Breaking News

Bertanam terong ungu

teknik menanam terong

Pada umumnya, buah terong banyak dimanfaatkan untuk sayuran, namun ada juga beberapa varietasnya yang digunakan untuk obat-obatan dan untuk menjarangkan kelahiran (kontrasepsi). Bentuk dan ukuran buah terong juga bermacam-macam, tergantung varietasnya. Oleh karena itu, perlu mengetahui varietas terong dan bertanam terong ungu di Indonesia sebelum memulai menanamnya.

A. Varietas terong

Terong termasuk dalam famili Solanaceae. Tanaman yang pertama kali dikembangbiakkan di India ini mempunyai tiga varietas, yaitu:

1. Solarium molongena var. esculentum Bailey

Varietas ini umumnya disebut terung. Buahnya berbentuk bulat telur; memanjang; ujungnya tumpul; dan berwarna putih, putih kekuningan, putih kehijauan, hijau muda, hijau tua, atau ungu.

2. Solanum melongena var. serpentinum Bailey

Terong ini juga disebut terung ular karena panjang dan menyerupai ular. Buahnya bergaris tengah lebih kurang 2,5 cm dengan panjangnya 30-40 cm bagian ujung biasanya membengkok, dan berwarna ungu.

3. Solanum melongena var. depressum Bailey

Varietas ini dikenal juga sebagai terong bulat ungu atau terong maya. Bentuknya berupa semak pendek, bercabang banyak yang mendatar. Buahnya berbentuk bulat, berwarna ungu saat masih muda dan kuning setelah tua.

Selain ketiga varietas di atas, ada tanaman yang sosoknya mirip dengan terung, hanya buahnya berukuran kecil dan banyak. Tanaman tersebut dikenal dengan nama cepokak atau tekokak. Buah cepokak dapat dilalap maupun dimasak untuk sayur. Batangnya kadang digunakan untuk batang bawah sambungan terung dan tomat.

Ada jenis terong yang mempunyai manfaat untuk kontrasepsi, yaitu terong KB (Solanum laciniatum dan 5. viculare). Terong ini dapat dipergunakan sebagai kontrasepsi karena mengandung senyawa solasodin sekitar 2,0-3,5%. Buah berukuran kecil dengan garis tengah sekitar 1-2 cm, berwarna hijau kekuningan.

Baca juga : Menanam sayuran organik

B. Syarat tumbuh

Agar tumbuh dengan baik, tanaman terong yang telah disebutkan di atas perlu ditanam di tempat yang sesuai, baik iklim maupun keadaan tanahnya.

1. Syarat iklim

Tanaman terong akan berproduksi baik jika mendapatkan panas yang cukup lama, suhu 22-30 derajat celcius, dan pengairan yang cukup baik. Jika suhu di atas 33 dejarat celcius, bunga akan rontok. Demikian juga bila suhu 18-21 derajat celcius, produksi akan kurang baik. Kurangnya matahari dan banyaknya hujan dapat menyebabkan tanaman kurus dan mudah terserang hama serta penyakit.

2. Syarat tanah

Keadaan tanah yang ideal untuk penanaman terong, yaitu tanah yang remah, lempung berpasir dan cukup bahan organik. Dengan keadaan tersebut biasanya aerasi dan drainasenya baik, tidak mudah tergenang air. Sebenarnya terong dapat ditanam di segala jenis tanah, asal cukup bahan organik keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk tanaman terong sekitar 6,0-6,5.

C. Cara bertanam terong secara organik

Tahapan ketika memulai menanam terong secara organik tidak berbeda jauh dengan tanaman lainnya. Tanaman terong pun dapat ditanam secara polikultur dengan sawi, selada, atau tanaman lainnya yang tidak satu famili. Tahapan penanamannya adalah sebagai berikut:

1. Penyiapan benih dan pembibitan

mempersiapkan benih sayuran

Untuk memudahkan perawatan benih, tanaman terong sebaiknya disemai lebih dahulu. Pesemaian terong ini seperti pesemaian selada, baik wadah maupun caranya. Tempat pesemaian sebaiknya di bawah naungan untuk mengurangi penguapan dan di atas para-para untuk menghindari gangguan binatang atau genangan air.

