Breaking News

Ternak ayam buras petelur

Manfaat Beternak Ayam Kampung

Ayam kampung dikenal dengan sebutan ayam buras (bukan ras) atau ayam sayur. Jenis ayam ini sejak dulu sudah dikenal dan telah meyatu dengan kehidupan masyarakat petani di pedesaan. Hasil yang diperoleh dari beternak ayam kampung ini berupa daging dan telur yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Bahkan, kotorannya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk dan bulunya pun bermanfaat sebagai bahan lukisan atau sulak.



Keuntungan beternak ayam kampung adalah :
  1. Sebagai penghasil daging dan telurnya sebagai sumber gizi.
  2. Sebagai tambahan pendapatan.
  3. Mudah cara pemeliharaannya.
  4. Modalnya sedikit (kecil)
  5. Cepat berkembang biak.
  6. Sebagai tabungan (sewaktu-waktu dapat dijual)

Syarat Kandang Yang Baik atau Sehat

  1. Kandang berbentuk panggung beralaskan bambu berbenuk kisi atau bilah-bilah kecil dengan jarak 1/2 -1 cm supaya kotoran dapat jatuh kebawah.
  2. Kandang sebaiknya sebagian terbuka supaya udara dalam kandang tidak lembab supaya pertukaran udara lancar.
  3. Di sekitar kandang tidak ada air yang menggenang dan tidak ada pohon-pohon bersar yang menghalangi sinar matahari masukke kandang.
  4. Kandang sebaiknya menghadap ke timur, supaya sinar matahari pagi dapat masuk ke kandang.
  5. Di sekitar kandang sebaiknya terbuka dari genteng/asbes.
Peralatan kandang yang diperlukan di antaranya :
  1. Tempat pakan dan tempat minum (dari plastik atau bambu),
  2. Tempat bertengger (20-25 per ekor), dan 
  3. Alat-alat pembersih kandang (sapu, sikat, sekop, dan alat pembuangan kotoran.

Pakan Ayam

Secara tradisional ayam buras diberi pakan berupa beras, menir, sisa-sisa nasi, jagung, sayur-sayuran, kecambah, dan daun singkong. Di samping itu, ayam kampung dibiarkan lepas mencari pakan sendiri sebagai pakan tambahan. Pakan ayam buras yang baik terdiri dari :
  • daun-daunan, seperti rumput-rumputan, sayur-sayuran yang berwarna hijau,
  • biji-bijian, misalnya kacang hijau, jagung, padi dan beras, dan
  • sisa-sisa produksi pertanian yang berupa dedak atau sisa makanan berupa nasi.
Bahan-bahan pakan ayam kampung juga tersedia di toko-toko unggas (poultry shop), seperti dedak halus, jagung, sagu, bungkil kedele, tepung ikan, tepung tulang, bungkil kacang tanah, kacang hijau, bungkil kelapa, dan ada juga yang berupa pakan jadi. Bahan-bahan yang jarang tersedia di toko unggas tetapi tersedia di desa adalah singkong, sorgum, ubi jalar, talas, biji kecipir, bekicot, serangga, dan cacing.

Pemeliharaan Bibit Ayam Kampung

a. Calon Pejantan
  • ayam harus sehat
  • tubuh tegap dan gagah
  • bulu bersih mengkilap
  • mata jernih
  • jengger dan pial berwarna merah
  • kaki kuat
  • berumur antara 1 dan 3 tahun
b. Calon Induk
  • bulu bersih
  • jengger dan pial berwarna merah
  • berumur antara 6 bulan dan 2 tahun
c. Ciri-ciri Induk

berproduksi
  • segar, jernih, halus
  • basah, besar
  • tulang pinggul lebar
tidak berproduksi
  • kering
  • pucat, layu, kasar
  • kering, kecil
  • tulang pinggul sempit

d. Perbandingan Jumlah Induk dan Pejantan :

  1. Paling sedikit satu pejantan dewasa dengan satu betina dewasa (induk) dan paling paling banyak satu pejantan dengan 15 betina.
  2. Lebih baik satu pejantan dewasa dengan 5 - 9 induk (betina), ayam-ayam induk berproduksi harus dijaga agar tetap bersatu dengan pejantan

Baca Juga : beternak itik

Cara Pemeliharaan Ayam Kampung

Secara sepintas memelihara ayam kampung tidak banyak peranannya dalam kehidupan masyarakat tani di pedesaan. Hal itu disebabkan oleh rasa pesimistis penyakit tetelo (ND) dan umumnya tujuan memelihara ayam hanya untuk tabungan hewan kesayangan. Hal itu terbukti walaupun jumlahnya sudah cukup banyak jarang sekali ayam potong untuk dimakan sendiri dan hanya kalau betul-betul memerlukan uang ayam baru dijual.

