Breaking News

Peluang usaha ikan mas

Pembenihan ikan merupakan salah satu kegiatan penting dalam membudidayakan ikan. Keberhasilah usaha ikan mas, khususnya pembesaran ikan, ditentukan oleh tersedianya benih ikan, baik jumlah maupun mutu. Jumlah benih ikan yang dihasilkan dipengaruhi oleh teknik dan ketekunan pengusaha pembenihan ikan mas. Teknik pembenihan ikan meliputi konstruksi kolam, pemeliharaan induk dan benih, dan perawatan larva ikan. Ketekunan membenihkan ikan akan menumbuhkan sikap profesionalisme yang selanjutnya menimbulkan kepekaan terhadap permasalahan serta penanggulangannya dalam pembenihan usaha ikan mas. 


Mutu benih ikan dipengaruhi oleh mutu induk dan lingkungan, seperti makanan, kualiatas air, dan penyakit. Pengetahuan tentang ciri-ciri induk yang baik dan teknik pembenihan merupakan hal yang penting dalam usaha ikan mas. Selain itu, pengetahuan tentang kontruksi kolam pembenihan ikan (kolam pemeliharaan induk, kolam pemijahan, dan kolam pendederan) akan memudahkan petani ikan dalam mengoprasikan usaha ikan mas. Pemasaran merupakan akhir dari usaha ikan mas. Pengetahuan tentang pemasaran ikan mas perlu diperhatikan oleh pengusaha ikan adalah waktu permintaan benih serta ukuran yang diinginkan oleh konsumen.

Kolam Pembenihan Ikan

Kolam ikan merupakan genangan air yang digunakan untuk budidaya ikan. Genangan air tersebut mudah diisi air dan mudah dikeringkan dalam waktu tertentu. Selain itu, genangan air tersebut memiliki saluran pemasukan dan saluran pengeluaran. Menurut fungsinya, kolam terdiri dari kolam pemijahan, kolam pemeliharaan induk, kolam pemberokan, kolam penetasan, kolam pendederan, kolam pembesaran, dan kolam pengendapan. Sebelum membangun kolam, terlebih dahulu dilakukan pemeliharaan lokasi. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi usaha ikan mas di sekitar kolam. Faktor tersebut penting karena merupakan penunjang produksi benih ikan.

Faktor-faktor yang dimaksud adalah sebagai berikut.
  1. Ketersediaan bahan dan alat yang dibutuhkan selama pengoprasian usaha pembenihan ikan mas. Bahan dan alat yang dimaksud adalah makanan ikan, pupuk, seser, jaring, cangkul, dan sebagainya.
  2. Ketersediaan tenaga kerja di sekitar usaha pembenihan ikan mas.
  3. Ketersediaan transportasi (jalan, angkutan) di sekitar usaha pembenihan ikan mas. Transportasi ini penting untuk mengangkut hasil benih atau mengangkut kebutuhan usaha ikan mas dari tempat lain.
  4. Di sekitar pembenihan ikan mas sebaiknya terdapat usaha pembesaran ikan mas sehingga beih ikan mas yang dihasilkan dapat langsung dipasarkan.
  5. Upah tenaga kerja di daerah lokasi pembenihan ikan mas relatif rendah.

Faktor teknis yang perlu diperhatikan dalam memilih lokasi usaha
  1. Lokasi usaha pembenihan ikan mas sebaiknya dekat dengan sumber air. Lokasi tersebut tidak terkena banjir pada musim hujan dan tidak kekeringan pada musim kemarau.
  2. Sumber air berasal dari sungai, mata air, saluran irigasi, waduk, dan sebagainya.
  3. Air yang dibutuhkan tercukupi sepanjang tahun serta berkualitas baik.
  4. Banyaknya air yang dibutuhkan bergantung pada luas usaha pembenihan. Jumlah air yang dibutuhkan untuk kolam air tenang adalah 6-12 liter/detik/ha, sedangkan jumlah air yang dibutuhkan untuk kolam air deras sebanyak 100 liter/detik/m3.
  5. Kegiatan/aktivitas pabrik atau masyarakat di sekitar sumber air sebaiknya dihindari karena dapat menurunkan kualitas air sehingga dapat mempengaruhi kelangsungan hidup ikan.
  6. Lokasi pembenihan ikan mas sebaiknya terdiri dari tanah lempung atau liat. Cara menentukan baik atau tidaknya tanah untuk perkolaman adalah dengan menggenggam tanah di lokasi pembenihan kemudian dikepal-kepalkan. Jika tanah tersebut tidak buyar atau pecah dan masih terlihat cetakan genggaman tangan, berarti tanah tersebut baik untuk tanah perkolaman.