2. Pengolahan tanah dan pembuatan bedengan

membuat bedengan untuk sayuran

Teknik pengolahan lahan sama dengan pengolahan untuk tanaman selada maupun wortel. Setelah gembur dan dibiarkan terkena sinar matahari, tanah dibuat bedengan. Ukuran bedengan dapat disesuaikan dengan lahan, misalnya 90-200 cm x 5-15 m. 

Tinggi bedengan dapat dibuat 15-20 cm, tetapi jika tanah sering tergenang air, tinggi bedengan dapat dibuat 50 cm. Apabila menggunakan mulsa plastik hitam perak (PHP), lebar bedengan sebaiknya dibuat 90-100 cm, disesuaikan dengan lebar mulsa.

Mulsa PHP telah banyak digunakan dalam budi daya karena memberikan keuntungan seperti dapat menjaga kelembapan tanah, menekan pertumbuhan gulma, mencegah erosi, dan dapat mengusir aphid. Walaupun demikian, penggunaan mulsa PHP akan menambah biaya produksi dan biaya tenaga kerja.

3. Penentuan jarak tanam dan pemupukan

Jarak tanam yang digunakan sekitar 60-70 cm x 60-70 cm. Untuk memudahkan pembuatan lubang tanam, dapat digunakan ajir. Apabila menggunakan mulsa PHP, setelah diberi tanda letak lubang tanam, mulsa dilubangi dengan menggunakan kaleng berdiameter 10-15 cm yang berisi arang panas.

Apabila penanamannya secara polikultur dengan sawi atau selada maka tanaman terong dapat ditanam 2 atau 3 baris dalam satu bedengan. Setiap hektar diperlukan pupuk kandang atau kompos sekitar 30 ton atau 1 kg per lubang tanam.

Pupuk tersebut disebar di atas bedengan atau dimasukkan ke lubang tanam. Kemudian, pupuk dicampur rata dengan tanah di bawahnya. Setelah pemupukan, bedengan dapat disiram dengan air limbah ternak atau air septic tank.

4. Cara dan waktu penanaman

Setelah umur lebih kurang 4 minggu, bibit di pesemaian dipindah ke lubang. Bibit dalam kotak pesemaian dicabut secara hati-hati dengan bantuan solet agar akar tidak rusak. Jika wadah pesemaian dari daun, bibit ditanam berserta wadahnya. Jika wadahnya kantong plastik, bibit beserta medianya dikeluarkan dari wadahnya. Setelah itu, bibit ditanam dalam lubang tanam yang telah disiapkan. 

Beri tanah di kiri dan kanan bibit,kemudian ditekan perlahan-lahan agar bibit dapat berdiri dengan kuat. Setelah selesai penanaman, bibit disiram dan ditutup dengan pelepah pisang, daun dracaena, daun kelapa, atau bambu untuk mengurangi penguapan.

5. Cara pemeliharaan

Agar tumbuh subur, setiap hari tanaman terong harus diperhatikan dan dirawat. Beberapa perawatan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Penyiraman dan pengairan

Apabila tanah kering, tanaman segera disiram. Bila dekat dengan saluran irigasi, lahan dapat dileb (digenangi) sebatas tinggi bedengan. Penggenangan lahan ini jangan terlalu lama.

b. Pemberian mulsa

Pemberian mulsa berupa dedaunan atau jerami digunakan bila bedengan tidak diberi mulsa PHP. Pemberian mulsa ini bertujuan untuk mencegah penguapan sehingga tanaman tidak kekeringan.

c. Penyulaman (penyisipan)

Tanaman yang mati, kerdil, dan tidak sehat segera diganti dengan tanaman baru supaya seragam perkembangannya. Akan tetapi, tanaman yang mati karena penyakit menular tidak perlu diganti karena tanaman baru bisa tertular.

d. Pemasangan turus (penopang)

Turus atau penopang diperlukan untuk menopang tanaman agar tidak robah pada saat berbuah. Pemasangan turus dilakukan sedini mungkin agar tidak merusak perakaran. Turus dapat dibuat dari bambu atau kayu. 

