Ternak sapi perah

Manfaat dan Keuntungan Ternak Sapi Perah

Ternak sapi perah adalah ternak sapi yang dapat menghasilkan susu. Ternak ini sudah banyak dikenal para peternak di pedesaan. Manfaat dan keuntungan yang dapat diperoleh ternak sapi perah ini adalah sebagai berikut.


  • Susu, susu sangat dibutuhkan oleh semua orang dan semua umur dari bayi, anak-anak, orang dewasa, sampai orang tua lanjut usia karena susu mempunyai nilai gizi yang tinggi. Bayi yang susu ibunya tidak mencukupi atau tidak keluar dapat dibantu dengan memberikan susu sapi perah ini. Bagi anak-anak, susu berguna bagi pertumbuhan dan kecerdasan anak serta kesehatan tubuhnya. Bagi orang dewasa dan orang tua yang lanjut usia, susu ini sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan. Susu bermanfaat untuk memulihkan kesehatan dengan cepat, terutama untuk orang yang sedang sakit atau baru sembuh dari sakit.
  • Anak sapi perah, Pada umur sekitar dua bulan, sapi perah betina sudah dapat menghasilkan anak.
  • Kotoran, Kotoran sapi dapat dibuat kompos yang digunakan sebagai pupuk tanaman.
  • Tambahan pendapatan.
Namun demikian, berhasil tidaknya usaha ternak sapi perah ini memberikan manfaat dan keuntungan bagi peternak yang mengelola sangat tergantung pada beberapa faktor, yaitu sebagai berikut.
  • Bibit sapi perah.
  • Kandang sapi perah.
  • Pakan sapi perah.
  • Pemeliharaan atau perawatan sapi perah.
  • Pemerahan sapi perah.
  • Penyakit sapi perah.

Bibit Sapi Perah

Bibit merupakan salah satu faktor yang penting dalam usaha ternak sapi perah. Bibit yang baik, pakan yang baik, dan tata laksana yang baik akan dapat menghasilkan produksi susu yang tinggi. Akan tetapi, jika bibit jelek meskipun pakan dan tata laksana baik tidak akan menghasilkan produksi susu tinggi. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan bibit sapi perak yang baik adalah dengam memperhatikan bentuk luar badan sapi perah.
  • Bentuk badan segitiga.
  • Kepala tidak teralu berat dan terlihat kuat.
  • Dahi lebar dan cekung.
  • Leher panjang, lebar, dan terdapat lipatan-lipatan kulit yang lunak.
  • Kulit tidak kering dan jika dilipat cepat kembali.
  • Punggung lurus dan gumba terlihat baik.
  • Pangkal ekor tinggi, ekor lurus kipas bulu lebat.
  • Dada lebar dan dalam.
  • Perut besar dan tidak menggantung.
  • Kaki, tulang pipa lurus, dan jarak kedua kaki belakang cukup besar.
  • Ambing besar, lunak, dan puting besar, panjang, berbentuk silinder, letak simetris (sejajar), pembuluh darah terlihat jelas dan berkelok-kelok.
Disamping itu, perlu diperhatikan pula mengenai hal-hal berikut.
  • Kesehatan sapi perah, Ternak sapi perah yang sehat akan terlihat ;
  • Mata bersinar.
  • Bibir basah.
  • Nafsu makan baik.
  • Asal-usul sapi atau silsilah keturunan sapi.
  • Catatan produksi, jika sudah berproduksi.

Kandang Sapi Perah.

Kandang sapi perah adalah tempat ternak beristirahat dengan nyaman tanpa kehujanan dan kepanasan karena panas matahari. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan kandang ialah sebagai berikut.
  1. Kandang dapat memberi kenyamanan pada ternak sapi perah yang menempatinya.
  2. Kandang didirikan terpisah dari rumah tempat tinggal dan berjarak cukup jauh.
  3. Kandang tidak berdekatan dengan bangunan umum, seperti sekolah, masjid, puskesmas, dan rumah sakit.
  4. Kandang ternak dekat dengan sumber pakan, sumber air dan mudah pengangkutannya sehingga melancarkan pemasaran hasil produksi.
  5. Kandang cukup luas dan memungkinkan untuk perluasan pemeliharaan.
  6. Kandang memenuhi persyaratan bagi kesehatan sapi perah.
  7. Kandang mudah dibersihkan dan selalu terjaga kebersihannya.
  8. Kandang memberi kemudahan bagi pekerja kandang dalam melakukan pekerjaannya sehingga menghemat kerja.
  9. Kandang dibuat dengan arah membujur dari utara ke selatan dan bahan kandang berasal dari bahan yang tidak terlalu mahal (terjangkau oleh peternak), mudah didapat, kuat, tahan lama, praktis, dan memenuhi persyaratan kandang yang baik.
  10. Dinding kandang dibiarkan terbuka lebih dari 1 m semacam ventilasi (lubang angin atau tempat keluar masuknya angin) terbuka sehingga udara lancar keluar masuk.
Bentuk dan tipe kandang sapi perah pada dasarnya tergantung pada :
  • Jumlah sapi perah yang dipelihara.
  • Keadaan iklim dan luas lahan yang tersedia.
  • Selera peternak.

Pada saat ini dikenal dua bentuk kandang sapi perah, yaitu :

1. Kandang konvensional (kandang tunggal)

  • Pada kandang ini sapi perah, ditempatkan dalam satu jajaran yang masing-masing dibatasi oleh satu penyekat.
  • Penyekat dapat dibuat dari tembok beton atau dari besi bulat. Sekat ini dimulai dari tempat pakan, sampai sepanjang sapi perah berdiri. Tinggi penyekat pada tempat pakan sekitar 1 m dan pada bagian belakang sapi dibatasi oleh penyekat tersebut diikat dengan rantai atau tambang.
  • Pada bagian ujung lantai sebelah tempat pakan dibuat bulatan kecil dari besi yang dibengkokkan dan di tanam di lantai sebagai tempat untuk mengikat rantai atau tambang.
  • kandang tunggal berdasarkan tempat kontruksinya di bagi atas dua tipe.
  1. kandang  tunggal tipe satu baris, yaitu kandang sapi perah tempat sapi ditempatkan pada satu baris. Kandang tunggal tipe satu baris sebaiknya digunakan apabila sapi perah yang dipelihara kurang dari sepuluh ekor.
  2. kandang tunggal tipe dua baris, yaitu kandang tunggal tempat sapi perah ditempatkan dalam dua baris sapi dengan saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Di antara dua baris sapi-sapi perah itu dibuat jalur untuk jalan. Kandang ini sebaiknya digunakan apabila sapi lebih dari sepuluh ekor. Kandang tunggal dengan tipe dua baris dan saling bertolak belakang ini merupakan kandang yang paling efisien penggunaan tenaga kerjanya.

