Cara menanam cabai

SIFAT DAN CIRI TANAMAN CABAI

A. Tanaman

Tanaman cabai termasuk suku terung-terungan (solanaceae). berbentuk perdu dan tergolong tanaman semusim. tinggi tanaman ini 50 - 120 cm. tanaman cabai berasal dari Amerika Selatan. sejak lama dibudidayakan untuk keperluan bumbu masak orang-orang indian.


Tanaman ini mempunyai banyak cabang dan dari setiap vabang tumbuh bunga atau buah. semakin banyak cabang yang terbentuk, semakin banyak buahnya. tanaman cabai dapat menyesuaikan diri dengan baik pada tanah berpasir, tanah liat, atau tanah berpasir. bahan organik baik berupa pupuk kandang maupun kompos, sangat disukai tanaman cabai. tanaman cabai dapat juga tumbuh pada tanah masam (ph 4-5) dan tanah basa (ph8).

Sinar matahari yang banyak, baik intensitas maupun lama penyinarannya, sangat menguntungkan pertumbuhan tanaman cabai. selain itu, banyaknya sinar matahari akan menekan perkembangan hama atau patogen.

B. Batang

Batang tanaman Cabai tegak, tingginya 50 -90 cm. batang cabai sedikit mengandung zat kayu, terutama di dekat permukaan tanah. kadang-kadang batangnya tidak begitu kuat menyangga buah cabai yang banyak sehingga perlu diberi ajir sebagai penahan.

C. Daun

Daun cabai berbentuk lonjong dan bagian ujungnya meruncing, panjang daun 4-10 cm, lebar daun 1,5 - 4 cm. khusus pada tanaman cabai rawit bentuk daunnya agak bulat dan bagian ujungnya meruncing.

D. Akar

Akar tanaman cabai menyebar, tetapi dangkal. akar-akar cabang dan rambut-rambut akar banyak tedapat di permukaan tanah, semakin ke dalam akar-akar tersebut semakin berkurang. ujung tanaman cabai hanya dapat menembus tanah sedalam 30-40 cm. akar yang mendatar cepat berkembang di dalam tanah, menyebar dengan kedalaman 10-15 cm.

E. Bunga

Posisi bunga cabai biasanya menggantung. warna mahkota bunga putih dan memiliki 5 - 6 kelopak bunga. panjang bunga 1 - 1,5 cm, lebarnya sekitar 0,5 cm, dan panjang tangkai bunga 1 - 2 cm. tangkai putik berwarna putih, panjangnya sekitar 0,5 cm. warna kepala putik kuning kehijauan, tangkai sari berwarna putih, tetapi yang dekat dengan warna kepala sari ada bercak kecoklatan, panjang tangkai sari 0,5 m. kepala sari berwarna biru atau ungu.

F. Buah

Bentuk buah cabai umumnya memanjang, berkisar antara 1 - 30 cm. cabai rawit panjangnya 1 - 5 cm. cabai merah keriting panjang 5 - 25 cm sedangkan cabai merah besar panjangnya 10 - 30 cm. 

Buah cabai yang masih muda berwarna hijau dan setelah tua berwarna merah kecoklatan sampai merah tua menyala. biji buah berwarna kuning kecoklatan. cabai yang banyak bijinya akan semakin pedas rasanya. cabai rawit dan cabai merah keriting rasanya relatif lebih pedas daripada cabai merah bersar.

Buah cabai mengandung 70 - 90 persen air, kalori, protein, lemak, karbohidrat, mineral, dan vitamin.
Kandungan Zat gizi setiap 100 gr buah cabai dari begian yang dapat dimakan

No.
Nama-nama Zat
Cabai merah besar
Cabai hijau besar
Cabai kering
Cabai rawit segar dengan biji
Cabai rawit segar tanpa biji
1
Kalori
31
23
311
103
49
2
Protein (g)
1,0
0,7
15,9
4,7
1,6
3
Lemak (g)
1,3
0,3
6,2
2,4
0,7
4
Karbohidrat (g)
7,3
5,2
61,8
19,9
11,1
5
Kalsium (mg)
29
14
160
45
22
6
Fosfor (mg)
24
23
370
85
85
7
Besi (mg)
0,5
0,4
2,3
2,5
1,9
8
Vitamin A (IU)
470
260
576
11,050
1,200
9
Vitamin B (mg)
0,05
0,05
0,4
0,24
0,07
10
Vitamin C (mg)
18
84
50
70
125
11
Air (g)
90,9
93,4
10
71,2
85,9


SYARAT TUMBUH

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai. faktor-faktor itu, antara lain, iklim, tinggi rendahnya letak geografis, kesuburan tanah, dan faktor biotik, seperti gangguan hama, patogen, dan tumbuhan pengganggu.