Ukuran lebar bambu atau diameter kayu lebih kurang 4 cm dan panjang lebih kurang 100 cm. Pemasangan turus pada bedengan yang menggunakan mulsa PHP perlu hati-hati agar tidak menusuk atau merusak mulsa.

e. Penyiangan dan penggemburan

Penyiangan gulma diperlukan agar tanaman dapat menyerap unsur hara yang diberikan. Pada saat penyiangan ini, biasanya dilakukan juga penggemburan tanah agar aerasi (pertukaran udara) dalam tanah tetep baik.

f. Perempelan (pengambilan tunas)

Perempelan pada tanaman terong ada dua macam, yaitu perempelan tunas dan perempelan bunga. Tunas di ketiak daun pertama sampai tunas di bawah bunga yang kedua dirempel. Tujuannya agar percabangan yang terbentuk tidak terlalu di bawah.

Perempelan dilakukan sedini mungkin, sebelum tunas membesar. Perempelan bunga dilakukan pada bunga pertama. Biasanya setelah perempelan, bunga selanjutnya akan tumbuh dengan cepat.

g. Pemupukan

Tanaman dapat diberi pupuk dari limbah ternak bila penanamannya menggunakan mulsa PHP. Kalau terlalu pekat, pupuk tersebut diencerkan dengan penambahan air bersih. Tanaman yang tidak menggunakan mulsa dapat dipupuk kembali dengan pupuk kandang atau kompos. Pemupukan ini dilakukan pada saat tanaman berumur 1,5-2 bulan.

Baca juga : Agribisnis tanaman pangan

6. Cara pengendalian hama dan penyakit

Pada saat melakukan kegiatan pemeliharaan, kesehatan tanaman juga harus diamati sehingga adanya hama atau penyakit dapat diketahui lebih dini.

a. Kumbang daun hitam kehijauan (Epitrix parvula F.)

Serangga kumbang ini dapat menyebabkan daun berlubang kecil-kecil sehingga kelihatan tanaman semai menjadi kerdil dan bunga banyak yang berguguran pada tanaman dewasa sehingga produksi berkurang.

Kutu daun ini dapat dikendalikan dengan cara mekanis, yaitu menggunakan corong lampu yang bagian dalamnya diberi minyak tanah. Kemudian, corong ini ditutupkan pada kumbang. Kumbang akan terbang dan melekat pada minyak goreng. Selain cara tersebut, dapat pula disemprotkan dengan pestisida alami.

b. Lembing atau kumbang epilachna (Epilachna sparsa Hrbst f. vigintioctopunctata Boisd).

Kumbang epilachna ada yang menjadi predator dan ada yang menjadi hama. Kumbang yang menjadi predator mempunyai bercak berupa garis dan sedikit bentuk bulat. Kumbang yang menjadi hama berbercak bulat. Kumbang maupun larvanya memakan daun. Daun yang diserang akan kelihatan kerangkanya saja. Akibatnya, pertumbuhan tanaman terganggu, lalu tanaman menjadi kerdil dan buah berukuran kecil.

Beberapa cara pengendalian kumbang epilachna yakni sebagai berikut:

  1. Secara mekanis, telur, larva, dan kumbang dewasa ditangkap dan dimatikan.
  2. Penyebaran musuh alami, yaitu sejenis tabuhan (lebah) kecil yang menjadi parasit telur, larva, dan pupa dapat dilakukan.
  3. Penanaman dilakukan pada musim kemarau karena kumbang ini akan berhenti bertelur pada musim tersebut.
  4. Dilakukan rotasi tanaman.
c. Lalat buah 

Lalat buah (D. dorsalis) akan merusak buah dan meletakkan telur di dalam buah. Lubang bekas tusukan sering ditumbuhi cendawan sehingga buah menjadi busuk. Bila buah tersebut dibelah akan terlihat larva lalat buah. Serangan lalat buah akan memperlihatkan bercak-bercak lunak dengan warna lebih tua atau hitam pada buah. Bila diiris, kelihatan di dalamnya ada larva lalat (belatung, berenga).

