Breaking News

Cara menanam wortel organik

menanam sayuran wortel

Wortel merupakan tanaman sayuran umbi akar yang rasanya manis karena mengandung zat gula dan telah lama dikenal. Karena rasanya yang manis menyebabkan wortel disukai banyak orang. Wortel dapat digunakan sebagai sayuran, acar, maupun minuman dengan cara dibuat juice dan dicampur dengan jeruk.

Biji wortel mengandung minyak esensial yang dapat diambil. Minyak ini dapat dipakai sebagai pemberi aroma dalam pembuatan parfum dan masakan. Di samping bijinya, daun muda wortel dapat disayur, sedangkan daun tuanya dapat dijadikan makanan ternak.

A. Varietas wortel

Wortel termasuk famili Umbelliferae (Apiaceae) yang anggotanya mempunyai bunga berbentuk payung. Tanaman wortel yang dibudidayakan yang berbunga karena sebelum bunga muncul, umbi wortel telah dipanen.

Umbi wortel sebenarnya adalah akar tunggang yang menebal dan berisi cadangan makanan. Mulanya akar ini berwarna putih, kemudian berubah menjadi kuning pucat, dan akhirnya menjadi oranye tua. Bentuk dan ukuran umbi ini tergantung dari varietas, kesuburan tanah, iklim, dan hama serta penyakit.

Terdapat beberapa macam varietas wortel, seperti Chantenay Red Cored, Royal Chantenay, Chantenay, Nantes, Yates Topweight, Yates Manchester Table, Redheart, Midway, Egmont Gold, Danvers Half Long, Flakkee, dan Burpee's Goldinhart. Dari varietas-varietas tersebut, varietas yang umum ditanam di Indonesia ialah Chantenay dan Nantes.

Varietas Chantenay memiliki umbi berbentuk kerucut, dengan bagian pangkal yang besar, garis tengahnya lebih kurang 6 cm, panjangnya lebih kurang 17 cm, dan berwarna oranye. Umbi ini dapat dipanen pada umur lebih kurang 70 hari. Sedangkan varietas Nantes memiliki umbi berbentuk silindris, bagian ujung tumpul, bergaris tengah lebih kurang 3-4 cm, panjang lebih kurang 16-19 cm, berwarna oranye, dan rasanya manis. Umur panen sekitar 2-3 bulan.

B. Syarat tumbuh

Salah satu yang mendukung pertumbuhan semua jenis tanaman adalah keadaan lingkungannya. Oleh karenanya, syarat tumbuh tanaman wortel perlu diketahui. Untuk tanaman wortel, tanah dan iklim menjadi bagian yang penting dalam mempengaruhi pertumbuhannya.

1. Syarat tanah

Untuk menhasilkan umbi yang berkualitas baik, tanaman wortel memerlukan tanah lempung yang berpasir, gembur, tidak tergenang air, dan pH sekitar 6,5. Bila ditanam di tenah dengan pH kurang 5,0 dapat dikatakan tidak akan ada panen atau umbinya kecil-kecil.

2. Syarat iklim

Tanaman wortel akan tumbuh baik bila ditanam di daerah dengan ketinggian lebih dari 1.000-1.500 m dpl (di atas permukaan laut). Kebutuhan suhu tanaman wortel sekitar 15-21 derajat celcius.

Penanaman wortel di lingkungan dengan suhu 10-15 atau 21,1 - 26,6 derajat celcius akan menghasilkan warna umbi yang kurang baik. Berdasarkan ketinggian tempat dan suhu ideal di atas tanaman wortel saat ini banyak ditanam di daerah pegunungan, seperti di punjak (jawa barat), Kopeng, Ngablak, Tawangmangu (Jawa Tengah), dan Kaliurang (Yogyakarta).

Tanaman wortel dapat ditanam pada waktu musim kemarau asal dilakukan penyiraman. Penanaman pada saat musim hujan diusahakan agar air tidak tergenang. Genangan air akan menyebabkan tanah menjadi asam sehingga umbi akan mejadi kecil dan pendek sehingga tanaman menjadi kerdil atau bahkan bisa mati.