A. Faktor Iklim

Faktor iklim yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman cabai meliputi sinar matahari, curah hujan, kelembapan, suhu udara, angin, dan penguapan. tanaman cabai sangat memerlukan sinar matahari. apabila kurang mendapatkan sinar matahari di pesemaian atau pada awal pertumbuhannya, tanaman cabai akan mengalami etiolasi, jumlah cabang sedikit, dan akibatnya buah cabai yang dihasilkan juga berkurang karena bunga cabai akan muncul dari setiap cabang. jadi tanaman cabai yang semakin banyak cabangnya akan semakin lebat buahnya.

Kecuali cabai rawit, jenis cabai yang lain sangat tidak tahan terhadap curah hujan. curah hujan yang tinggi pada saat tanaman cabai merah keriting, cabai merah besar, paprika sedang berbunga akan mengakibatkan kegagalan dalam pemanenan.

Menanam cabai merah atau paprika harus memperhitungkan waktu yang tepat. misalnya, menanam cabai merah pada akhir musim hujan sehingga tanaman berbunga dan berbuah tepat pada musim kemarau.

di Daerah tertentu orang menanam cabai di rumah plastik atau rumah kaca untuk menghindari hujan. walaupun biaya pemanenan cukup tinggi, hasil pemasukan juga berlipat ganda sebab harga cabai pada musim hujan dapat menjadi dua atau tiga kali lipat daripada musim kemarau.

Tanaman cabai dapat tumbuh di daerah yang mempunyai kelembapan udara yang tinggi sampai sedang. kelembapan udara yang terlalu rendah akan mengurangi produksi cabai. suhu rata-rata yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai antara 18 - 30 derajat celcius. suhu udara yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat menyebabkan turunnya produksi cabai.

Angin yang bertiup kencang juga akan merusak tanaman cabai. tiupan angin yang kencang akan mematahkan ranting, menggugurkan bunga dan buah, bahkan dapat merobohkan tanaman. penguapan yang tinggi dapat menyebabkan produksi cabai menurun. untuk mengurangi faktor penguapan, tanaman cabai disiram dua atau tiga kali sehari.

B. Tinggi rendahnya letak geografis

Tanaman cabai dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah atau di dataran tinggi. dengan kala lain, tanaman cabai tidak membutuhkan satu ketinggian tempat yang khusus untuk pertumbuhannya. tinggi rendahnya suatu tempat biasanya berhubungan langsung dengan suhu udara dan kelembapan udara. 

Perbedaan ke lembapan udara dan suhu yang cukup bersar sangat penting untuk pertumbuhan cabai. misalnya, didaerah dateran rendah yang suhunya tinggi harus diimbangi dengan kelembapan udara yang tinggi pula.

C. Kesuburan Tanah

Kesuburan tanah sangat penting untuk tanaman cabai. selain sebagai penyangga akar, tanah, juga berfungsi sebagai penyedia air, zat hara, dan udara bagi pernapasan akar tanaman. tanah yang subur dapat menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman secara optimal. faktor-faktor yang menyuburkan tanah adalah kandungan air, bahan organik, bantuan induk, suhu, organisme tanah, keasaman tanah, struktur dan tekstur tanah, serta kelengkapan dan ketersediaan zat-zat hara.

Tanaman cabai tidak memerlukan struktur tanah yang khusus. tanah yang banyak mengandung bahan organik, baik dari jenis tanah liat maupun jenis tanah pasir sangat baik untuk pertumbuhan tanaman. penambahan unsur-unsur hara, seperti pupuk kandang atau kompos, sangat di perlukan cabai. biasanya, pupuk ini diberikan pada saat sebelum memanen.

Tanaman cabai tumbuh baik pada keasaman pH 5,0 - 7,5. pada keasaman tanah yang sangat rendah, yaitu sekitar pH 4,0, tanaman cabai masih dapat tumbuh dengan baik, tetapi produksi buah agak berkurang karena beberapa unsur hara akan sulit diserap. pemberian kapur untuk meningkatkan pH jarang dilakukan pada penanaman cabai karena dengan pemupukan TSP yang cukup untuk pupuk dasar sudah dapat meningkatkan pH.

Tanah yang lembap tetapi tidak tergenang air sangat cocok untuk tanaman cabai. pada tanah yang bersifat liat, seperti tanah persawahan harus dibuat bedengan-bedengan agar tanaman cabai tidak tegenang air. pada tanah yang bersifat pasir, atau tanah yang poreus, tidak perlu dibuatkan bedengan, tetepi sebulan sekali tanah harus dibumbun kembali agar akar cabai tetap dalam keadaan tertimbun.

D. Faktor biotik

Selain faktor-faktor abiotik, yaitu iklim dan tanah, yang perlu diperhatikan juga faktor biotik, hama, patogen, dan gulma adalah faktor biotik yang sering menggagalkan penenan cabai. 


