Budidaya jeruk siam



A. Manfaat Tanaman Jeruk
  1. buah jeruk ranyanya manis agak asam dan di dalamnya banyak mengandung vitamin C sehingga dapat meningkatkan pemenuhan gizi keluarga atau masyarakat.
  2. produk buah jeruk tinggi sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani.
  3. dalam skala besar, jeruk tidak hanya untuk pemenuhan kebutuhan buah lokal, tetapi untuk diekspor sehingga dapat menghasilkan devisa negara.
  4. bertanam jeruk merupakan sarana pelatihan mandiri bagi petani karena dengan melakukan budi daya jeruk petani akan menemukan teknik penanaman baru.
  5. dengan melakukan budi daya tanaman jeruk, secara tidak langsung petani telah melakukan swasembada tanaman hortikultura.
B. Syarat tumbuhnya tanaman jeruk

Jeruk dapat ditanam di daerah yang beriklim tropis dan subtropis, tetapi paling baik ditanam  di daerah subtropis karena di daerah ini produksi jeruk dapat mencapai 3-4 ton per ha tahun. temperatus optimal untuk pertumbuhannya ialah antara 25 derajat celcius sampai dengan 30 derajat celcius. di luar temperatus itu pertumbuhan jeruk kurang baik. adapun sinar matahari  yang dikehendaki adalah sinar yang langsung dan penuh selama sehari. jeruk yang ditanam di daerah yang terlindungi tumbuhan sangat lambat jika dibandingkan dengan jeruk yang ditanam di daerah yang terbuka.

Tanah yang berasal dari endapan yang subur, gembur, dan kadar garamnya rendah adalah tanah yang cocok untuk pertumbuhan tanaman jeruk. tanah yang berpasir dan kadar garamnya tinggi tidak cocok untuk tanaman jeruk. tanah jenis ini dapat diatasi dengan pemberian air tawar yang cukup. PH yang dikehendaki ialah sekitar 5 sampai dengan 6. apabila PH tanah di bawah 5, perlu ditambahkan kapur dan dolomit. pemberian dolomit lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan kapur karena dolomit  selain mengandung kalsium juga mengandung magnesium. namun, perlu diketahui bahwa dolomit bereaksi sangat lambat.

Curah hujan yang dibutuhkan sekurang-kurangnya 700 mm dan merata selama setahun. jika curah hujannya tinggi dan tidak diimbangi dengan pembuangan air yang lancar, biasanya tanaman jeruk tumbuh agak kekuningan.

C. Alat dan Bahan

Alat yang harus disiapkan adalah seperti berikut :
  1. cangkul,
  2. sabit,
  3. alat semprot tangan (hand sprayer),
  4. gunting pangkas, dan
  5. timba.
Bahan yang dibutuhkan adalah sebagai berikut :
  1. bibit jeruk,
  2. pupuk,
  3. pestisida, dan
  4. bambu.
D. Perencanaan pemanenan

Sebelum pelaksanaan pemanenan dimulai, kegiatan perencanaan pemanenan sangat diperlukan. adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan pemanenan adalah sebagai berikut.

1. Penentuan jarak tanam

Jarak tanam dipengaruhi oleh jenis atau varetas jeruk dan tingkat kesuburan tanah. artinya, apabila jenis tumbuhan jeruk yang tinggi dan besar, jarak tanam semakin lebar. pengaruh jarak tanam terhadap tingkat kesuburan tanah adalah semakin jarang jarak tanaman akan semakin baik terhadap kesuburan tanah.

Saat ini orang cenderung menanam jeruk dengan jarak tanam yang kerap karena umur jeruk sekarang lebih pendek akibat dari banyaknya serangan penyakit. jarak tanam yang ideal untuk saat sekarang ialah 4 x 5 m atau 4 x 4.