2. Kandang bebas

  • Kandang ini berupa suatu ruangan yang luas tanpa penyekat di antara sapi perah, dalam kandang ini sapi perah bebas bergerak.
  • Kandang bebas ini membutuhkan lahan yang lebih luas dibandingkan dengan kandang tunggal. Akan tetapi, tenaga kerja yang diperlukan lebih sedikit dan biaya pembuatannya lebih murah.
  • Pemberian pakan, air minum, dan pemerahan tidak dilakukan di kandang ini.
  • Kandang bebas jarang dijumpai di perternakan sapi perah di Indonesia karena membutuhkan lahan yang labih luas. Namun, ada juga peternak sapi perah yang menggunakan kandang bebas ini, khusus untuk pedet dan dara yang belum cukup umur untuk dikawinkan.
Bertitik tolak dari lahan yang dimiliki oleh ternak sapi perah di Indonesia semakin sempit, kandang yang lebih sesuai digunakan adalah kandang tunggal, baik tipe satu baris, maupun dua baris. Macam-macam kandang dan ukurannya adalah sebagai berikut.

a. Kandang sapi perah induk

Kandang sapi perah dara mempunyai bentuk dan ukuran kandang yang sama dengan kandang sapi perah induk. Kandang dengan ukuran panjang 160 cm dan lebar 135 cm. Panjang Tempat pakan dan tempat minum 135 cm. Tempat pakan dengan panjang 95 cm, lebar 50 cm, dan dalam 40 cm. Tempat minum dengan panjang 40 cm, lebar 50 cm, dan dalam 40 cm. Antara tempat pakan dan tempat minum dibuat satu penyekat kira-kira setebal 10 cm. Selokan dengan lebar 30-40 cm, kedalaman 20-25 cm. Jalan samping dengan lebar minimal 1 m. Kemiringan lantai kandang 1 cm.

b. Kandang pedet (anak sapi)

Kandang pedet terdiri atas dua jenis.

1. Sebelum disapih atau masih menyusui,  
  • Kandang individu (kandang yang ditempati oleh satu ekor ternak) dan tidak perlu diikat.
  • Ukuran kandang, panjang 200 cm dan lebar 120 cm.
  • Tinggi dinding samping kiri, depan, dan belakang masing-masing 1 m.
Kandang pedet dibuat berdampingan dengan kandang sapi perah induk. Setiap 4 ekor sapi perah induk harus ada satu kandang anak sapi. 

2. Setalah disapih sampai umur satu tahun
  • Secara kelompok (tidak boleh lebih dari 6 ekor) dan tidak perlu diikat.
  • Kandang dengan ukuran panjang dan lebar sama, yaitu 180 cm.
Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kandang hendaknya dipilih yang tahan lama, dapat memberikan kenyamanan bagi sapi perah, dan harganya terjangkau oleh peternak.

a. Lantai kandang dapat berasal dari.
  • Beton, dengan campuran terdiri dari 1 bagian semen, 2 bagian pasir, dan 3 bagian kerikil, kemiringan 2 cm dan tebal 5 cm.
  • Kayu, latak kayu searah dengan badan sapi, kemiringan 1 cm, tebal minimal 3 cm, jarak 15 cm dari lantai plester.
b. Dinding
Penggunaan dinding sebaiknya hanya untuk daerah-daerah yang banyak angin dengan tinggi bagian depan, kiri, dan kanan masing-masing 1 m. Daerah-daerah yang anginnya sedikit, tidak perlu menggunakan dinding dan sebaiknya dengan menanam pohon-pohonan.

c. Atap
  • Atap dapat menggunakan genteng, daun tebu, daun kelapa, alang-alang, rumbia, ijuk, asbes, atau seng.
  • Daerah-daerah yang banyak angin sebaiknya menggunakan genteng. Pada daerah yang berhawa angin , bahan atap dapat dari asbes atau seng.
d. Tempat pakan dan tempat air minum
Tempat pakan dan air minum dapat dibuat dari tembok beton dengan lubang pembuangan air pada bagian sebelah bawah. Selain itu, tempat pakan dapat pula dibuat dari papan atau kayu, tempat minum dari ember, dan bentuknya dibuat cekung.

e. Penyekat
Penyekat antara sapi perah dapat terbuat dari tembok beton, besi bulat, kayu bulat, atau dari bambu.


Pakan Sapi perah

Ternak sapi perah hendaknya diberi pakan yang baik, baik mutu maupun jumlahnya dan disesuaikan dengan kebutuhan ternak sapi tersebut. Pakan sapi perah dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu :

1. Pakan kasar (Hijauan)

  • Pada umumnya sapi perah biasa diberi hijauan, seperti rumput gajah, rumput benggala, rumput setaria,daun turi, dan daun lamtoro.
  • Pemberian hijauan pada sapi perah sebanyak 10% dari bobot badan, misalnya 30 kg/ekor/hari dan hijauan ini diberikan dua kali sehari. Pemberian hijauan ini sebaiknya sesudah pemerahan agar tidak mempengaruhi mutu air susu.

2. Pakan penguat (Konsentrat)

  • Konsentrat ini merupakan campuran dari beberapa bahan pakan, seperti bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, dedak halus, tepung jagung, garam dapur, kapur, dan tepung tulang.
  • Pemberian konsentrat ini pada sapi perah tergantung pada bobot badan sapi dan tingkat produksi susunya, rata-rata sebanyak 4-5 kg/ekor/hari.
Selain diberi hijauan dan konsentrat, sapi perah diberikan vitamin dan mineral yang dapat dibeli di toko penjual pakan ternak. Biasanya cara dan dosis pemakaiannya ada pada pembungkusnya. 

Cara pemberian pakan pada sapi perah adalah sebagai berikut.

a. Pakan pedet (sejak lahir-3 bulan atau disapih)

  • Pedet (anak sapi) sejak lahir sampai umur 4 hari cukup diberi kolustrum dari induknya atau induk sapi lain.
  • Pedet (anak sapi) setelah umur 4 hari sampai disapih diberi air susu dari induknya atau susu lain ditambah pakan lain, yaitu :
Umur 10 hari, pedet mulai dilatih makan pakan penguat dan sebelumnya sudah disediakan hijauan segar yang bermutu baik.
Mulai umur 3 minggu, pedet mulai diberi minum air segar terutama anak sapi yang diberi kosentrat.