Beberapa cara pemeliharaan ayam kampung berdasarkan pengalaman di beberapa daerah adalah sebagai berikut.

Pemeliharaan cara alamiah
  1. Ayam dipelihara dengan cara dilepas begitu saja untuk mencari makan sendiri.
  2. Sarang untuk induk bertelur dibuat seperti kerucut agar daya tetas telur yang dierami tinggi.
  3. Induk ayam bertelur 3 kali setahun, rata-rata 13 butir telur setiap kali masa bertelur.
  4. Biasanya petani hanya mengeramkan telur ayamnya rata-rata 10 butir selebihnya (3 butir) tidak dapat ditetaskan busuk.
  5. Setiap induk hanya menghasilkan 30 ekor anak ayam per tahun.
  6. Dengan cara pemeliharaan ini kematian anak masih cukup tinggi oleh berbagai sebab,  seperti serangan tetelo, serangan binatang buas, kedinginan dan kecelakaan. Kematian anak ayam dapat mencapai 50 % atu lebih, sehingga yang selamat menjadi bersar hanya sedikit.
Cara pemeliharaan seperti ini tidak banyak memberikan keuntungan. Oleh karena itu, perlu diperbaiki.

Pemeliharaan Cara Sederhana
  1. Cara ini mirip dengan cara alamiah. Bedanya cara ini perlu ada kandang untu beristirahat dan pengaman di waktu malam hari. Induk ayam yang baru menetaskan dan anaknya dipelihara dalam satu kurungan dan diberi makan kurang lebih selama 2 minggu sambil menunggu anak ayam berbulu lengkap dan kuat kondisi badannya. Hal ini untuk mencegah kematian.
  2. Dengan cara ini anak ayam dapat selamat sampai dewasa, sekitar 80-90% dari resiko kematian menjadi berkurang.
  3. Induk ayam dibiarkan mengerami telurnya dan mengasuh anaknya. Dalam 1 tahun masa bertelurnya menjadi 3 kali.
  4. Dengan jumlah telur yang dieramkan hanya 10 butih setiap kali masa bertelur dan resiko kematian kecil dalam 1 tahun setiap ekor induk akan menghasilkan ayam siap potong atau siap jual sebanyak 24-27 ekor dan telur yang dikonsumsi atau dijual 9 butir.
Pemeliharaan Cara Semiintansif
  1. Caranya sama dengan cara sederhana, perbedaanya induk tidak mengasuh anaknya, tetapi begitu anak ayam selesai  ditetaskan langsung dipisahkan dari induknya dan dipelihara atau dibesarkan dengan induk buatan selama kurang lebih 2 minggu.
  2. Induk buatan dapat berupa kurungan, terbuat dari seng atau triplek dengan pemanas bola lampu. Selama dalam kurungan atau indukan, anak ayam diberi makan dan air minum. Setelah 2 minggu, anak ayam dilepaskan untuk mencari makan di alam bebas.
  3. Induk ayam perlu dimandikan paling tidak 1 minggu sekali, terutama setelah meneteskan  telurnya.
  4. Dengan cara ini induk akan cepat bertelur lag, dan 1 tahun dapat bertelur sebanyak 6 kali. Berarti, tiap induk per tahun menghasilkan 48-54 ekor ayam siap potong siap jual dan 18 butir telur siap dikonsumsi atau dijual.
Pemeliharaan Cara Intensif
  1. Ayam dipelihara dalam kandang atau halaman yang dipagar keliling dan tidak dibiarkan lepas mencari makan sendiri.
  2. Ayam diberi makan campuran konsentrat dan dedak atau jagung atau jenis lainnya dalam perbandingan tertetu.
  3. Cara ini lebih banyak membutuhkan modal dan menyita waktu untuk memberi pakan dan minum.
  4. Ayam dapat dipelihara dalam jumlah sangat besar.
  5. Biaya produksi, sepert pakan, obat-obatan, dan kadang-kandang tenaga cukup besar.
  6. Tanah untuk kandang atau pemeliharaan harus tersedia.
  7. Untuk dan ruginya bergantung pada perimbangan biaya produksi dan harga jual.