Lalat buah dapat dikendalikan dengan cara sebagai berikut:

  1. Jika serangga belum hebat, buah dipanen untuk dikomsumsi. Jika serangga telah hebat, buah dipetik dan dibakar.
  2. Lalat jantan ditangkap dengan menggantung alat perangkap. Perangkap tersebut berupa botol minuman mineral yang ujungnya dibalik, bagian dalam diberi kapas yang telah diberi cairan daun selasih.
  3. Dilakukan rotasi tanaman.
  4. Buah yang masih kecil dibungkus dengan kantong plastik atau kantong kertas yang berlubang kecil-kecil.
d. Engkis-engkis atau penggerak batang

Engkis-engkis ini sering menyerang tanaman yang telah dewasa atau telah berkayu dan berbuah. Cabang atau batang pokok tanaman terlihat layu. Bila diamati, ada lubang yang di luarnya ada kotoran butir-butir kayu bekas geretan.

Dari lubang keluar larva yang warna putih dengan kepala cokelat tua dan tidak berkaki. Pupa yang berwarna cokelat muda juga terdapat di dalam lubang pada cabang atau batang. Kumbang engkis-engkis berwarna abu-abu kecokelatan, panjang antena melebihi panjang badan, dan panjang badan lebih kurang 2-2,5 cm.

Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan cara di bawah lubang yang terserang dipotong dan dibelah. Larva, pupa, atau engkis-engkis yang keluar dimatikan. Setelah dipotong, batang tanaman masih bisa keluar tunas baru. Namun, jika serangannya di pangkal batang, kemungkinan tanaman mati sangat besar.

e. Tungau merah

Tungau ini berukuran kecil, < 0,5 mm dan berbercak merah. Tungau bersembunyi di bawah daun dan membua sarang laba-laba. Cara hidup tungau dengan menghisap cairan sel tanaman umumnya, serangan hebat terjadi pada waktu musim kemarau, udara panas dan kering. 

Gejala serangan ditandai dengan bintik-bintik merah karat atau merah perunggu pada daun, baik permukaan atas maupun permukaan bawah. Serangan yang hebat dapat menyebabkan daun layu dan rontok.

Pengendalian yang dilakukan agar serangan tungau tidak meluas yaitu secara alami menggunakan thrips Scolothrips sexma-culatus, tungau Ohytoseiulus persimilis, kumbang stethorus gilvi-frons, dan cendawan entomophthora frasenii. Adanya hujan lebat dalam waktu lama atau siraman air bisa merontokkan tungau.

f. Antraknosa buah

Penyakit antraknosa buah disebabkan oleh cendawan Colletotrichum gloeosporioides var. melongenae. Buah yang terserang penyakit ini terdapat bercak bulat, cekung, berwarna cokelat dengan titik hitam. 

Bila jumlahnya banyak, bercak akan membesar dan bersatu menjadi bercak yang lebih besar yang bentuknya tidak teratur. Bila bercaknya telah meluas, buah akan rontok. Cara pengendalian penyakit antraknosa seperti pengendalian pada penyakit busuk buah.

g. Cendawan tepung

Penyakit ini disebabkan oleh Eiysiphe polygoni DC. Serangannya ditandai dengan terlihatnya tepung putih pada daun. Serangan semakin hebat pada waktu musim kemarau. Jika banyak angin, tepung-tepung yang merupakan konidium tersebut akan berhamburan dan berkecambah di tempat lain. Pengendalian yang dapat dilakukan agar penyakit tidak meluas yaitu dengan mengembuskan tepung belerang atau menyemprotkan bubur kalifornia.

h. Penyakit layu cendawan

Penyebab penyakit ini yaitu cendawan fusarium oxysporum f. melongenae Matua et Ishigami. Gejala serangan ditandai masih segarnya tanaman terong pada pagi maupun malam hari, tetapi pada siang hari mulai layu. 

Keadaan ini berlangsung beberapa hari saja dan akhirnya tanaman mati. Kalau dibiarkan, pangkal batang akan membusuk dan kadang-kadang dimakan rayap. Jika dipotong melintang atau memanjang, batang akan kelihatan berwarna cokelat tua.

Penyakit layu ini dapat dikendalikan dengan cara berikut.

