerkan 3 kali dengan air. Namun, alangkah baiknya bila keefektifan larutan dicobakan pada beberapa tanaman.
  • Abu kayu yang ditaburkan atau dilarutkan dahulu dapat juga digunakan untuk mengendalikan larva terowongan daun.

4. Umpan ulat tanah 

Ulat tanah yang banyak menyerang tanaman dapat dikendalikan dengan campuran serbuk gergaji, sekam, dan molase (tetes) dengan perbandingan yang sama, lalu diberi air sehingga menjadi campuran yang lengket.

Campuran tersebut pada waktu senja diletakkan di daerah yang banyak diserang ulat tanah . Molase akan mengundang ulat tanah. Ulat tanah yang lewat akan lengket pada campuran molase. Ulat tidak dapat bergerak dan molase akan mengeras. Pada pagi hari, ulat akan mati terkena sinar matahari.

5. Perangkap lalat buah

Lalat buah banyak menyerang tanaman sayuran yang menghasilkan buah. Lalat buah tersebut dapat ditangkap dengan memasang alat perangkap. Alat tersebut berupa botol minuman mineral yang mulutnya dibali. 

Di dalamnya diberi cairan yang dapat merangsang lalat buah masuk ke dalam botol. Cairan tersebut diperoleh dari kulit jeruk atau kulit/ daging mentimun, ditambah 100 cc urin dan 500 cc air yang telah dicampur rata dan didiamkan semalam, lalu diencerkan dengan 1 liet air.


Sumber : Singgih Sastradiharja

Type and hit Enter to search

Close