CARA MENANAM CABAI

Dalam bercocok tanam cabai yang perlu diperhatikan adalah pengerjaan tanah, pemberian pupuk kandang, persiapan benih dan pesemaian, penanaman, pemupukan, pengairan, panen, dan pascapanen.

A. Penerjaan tanah

Pengolahan tanah dilakukan bersamaan dengan kegiatan pesemaian. hal tersebut dimaksudkan agar pada saat pengerjaan tanah selesai, bibit cabai dapat langsung dipindahkan dari pesemaian ke areal pertanaman. pekerjaan yang pertama dilakukan adalah mencangkul tanah atau membajaknya. kemudian, tanah digarau dan batu atau bongkahan tanah yang menggangu disingkirkan. setelah itu, dibuat bedengan-bedengan jika tanah tersebut termasuk tanah yang berat atau liat. setiap bedengan terdiri atas dua jalur tanaman cabai atau jalur tanaman cabai.

Pekerjaan selanjutnya adalah membuat lubang tanam. lubang dibuat dengan ukuran 20 x 20 x 20 cm dan jarak antar lubang 60 x 70 cm.

B. Pemberian pupuk kandang dan pupuk dasar

Setelah pembuatan lubang selesai, kemudian di beri pupuk kandang atau kompos 1 - 2 kg per lubang. pupuk kandang dapat berupa kotoran ayam, kambing, atau sapi. kotoran ayam adalah yang terbaik. pada kotoran sapi atau kambing masih sering terdapat biji rumput yang tidak tercerna sehingga tanaman cabai lebih cepat ditumbuhi rumput atau gulma lainnya. jika pupuk kandang sulit didapat, sebagai penggantinya dapat diberikan kompos atau bekas bakaran sampah dapur.

Pupuk dasar yang campuran urea, TSP, KCl (1:1:1) dapat diberikan sebanyak 15 gr per lubang tanam. selain itu, diberikan juga insektisida yang biasanya berperan sebagai nimatisida yang berbentuk butiran (franule) sebanyak 1 - 2 sendok ter per lubang tanam. setelah itu,  campuran pupuk kandang, pupuk dasar, dan insektisida diaduk-aduk dan dibiarkan selama lebih kurang 2 minggu.

C. Persiapan benih dan pesemaian

1. Persiapan Benih

Benih cabai dipilih dari buah yang sudah tua, tetapi belum rontok dari pohonnya. benih tersebut diambil, dari tanaman pilihan, yakni tanaman yang produksinya tinggi, vigornya baik, dan bebas dari serangan hama dan penyakit. sebaiknya, tidak digunakan benih cabai yang diberi dari pasar karena kualitas benih tersebut tidak dapat diketahui dengan pasti. benih yang didapat langsung dari petani yang menanam pohon cabai pada umumnya akan terjamin mutunya. oleh karena itu, sebaiknya membeli benih tersebut pada saat harga cabai murah sehingga biaya untuk pembelian benih dapat ditekan. benih cabai dapat disimpan 6 - 12 bulan di tempat yang sejuk dan kering tanpa mengurangi daya kecambahnya.

Benih cabai dikeluarkan dari buah dengan cara mengiris daging buah secara berhati-hati, kemudian benih tersebut dipisahkan dari daging buahnya. setelah itu, benih dikeringkan dengan cara diangin-angikan dan serabut atau daging buah yang tertinggal dibuah. bening yang belum siap ditanam disimpan di dalam botol yang bersih dan kering. benih yang siap dapat disemaikan di kantong plastik atau dipesemaian.

2. Pesemaian

Pesemaian adalah melakukan kegiatan di lahan pertanian dengan tujuan mendapatkan produksi yang lebih baik. dalam pelaksanaan pesemaian harus diperhatikan beberapa hal sebagai berikut.

a. Pembuatan bedengan

Sebelum penyebaran benih, bedengan pesemaian telebih dahulu dibuat. bedengan ini harus diolah semaksimal mungkin agar kegemburan dan sebururan tanah dapat terjamin dengan perbandingan jumlah pupuk dasar, yaitu pupuk kandang, TSP, KCl.

b. Perlakuan benih sebar sebelum disebar

Benih yang belum disebar harus mendapatkan perlakuan terlebih dahulu. misalnya, pengendapan benih di air yang telah diberi zat perangsang seperti 1 cc acetonik dicampur dengan air 250 cc untuk 500 gr benih. benih direndam selama kurang lebih 24 jam, lalu diopen supaya hangat dikantong plastik dan dapat mengurai kadar air benih, juga untuk mempercepat pembentukan daun.