A. Pembuatan kolam

Setelah dilakukan pemilihan lokasi usaha pembenihan ikan mas, selanjutnya dilakukan pembuatan kolam. Pembuatan kolam diawali dengan membuat pematang kolam. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan pematang adalah perbandingan antara lebar permukaan (bagian atas) pematang, lebar dasar pematang, dan ketinggian pematang.

Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan pematang adalah :
  1. Alat pengukur panjang (meteran).
  2. Cangkul.
  3. Bambu/kayu.
  4. Tali plastik, dan
  5. Alat tandu untuk mengangkat tanah.

Langkah kerja pembuatan pematang kolam adalah sebagai berikut.
  1. Tentukan lokasi pematang yang akan dibangun.
  2. Bersihkan sepanjang lokasi pematang yang akan dibangun, baik berupa rumput, sampah, maupun sejenis kayu.
  3. Buat patok pembatas seluas dasar pematang yang akan dibangun.
  4. Tarik atau pasang tali plastik sepanjang pematang yang akan dibangun. Tali plastik tersebut berfungsi sebagai tanda pembatas lebar dasar pematang.
  5. Buatlah pematang dengan menimbun tanah sesuai dengan yang telah ditentukan. Setelah ditimbun, sebaiknya tanah tersebut dikeraskan atau diinjak-injak agar pematang tersebut padat.
  6. Hindarkan tanah yang akan ditimbun bercampur dengan rumput, plastik, sampah atau kayu. Hal ini untuk menghindari kebocoran dan kelongsoran pematang.
Ketinggian pematang kolam selalu dipengaruhi oleh banjir tertinggi dan luas kolam. Jika pada lokasi pembenihan sering banjir, pematang harus dibuat lebih tinggi dari pada banjir tertinggi. Jika kolam yang akan dibangun sangat luas, yakni 1.000-2.000 meter, dasar pematang harus lebar dan kuat. Selain itu, tanah yang digunakan untuk membuat (menimbun) pematang adalah tanah yang kering atau lembap. Tanah yang terlalu basah mengakibatkan timbunan tanah sering longsor.

B. Saluran pemasukan dan saluran pengeluaran

Setiap kolam dilengkapi dengan saluran pemasukan dan saluran pengeluaran air. Pipa pemasukan air dipasang pada pematang. Pipa pemasukan air dapat berupa bambu, pipa paralon, atau bis beton. Ketinggian pipa pemasukan air disesuaikan dengan ketinggian air kolam yang dikehendaki. Sebaiknya, pipa dimasukan air terletak di atas permukaan air. Pipa pemasukan air sebaiknya dilengkapi dengan saringan. Saringan itu berfungsi untuk mencegah ikan liar tidak masuk ke kolam.

Saluran pengeluaran terdiri dari pipa pengurasan dan pipa pelimpasan air. Pipa pengurasan berfungsi untuk menguras/mengeringkan kolam secara total. Pipa pelimpasan air berfungsi untuk mengeluarkan air jika ketinggian air kolam melebihi ketinggian yang dikehendakinya. Pipa pelimpasan ini dipasang sesuai dengan ketinggian air kolam yang dikehendaki.

C. Kolam pemeliharaan induk ikan mas

  1. Kolam induk terdiri dari kolam intuk jantan dan kolam betina.
  2. Dasar kolam miring dari saluran pemasukan ke arah saluran pengeluaran.
  3. Untuk memudahkan menyeleksi induk yang matang telur, sebaiknya luas kolam induk adalah 400-700 m2.
  4. Ketinggian air kolam induk adalah 0,75-1 m.
  5. Kepadatan pemeliharaan induk sebaiknya 2 kg/m2.
  6. Bentuk kolam sebaiknya empat persegi panjang.
  7. Debit air masuk harus sama dengan debit air yang keluar dari kolam.


D. Kolam pemberokan induk ikan mas. 

Pemberokan adalah pemisahan induk yang akan dipisahkan dengan induk yang lain. Pemisahan bertujuan untuk mengurangi lemak pada saluran pengeluaran telur induk ikan. Kolam pemisahan induk berfungsi untuk menyimpan induk yang akan dipijahkan. Kolam pemisahan induk terdiri dari kolam pemisahan induk jantan dan kolam pemisahan induk betina. Kedua kolam pemisahan ini sebaiknya dibuat berdekatan untuk memudahkan pengoprasian. Jika pemisahan induk ikan harus menjadi satu kolam karena kurang ketersediaan kolam, kolam pemisahan tersebut sebaiknya disekat. Di dalam tersebut induk betina ditempatkan pada bagian hulu, sedangkan induk jantan ditempatkan bagian hilir.