2. Jenis bibit

Jenis bibit yang ditanam dapat berupa setek, cangkok, okulasi, dan biji. untuk penanaman dalam skala bersar, petani pada umumnya menggunakan bibit dari okulasi. alasannya adalah seperti berikut :
  1. mudah didapat,
  2. cepat berproduksi,
  3. cepat pertumbuhannya, dan
  4. dapat dibuat sendiri dengan mudah.
Bibit okulasi yang akan ditanam adalah bibit yang telah berumur 6 sampai 9 bulan sejak bibit tersebut diokulasi. adapun ciri-ciri bibit okulasi yang baik adalah sebagai berikut.
  1. besar antara batang dan batang bawah hampir sama.
  2. tinggi bibit lebih dari 125 cm dari pangkal okulasi.
  3. pertumbuhannya sangat cepat (jagur) dan tidak ada cacat.
  4. bibit tidak sedang tumbuh daun pucuk pada waktu akan ditanam.
  5. bibit tidak sedang terserang hama atau penyakit.

3. Pembuatan lubang tanam

Setelah dilakukan pemotongan, sesuai dengan jarak tanam yang telah ditentukan, dimulai pembuatan lubang tanam. pelaksanaan pembuatan lubang tanam yang baik adalah 1-2 bulan sebelum tanam, yaitu sekitar bulan Agustus kalau dihitung dari januari. pembuatan lubang tanam ada dua cara. dua cara itu berdasarkan tanaman tumpang sari yang akan ditanam selama tanaman jeruk belum berproduksi dan tempat di sekitar tanaman jeruk yang masih memungkinkan untuk ditanami tanaman lain yang tidak mengganggu tanaman pokok.

Jika jeruk tanam bersama-sama dengan tanaman palawija, cara membuat lubang tanam ada sebagai berikut.
  1. dibuat got (parit) keliling terlebih dahulu dengan ukuran lebar 40 cm dan dalam 50 cm.
  2. pada tempat patok ditancapkan dibuat galian lubang tanam dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm. caranya adalah tanah galian bagian atas (sedalam 30 cm) dipisahkan dari tanah bagian bawah. kemudian, lubang tanam didiamkan selama 2-4 minggu.
  3. setelah cukup diangin-anginkan, tanah bagian bawah dimasukan kembali ke dalam lubang.
  4. tanah lapisan atas dicampur dengan 2-3 blek (20-30 kg) pupuk kandang dan 1,5 kg pupuk fosfat.
  5. setelah tercampur rata, masukan campuran tadi kedalam lubang
Jika jeruk ditanam bersama dengan tanaman padi, lubang tanam dibuat dengan sistem gundukan atau biasa disebut sistem terumbuk, cara membuatnya adalah sebagai berikut.
  1. tanah dibasahi terlebih dahulu
  2. pada tempat patok ditancapkan, dengan menggunakan alat lempak (skop) tanah ditinggikan melingkar dengan diameter 70-100 cm dan tinggi 60-70 cm sehingga di tengah lingkaran terdapat udara kosong.
  3. gundukan (terumbuk) dibiarkan beberapa saat. setelah kering, gundukan yang bagian tengahnya masih kosong diisi dengan tanah kering yang dicampur dengan pupuk kandang dan pupuk fosfat dengan perbandingan 20 : 30 : 2.
  4. gundukan dibiarkan 2-4 minggu sambil mengunggu persiapan bibit.