c. Penebaran atau penyemaian benih

Benih disemai dahulu supaya bisa mendapatkan bibit yang baik dan yang sehat. pesemaian berupa bedengan yang ukurannya bisa dibuat bagaimana baiknya. misalnya, dibuat dengan lebar 0,80 cm x 24 m untuk bibit 500 gr. setelah benih disebar, di atas benih tersebut ditutupi dengan menggunakan sedikit pupuk kandang atau kompos. tebalnya kira-kira 1 cm. selanjutnya, untuk melindungi benih dari sengatan matahari atau siraman air hujanm di atas bedengan diberi mulsa. selesaid ini, bedengan dibuatkan naungan yang posisinya miring.

d. pengisian polybag

Pengisian polybag dilakukan setelah penebaran benih sampai selesai. sambil menunggu benih dapat dipindahkan, polybag tersebut diisi dengan pupuk kandang penuh.

e. Pemindahan bibit ke kantong plastik

Biasanya dua minggu setelah penebaran, benih sudah tumbuh dan siap dipindahkan di polybag. sebelum dipindahkan ke polybag, terlebih dahulu akar yang panjang harus diluruskan supaya pekembangan menjadi normal. ditempat baru ini calon bibit disebarkan sehingga menjadi bibit yang siap tanam. bisa ditanam apabila tinggi tanaman mencapai 10 - 15 cm, atau usianya mencapai 25 hari sampai satu bulan maka tanaman tersebut dapat ditanam.

f. perawatan bibit di pesemaian

Selama proses pertumbuhan itu pemeliharaan tentu saja dilakukan seperti penyiraman dua kali sehari dan lebih penting lagi penjagaan terhadap kemungkinan serangan hama dan penyakit. bedengan ini sering kali diserang semut, jangkrik, dan jamur. untuk pemberantasan ini, bagi sejenis jamur, terutama yang menyerang pangkal batang, bisa menggunakan dithane.

Begitu juga semut dan jangkrik bisa ditambahkan dengan furadan, cara pemakaian dapat dilihat pada lebel. jangka waktu penggunaan bisa dilakukan seminggu sekali.

Cara pemindahan bibit ke polybag adalah sebagai berikut.

  1. tanaman baru dicabut dari pesemaian harus dimasukkan ke kantong khusus pada akar tunggalnya.
  2. hasil potongan akar tersebut disisakan lebih kurang 1,25 cm.
  3. membuat lubang tanam pada kantong polybag dengan menggunakan sebatang kayu yang agak tipis untuk memudahkan dalam penanaman.
Tempat pesemaian, baik menggunakan kantong plastik maupun yang menggunakan bedengan, diberi naungan (atap) dengan arah timur dan barat.

d. Penanaman

Setelah berumur 30 - 40 hari, bibit cabai sudah cukup kuat untuk dipindahkan ke tempat penanaman. akar tanaman diusahakan tidak sampai rusak waktu penyobekan kantong plastik. cetakan tanah yang telah berisi bibit cabai diletakkan pada lubang yang telah disiapkan, kemudian ditimbun tanah dan agak ditekan agar bibit tidak mudah roboh. cetakan tanah diusahakan tidak pecah atau hancur sebab jika pecah atau hancur dapat mengakibatkan kerusakan akar sehingga tanaman akan layu jika terkena panas sinar matahari.

Bibit cabai yang tidak menggunakan kantong plastik, yaitu disemaikan dibedengan, pemindahan ketempat penanaman harus dilakukan dengan hati-hati. akar tanaman diusahakan tidak putus atau rusak. pengambilan bibit sebaiknya menyertakan tanah supaya akar tidak rusak atau putus. utuk menghindari kerusakan akar, pesemaian harus diusahakan tidak terlalu rapat.

Pemindahan bibit dilakukan pada sore hari, yaitu pada saat matahari sudah tidak terlalu terik. setelah penanaman, harus dilakukan penyiraman secukupnya. bibit yang berasal dari kantong plastik biasanya akan layu, sedangkan yang berasal dari plybag biasanya akan layu sementara. sekitar dua atau tiga hari. layu sementara terebut tidak membahayakan pertumbuhan cabai.

Untuk bibit yang baru dipindah harus tetap disiram dua kali setiap hari. bibit cabai yang tidak mengalami layu sementara juga perlu disiram setiap pagi hari dan sore hari selama tiga hari berturut-turut. bibit cabai yang tidak mengalami layu sementara pertumbuhan awalnya akan lebih baik daripada bibit yang mengalami layu sementara, tetapi pada akhirnya perbedaan tersebut tidak kelihatan lagi.

Pada waktu penanaman dilakukan juga pemupukan dengan menggunakan pupuk urea, TSP, KCI, 5 gr - 10 gr masing-masing. pupuk urea diletakkan pada lubang tugalan pertama, sedangkan pupuk TSP dan KCI ditaruh pada lubang tugalan yang lain yang berjarak 10 -15 cm masing-masing dari bibit dengan arah berlawanan, utara-selatan atau timur-barat.