E. Kolam pemijahan

Pemijahan adalah proses pelepasan telur dan sperma untuk pembuahan. Syarat kolam yang diperlukan untuk peijahan adalah sebagai berikut.
  1. Dasar kolam pemijahan dapat berupa tanah atau tempbok.
  2. Dasar kolam pemijahan miring dari pipa pemasukan sampai pipa pengeluaran.
  3. Luas kolam pemijahan yang dibutuhkan adalah 50-100 m2.
  4. Kolam pemijahan dilengkapi tempat ikan bertelur dari ijuk. Umumnya tempat bertelur berukuran 0,5 x 1,5 m. Jumlah tempat bertelur adalah 6 buah setiap 1 kg induk ikan.
  5. Kolam pemijahan harus dilengkapi dengan pipa pemasukan dan pipa pengeluaran. Pipa-pipa terebut dapat berupa bambu, pralo, atau bis beton.


F. Kolam penetasan telur ikan

Beberapa syarat kolam penetasan telur ikan adalah seperti berikut.
  1. Kolam penetasan berfungsi sebagai tempat penetasan telur ikan.
  2. Kolam penetasan dilengkapi dengan saluran pemasukan dan saluran pengeluaran air. 
  3. Saluran pemasukan kolam itu dilengkapi dengan saringan untuk mencegah ikan liar atau hewan pemakan larva ikan masuk ke kolam tersebut.
  4. Jika  digunakan sebagai penetasan telur ikan, hapa ditempatkan dengan pipa pemasukan air.
  5. Keempat sudut hapa diikatkan ke patokan dan dasar hapa diberi pemberat.
  6. Air terus-menerus mengalir masuk ke kolam penetasa. Hal ini untuk menambah kadar oksigen yang terlarut dalam air.

G. Kolam pendederan (pembesaran benih ikan)

Pendederan adalah usaha membesarkan benih ikan yang baru menetas (larva) sampai ukuran tertentu. Beberapa syarat yang harus dipenuhi sebagai kolam pendederan adalah sebagai berikut.
  1. Kolam pendederan berfungsi untuk membesarkan larva ikan sampai benih ikan dengan ukuran yang dikehendaki.
  2. Dasar kolam miring mulai dari pipa pemasukan sampai pipa pengeluaran.
  3. Untuk memudahkan pemanenan, luas kolam pendederan tidak melebihi 500 m2. Jika luas kolam pendederan melebihi 500 m2 sebaiknya kolam dibagi menjadi dua.
  4. Dasar kolam dibuat kamalir (parit) mulai dari pipa pemasukan air sampai pipa pengeluaran. Kamalir berfungsi untuk memudahkan pemanenan benih-benih ikan. Kamalir yang akan dibuat berukuran lebar 0,5 dan kedalaman 0,3 m.
  5. Selain kamalir, di depan pipa pengeluaran dibuat kubangan yang fungsinya sebangai tempat berkumpulnya benih ikan pada saat pemanenan.
  6. Kolam pendederan sebaiknya berbentuk empat persegi panjang, tetapi hal ini dapat disesuaikan dengan keadaan lokasi perkolaman.
  7. Tinggi pematang adalah 1,5 m dan lebar permukaan (batas atas) pematang berukuran 0,75-1 m.
  8. Saluran pemasukan menggunakan pipa pralon, bambu, bis beton dan lainnya.
  9. Pipa pengeluaran terdiri dari dua buah, yaitu pipa pengurasan dan pipa pelimpasan.
  10. Pipa pengurasan diletakkan di bagian dasar kolam. Pipa ini berfungsi untuk menguras atau mengeringkan kolam secara total.
  11. Pipa pelimpasan berfungsi untuk membuang air yang berlebihan. Pipa ini diletakkan sesuai dengan ketinggian air yang dikehendaki.
  12. Kolam pendederan harus terhindar dari kebocoran.

Pemijahan Induk Ikan Mas

A. Sifat umum ikan mas

Ikan mas termasuk ikan yang makanannya berbagai macam. Makanan utamanya adalah hewan-hewan yang hidup di dasar kolam seperti cacing, daphia, moina dan sebagainya. Cara makan ikan mas adalah dengan mengambil atau memakan lumpur, menyeleksi kemudian menghisap bagian-bagian yang dapat dimakan dan jasad yang tidak dikehendaki dikeluarkan. Induk ikan mas dapat diberi makan yang berupa pelet (makanan buatan). Induk ikan mas dapat memijah sendiri bila bertemu antara induk ikan jantan dan induk ikan betina. Badan ikan mas lemas (tidak kaku). Lubang dubur terletak lebih dekat ke pangkal ekor.