Jumlah kolustrum dan air susu yang diberikan sejak lahir sampai umur 4 minggu tidak boleh kurang 10% dari bobot badan. Pemberian air susu itu sebelumnya perlu dihangatkan terlebih dahulu. Pemberian kolustrum dan air susu diberi 3 kali dalam sehari, yaitu pagi, siang, dan sore.
  • Pemberian rumput pada anak sapi dipotong-potong kecil dan diberikan sedikit demi sedikit sampai umur 3 bulan dicampur dengan daun kacang-kacangan.


b. Pakan anak sapi (3-6 bulan)

  1. Hijauan setelah dipotong-potong, diberikan secara bebas.
  2. Pakan penguat dapat dibeli dan juga dibuat sendiri. Apabila bahan pakan tidak lengkap dapat menggunakan campuran yang terdiri atas bekatul atau dedak dan bungkil kelapa dengan perbandingan 1: 1 ditambah garam secukupnya. Untuk setiap 100 kg bobot badan diberikan sebanyak 1 kg pakan penguat.
  3. Air minum yang bersih disediakan secara bebas.
  4. Jika ada lapangan atau padang pengembalaan sebaiknya anak sapi dilepas.

c. Pakan anak sapi (6 bulan -1 tahun)

  1. Hijauan diberikan secara bebas.
  2. Pakan penguat dapat diberikan bungkil kelapa dan bekatul atau dedak dengan perbandingan 1 : 2.
  3. Air minum yang bersih disediakan secara bebas.
  4. Sebaiknya anak sapi dilepas.

d. Pakan sapi dewasa

Pemberian pakan sapi dewasa harus didasarkan pada umur, bobot badan, dan produksi.

Pemeliharaan Sapi Perah

Pemeliharaan sapi perah dapat dibagi berdasarkan jenisnya.
  1. Pemeliharaan sapi perah bunting (hamil).
  2. Pemeliharaan anak sapi perah.
  3. Pemeliharaan sapi perah dara.
  4. Pemeliharaan sapi perah pejantan.
  5. Pemeliharaan sapi perah laktasi.

1. Pemeliharaan sapi perah bunting (hamil)

Sapi perah yang sedang bunting (hamil) perlu mendapatkan penanganan yang serius. Hal penting yang harus diperhatikan pada sapi perah hamil adalah pakan dan kesehatannya. Sapi perah hamil yang mendapat pakan yang baik, baik mutu maupun jumlahnya serta kesehatannya terpelihara dengan baik akan melahirkan anak yang sehat dan kuat serta produksi susu yang tinggi.

Sapi perah yang hamil akan menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut.
  • Tidak timbul birahi.
  • Nafsu makan tinggi.
  • Perut sebelah kanan membesar.
  • Sapi yang sedang berproduksi susu menurun produksinya.
  • Ambing membesar.
  • Timbul sifat sapi makan yang tidak umum dimakan, seperti tanah, pasir.
  • Menyendiri pada tempat yang tenang.
  • Pada umur kehamilan bula kelima dapat dilihat gerakan janin (calon anak), terutama pada saat sapi minum.
  • Terlihat lendir kental kehitam-hitaman yang menempel pada alat kelaminnya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh peternak sapi perah dalam pemeliharaan (perawatan) sapiperah hamil adalah sebagai berikut.
  • Sapi perah yang sedang hamil ditempatkan pada kandang hamil.
  • Pemberian pakan yang baik, baik jumlah maupun mutunya, terutama setelah kehamilannya sapi perah berumur lebih dari dua bulan. hal itu disebabkan sapi perah yang hamil harus mempersiapkan perkembangan janin yang dikandungnya dan memperbaiki kondisi tubuhnya sendiri untuk produksi susu berikutnya.
  • Perlu dilakukan gerak badan atau dilepas di padang penggembalaan agar pada waktu melahirkan tidak mengalami kesulitan.
  • Sapi perah yang hamil sekitar tujuh bulan, pakan harus ditambah, terutama pakan penguat (konsentrat) untuk pertumbuhan calon anak dan menyiapkan produksi susu.
  • Pada umur kehamilan sapi perah tujuh bulan, sapi tidak diperah lagi untuk mempersiapkan produksi susu yang akan datang.

Pengeringan susu dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
  1. Pemerahan berselang, yaitu sapi perah diperah satu kali dalam sehari kemudian satu kali dalam dua hari.
  2. Pemerahan tidak lengkap, yaitu sapi perah tidak diperah beberapa hari baru kemudian diperah secara berselang dan setelah produksi susu menurun menjadi dua liter tidak diperah lagi.
  3. Pemberhentian pemberian konsentrat secara tiba-tiba. Tiga hari sebelum pemerahan dihentikan, rumput dikurangi setengah atau sepertiga dari jumlah pakan sehingga produksi susunya turun.
  4. Penghentian konsentrat dengan tiba-tiba bersama-sama dengan pemerahan berselang.
  • Pemberian pakan yang baik dengan kandungan protein yang tinggi sekitar tiga atau empat minggu menjelang sapi perah beranak. Tanda-tanda sapi perah yang akan beranak :
Ambing membesar dan renggang, keluar lendir, dan terlihat gelisah.


Beberapa hal yang perlu dilakukan oleh peternak pada saat sapi perah menjelang beranak dan sesudah beranak.
  1. Apabila terdapat tanda-tanda sapi akan melahirkan, segera sapi dipindahkan ke kandang beranak yang telah beralaskan jerami.
  2. Pada saat sapi melahirkan, peternak cukup menunggu saja, kecuali jika terjadi kesulitan melahirkan baru dibantu. Setelah melahirkan, induk sapi menjilati anaknya yang bertujuan untuk membersihkan lendir dan membatu peredaran darah, untuk menambah semangat induk menjilati anaknya, diberi garam dapur. Apabila induk tidak mau menjilati anaknya, Peternak harus segera membersihkan dengan kain lap yang dicelupkan ke dalam air hangat.
  3. Setelah selesai melahirkan, induk segera dibersihkan (dimandikan) dan diberi makan hijauan serta disediakan air minum, kemudian dilakukan pemerahan.
  4. Air susu pertama selama 3-5 hari disebut kolustrum dan harus diberikan pada anak sapi. Sebaiknya, sapi diperah tiga kali dalam sehari (pagi, siang, dan sore).
  5. Sapi yang menunjukan tanda-tanda birahi pertama setelah melahirkan tidak boleh dikawinkan, tetapi harus menunggu sampai 60 hari supaya alat-alat tubuh bagian dalam induk betul-betul sehat kembali.
  6. Agar sapi dapat beranak setiap tahun, induk harus dikawinkan pada saat terlihat tanda-tanda birahi yang ketiga setelah beranak.
  7. Sebaiknya, sapi dimandikan setiap hari sebelum diperah.
  8. Apabila nafsu makan sapi menurun atau produksi susunya menurun dengan mendadak, harus segera dicari penyebabnya.