Pemisahan antara pupuk kandang, urea, dan pupuk TSP-KCI dimaksudkan menghindari terjadinya ikatan N-P atau N-K sebab kedua ikatan tersebut tidak dapat atau sulit diserap tanaman. 

e. Pemupukan

Pada saat tanaman cabai berumur 30 hari, di pertanaman perlu dilakukan pemupukan lagi dengan urea, TSP, dan KCI, 10 - 15 gr, masing-masing. pemupukan yang sama dilakukan juga pada saat tanaman cabai berumur 60, 90, dan 120 hari, dengan dosis dan jenis yang sama. setiap melakukan pemupukan, jarak antara tanaman dan pupuk tidak boleh terlalu dekat, kira-kira 10 -15 cm dari tanaman.   

Pupuk mikro diberikan melalui daun, setiap 10 hari sekali menurut konsentrasi yang dianjurkan setiap jenis pupuk. pupuk mikro berfungsi untuk memperbanyak bunga dan memperkuat buah agar tidak rontok. selain itu, pupuk mikro dapat mencegah serangan virus keriting daun. contoh-contoh pupuk mikro yang cukup baik dan banyak dijual di kios-kios pertanian, antara lain, gandasil, bayfolan, greenzit, complesal.

Tanaman cabai sangat responsif terhadap pemupukan. oleh karena itu, pemupukan harus dilakukan secara bertahap. bagi tanaman cabai keriting, cabari besar, dan cabai paprika, pemupukan cukup dilakukan sampai dengan hari ke 120 karena tanaman cabai masa produktifnya akan berkurang pada bulan ke tujuh atau ke delapan. bagi tanaman cabai rawit yang masa produktifnya sampai dengan dua tahun lebih, pemupukan dapat dilakukan terus sampai 30 hari sekali sampai dengan bulan ke dua belas dengan dosis dan jenis yang sama.

Untuk lebih jelasnya, pemupukan untuk tanaman cabai per tahun.

No
Jenis
Pupuk Dasar
Pupuk susulan setelan di lapangan
0 Hari
30 Hari
60 Hari
90 Hari
120 Hari
1
P.K*
1-2 kg
-
-
-
-
-
2
Urea
10 gr
10 gr
10 gr
10 gr
10 gr
10 gr
3
TSP
10 gr
10 gr
10 gr
10 gr
10 gr
10 gr
4
KCI
10 gr
10 gr
10 gr
10 gr
10 gr
10 gr

Dosis pemupukan seperti dalam tabel tidak mutlah seperti itu. dosis pemupukan bergantung juga pada jenis tanah yang digunakan, jenis tanaman sebelumnya, dosis pemupukan, dan jenis pupuk yang digunakan sebelumnya.

f. Pengairan

Tanaman cabai pada awal pertumbuhannya memerlukan cukup banyak air untuk pertumbuhan cabang, daun, bunga, dan buah. tanaman cabai yang kekurangan air produksinya akan rendah. jika tidak hujan selama tiga hari berturut-turut, tanaman cabai perlu disiram.

Untuk keperluan pertumbuhannya, tanaman cabai memerlukan air. akan tetapi, air yang tersedia terlebih dapat merusak perakaran tanaman. tempat pertanaman cabai, harus diusahakan agar sistem pembuangan airnya lancar sehingga tempat penanaman tersebut tidak tergenang air. untuk keperluan ini perlu dibuatkan selokan-selokan di tepi bedengan.

Baca juga : cara membuat sirup mangga


Pengendalian hama, patogen, dan gulma

Beberapa jenis hama dan patogen tanaman cabai dapat menggagalkan panen sama sekali. tanaman cabai yang bebas dari hama atau patogen (penyebab penyakit) dapat menghasilkan buah 0,2 - 1,0 kg buah cabai. tanaman yang terserang virus keriting yang ditularkan oleh beberapa serangga hama tidak akan menghasilkan buah sama sekali. oleh sebab itu, kita harus mencegah serangan hama atau patogen tersebut sedini mungkin. untuk mengendalikan gulma, biasanya dilakukan secara bersamaan dengan pembumbunan tanah dan pemupukan karena tidak ada gulma yang membahayakan tanaman cabai.

Jenis-jenis hama penting yang menyerang tanaman cabai adalah penyakit bercak daun (corcospora), penyakit busuk daun (phythopora), penyakit busuk akar (fusarium dan phytium), penyakit busuk buah (collettricum), dan penyakit keriting atau mosaik (virus keriting atau mosaik).

a. Trips (trips tabacci)

Trips tabacci dikenal dengan nama umum onion trips atau trips bawang. serangan hama ini bersifat komposit (tersebar luas hampir diseluruh dunia), dan polybag (mempunyai tanaman ingang yang banyak). selain menyerang tanaman cabai, trips juga menyerang tanaman bawang merah, tembakau, waluh, bayam, kentang, kapas, dan tanaman family cruciferae.