E. Cara menanam

Penanaman sebaiknya dilakukan pada musim hujan, pada musim tersebut keadaan tanah masih basah dan sangat baik untuk pertumbuhan awal tanam jeruk. setelah didapat bibit yang sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan, penanaman dilakukan sebagai berikut.
  1. di tempat patok ditancapkan dibuat lubang yang kira-kira lebar dan dalamnya lebih besar sedikit daripada kantong okulasi (polybag)
  2. kantong okulasi (polybag) diiris pelan-pelan. diusahakan pula agar tanah jangan sampai pecah serta jangan sampai rusak.
  3. bibit jeruk yang kantongnya sudah dibuang dimasukkan ke dalam lubang tanam.
  4. agar bibit yang telah ditanam tidak roboh, tanah galian lubang bibit dimasukkan sambil ditekan atau dipadatkan.
  5. untuk bibit yang berasal dari cabutan. diusahakan agar akar tunggang jangan sampai membengkok pada saat dimasukkan ke lubang. akan tetapi, jika akar terlalu panjang, lebik baik akar dipotong atau dikurangi.
  6. selanjutnya, setiap hari dilakukan penyiraman hingga tanaman sedah tampak hidup. salah satu tanda bawha tanaman mulai hidup adalah tanaman selalu segar setelah ditanam. apabila ada yang layu, biasanya hal itu tampak pada waktu sian dan sore hari, sedangkan pada pagi hari kembali segar. 

F. Perawatan tanaman

Agar dapat diperoleh pertumbuhan dan produksi yang baik, tanaman jeruk harus dipelihara secara intensif. kegiatan pemeliharaan tanaman jeruk itu meliputi hal-hal sebagai berikut.

1. Penyiraman
Jeruk yang baru ditanam, terutama bibit asal cabutan, biasanya terlihat layu pada siang hari. hal itu menunjukan bahwa proses penguapan sangat tinggi. oleh karena itu, penyiraman pada jeruk yang baru ditanam sangat perlu dilakukan.

Penyiraman sebaiknya dilakukan pada pagi hari dan sore. kekerapan penyiraman agak dikurangi setelah tanaman mulai ada tanda-tanda hidup. cara penyiraman yang baik adalah dengan menggunakan gembor. banyaknya air yang disiramkan adalah sampai tanah basah.

2. Pemberian penutup tanah (mulsa)
Untuk mencegah air siraman agar tidak cepat kering serta gulma tidak tumbuh, di bawah pangkal jeruk perlu diberi penutup tanah (mulsa). bahasa mulsa dapat berupa jerami, rumput ilalang, atau daun tumbuh-tumbuhan lainnya. mulsa perlu diberikan untuk tanaman baru ataupun tanaman lama. pada tanaman lama, pemberian mulsa dapat mencegah erosi tanah dan pupuk serta menjaga kelembapan tanah pada waktu musim kemarau sehingga tanah tetap menjadi gembur dan subur.

3. Penyulaman
Jumlah kematian bibit yang berasal dari cabutan lebih tinggi jika dibandingkan dengan bibit yang berasal dari sistem putaran. dua bulan setelah ditanam,tanaman jeruk yang hidup dan yang mati sudah kelihatan. biasanya bibit yang hidup sudah mulai keluar tunas muda (semi), sedangkan bibit yang tidak hidup biasanya batangnya sudah mengering. tanaman yang sudah kelihatan mengering segera diganti. untuk mengganti tanaman yang baru, sebaiknya diambilkan bibit cadangan sulaman yang telah disiapkan sebelumnya dengan cara menggunakan sistem putaran. bibit yang telah mati dicabut. jika akarnya busuk, tanah digali kembali dan dibiarkan, beberapa hari kemudian diberi nematisida dan ditutup kembali bersama-sama dengan tanaman sulaman.

4. Penyiangan
kegiatan penyiangan di sekitar pangkal tanaman jeruk perlu dilakukan secara intensif, terutama pada musim hujan karena pada musim ini gulma tumbuh sangat lebat. ada dua cara menyiangi tanaman jeruk, yaitu seperti di bawah ini.

a. Cara manual
Yang dimaksud dengan penyiangan cara manual adalah cara penyiangan dengan menggunakan sabit atau cangkul. rumput yang akarnya menjalar di permukaan tanah disiangi dengan sabit, sedangkan rumput dan gulma lainnya yang pekarangannya ke dalam, seperti jenis teki, disiangi dengan cangkul.