2. Pemeliharaan anak sapi perah (sejak lahir-6 bulan)

Anak sapi, sejak lahir sampai umur tiga bulan, mempunyai tingkat kematian paling tinggi. Penyebab terjadinya kematian yang tinggi tersebut adalah sebagai berikut.

a. Anak sapi lahir dalam keadaan lemah
Fakror-faktor yang mempengaruhi anak sapi lahir dalam keadaan lemah adalah.
  • Kesehatan induk kurang baik.
  • Pakan induk mutunya rendah (tidak baik).
  • Anak sapi lahir sebelum waktunya.
b. Kandang kurang memenuhi syarat
Faktor yang menyebabkannya adalah sebagai berikut.
  • Kandang dalam keadaan becek.
  • Alas kandang anak sapi tidak pernah diganti sehingga menyebabkan kondisi anak sapi kurang baik dan dapat menyebabkan anak sapi sakit dan mati.
c. Pemberian pakan yang kurang memenuhi syarat
Faktor-faktor yang menyebabkan adalah sebagai berikut.
  • Jumlah susu terbatas dari induk.
  • Pemberian pakan penguat sebelum waktunya.
  • Pemberian susu anak sapi yang sudah dingin sehingga menyebabkan sakit kembung atau diare yang menyebabkan kematian anak sapi.

Hal-hal yang perlu dilakukan dalam pemeliharaan anak sapi adalah sebagai berikut.
  1. Setelah anak sapi lahir, segera letakkan di atas jerami yang bersih dan kering. Kemudian hidung dan mulutnya dibersihkan dari lendir untuk memperlancar pernapasan. Jika anak sapi tidak segera bernapas perlu dibantu dengan pernapasan buatan atau dengan cara mengangkat kaki belakang dan kaki depan ke bawah, keadaan ini diulang beberapa kali.
  2. Setelah pernapasan baik, tali pusat diikat 5-10 cm dari pangkal perut dengan tali yang telah disterilkan atau didesinfektan (dibebashamakan) dengan alkohol. Setelah diikat, kemudian dipotong. Untuk menghindari terjadinya infeksi, tali pusat perlu dicelupkan ke dalam yodium sampai pangkalnya.
  3. Anak sapi yang baru lahir, baru dapat berdiri dan minum susu induknya (kolustrum) setelah 30-60 menit. Penyusuan anak sapi pada induknya itu dimaksudkan untuk mengeluarkan kotoran pertama kali pada anak sapi tersebut sehingga dapat memberikan daya tahan (antibodi) terhadap anak sapi.
  4. Pemisahan anak sapi dari induknya dapat dilakukan sesudah sapi berumur 24-36 jam. Setelah dipisahkan, anak sapi tersebut dianjarkan minum susu liter susu hangat ke dalam ember. Kemudian, ember tersebut didekatkan pada mulutnya. Apabila anak sapi tidak mau minum perlu dibantu dengan cara tangan dibasahi air susu, kemudian dimasukkan kedalam mulutnya secara perlahan. Kepala anak sapi yang sedang menghisap jari didekatkan ke dalam ember makan anak sapi itu dapat minum susu yang ada di dalam ember. Pemberian susu ini dilakukan dua kali sehari (pagi dan sore). Jumlah susu yang diberikan 8-10% dari berat badannya dan diberikan sampai anak sapi berumur tiga setengah bulan. 
  5. Hijauan diberikan pada umur dua minggu sedikit demi sedikit dan sebelum umur 6 bulan juga diberikan hijauan lebih dari 5 kg.
  6. Pemberian pakan penguat untuk anak sapi dimulai sejak berumur 3-4 minggu sebanyak 1/4 kg/ekor/hari, pemberiannya dapat dicampur dengan air susu. Pada umur 2 bulan sebanyak 1/2 kg/ekor/hari, pada umur 6 bulan sebanyak 1/2 kg/ekor/hari.
  7. Anak sapi baru boleh digembalakan setelah berumur 4-6 bulan dan dipisahkan dari kelompok sapi dewasa agar tidak terganggu.
  8. Setiap pagi kandang anak sapi harus dibersihkan dari sisa pakan dan kotoran untuk menjaga agar kotoran tidak melekat pada tubuh sapi.
  9. Anak sapi jika kotor dimandikan dengan air bersih, kemudian dilepas.
  10. Anak sapi yang sehat tampak senang bergerak, berlari-lari, dan senang merumput. Apabila nafsu makan menurun atau terlihat mencret, segera laporkan kepada dokter hewan. 

Pemberian air susu untuk anak sapi umur.
  1. 1-2 hari jumlah susu tidak terbatas, susu berasal dari induknya. 
  2. 3-6 hari jumlah susu sebanyak 3 liter.
  3. 1-3 minggu jumlah susu sebanyak 4 liter.
  4. 3 minggu -1.5 bulan jumlah susu sebanyak 5 liter.
  5. 1,5 - 2 bulan jumlah susu 4 liter
  6. 2- 2,5 bulan jumlah susu sebanyak 2 liter.
  7. 3 bulan jumlah susu sebanyak 2 liter.
  8. 3,5 bulan jumlah susu sebanyak 1 liter (sekitar 4 gelas).

3. Pemeliharaan sapi dara (6-18 bulan)

Pada umur 8 bulan sapi sudah menunjukkan tanda-tanda birahi (ingin kawin) sebagai berikut.
  • Sering menguak.
  • Suka menaiki sapi yang lain.
  • Alat kelaminnya berwarna merah, membengkak, dan agak panas.
  • Mengeluarkan lendir.
Apabila sapi menunjukan tanda-tanda seperti itu perlu dicatat, tetapi sapi tidak boleh dikawinkan.

Pada umur 18 bulan apabila sapi minta kawin harus segera dilaporkan kepada petugas IB (inseminator) agar dapat di IB (inseminasi buatan atau kawin suntik) atau langsung dikawinkan dengan pejantan. Sebagai pedoman untuk mengawinkan sapi yang tepat adalah apabila sapi birahi.
  • pada pagi hari (sebelum pukul 12 siang) maka waktu yang tepat untuk mengawinkan sapi adalah pada sore hari.
  • pada siang hari (sesudah pukul 12 siang) maka waktu yang tepat untuk mengawinkan sapi keesokan harinya pada waktu yang sama.
Apabil perkawinan berhasil maka tanda-tanda birahi tidak terlihat lagi, apabila perkawinan tidak berhasil, tanda-tanda birahi akan timbul kembali sekitar 3 minggu setelah dikawinkan.