Trips merupakan salah satu faktor penyakit virus keriting pada cabai. trips biasanya memakan bagian permukaan bawah daun dengan menggunakan alat mulut yang telah mengalami modifikasi menjadi penusuk pengisap. daun-daun yang diisap cairannya terlihat bercak-bercak putih perak karena ruang yang kosong pada sel tersebut dimasuki urdara. kemudian, bercak ini akan menjadi cokelat dan mati. helaian daun dan pucuk akan mengering.

Serangan dewasa berukuran kurang lebih 1,0 mm dan warnanya kuning pucat, cokelat, atau hitam, biasanya berwarna lebih gelap pada suhu yang lebih rendah. serangga jantan tidak bersayap, sedangkan betina mempunyai dua sayap yang berumbai. pada musim kemarau jumlah populasi meningkat dan akan berkurang bila terjadi hujan lebat. umur serangga dapat mencapai 20 hari.

Telur trips berbentuk opal atau seperti ginjal dan jumlahnya rata-rata 80 butir. telur-telur tersebut diletakkan terpisah. pada perubahan musim tersebut populasi telur trips sangat rendah.

Pengendalian secara kimiawi pada hama ini dapat dilakukan dengan menyemprotkan bahan-bahan insektisida dimetoad, porma tanad, dan hidroklorida, yang bahan racunnya bersifat racun kontak atau sistemik.

b. Ulat grayak (spodoptera litura)

Spodoptera litura sering disebut juga prodenia litura. hama ini kalangan petani dikenal dengan nama ulat tentara/ulat grayak. ulat grayak ini termsuk hama bersifat polybag. selain menyerang tanaman cabai, hama ini juga menyerang tembakau, padi, tomat, kentang, bawang merah, pisang, pepaya, kedelai, kacang tanah, dan jeruk.

Ulat grayak yang masih berupa larva atau ulat muda menyerang epidermis daun bagian bawah, tetapi setelah mendekati instar akhir, yang di serang  adalah seluruh bagian daun, ranting, betang muda, bunga, dan buah tanaman.

Telur diletakkan di permukaan atas atau bagian bawah daun dalam kelompok yang berbeda-beda jumlahnya, yaitu antara 100 - 1.600 butir dan ditutup dengan bulu yang berasal dari abdomen belakang kupu-kupu betina. warna telurnya putih kekuning-kuningan, dan pada waktu akan menetas berubah warna menjadi hitam.

Ulat yang baru menetas berwarna hijau dengan bintik hitam pada dua sisi dan ruas abdomen pertama sampai terakhir. ulat dapat mencapai 30 - 50 mm panjangnya. stadia ulat lamanya berkisar 13 - 19 hari.

Pupa serangga ini berada di bawah tanah, lama stadia pupa antara 6 - 10 hari. serangga dewasa ini berwarna cokelat muda yang panjangnya sekitar 30 - 40 mm. siklus hidupnya di selesaikan kira-kira dalam waktu 30 hari.

Usaha pengendalian hama ini meliputi penggunaan lampu perangkap terhadap imago dan menyiangi rumput. di sekitar pertanaman cabai sering digunakan sebagai tempat persembunyian ulat. insektisida yang dapat digunakan sebagai alat antara lain diazinon, delta methrin, dan insektisida lain yang bersifat racun perut.

C. Kutu daun 

Kutu daun mempunyai nama umum melon aphid cotton aphid. selain menyerang tanaman cabai, serangga hama ini juga menyerang tanaman  mentimun, melon, paria, dan bleweh, kapas, jeruk, kopi, cokelat, kentang, serta jenis tanaman kacang-kacangan.

Kutu daun biasanya menghisap cairan dalam jaringan tanaman pada bagian-bagian yang lunak sehingga tanaman akan menjadi keriting, layu, atau membentuk puru. pada musim kemarau, tanaman yang terserang kutu daun ini sering mati karena kehabisan cairan.

di Daerah, seperti di Indonesia, kutu daun berkembang baik secara partenogenetik, yaitu embrio berkembang di dalam tubuh induknya tanpa perlu adanya pembuahan dari serangga jantan. nimfa yang dilahirkan dari induknya akan menjadi dewasa dalam waktu satu minggu dan telah siap untuk melahirkan generasi baru. jika populasinya cukup tinggi, sebagian nimfa akan segera menjadi embrio yang bersayap sehingga akan mempercepat penyebaran populasi.