  1. Ditanam terong hasil sambungan dengan batang terong yang tahan layu, misalnya cepokak atau terong engkol.
  2. Menanam terong yang tahan layu, misalnya terong putih, terong gelatik (bulat kecil).
  3. Tanaman yang kelihatan sakit segera dicabut dan dibakar. Tanah bekas tanaman sakit jangan tersebar kemana-mana nanti akan menular.
  4. Dilakukan rotasi tanaman.
  5. Kegiatan penyiangan dan pemupukan organik dilakukan hati-hati agar tidak merusak perakaran.
  6. Dilakukan solarisasi. Caranya, tanah yang telah tercemar penyakit ditutup dengan plastik transparan lebih kurang 1 bulan agar sinar matahari masuk ke dalam tanah. Dengan demikian tanah menjadi panas sehingga bibit penyakit akan mati.
i. Penyakit layu bakteri

Penyakit bakteri disebabkan oleh bakteri Pseudomonas sola-nacearum S.F. Sm. Gejala serangan hampir sama dengan penyakit layu karena cendawan. Perbedaannya ialah batang yang sakit jika dipotong melintang akan keluar lendir berwarna putih krem.

Keluarnya lendir ini semakin jelas bila potongan batang dimasukkan ke dalam gelas yang berisi air jernih. Penyakit ini tidak bisa diobati dan bisa tahan bertahun-tahun di dalam tanah. Pengendalian yang dapat dilakukan sama dengan pengendalian untuk penyakit layu cendawan.

j. Busuk buah

Ada beberapa macam cendawan yang menyebabkan penyakit ini, yaitu Phomopsisi vexans (Sacc, et syd), Phytophthora nicotia-ae var. parasitica (Dest). Water., P. melongenae Saw., dan tyhium aphanidermatum (edson) Fitzn.

Serangan Phomophsis vexans tidak hanya buah saja, tetapi abang, ranting, dan daun juga diserang. Pada daun, permukaannya kelihatan ada bercak bulat telur yang warnanya cokelat, makin lama makin besar dan tidak beraturan.

Serangan pada semai akan menyebabkan roboh. Bila buah yang diserang, buah akan kelihatan bercak kecil cokelat muda, lalu membesar sehingga buah menjadi busuk, dan akhirnya rontok. Serangan P. nicotianae var. parasitica ditandai dengan bercak memanjang sepanjang buah terong, berwarna cokelat sampai hitam. Bagian dalam buah berwarna cokelat kebasahan. Kemudian, buah terong menjadi busuk dan rontok.

Gejala serangan Pythium aphanidermatum yaitu buah menjadi busuk, terlebih buah yang di dekat tanah. Pada cuaca lembab, tumbuh miselium jamur yang kelihatan seperti kapas sehingga sering disebut sebagai cottony leak.

Upaya pengendalian yang dapat dilakukan sebagai berikut.

  1. Jika ada bercak kecil, buah segera dipanen dan dikomsumsi. Tanaman yang telah terserang hebat sebaiknya dibakar.
  2. Sesudah panen yang pertama, tanah segera dipupuk lagi dengan pupuk organik.
  3. Tanaman terong yang resisten terhadap penyakit ini.
  4. Dilakukan rotasi tanaman.

7. Cara panen terong

Tanaman terong mulai berbunga umur lebih kurang 2 bulan dan buah dipanen sekitar umur 3-4 bulan. Oleh karena buah tidak matang bersamaan maka panen dapat dilakukan 2 kali seminggu. Panen dilakukan pada saatbuah berukuran maksimal, tetapi belum tua. Buah yang tua mempunyai rasa yang kurang enak, biji sudah mulai keras, dan kulit liat.

Panen yang baik waktu pagi hari atau sore hari sebelum matahari terbenam. Adapun buah yang dipanen sebaiknya disertakan juga tangkai buahnya. Tangkai tersebut dipotong lurus agar tidak melukai buah terong.

8. Penanganan pascapanen

Setelah panen, buah terong dibawa ke tempat yang teduh, kering dan sejuk. Kemudian dilakukan sortasi untuk memisahkan buah yang sakit dan abnormal dengan buah yang sehat. Buah yang sehat dibedakan lagi berdasarkan bentuk, warna buah, ukuran panjang, dan beratnya untuk menentukan tujuan pasar.


Sumber :Singgih Sastradiharja

 

Type and hit Enter to search

Close