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangbiakkan sapi perah adalah sebagai berikut.
  1. Lama birahi sekitar 6-36 jam (rata-rata 18 jam).
  2. Siklus birahi (jarak antara timbulnya birahi pertama dengan birahi berikutnya) sekitar 17-26 hari (rata-rata 21 hari).
  3. Lama hamil sekitar 275-287 hari.
  4. Sapi dara (betina) dikawinkan pertama kali pada umur 16-18 bulan, sedangkan sapi jantan sekitar umur 20 bulan.
  5. Sapi dapat dikawinkan kembali dan waktu yang baik adalah 60 hari setelah beranak.
  6. Calving interval (jarak antara satu kelahiran dengan kelahiran berikutnya) yang baik adalah 12-14 bulan.
Kebersihan sapi, kandang, dan sekitarnya selalu dijaga.Perawatan kuku harus diperhatikan, seperti melakukan pemotongan kuku, dan penjagaan agar kuku tetap sehat. Sapi harus sering dilepas.

4. Pemeliharaan sapi pejantan

  • Pemeliharaan pejantan muda sampai berumur 6 bulan sama dengan pemeliharaan anak sapi betina.
  • Setelah berumur 6 bulan, pejantan harus dipisahkan dari sapi perah dara. Pada umur itu, pejantan diberi cincin hidung dengan cara mengikat sapi perah jantan kuat-kuat dengan kepala ditegakkan ke atas. Setelah dipegang dengan kuat, hidung diraba dan dicari selaput yang lunak pada sebelah dalam celah hidungnya, dan cincin hidung ditusukkan pada bagian yang lunak itu dengan cepat. Untuk melubangi celah hidung, agar pemasangan cincin hidung lebih mudah, dilakukan dengan menggunakan suatu alat yang runcing dan bersih.
  • Perlu dilakukan pemotongan kuku.
  • Agar pejantan tetap berada dalam kondisi baik untuk dikawinkan diperlukan pergerakan secara leluasa dengan cara membangun pelataran di samping kandang.

5. Pemeliharaan sapi laktasi

  • Selama tiga hari pertama setelah melahirkan, sapi diberi pakan yang sama dengan ransum yang diberikan pada minggu terakhir sebelum melahirkan. Konsentrat yang diberikan dapat dibasahi dengan air hangat kuku yang telah diberi garam dapur sedikit.
  • Pemberian pakan sesuai susunan pakan sapi perah, laktasi dapat dilakukan sejak hari keempat setelah melahirkan.
  • Pemberian pakan terutama konsentrat, harus segera ditingkatkan begitu nafsu makan membaik kembali. Pada permulaan laktasi bobot badan akan menurun karena sebagai pakan dibutuhkan untuk pembentukan susu dan sapi mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya karena nafsu makan sapi menurun. Produksi susu akan meningkat dengan cepat sejak melahirkan sampai puncak produksi antara 45-50 hari setelah melahirkan. Setelah mencapai puncak, produksi akan mengalami penurunan sekitar 2,5% setiap minggu. Waktu diperah atau lama laktasi paling baik adalah 305 hari atau lebih kurang 10 bulan. Sapi perah yang masa laktasinya lebih singkat atau lebih panjang dari 10 bulan akan berakibat produksi susu menurun pada laktasi berikutnya.
  • Selama laktasi, kesehatan dan kebersihan sapi perah harus selalu dijaga dengan baik, pencegahan terhadap berbagai penyakit, terutama mastitis harus benar-benar mendapat perhatian khusus.

Pemerahan

Pemerahan sapi perah dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu sebagai berikut.
  1. Pemerahan dengan tangan.
  2. Pemerahan dengan mesin.
Pada umumnya peternak di Indonesia, pemerah sapi dilakukan dengan tenaga manusia, yaitu dengan menggunakan tangan. Hal ini disebabkan peternak sapi perah di Indonesia biasanya dalam jumlah sedikit sehingga jika pemerahan menggunakan mesin tidak ekonomis. Oleh karena itu, cara pemerahan yang akan dibicarakan adalah cara pemerahan dengan menggunakan tangan.

Peralatan yang diperlukan dalam pemerahan sapi adalah sebagai berikut.
  1. Ember tempat untuk menampung air susu hasil pemerahan.
  2. Handuk atau kain yang lembut, bersih, dan kering.
  3. Tali atau tambang untuk mengikat kaki dan ekor sapi perah yang akan diperah, apabila sapi usil.
  4. Ember, sabun, biocid (salah satu desinfektan atau obat pencuci hama yang telah banyak dijual di toko penjual peralatan, obat-obatan dan pekan ternak unggas, cara dan jumlah penggunaannya biasanya terlampir pada bungkusnya). dan sikat untuk membersihkan sapi perah serta peralatan pemerahann.
  5. Tempat duduk untuk pemerah.
  6. Saringan susu untuk menyaring kotoran dan bulu-bulu sapi jika ada yang jatuh dalam ember setelah pemerahan selesai.
  7. Ember tempat untuk menampung susu setelah disaring.
  8. Minyak kelapa atau bahan pelicin lainnya.

Hal-hal yang perlu dipersiapkan atau dilakukan sebelum pemerahan adalah sebagai berikut.
  1. Tempat pemerahan yang meliputi kandang dan lantai kandang dibersihkan dari segala jenis kotoran dan bau-bauan yang tidak sedap dengan air.
  2. Sapi yang akan diperah sudah siap berada di kandang. Peternak mengusahakan agar sapi sudah dalam keadaan bersih, terhindar dari lalat dan serangga lainnya yang dapat menimbulkan gangguan pada waktu pemerahan.
  3. Sapi perah yang suka menendang-nendang atau nakal pada saat diperah, kaki belakangnya diikat dengan tali. Ekor yang selalu mengibas-ibas hendaknya diikat pula agar tidak mengganggu pemerahan. 
  4. Peralatan yang diperlukan dalam pemerahan dipersiapkan terlebih dahulu dan diperiksa disediakan dekat pada tempat pemerahan termasuk penyediaan air bersih.
  5. Tangan pemerahan dicuci dengan sabun sampai bersih, kuku tidak boleh panjang karena dapat menimbulkan luka-luka pada puting susu dan pakaian pemerah harus bersih.
  6. Ambing dan puting susu dicuci terlebih dahulu dengan menggunakan air hangat, kemudian ambing dibersihkan dengan kain pembersih atau handuk yang lembut yang sudah dicelupkan ke dalam air hangat dan diperas.
  7. Sebelum diperah, puting susu diolesi dengan minyak kelapa atau bahan pelicin lainnya supaya tidak luka pada saat diperah.