Baca juga : Cara bertanam terung ungu

C. Cara menanam wortel secara organik

Cara menanam wortel secara organik dapat dilakukan secara mookultur atau secara polikultur. Contohnya tanaman yang biasanya ditanam bersama-sama wortel kubis dan daun bawang. Kedua jenis tanaman tersebut berbeda famili dengan wortel. Kubis termasuk famili Cruciferae, sedangkan daun bawang termasuk famili Alliaceae.

1. Pengolahan tanah dan pembuatan bedengan

Pengolahan atau pencangkulan tanah dilakukan hingga kedalaman 40 cm atau lebih. Setelah itu, tanah dibiarkan terkena sinar matahari untuk membunh hama dan penyakit serta untuk pertukaran udara.

Selanjutnya, bedengan dibuat dengan tinggi sekitar 15-20 cm, lebar 100-200 cm, dan panjang 10-15 m atau disesuaikan dengan kondisi lahan. Jarak antarbedengan sekitar 40-50 cm. Pada tanah miring, bedengan dibuat tegak lurus dengan kemiringan tanah untuk mengurangi erosi.

2. Jarak tanam dan pemupukan dasar

Penanaman wortel umumnya berjarak satu sama lain 40 cm x 5 cm. Apabila ditanam kubis adapun jarak antara tanaman kubis yang satu dengan yang lain sekitar 60 cm. Apabila ditanam bersamaan daun bawang, jarak tanam antara daun bawang dengan wortel 40 cm. Daun bawang dapat ditanam di tengah bedengan atau di antara barisan tanaman wortel.

Pada bedengan, dibuat beberapa parit dengan lebar lebih kurang 15 cm dan kedalaman lebih kurang 25 cm serta jarak 40 cm. Parit tersebut diisi dengan pupuk kandang atau kompos dan abu bakar organik sebanyak 1 genggam untuk barisan sepanjang 10 m. 

Abu diberikan sebagai sumber unsur kalium. Unsur ini dibutuhkan wortel lebih banyak dibandingkan unsur yang lainnya. Di atas pupuk, diberi tanah yang kemudian dicampur hingga rata. Jika memungkinkan, di atas bedengan disiram air limbah ternak atau air septic tank.

3. Cara dan waktu penanaman

Wortel pada umumnya yang ditanam adalah bijinya secara langsung. Apabila disemai dahulu, umbi wortel dapat bercabang. Penanaman dimulai dengan membuat garis memanjang pada barisan yang telah diberi pupuk dan abu. Di atasnya lalu ditaburkan biji wortel yang telah dicampur dengan abu atau kompos halus.

Perlunya biji dicampur dengan abu atau kompos agar penebarannya dapat merata dan tidak berhimpitan tumbuhnya. Untuk barisan sepanjang 10 m, dibutuhkan biji wortel sebanyak 2 gram. Selesai ditabur, biji ditutup dengan kompas atau abu halus setebal lebih kurang 1 cm, kemudian disiram hingga basah. 

Setiap hari bedengan disiram agar tidak kekeringan. Penyiraman yang terlambat dapat menyebabkan biji tidak tumbuh. Apabila daya kecambah masih baik, biji akan mulai berkecambah sekitar satu minggu kemudian.

4. Cara pemeliharaan

Beberapa pemeliharaan rutin yang dilakukan untuk mendukung pertumbuhan tanaman wortel antara lain sebagai berikut:
  • Penyiraman terus dilakukan hingga biji tumbuh (berkecambah).
  • Penjarangan dilakukan untuk tanaman yang tumbuh rapat sehingga diperkirakan jarak tanamnya 5 cm. Tanaman yang akan dipindahkan dicabut secara hati-hati dan diusahakan agar akarnya tidak putus. Akar yang terputus dapat menyebabkan umbi bercabang. Selesai dipindahkan, tanaman diberi penutup untuk mengurangi penguapan dan disiram.
  • Adanya gulma perlu dicabut agar tidak menjadi pesaing tanaman wortel dalam menyerap unsur hara.
  • Apabila pangkal umbi kelihatan di atas tanah segera dilakukan pembunuhan. Jika terkena sinar matahari, umbi akan berwarna hijau sehingga kualitasnya rendah.