Penyiangan dengan cangkul hendaknya dilakukan secara hati-hati agar jangan sampai merusak akar tanaman jeruk karena akar jeruk banyak yang mengambang di permukaan tanah. saat penyiangan yang baik adalah menjelang dilakukan pemupukan karena sambil menyiangi sekaligus membuat tempat pupuk.

b. Cara kimia
Bahan kimia yang digunakan ialah herbisida jenis pos planting. seperti round-up atau kleen-up. dosis yang digunakan 2 cc per liter dengan kekerapan penyemprotan 2 bulan sekali. cara ini sangat tepat dilakukan di daerah yang sulit tenaga kerja, sementara itu pertumbuhan gulma sangat cepat.

5. Perbaikan terumbuk
Untuk jeruk yang ditanam bersama dengan tanaman padi, setiap selesai panen terumbuk harus dibesarkan. bersamaan dengan pengolahan tanah untuk tanam padi berikutnya, terumbuk ditanam (dipopok) dengan tanah yang sedang diolah secara melebar.

Setelah tanaman jeruk berumur satu tahun (panen padi tiga kali), terumbuk diperbaiki dengan cara membuat gundukan tanah di dalam baris tanaman jeruk. tanah yang akan diolah diambil dengan cangkul dibuat membentuk gundukan pada tiap-tiap barisan.

6. Pembuatan parit atau saluran irigasi
Guna memperlancar masuknya air ke dalam tanah dan mempermudah pengairan atau penyiraman pada waktu musim kering, setiap dua baris dibuatkan satu parit. ukuran parit adalah 50 cm dan lebar 40 cm.

7. Penggemburan tanah
Sebagai akibat penyiraman dan kegiatan pemeliharaan yang lain, tanah menjadi padat. tanah yang demikian perlu digemburkan agar perkembangan akar dapat leluasa. penggemburan dilakukan dengan hati-hati dengan menggunakan cangkul atau garpu dan jangan sampai merusak akar.

8. Pemupukan
Pemupukan jeruk dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan waktunya, yaitu pemupukan sebelum tanam dan setelah tanam. pemupukan sebelum tanam disebut pemupukan dasar dan pemupukan setelah tanam disebut pemupukan lanjutan, pemupukan dasar dilanlakukan 2-4 minggu sebelum jeruk ditanam dan pupuk yang digunakan ialah pupuk kandang, TSP, ZA dengan perbandingan perlubang 20 : 1 : 0,25. untuk pemupukan lanjutan digunakan urea, ZA, TSP, dan KCL atau tanpa keempat pupuk tersebut, tetapi menggunakan pupuk majemuk (NPK).

Pelaksanaan pemupukan lanjutan adalah awal musim hujan dan akhir musim kemarau (satu tahun dua kali). akan tetapi, para petani ada yang melakukan pemupukan lanjutan dalam satu tahun tiga kali, dengan catatan pada waktu melakukan pemupukan, kondisi tanah dalam keadaan basah, baik basah oleh air hujan maupun karena penyiraman.

Kedua cara pemupukan di atas menunjukan bahwa dosis pupuk yang ditaruh sama. perbedaannya terletak pada kekerapan pemberiannya. adapun dosis pupuk tanaman jeruk adalah sebagai berikut.

No
Umur
Dosis Pupuk
ZA
Urea
TSP
KCI
Pupuk Kandang
Pupuk Daun
1
0 Tahun
-
-
-
-
-
-
2
1 Tahun
-
125
87,5
75
10 ton
3 l
3
2 Tahun
-
175
87,5
75
10 ton
3 l
4
3 Tahun
-
250
100
75
-
5 l
5
4 Tahun
-
250
100
150
-
5 l
6
5 Tahun
-
250
150
150
-
5 l
7
6 Tahun
-
300
175
175
-
6 l
8
7 Tahun
-
300
200
200
-
6 l
9
8 Tahun
-
400
200
250
-
6 l