Setelah semuanya dipersiapkan, dapat dimulai pemerahan. Cara melakukan pemerahan adalah sebagai berikut.
  1. Pemerah sebaiknya duduk pada tempat duduk yang tersedia di samping sebelah kiri sapi agar tangan kanan pemerah dapat menahan tendangan sapi jika terjadi tendangan. Pemerahan mengusahakan agar badannya tidak bersentuhan dengan bagian tubuh sapi untuk mencegah rontoknya bulu sapi yang dapat mengotori bulu sapi.
  2. Pemerahan dilakukan dengan cara tangan memegang pangkal puting susu (puting susu dipegang antara ibu jari dan keempat jari lainnya), puting susu ditekan dengan ibu jari dan bersamaan pula keempat jari yang lain sampai air susu keluar. Gerakan tangan pemerah waktu memerah dimulai dengan gerakan yang lembut dan tenang, setelah air susu keluar pemerahan depercepat dan perkuat. 
  3. Pemerahan dimulai dari puting bagian depan, baru puting bagian belakang.
  4. Air susu yang keluar pertama kali dari masing-masing puting susu dibuang.
  5. Pemerahan dilakukan sampai habis pada setiap puting susu.
  6. Setelah selesai pemerahan, ambing dan puting susu dicuci kembali dengan air hangat, lalu dicelupkan atau disemprotkan dengan air yang telah diberi sedikit biocid, kalau biocid tidak ada cukup dengan air hangat saja. Setelah itu, semua peralatan pemerahan harus dibersihkan dengan air bersih dan diletakkan di tempat yang aman, kering, dan bersih. Pada saat terjadi wabah penyakit, peralatan tersebut harus selalu dibebashamakan atau disterilkan. Pembebashamaan ini dapat dilakukan dengan merendam peralatan tersebut ke dalam desinfektan, kemudian dicuci dengan air dan dibilas dengan air panas.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemerahan sapi perah adalah sebagai berikut.
  1. Penguasaan ternak atau penanganan ternak sapi perah yang baru pertama kali diperah biasanya mengalami sedikit kesulitan. Oleh karena itu, Sebaiknya pemerah melakukan perkenalan terlebih dahulu dengan sapi perah yang bersangkutan. Misalnya, dengan cara menepuk-nepuk badan sapi perah beberapa hari sebelum hai pemerahan. Kehadiran pemerah diusahakan diketahui oleh ternak dan jangan sampai membuat ia terkejut.
  2. Pengamanan sapi perah apabila sapi perah nakal harus diberi tali pengamanan agar tidak mengganggu pemerahan.
  3. Kebersihan, kebersihan ini meliputi kebersihan sapi, kandang dan sekitarnya. peralatan pemerahan, dan pemerah. Oleh karena susu mempunyai sifat mudah menyerap bau-bauan maka segala kebersihannya harus diperhatikan dengan baik. Kotoran yang melekat pada tubuh harus dibersihkan, alat yang digunakan tidak boleh luntur dan berkarat, pemerahan berpakaian bersih dan tidak mempunyai riwayat kulit atau TBC.
  4. Jangan memerah dengan cara menarik-narik puting susu dari atas ke bawah karena dapat menyebabkan sapi merasa sakit dan puting susu melar serta panjang ke bawah.
  5. Hindari memerah dengan berganti-ganti dan berulang-ulang. Misalnya, putin depan ganti puting belakang, kembali puting depan lagi.
  6. Air susu yang keluar pertama kali dari masing-masing puting susu pada waktu pemerahan harus dibuang karena banyak mengandung kuman penyakit. Apabila kesehatan sapi meragukan, susu yang pertama kali keluar sebaiknya ditampung di tempat yang berwarna gelap dan diperiksa, apakah bercampur darah atau tidak. Jika bercampur darah berarti ternak sakit dan perlu diobati terlebih dahulu.
  7. Pemerahan harus sampai habis. Artinya, air susu dalam ambing harus keluar semua karena jika masih ada air susu yang tersisa akan menyebabkan penyakit.
  8. Sapi perah dapat diperah dua kali atau tiga kali dalam sehari, tetapi umumnya diperah dua kali dalam sehari. Waktu dan jumlah pemerahan ini hendaknya tetap dan diusahakan tidak merubah waktu pemerahan tanpa tujuan yang jelas karena dapat mempengaruhi produksi susu. Untuk pemerahan yang dilakukan dua kali dalam sehari, waktunya adalah sebagai berikut.
  • Pagi hari, antara pukul tiga sampai lima pagi.
  • Siang hari, antara pukul satu sampai dua siang.
  • Pemerahan yang melakukan pemerahan hendaknya tetap atau tidak berganti-ganti.

Penyakit

Setiap ternak sapi perah tentunya selalu ingin keuntungan yang lebih besar dari usaha yang dikelolanya. Hal itu diwujudkan dalam cara pemeliharaan yang baik. Di samping meningkatkan produksi sapi perah, usaha yang dilakukan peternak adalah menekan biaya produksi. Kedua usaha ini tidak akan memberikan hasil yang optimal tanpa memperhatikan pengamanan dari berbagai jenis penyakit.

Penyakit dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Pada peternakan sapi yang sangat besar. Pada peternakan sapi perah, penyakit ini dapat mengakibatkan kerugian berupa terlambatnya pertumbuhan sapi muda, penurunan produksi susu sapi perah yang sedang berproduksi, dan terjadinya kematian. 

Sapi perah yang terkena penyakit memerlukan pengobatan, biaya pengobatan jauh lebih besar daripada biaya pencegahan sehingga akan mempertimbangkan biaya produksi. Oleh karena itu, tindakan yang paling tepat untuk menghindari serangan penyakit itu adalah pencegahan terhadap penyakit. Cara-cara pencegahan penyakit, antara lain sebagai berikut.
  • Menjaga keberihan kandang dan sekitarnya.
  • Memberikan pakan yang baik, bersih, dan teratur.
  • Melaksanakan program vaksinasi secara teratur.
Pencegahan penyakit bertujuan agar ternak sapi perah selalu sehat sehingga dapat memberikan produksi susu yang tinggi sesuai dengan keinginan peternak. Keadaan ini akan tercapai apabila setiap peternak sapi perah mengetahui jenis-jenis penyakit yang dapat menyerang sapi perah, penyebab penyakit, gejala-gejala atau tanda-tanda penyakit, cara pencegahan, dan cara pengobatannya.

Beberapa penyakit yang dapat menyerang sapi perah dan perlu diketahui oleh peternak sapi perah antara lain sebagai berikut.