5. Cara pengendalian hama dan penyakit

Setiap hari, tanaman wortel diperiksa keadaannya, apakah ada serangan hama dan penyakit atau tidak. Apabila terjadi serangan segera dilakukan pengendalian.

a. Kutu daun (aphid wortel)

Kutu daun menyerang tanaman pada waktu masih muda maupun setelah dewasa. Kutu yang hidup berkelompok di balik daun ini menghisap cairan sel. Akibatnya, daun menjadi kuning kehijauan da mengeriting, lalu tanaman menjadi kerdil. 

Kutu daun dapat menjadi vaktor (pembawa) virus. Kutu daun menyerang segala macam tanaman. Upanya pengendalian yang dapat dilakukan untuk mengatasi kutu daun dengan cara disemprot dengan insektisida organik atau tanaman yang sakit dicabut dan dibakar.

b. Lalat wortel

Lalat wortel (Psila rosae Feb). menjadi hama pada saat fase larva. Larva akan melubangi dan masuk ke dalam umbi sehingga umbi akan membusuk. Pengendalian yang dapat dilakukan untuk mengatasi hama lalat wortel dengan cara sebagai berikut.

  1. Diadakan rotasi tanaman dengan tanaman yang bukan termasuk famili Umbelliferae.
  2. Disemprot dengan menggunakan insektisida organik.
  3. Tanaman wortel yang telah terserang berat dicabut dan dibakar atau dimasukkan ke dalam kompos yang masih panas.
c. Penyakit tepung

Etysphe umbelliferarum merupakan penyebab penyakit ini. Gejalanya, permukaan daun kelihatan seperti diselimuti bulu halus, tipis, dan berwarna putih. pada serangan yang berat, daun akan diselimuti tepung yang akan berhamburan bila tertiup. Serangan ini biasanya terjadi bila udara kering dan panas. Karena tertutup tepung, daun tidak dapat berfotosintesis sehingga daun akan mati.

Upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dihembus tepung belerang, dan disemprot dengan bubur kalifornia. Bubur kalifornia dibuat dengan campuran 100 g kapur tohor (CaO), 200 g tepung belerang, dan 1 liter air. Cara membuatnya sebagai berikut:

  1. Kapur dimasukkan dalam kaleng A, lalu dicampur air sedikit demi sedikit sampai menjadi bubur.
  2. Sisa air yang ada dididihkan, lalu diambil 200 cc. Kemudian, masukkan tepung belerang dan aduk hingga menjadi bubur.
  3. Campurkan bubur kapur ke dalam kaleng B yang berisi tepung belerang sedikit demi sedikit sambil diaduk, dan masukkan sisa air yang mendidih.
  4. Campuran tersebut direbus dan air dipertahankan selalu 1 liter, bila kurang ditambah air panas.
  5. Setelah mendidih selama 1 jam, didinginkan dan disaring dengan kertas filter. Cairan jernih berwarna cokelat tersebut harus diencerkan sebelum digunakan, yaitu tiap 100 cc ditambah 3 liter air.
d. Penyakit busuk hitam

Penyakit busuk hitam disebabkan oleh jamur Altemaria duaci (Kiihn) Groves et Skolko dan A, radicma Meier, Drechs, et Eddy. Gejala serangannya terlihat ada bercak-bercak kecil, berwarna cokelat tua sampai hitam dengan tepi kuning pada daun. 

Pada serangan yang parah, daun menjadi hitan dan mati. Serangan pada tangkai daun ditandai dengan bercak memanjang seperti karat. Serangan pada umbi serngkali terlihat setelah di penyimpanan. Umbi kelihatan ada bercak bulat atau tidak teratur, cekung sekitar 1-3 mm, berwarna hitam kehijauan sampai hitam pekat.

Penyakit busuk hitam dapat dikendalikan dengan beberapa cara yaitu menanam benih yang sehat, moretasi tanaman dengan tanaman yang tidak sefamili, mencabut dan membakar tanaman yang sakit, serta menyimpan umbi dengan suhu 0-2 derajat celcius.

e. Bercak daun

Penyakit bercak daun disebabkan oleh cendawan Cercospora carotae (Pass). Solh. Gejalanya, pada daun terdapat bercak berwarna cokelat atau cokelat tua dan kelihatan ada warna keabuan karena adanya konidiofor dan konidium.