Penyakit Ayam Kampung dan Cara Pencegahannya

Penyakit ND/Tetelo

Tanda-tanda pada ayam
  1. Nafsu makan berkurang sampai hilang.
  2. Lesu.
  3. Sesak napas dan ngorok
  4. Mencret, warna kotoran putih hijau.
  5. Kelumpuhan pada kaki (sebagian atau seluruhnya)
  6. Leher terputar kebelakang atau kepala miring.
  7. Angka kematian tinggi akibat penularan cepat
Cara penularan penyakit tetelo ini sebagai berikut :
  1. Melalui sentuhan dengan ayam sakit.
  2. Bersentuhan dengan bahan tercemar seperti tinja, bangkai penderita.
  3. Melalui udara pernapasan, dan
  4. Melalui makan yang tercemar bibit penyakit.
Tindakan pencegahan yang harus dilakukan :
  1. Ayam yang sehat dievakuasi tetelo secara teratur,
  2. Makanan dan lingkungan dijaga kebersihan kandangnya,
  3. Ayam yang mati akibat tetelo harus dibakar atau dikubur,
  4. Vaksin dilakukan di tempat yang teduh,
  5. Jadwal vaksinasi tetelo pada ayam kampung biasanya dilakukan mulai umur 4 hari, 4 minggu dan setiap 4 bulan sekali untuk ayam dewasa.

Penyakit Cacar / Fowl pox
Tanda-tanda pada ayam terlihat bungkul-bungkul atau bintil-bintil pada kulit di sekitar kepala, jengger dan pial.

Pengobatan :
  1. diberi yodium setelah bungkulnya dilepas.
  2. divaksinasi cacar melalui selatput air sayap.

Penyakit pilex/ snot
Tanda-tanda pada ayam suara ayam serak-serak dalam rongga mulut terdapat lendir.
Pengohatan :

diberi obat antipilek (dapat dibeli di toko unggas/ poultry shope). diberi obat tradisional (diberi air rebusan daun serai atau jahe yang diminumkan 3 x sehari satu sendok makan).


Penyakit cacingan
Tanda-tanda pada ayam tubuh kurus, bulu kasar dan jarang, kotoran basah.

Pengobatan :

diberi obat cacing (dapat dibeli di toko unggas) diberi obat tradisional.
  • Bubuk buah pinang jambe yang dicampurkan dengan nasi sedikit kemungkinan dimasukkan ke dalam rongga mulut ayam.
  • Air rebusan daun jambu biji/jambu batu yang diminumkan).

Vaksinasi Tetelo/ ND

1. Persiapan dan cara mencampur vaksin

Cara mencampur vaksin dengan air bebas hama seperti berikut.
  1. Sediakan air bebas hama seperti aquadestilata, air sumur, dan air kelapa dalam botol sebanyak yang diperlukan (50 ml untuk dosis vaksin 500 ekor).
  2. Sedot vaksin dari tempatnya kemudian campurkan dengan cara menyedot dan mengeluarkan.
  3. Simpan di tempat yang terhindar dari cahaya matahari.
Lakukan penyuntikan di tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung. Sisa vaksin dan alat-alat yang tidak terpakai lagi dikubur dalam tanah untuk menghindari penularan yang tidak diinginkan.

2. Cara vaksinasi

Untuk anak ayam dilakukan melalui tetes mata/hidung. Untuk ayam muda dan dewasa dapat dilakukan melalui tetes mata dan suntikan dengan dosis sesuai peraturan pada kemasan vaksin suntikan dilakukan pada otot dada sebanyak 0,1 ml.



Sumber : Ir. Tuti . N Sutarno dan Ir. Sutarto


Type and hit Enter to search

Close