1. Mastitis

Mastitis adalah suatu peradangan kelenjar air susu yang umumnya disebabkan oleh infeksi kuman ke dalam air susu melalui puting susu. Jenis penyakit ini menyebabkan turunnya mutu dan jumlah produksi susu. Mastitis dalam keadaan parah dapat mematikan puting susu sehingga puting tidak berfungsi lagi. Berdasarkan penyebabnya, mastitis dapat dikelempokkan menjadi dua jenis, yaitu :

a. Mastitis bakterial

Mastitis bakterial ini merupakan jenis mastitis yang disebabkan oleh beberapa jenis bakteri.

Tanda-tanda :
  • Terjadi perubahan air susu; susu berubah menjadi encer dan pecah, susu menggumpal, kadang-kandang bercampur darah atau nanah.
  • Ambing pana, membengkak, dan meradang. Nafsu makan menurun sehingga kondisi tubuh juga menurun.
  • Produksi susu menurun.
Penyebab :
  • Kebersihan ambing dan puting susu tidak terpelihara.
  • Perlakukan pemerah pada saat memerah yang dapat menimbulkan luka-luka atau lecet pada puting susu.
  • Tangan pemerah tidak bersih dan terkontaminasi (terkena) bakteri penyebab mastitis.
Pengobatan :
  • Penderita diobati oleh antibiotika yang sudah banyak dijual di toko penjual makanan perternakan. Cara dan dosis pemakaian (jumlah obat yang digunakan) biasanya sudah ada pada bungkus obat itu.
  • Sebelum melakukan pengobatan, semua puting susu harus dibersihkan dahulu dengan menggunakan air hangat. Susu yang masih terdapat dalam setiap puting susu dikuras habis atau dikosongkan; kemudian obatnya di masukkan ke dalam tiap puting sesuai dosis yang disarankan.
  • Ambing dan puting susu yang telah diobati tidak boleh diperah selama satu hari. Setelah pengobatan, susunya tidak boleh dipasarkan sampai sapi sembuh betul.
  • Pengobatan dapat diulang kembali dalam jarak dua hari berikutnya apabila sapi belum menunjukkan kesembuhan.

b. Mastitis mikotik

Mastitis mikotik adalah mastitis yang disebabkan oleh berbagai jamur.

Penyebab :
  • Melalaui alat pemerah dan pemerahnya sendiri.
Pengobatan :
  • Pengobatan mastitis mikotik masih sulit dilakukan; penggunaan antibiotika untuk pengobatan mastitis bakterial tidak akan membunuh jamur penyebab mastitis mikotik sehingga usaha yang dapat dilakukan adalah dengan pencegahan.
Pencegahan :
Usahakan yang dilakukan untuk mencegah dari penyakit mastitis, baik mastitis bakterial maupun mastitis mikotik, adalah sebagai berikut.
  • Menjaga kebersihan kandang dan sekitarnya, baik sapi perah yang dipelihara maupun peralatan yang digunakan dalam pemerahan.
  • Melakukan pemeriksaan secara teratur terhadap kemungkinan serangan mastitis.
  • Sapi perah yang positif terinfeksi mastitis harus dikeluarkan dari kandang dan dipisahkan dari yang sehat, lalu sapi itu diberi perngobatan dengan antibiotika.
  • Setiap akan dan sesudah memerah, ambing dan puting susu harus dicuci dengan air hangat.
  • Setiap puting susu yang telah diperah dan dibersihkan dibilas ataupun dicelupkan ke dalam air yang telah dicampur dengan sedikit biocid.
  • Setiap kali akan memerah, tangan pemerah harus bersih dan kuku tidak boleh panjang.
  • Menggunakan vaselin atau minyak kelapa pada saat hendak memerah agar puting susu terhindar dari luka ataupun lecet.
  • Pemerahan susu dilakukan sampai habis benar dan tidak ada susu yang tersisa dalam setiap puting.
Sapi-sapi perah yang hamil tua dapat juga terserang mastitis bakterial. Pemberian ransum secara berlebihan akan menyebabkan terbentuknya susu dalam ambing, meskipun belum terjadi kelahiran. Apabila susu yang terbentuk dibiarkan terus akan dapat menimbulkan mastitis bakterial. Oleh karena itu, tindakan yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut.
  • Pemberian ransum dikurangi sampai batas minimal.
  • Susu yang terdapat pada setiap ambing dikuras habis atau dikosongkan.
  • Sapi sakit itu diobati antibiotika dengan cara memasukkan antibiotika ke dalam setiap puting susu.

2. Kembung

Kembung merupakan suatu jenis penyakit yang disebabkan oleh penimbunan gas di dalam perut ternak.

Penyebab :
  • Pemberian pakan hijauan yang masih terlalu muda dan masih terlalu basah atau masih mengandung minyak banyak air, bai air hujan maupun air embun.
  • Sapi perah dilepas untuk merumput masih terlalu pagi pada saat rumput masih diselimuti embun dan sangat basah.
Tanda-tanda :
  • Perut membesar.
  • Rintihan dan erangan jelas kedengaran.
  • Denyut jantung melemah.
  • Selaput lendir mulut berwarna kebiru-biruan.
Pengobatan :
Pengobatan jenis penyakit ini dapat menggunakan :
  • Bloat Remedy, obat ini digunakan untuk mengobati penyakit kembung yang akut. Obat ini banyak dijual di pasar. Cara dan dosis penggunaan obat ini tertera pada bungkusnya. Obat ini diberikan dengan cara diminumkan ke dalam mulut ternak, dan dapat juga diinjeksikan langsung melalui perut.
  • Sicaden, obat ini juga bisa didapatkan di toko pakan ternak dan digunakan untuk pengobatan kembung yang akut pada sapi perah. Cara dan dosis pemakaian obat sudah ditentukan dan biasanya terdapat dalam label pembungkusnya. Obat ini diberikan melalui mulut dengan cara diminumkan.


3. Fasciolasis

Fasciolasis atau penyakit cacing hati adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing hati dan banyak menyerang sapi perah. Penyakit ini dapat menimbulkan kematian. Sapi perah yang muda lebih mudah terserang fasciolasis daripada sapi perah dewasa. Cara penularan penyakit ini melalui induk semang, yaitu siput.