Baca juga : cara mengolah buah cokelat

Pupuk diberikan dengan cara dibenamkan. artinya, sebelum pemupukan dilakukan, di sekitar pangkal pohon jeruk dibuat lubang pupuk secara melingkar dalam radius tajuk (mahkota) daun. setelah selesai pemupukan, tanah dikembalikan untuk dipupuk

Pupuk lanjutan pertama diberikan setelah tanaman jeruk berumur 2 atau 3 bulan. setelah tanaman berumur satu tahun dan seterusnya dosis yang ada dirikan masing-masing separuh dosis untuk pemupukan satu tahun dua kali. untuk pemupukan satu tahun tiga kali, dosis yang ada diberikan tika kali.

9. Pemangkasan
Tanaman jeruk hanya memerlukan pemangkasan pemeliharaan saja. pemangkasan pemeliharaan itu dilakukan pada aktu menjelang pelaksanaan pemupukan. cabang atau batang yang dipangkas adalah cabang atau batang yang sakit dan jelek.

10. Pengendalian hama dan penyakit

Hama yang paling dominan menyerang tanam jeruk adalah seperti di bawah ini.

a. Ulat daun

Ulat ini muncul dengan jumlah sangat tinggi pada waktu musim hujan atau pada saat tanaman sedang tumbuh pucuk daun (semi). bentuk ulat ini adalah pada waktu masih kecil berwarna hitam dan ada garis putih. setelah dewasa, ulat ini berupah menjadi hijau dan mirip dengan warna daun jeruk. panjangnya mencapai 8 cm. ulat ini menyerang pucuk daun yang masih muda. gejala serangan adalah sebagai berikut.

  1. daun muda atau pucuk daun habis.
  2. di daerah atau di sekitar tempat daun yang diserang terdapat kotoran.
  3. jika tanaman tersentuh, ada bau khas seperti jeruk.
Akibat serangannya adalah daun-daun muda habis sehingga dapat menghambat pertumbuhan tanaman. masa hidup ulat daun sekitar 19-26 hari. selanjutnya, ulat daun menjadi kepongpong.

Pengendaliannya dapat dilakukan seperti berikut.
  1. secara mekanis (jika terlihat pada tanaman, ulat segera diambil kemudian dibunuh).
  2. secara alamiah (ulat ini sering dimakan burung prenjak dan burung penthet).
  3. secara kimiawi (dapat digunakan insektisida yang bersifat kontak, seperti suprasid, lanat, atau sumition dengan dosis 2-5 cc per liter air).
b. Kutu Pucuk (aphis)
Kutu pucuk berwarna cokelat kemerahan sampai cokelat hitam. panjangnya 1,2 - 2 mm. ada yang bersayap dan ada yang tidak. kutu ini  berkembang biak secara partenogenesis (tanpa melalui perkawinan). hama ini mulai muncul pada akhir musim hujan dan populasi terbanyaknya pada waktu musim kemarau. kutu pucuk menyerang pucuk-pucuk daun yang masih sangat muda.

Akibat serangan daun menggulung kebawah dan ke dalam. daun menjadi rapuh dan tidak dapat melebar. gulungan merupakan tempat persembunyiannya. selain itu, kutu ini menggerombol di tangkai dan dibunga-bunga yang akan mekar. pengendalian yang paling tepat dan cepat adalah dengan menggunakan insektisida, seperti suprasit, azodrin, semiton, atau fasta dengan dosis 2 cc per liter air.

c. Kutu dompolan

Kutu ini berwarna oranye dan berselaput putih sehingga warnanya putih. kutu ini menggerombol pada tangkai buah dan bagian bawah buah serta hidup bersama atau bersimbiosis dengan semut. akibat serangannya adalah buah menjadi gugur dan warna buah kurang menarik (kotor). serangan tertinggi terjadi pada musim kemarau.