Usaha pengendalian kutu ini meliputi berbagai cara, yaitu pemupukan yang seimbang, pemangkasan daun terserang, pengaturan jarak tanam, penggunaan insektisida dengan bahan aktif endosulfan, dimetoat, atau insektisida lain yang bersifat racun kontak yang disesuaikan dengan kondisi setempat. pengendalian secara biologis terhadap hama ini belum pernah dilakukan. akan tetapi, secara ilmiah, kutu daun ini sering dimakan oleh predator seperti belalang sembang, kutu tempurung predator (coccinella), dan laba-laba.

D. Kumbang daun

Salah satu spesies yang merusak tanaman cabai adalah epilachna varivestis, yang sinonimnya E. corrupta. kumbang ini dikenal dengan nama umum mexican bean beetle. salain menyerang tanaman cabai, hama ini juga merusak tanaman kentang, takokak, kecubung, dan tanaman timun-timunan.

Serangan kumbang daun ini menyebrang daun berlubang-lubang, sedangkan serangan larvanya menyebabkan permukaan daun berbentuk seperti jala karena bagian daun diantara tulang daun habis dimakan larva. daun yang terserang menjadi berwarna kuning kecokelatan, kemudian mengering.

Telur berbentuk lonjong, berwarna kuning, dan panjangnya lebih kurang 1,4 mm. lamanya stadia telur sekitar 15 hari, stadia larva 20 - 30 hari, dan imago dapat hidup dua bulan atau lebih, bergantung pada ketersediaan makanan. betina dewasa dapat bertelur lebih dari 800 butir.

Pengendalian yang mungkin dilakukan adalah penanaman cabai secara serentak dan penyemprotan dengan larutan insektisida jika populasinya sudah cupuk tinggi.

E. Tungau merah

Tungau merusak daun, pucuk tanaman, dan tunas muda. bagian yang terserang tumbuh tidak normal, terjadi perubahan warna, dan akhirnya pucuk atau daun mengerupuk dan mengeriting. bentuk tungau mirip laba-laba, berukuran kurang dari 1 mm.

Tungau dewasa berwarna merah dan yang muda berwarna putih kekuningan. tungau muda yang baru menetas berwarna merah jambu dan mengalami beberapa kali pergantian kulit. selongsong kulitnya menempel pada daun. siklus hidupnya diselesaikan dalam waktu sekitar 15 hari.

Pada musim hujan populasi tungau akan menurun. usaha pengendalian dilakukan dengan cara menyemprotan larutan acarisida atau insektisida yang bersifat racun kontak.

F. Belalang

Belalang termasuk serangga hama yang bersifat polifag (memakan bermacam-macam jenis atau famili tumbuhan). belalang tidak hanya merusak tanaman cabai di pesemaian, tetapi juga merusak tanaman yang baru dipindahkan ke lapangan. belalang akan sangat merusak terutama jika serangganya dilakukan secara berkelompok.

Apabila menyerang tanaman pada pesemaian tanaman, biasanya belalang memutuskan tunas-tunas kotiledon sehingga bibit tanaman cabai tidak dapat tumbuh dengan sempurna atau bahkan dapat menyebabkan kematian. pada tanaman yang baru dipindahkan dari tempat pesemaian ke lapangan, biasanya belalang memutuskan tanaman cabai muda sehingga tanaman tidak akan dapat tumbuh secara normal.

Siklus hidup belalang terdiri dari telur, nimfa, dan imago. nimfa (serangga muda) dan imago (serangga dewasa) menyerang tanaman cabai di lapangan secara bersama-sama dan hidup pada habitat yang sama pula sehingga pengendalian atau pemusnahannya dapat dilakukan sekaligus bersama-sama.

Pengendalian dilakukan dengan cara melindungi pesemaian tanaman cabai dari gangguan belalang, tanaman yang baru dipindahkan kedalam lapangan sebaiknya disemprot insektisida yang bersifat sistematik, racun perut, racun kontak, atau campuran dari ketiga racun tersebut atau dengan menaburkan insektisida butiran di permukaan tanah.

G. Lalat buah

Lalat buah selain menyerang buah cabai, hama ini juga menyerang mangga, pisang, jeruk, belimbing, kopi, melon, dan pepaya. akibat serangan dari lalat ini, buah cabai akan mengalami selah bentuk atau gugur sebelum masak. organisme pembusuk biasanya akan masuk melalui luka dan menyebabkan kualitas buah menjadi sangat rendah. serangan lalat buah yang berat akan menurunkan produksi buah 50 hingga 80 persen.