Tanda-tanda :
  • bobot badan menurun.
  • pertumbuhan terlambat.
  • penurunan produksi susu.
  • konstipasi jelas.
  • kadang-kadang mencret.
  • tumbuh menjadi kurus.
Pencegahan :
  • Memberantas induk penyakit yaitu siput.
  • Meniadakan tempat-tempat yang tergenang air, baikdi dalam maupun di sekitar kandang.
  • Membuat tempat penampungan atau pengumpulan kotoran sapi yang agak jauh dari lokasi kandang.
  • Melakukan program pemberian obat cacing secara teratur. Pengobatan ini dapat dilakukan tiga kali dalam setahun, yaitu pada permulaan, pertengahan, dan pada akhir musim hujan.


4. Brucellosis

Brucellosis pada sapi perah dikenal sebagai penyakit keluron. Jenis penyakit ini disebabkan oleh brucella abartus dan penyakit ini menular. Penyakit ini dapat mengakibatkan kegugurna pada sapi hamil tujuh bulan. Penularan dapat terjadi dari air susu dan pada saat kawin. Ternak yang terserang penyakit ini sebaiknya dipotong.

Tanda-tanda :
  • Demam tinggi,
  • Produksi susu menurun.
  • Lesu dan tidak mau makan.
Pencegahan :
  • Selalu menjaga kebersihan ternak, kandang, dan sekitarnya.
  • Vaksinasi dilakukan dua kali dalam setahun.
  • Ternak sapi yang sakit dipisahkan.


5. Pneumonia

Penyakit pneumonia dikenal dengan radang peru-paru. Jenis penyakit ini dapat menyerang anak sapi perah, terutama pada umur enam minggu sampai dengan empat bulan. 

Tanda-tanda :
  • Suhu badan meningkat dengan cepat.
  • berbaring terus, lesu dengan napas terengah-engah.
  • tidak nafsu makan.
  • kondisi bandan menurun.
  • sering keluar ingus dari hidung.
  • batuk-batuk ringan.
  • kulit menjadi kasar dan kusam.
Penyakit pneumonia yang menyerang anak-anak sapi akan mengakibatkan kematian dalam waktu 2-3 hari, tetapi kemungkinan untuk hidup beberapa minggu dan dapat pula menjadi penyakit yang kronis.

Penyebab :
  • Penularan penyakit ini dapat melalui kontak langsung dengan sapi perah penderita pneumonia dan secara tidak langsung dapat melalui pakan dan air minum yang terkontaminasi penyebab pneumonia.
  • Kebersihan kandang yang tidak terpelihara.
  • Pemberian ransum dengan mutu rendah.
  • Air minum yang tidak terjaga kebersihannya.
Pencegahan :
  • Menjaga dan memelihara kebersihan kandang, serta mengusahakan tempat itu jangan sampai lembap.
  • Menghindari pengelompokan anak-anak sapi perah pada satu kandang.
  • Memberikan pakan dengan mutu yang baik.
  • Menjaga kebersihan air minum.
  • Menjaga agar kandang dan sekitarnya tidak becek.
Pecegahan :
  • Penderita pneumonia yang kronis dalam pakannya ditambahkan daun petai cina atau daun lamtoro.
  • Pemberian minyak ikan dalam pakannya.


6. Tuberkulosis

Penyakit tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri.

Penyebab :
  • Penularan dapat melalui saluran pernapasan, saluran pencernaan, serta pakan dan air minum yang telah terkena kuman.
  • Pada anak sapi, penularan ini dapat melalui susu induk yang menderita penyakit tersebut.
  • Penularan dapat terjadi sewaktu masih dalam kandungan, biasanya anak setelah dilahirkan akan mati.
Tanda-tanda :
  • Terdapat batuk yang kronis.
  • Tidak nafsu makan.
  • Kondisi badan sangat menurun.
  • terjadi pengerasan ambing.
Pencegahan :
  • Melakukan imunisasi BCG.
  • Melakukan pemeriksaan terhadap sapi perah yang baru didatangkan sebelum dicampur dengan sapi perah yang ada.
  • Mengusahakan tidak menggunakan tempat pakan dan tempat minum yang dipakai bersama. sama.
  • Mengusahakan anak-anak sapi tidak diberi susu induk-induk sapi yang terkena penyakit tersebut.
  • Memisahkan sapi perah yang terkena penyakit ini dalam kandang tersendiri.
  • Membersihkan kandang sapi perah yang terkena penyakit dan menggunakan desinfektan (pencuci hama), kemudian menyemprot lagi dengan air bersih.
  • Melarang pemerah yang menderita penyakit ini agar tidak memerah karena penularan dapat melalui manusia.
Pengobatan :
  • Pengobatan yang sering dilakukan ialah menggunakan antibiotika, tetapi hasilnya kurang baik. Oleh karena itu, sebaiknya pengobatan ini dilakukan oleh Dinas Peternakan atau atas petunjuk dokter hewan.


7. Penyakit mulut dan kuku (PMP)

Penyakit mulut dan kuku adalah penyakit akut yang sangat menular dan disebabkan oleh virus.

Tanda-tanda :
  • Kuku, mulut, lidah sebelah atas, bibir sebelah dalam, gusi, dan langit-langit mulut melepuh.
  • Suhu badan meningkat.
  • Pengeluaran air banyak.
  • Nafsu makan menurun.
  • Masas berdiri.
  • Bobot badan menurun.
  • Produksi susu menurun.
Penyebab :
  • Penularan dapat melalui alat pencernaan, alat pernapasan, pakan, peralatan kandang, dan pemerahan.
Pencegahan :
  • Melakukan vaksinasi secara teratur.
  • Menghindarkan sapi dari pemasukan sapi-sapi perah yang berasar dari lokasi atau daerah yang terkena PMP.
  • Menghindarkan sapi dari peralatan yang dipinjam ataupun meminjamkan pakan dari peternak yang sapi perahnya terkena PMK.
  • Menjaga kebersihan kandang.
  • Membersihkan kuku sapi perah harus selalu pada saat dimandikan.
Pengobatan :
  • Meminta bantuan dan petunjuk dari Dinas Peternakan atau dokter hewan dalam menanggulangi sapi perah yang terkena PMK sehingga dapat segera diatasi.


8. Penyakit ngorok (mendengkur)

Penyakit ngorok adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri.

Tanda-tanda :
  • suhu badan naik.
  • lesu.
  • nafsu makan menurun.
  • gangguan pencernaan.
  • ngorok.
  • pembengkakan pada leher bagian bawah.
Penyebab :
  • Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan penderita melalui pakan, minum, dan peralatan kandang.
Pencegahan :
  • Melakukan vaksinasi terhadap sapi-sapi perah yang tidak terkena penyakit ngorok. Vaksinasi sebaiknya dilakukan pada saat tidak ada wabah penyakit.

Sumber : Ir. Tutik N. Sutarto dan Ir. Sutarto

No comments for "Ternak sapi perah"