Pengendalian secara fisik dapat dilakukan, yaitu kutu yang menempel digosok dengan kain atau sabut kelapa. pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida, seperti lanate, azodrin, atau suprasit dengan dosis 2 - 5 cc per liter air.

d. Jamur upas

Jamur ini menyerang ranting, cabang, dan kadang-kadang batang. di daerah yang diserang terlihat adanya benang-benang putih mengkilat seperti sutra yang menyerupai sarang laba-laba. akibat serangannya adalah kulit dan kayu berwarna cokelat dan daun-daun di atasnya menjadi layu dan mengering. selanjutnya, daun rontok dan akhirnya cabang mati.

Pengendaliannya adalah apabila masih pada tingkat awal dilakukan dengan menggunakan fungisida seperti dithane, antracol, atau banlate dengan dosis 3-5 cc per liter dengan kekerapan 10 hari sekali. jika sudah pada tingkat kematian cabang, yang terbaik adalah dengan cara memotong cabang yang akan mati dan segera membakarnya di tempat yang aman.

e. Jamur jelaga

Pada pertengahan musim hujan, dipermukaan atas daun jeruk terdapat bintik-bintik kecil berwarna kuning yang menyerupai kotoran burung. bintik-bintik itu lama-lama lebebar dan berubah menjadi cokelat tua dan akhirnya hitam seperti jelaga. warna hitam itu menutupi permukaan daun jeruk sehingga dapat mengganggu proses fotosintesis. 

Jamur ini bersimbosis dengan kutu putih dompolan yang menempel dipangkal antara tangkai dan buah. jika terlambat dalam mengendalikan, buah yang terserang berwarna hitam dan kotor. pengendalian yang tepat adalah menggunakan fungisida dithane atau antracol dengan dosis 3-5 g per liter dengan kekerapan dua minggu sekali, biasanya 2-3 hari setelah penyemprotan, jamur yang melekat pada daun mulai mengelupas.

f. Busuk akar 

Penyebab busuk akar adalah serangan cendawan armillaria mellea. akibat serangan cendawan ini adalah daun menjadi kuning atau merah tembaga, kemudian menjadi layu. selanjutnya, daun rontok dikit demi sedikit atau rontok secara keseluruhan, secara tiba-tiba dan akhirnya batang mengering. selain tanda atau gejala di atas, biasanya tanaman jeruk berbunga lebat di luar musim bunga, kemudian bunga gugur semua dan akhirnya tanaman mati perlahan-lahan.

Pengendalian ada dua cara.
  1. tanah digali dan akar yang busuk dipotong. kemudian disemprot dengan fungisida. tanah dibiarkan beberapa hari terbuka dan selanjutnya ditutup kembali.
  2. untuk tingkat serangan yang sudah parah, sebaiknya tanaman dicabut atau dibongkar, kemudian dibakar di tempat yang lain yang aman.

F. CVPD (citrus vein plom degeneration)

Penyakit ini disebabkan oleh jasad hidup yang menyerupai bakteri. jaringan plom dirusak sehingga pengangkuta hasil fotosintesis terlambat atau menumpuk. akibatnya, terjadi penimbunan zat pati. daun tanaman jeruk mengalami klorosis dan tidak berwarna hijau mengkilap tetapi kusam. tulang daun menebal dan daging daun pucat. arah daun condong ke atas dan kaku. selanjutnya, tanaman menjadi kerdil dan akhirnya layu.

Pengendalian ada dua cara.
  1. jika serangan belum parah, cabang yang sakit dipotong, kemudian dibakar dan bekas potongan dibiarkan tumbuh. apabila tunas yang baru tidak menunjukan gejala diatas, hal itu berarti ada kemungkinan sembuh.
  2. apabila serangan sudah parah, sebaiknya tanaman dibongkar dan diganti dengan tanaman yang baru.
11. Penjarangan buah
biasanya tanaman jeruk siam mulai berproduksi ketika berumur 3 tahun, buah pertama sebaiknya dibuang, jika ingin memelihara sebaiknya cukup 40% saja. maksud pembuangan buah pertama adalah untuk mempersiapkan pohon agar benar-benar kuat pada musim berikutnya. tanaman muda yang dibiarkan berbuah lebat akan menjadi lemah sehingga mudah terserang hama dan penyakit. tragisnya tanaman tidak akan berumur panjang. setelah tanaman mampu berproduksi, kegiatan penjarangan buah tetap harus dilakukan, terutama pada tanaman yang buahnya lebat bergerombol. buah yang lebat tanpa mengalami penjarangan, kualitasnya akan jelek karena buah tidak besar.