Telur lalat berbentuk oval dengan panjang 1,2 mm dan lebar 0,2 mm. telurnya diletakkan diluar kulit buah pada kedalaman kira-kira 6 mm. satu atau dua hari kemudian, telur akan menetas dan menjadi larva yang kemudian akan mengoyak daging buah. setelah tumbuh sempurna, panjang larva dapat mencapai 10 mm. kemudian larva akan menjadi pupa, pindah dan berada dibawah permukaan tanah dengan kedalaman 1 - 5 cm. siklus lalat buah, dari telur sampai imago diselesaikan selama 25 hari.

Usaha pengendalian meliputi pemusnahan bahan cabai yang sudah gugur dan mengandung larva dengan menyemprotkan insektisida dengan bahan aktif niflutrin, prefenofos, dan frotiofos.

G. Penyakit bercak daun

Penyebab penyakit ini ialah cendawan cercospora spp. tanaman cabai yang terserang cendawan ini, pada daunnya akan timbul bercak-bercak kecil. lama- kelamaan, bercak-bercak kecil ini akan membesar, dan akhirnya daun cabai akan berguguran. penyakit ini dikembangkan dengan sangat cepat, terutama pada musim hujan. serangan yang ringan hanya akan mengurangi produksi buah cabai, sedangkan pada serangan yang berat akan dapat mematikan tanaman.

Pengendalian dilakukan dengan mengatur jarak tanaman, pemangkasan daun-daun yang telah terserang dan membakarnya, serta penyemprotan dengan fungisida.

I. Penyakit busuk daun

Penyakit ini sering disebut juga penyakit patik atau sentik. penyebab utamanya ialah beberapa macam jamur, yaitu fusarium sp, phytopthora sp, dan beberapa macam cendawan sekunder seperti rhizopus sp. gejala serangan ditandai dengan membusuknya daun cabai yang berada di dekat permukaan tanah. percikan air hujan, suhu, dan kelembapan yang tinggi akan memudahkan cendawan menjalar ke bagian tanaman yang lain.

Pembusukan daun akan menjalar, kemudian akan membusukan ranting. terutama pada musim hujan. pada cuaca kering, daun yang busuk akan segera sembuh. akan tetapi, jika pada malam harinya turun hujan, tanaman cabai yang kelihatannya sembuh ini akan terserang lebih berat daripada serangan sebelumnya.

Pada serangan ringan, produksi buah akan menurun karena cendawan bukan hanya merusak daun, melainkan juga ranting, bunga, dan daun bunga. pada serangan berat, tanaman cabai akan mati. pengendalian dilakukan dengan mengatur jarak tanam, pemangkasan bagian tanaman yang telah terserang, sanitasi lapangan, dan penyemprotan dengan fungisida.

J. Penyakit busuk akar

Penyebab penyakit ini adalah kondisi tanah yang buruk atau karena serangan cendawan phythium. tanaman yang terserang menunjukan gejala terhentinya pertumbuhan tanaman, kemudian tanaman layu atau daunnya berguguran walaupun keadaan di sekitar tanaman cukup lembap.

Akar tanaman yang terserang biasanya membusuk. jika akar yang terserang sudah cupuk kuat, cendawan akan menjalar ke batang sehingga batang tanaman akan membusk dan mati. penyebaran penyakit ini melalui aliran air tanah atau air hujan. pengendalian dilakukan dengan pengaturan tata air yang baik, pemusnahan tanaman yang terserang, dan penyemprotan dengan larutan fungisida.

K. Penyakit busuk buah

Patogen penyebab penyakit ini adalah cendawan colletotrichum nugrum. buah yang tersersang akan gugur. kadang-kadang patogen menyerang pucuk dan ranting cabai. patogen menyerang buah di lapangan atau di tempat penyimpanan. buah yang terserang di tempat penyimpanan mutunya menurun.

Pengendalian dilapangan dilakukan dengan cara bercocok tanam yang baik, jarak tanam teratur, pengaturan tata air yang baik, pemusnahan buah yang sudah terserang, serta penyemprotan dengan larutan fungisida yang aman. pengendalian di tempat  penyimpanan dilakukan dengan memisahkan buah yang sehat dan buah yang sakit, serta tidak menyimpan cabai di tempat yang lembap dan tertutup. penyimpanan buah cabai sebaiknya di tempat yang kering dan berventilasi.

L. Penyakit virus keriting dan virus mosaik

Tanaman cabai yang masih lemah sangat mudah terserang virus keriting dan mosaik. penambahan TSP disertai virus lain secara seimbang, kadang-kadang dapat memulihkan tanaman  cabai yang sudah terserang virus. virus menyebar melalui persentuhan antar tanaman yang sakit dengan tanaman yang masih sehat, atau dengan perantara vektornya (kutu daun, tungau, trips, dan siput).

Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan cara memusnahan tanaman yang terserang, perawatan tanaman yang baik, dan pemberantasan hewan yang menjadi vektor.


Sumber : Ir. Iskandar Hadiyanto

No comments for "Cara menanam cabai"