Bercak berbentuk bulat atau memanjang. Bercak lalu mengering dan mati mulai dari bagian tengah. tangkai yang terserang ada garis memanjang atau melingkar. Penyakit ini dapat menyebabkan daun menjadi mati.

Cara mengendalikan yang dapat dilakukan antara lain menanam biji yang sehat, melakukan rotasi tanaman dengan tanaman yang tidak sefamili, serta mencabut dan membakar tanaman yang sakit.

f. Busuk hitam umbi wortel

Sebagai penyebab penyakit busuk hitam ini adalah jamur Stemphylium radicinum. Umumnya serangan terlihat di penyimpanan. Gejalanya yaitu adanya bercak cekung berwarna hitam pada umbi wortel. 

Serangan yang hebat akan menyebabkan kerusakan pada umbi wortel. Jamur ini juga menyebabkan semai roboh jika biji yang disemai telah membawa bibit penyakit. Beberapa upaya untuk mengendalikan penyakit busuk hitam dengan cara biji yang sehat dan dilakukan sortasi untuk memisahkan umbi yang sakit dan umbi yang sehat.

g. Busuk lunak bakteri

Penyebab penyakit lunak bakteri adalah Erwinia carotovora pv carotovora (Jones) Holland. Bakteri ini menyebabkan busuk lunak pada umbi dan akar wortel. Penyakit ini juga menyerang mentimun, cabai, kentang, bawang merah, kubis, sawi, daun tomat.

Penyakit busuk lunak dapat dikendalikan dengan cara sebagai berikut:

  1. Sisa-sisa tanaman sakit dibersihkan dan dibakar atau dimasukkan di tengah kompos yang panas.
  2. Pada musim hujan, jarak tanam sedikit diperlebar untuk menghindari kelembapan yang tinggi.
  3. Hindari terjadinya luka pada waktu perawatan.
  4. Setelah panen, umbi dicuci dengan air bersih.

6. Cara panen wortel

Pada umumnya, wortel dipanen sekitar umur 3-4 bulan, tergantung varietasnya. Saat panen yang tepat yaitu saat umbi tidak terlalu tua atau terlalu muda. Bila panen terlalu tua atau tanaman sudah mulai berbunga, umbi telah keras atau berkayu. Bila panen terlalu muda, ukuran umbi lebih kecil.

Panen perlu dilakukan secara hati-hati agar umbi tidak rusak atau cacat. Sebaiknya tanah digemburkan lebih dahulu, lalu umbi dicabut atau dapat juga menggunakan bantuan garpu.

7. Penanganan pascapanen

Umbi yang masih berbalut tanah setelah panen perlu diberi perlakuan sebelum dijual. Perlakuan pascapanen tersebut sebagai berikut:
  1. Setelah dikumpulkan, umbi dicuci bersih dengan air mengalir. Pada saat ini dapat dilakukan seleksi, yaitu memisahkan umbi yang sehat dengan umbi yang sakit. Setelah bersih, umbi ditiriskan di atas para-para hingga kering.
  2. Bila tempat penjualan tidak terlalu jauh, umbi diikat bersama daunnya dengan berat sekitar 1,1-1,3 kg.
  3. Jika tempat penjualannya jauh, daun dipotong sampai pangkal, demikian juga ujung umbi yang kecil. Ini dilakukan untuk memudahkan dan meringankan saat pengangkutan.
Pemilihan jenis pasar mempengaruhi kualitas dan kemasan. Apabila akan dipasarkan di pasar tradisional, semua kualitas umbi dapat diterima konsumen dan tidak memerlukan pengemasan khusus. Namun, jika dipasarkan ke pasar swalayan, umbi harus dipilih yang berkualitas baik dan dikemas dengan plastik berukuran berat 250 g, 500 g, atau 1000 g.


Sumber : Singgih Sastradiharja

Type and hit Enter to search

Close