Cara menjarangan buah tersebut adalah buah yang bergerombol dikurangi dan disesuaikan dengan kemampuan cabang. saat penjarangan adalah ketika bakal buah (pentil) jeruk sebesar kelereng kecil (berumur 2 bulan sejak mekar). penjarangan jangan sampai terlambat karena jika terlambat buah lain yang ditinggalkan tetap tidak dapat menjadi besar sehingga kualitas buah tetap jelek.

12. Penyangga buah
Penyangga buah diperlukan apabila pohon jeruk tampak terlalu berat dibebani buah meskipun telah dilakukan penjarangan. alat penyangga selain terbuat dari bambu, dapat juga dari cabang kayu atau pelepah daun kelapa yang ditancapkan dengan pangkal di atas.

13. Panen
Tingkay kemasakan buah jeruk dapat ditentukan melalui dua cara. berdasarkan umurnya, buah jeruk sudah masak secara optimal setelah berumur 6-8 buah terhitung sejak bunga mekar. akan tetapi, tanaman jeruk yang berbuah untuk yang pertama (buah unggulan) umumnya lebih panjang, yaitu 9 bulan. berdasarkan ciri fisiknya, buah jeruk sudah dapat dipetik apabila telah memiliki tanda-tanda sebagai berikut.

  1. kulit yang semua berwarna hijau berubah menjadi agak kekuningan (ada bagian yang menguning).
  2. apabila dipegang (dipijat), buah tidak keras (empuk).
  3. bagian bawah buah (dubur buah) agak masuk (cekung)
  4. warna kulit buah mengkilap.
berdasarkan dua cara tersebut, buah jeruk dapat dipetik (dipanen). cara memetiknya adalah buah diputar sedikit. kemudian, ibu jari ditekan ke tangkai. buah dimasukkan kekeranjang bambu yang kapasitasnya 20 kg agar buah yang dilapisan bawah tidak rusak karena gaya berat dan juga untuk memudahkan pengangkutan. selanjutnya, buah diangkut ke tempat penampungan untuk dipilih atau dipisahkan antara yang jelek (cacat) dan yang baik. kemudian, jeruk dipisahkan berdasarkan kelasnya yang biasa disebut grading. pengelompokan ini didasarkan pada besar atau berat buah perkilogram. berikut ini adalah cara menentukan kelas dan mutu buah jeruk.
  1. Kelas A : beratnya lebih tinggi dari atau sama dengan 151 g/buah atau berdiameter 7,1 cm.
  2. Kelas B : beratnya 101 - 100 g/buah atau berdiameter 6,7 - 7,0 cm.
  3. Kelas C : beratnya 51 - 100 g/buah atau berdiameter 5,1 - 6,0 cm.
  4. Kelas D : beratnya lebih kecil atau sama dengan 50 g/buah atau berdiameter 4,0 -5,0 cm
Selain berdasarkan cara diatas, untuk keperluan lokal, petani mengelompokan kelas buah menjadi dua, yaitu buah yang berukuran kecil dan berukuran besar. buah yang berukuran kecil dinamanak buah kril. buah yang berukuran besar dipilih lagi menjadi dua pula, yaitu buah yang sangat besar disebut bom dan yang di bawah bom dinamakan mutu biasa. cara ini biaanya dipakai oleh petani pada umumnya.

Sumber : Ir. Iskandar Hadiyanto


No comments for "Budidaya jeruk siam"