B. Ciri-ciri induk ikan mas yang baik

  1. Tubuh kekar.
  2. Tubuh tidak cacat, baik sirip maupun bagian-bagian lainnya, termasuk pangkal ekor.
  3. Bagian perut lebar.
  4. Bagian kepala relatif lebih kecil.
  5. Sisik besar dan tersusun rapi.
  6. Punggung tinggi, membungkuk, dan tipis.

1. ciri-ciri betina ikan mas

  • Badan bagian perut melebar dan lunak.
  • Lubang kelamin menonjol.
  • Tubuh lebih tebal dibandingkan induk jantan pada umur yang sama, dan
  • Sirip dada lebih pendek dan lunak.

2. ciri-ciri ikan mas jantan

  • Jika bagian perut diurut akan mengeluarkan sperma berwarna putih susu.
  • Lubang lebih dipis dan ramping dibanding induk betina pada umur yang sama.
  • Badan bagian perut tidak melebar dan tidak lunak.
  • Lapisan dalam sirip dada kasar, dan
  • Sirip dada relatif panjang dan jari-jari tebal.

C. Pemilihan induk

  1. Induk betina ikan mas dapat dipijahkan setelah berumur 1,5-2 tahun atau berbobot lebih kurang 2 kg.
  2. Induk jantan ikan mas dapat dipijahkan setelah berumur 1-1,5 tahun atau berbobot lebih kurang 500 gr.
  3. Induk jantan dan betina yang telah dipilih. dipelihara pada kolam yang berbeda. Jika induk ikan mas (jantan dan betina) harus ditempatkan pada suatu kolom, kolam tersebut harus diberi sekatan dari bambu supaya induk jantan ikan mas tidak dapat masuk ke kolom betina. Pada kolom tersebut induk jantan di tempatkan pada bagian hilir dan induk betina ikan mas di bagian hulu. Hal itu bertujuan untuk mencegah terjadinya pemijahan liar di kolam.
  4. Selama pemeliharaan, induk ikan mas diberi makan sebanyak 3% dari berat ikan per hari. Pakan ikan yang diberikan sebaiknya berupa pelet atau makanan lainnya yang bergizi tinggi. Misalnya, di kolam dipelihara induk sebanyak 100 kg, maka pakan yang diberikan sebanyak 100 kg x 3% = 3 kg per hari. Kalau induk ikan mas tersebut diberi makan 3 kali sehari, tiap kali memberi makan induk sebanyak 1 kg.
  5. Selama pemeliharaan induk ikan mas, sebaiknya kolam tersebut bersih dari rumput-rumput atau sampah.
  6. Selama pemeliharaan, air dialirkan ke dalam induk terus-menerus.

Ciri-ciri ikan mas yang siap dipijahkan adalah sebagai berikut.

1. Induk Betina

  1. Perut membesar ke arah lubang anus.
  2. Jika diraba perut induk betina terasa lunak atau lembek.
  3. Lubang anus menonjol dan berwarna kemerahan.
  4. Gerakan induk betina lamban.

2. Induk Jantan

  1. Apabila perut induk jantan diurut ke arah bagian lubang anus, sperma keluar berwarna putih susu.
  2. Gerakan induk jantan lebih gesit di bandingkan ikan betina.
  3. Perut induk jantan lebih ramping di bandingkan induk betina.

D. Pemberokan Induk Ikan Mas

Setelah dilakukan pemilihan induk, selanjutnya dilakukan pemberokan ikan.
  1. Pemisahan induk ikan mas bertujuan untuk mengurangi lemak pada saluran telur induk ikan.
  2. Induk ikan mas betina dan induk jantan ditempatkan pada kolam yang berbeda. Jika induk betina dan jantan harus ditempatkan pada satu kolam, kolam tersebut diberi sekat bambu. Induk betina ditempatkan di bagian hulu dan induk jantan ditempatkan dibagian hilir.

E. Pemijahan induk ikan mas

Pemijahan induk ikan mas terdiri dari 3 cara yaitu :
  1. Pemijahan secara tradisional.
  2. Pemijahan secara semitradisional, dan
  3. Pemijahan secara intensif.
Pada kesempatan ini pembahasan hanya pada pemijahan secara tradisional dan pemijahan secara semitradisional.

1. Pemijahan secara tradisional

Pemijahan secara tradisional adalah pemijahan induk ikan mas secara alami tanpa rangsangan atau bantuan manusia. Pemijahan secara tradisional ini telah lama diketahui masyarakat. Setiap daerah memiliki cara pemijahan tersendiri. Umumnya perbedaan tersebut terletak pada ada atau tidak adanya substrat atau serat penempel telur dan konstruksi kolam pemijahan.

Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pemijahan secara tradisional adalah :
  1. induk ikan jantan dan betina yang siap mijah,
  2. kolam pemijahan,
  3. serat tempat menempel telur (kakaban),
  4. tali,
  5. hapa, dan
  6. bambu.
Langkah kerja pemijahan secara tradisional.
Pemijahan secara tradisional harus melalui langkah-langkah berikut.
  1. Ratakanlah dasar kolam pemijahan.
  2. Keringkan kolam pemijahan selama 3-4 hari, sampai dasar kolam pemijahan (tanahnya) retak-retak. Jika kolam pemijahan tidak dapat dikeringkan, arang bekas bakar atau tanah kering dimasukkan ke dalam kolam pemijahan
  3. Pasang tempat penempel telur di kolam pemijahan. Pemasangan penempel telur diawali dengan pemasangan patok kanan dan kiri, kemudian patok tersebut dihubunngkan dengan bambu atau kayu sebagai tempat menempelkan telur. Penempelan telur yang dipasang jangan terlalu kaku agar kemudahan induk ikan melepaskan telurnya ke kakaban. Jumlah penempelan telur yang dipasang sebanyak 6 buah setiap 1 kg berat induk. Kakaban dipasang setinggi 60-70 cm.
  4. Bersihkan kolam pemijahan dari sampah, seperti rumput dan plastik.
  5. Tutuplah saluran pengeluaran kolam pemijahan. Penutup saluran pengeluaran diatur sehingga air tirtinggi kolam pemijahan 5-10 cm di atas penempel telur.
  6. Aliran air ke kolam pemijahan secara terus-menerus.
  7. Masukkan induk ikan jantan dan induk ikan betina. Pelepasan induk ikan mas dilakukan dengan hati-hati agar induk tersebut tidak stres.
  8. Jumlah induk ikan jantan dan betina yang dilepas atau dipijahkan ke kolam pemijahan sebanyak 1 : 1 dalam berat. Misalnya. induk betina yang akan dipijahkan sebanyak 3 kg, induk jantan tersebut sebanyak 4-6 ekor yang berat badannya 3 kg.
  9. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah air kolam harus terus menerus mengalir selama pemijahan.
  10. Induk ikan mas akan memijah sepanjang malam hari sampai dini hari.


2. Pemijahan secara semitradisional

Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pemijahan secara semitradisional adalah :
  1. Induk jantan dan betina seiap memijah.
  2. Induk donor (ikan yang diambil kelenjar hypofisanya).
  3. Jarum suntik.
  4. Gergaji atau parang.
  5. Pinset.
  6. Penempel telur (Kakaban).
  7. Tali.
  8. Hapa.
  9. Tisu grinder (alat untuk menghancurkan kelenjar hypopisa).
  10. Sentripugal.
  11. Tisu, dan
  12. Aquadest atau air steril.
Pengambilan kelenjar hypofisa (hormon yang merangsang induk ikan memijah). Ikan donor adalah ikan yang diambil hypofisanya. Selanjutnya hypofisa disuntikkan ke tubuh induk yang akan dipijahkan. Ikan donor berasal dari ikan hidup atau ikan yang telah mati lemaknya tidak melebihi 1 jam. Jumlah ikan yang diambil kelenjar hypofisanya seberat induk ikan yang akan disuntik. Misalnya, induk yang akan disuntik seberat 3 kg. Maka ikan yang diambil kelenjar hypofisanya seberat 3 kg juga. Ikan donor tersebut sebanyak 6-9 ekor dengan jumlah berat tidak kurang dari 3 kg.

Langkah kerja pengambilan kelenjar hypofisa (hormon yang merangsang induk ikan memijah). 
  1. Potong kepala ikan terpat di belakang tutup ingsang.
  2. Letakkan kepala ikan yang telah dipotong sehingga mulut ikan menghadap ke atas.
  3. Potong kepala ikan mulai dari atas mata ke bawah sampai putus.
  4. Setelah kepala ikan dipotong akan terlihat otak ikan.
  5. Keluarkan otak ikan tersebut.
  6. Bersihkan kotoran yang berupa darah, lemak, atau daging menggunakan tisu.
  7. Di bawah otak akan terlihat kelenjar hypofisa (hormon yang merangsang induk ikan memijah) berwarna putih.
  8. Angkatlah kelenjar hypofisa tersebut dengan hati-hati menggunakan pinset atau jarum pentul.
  9. Kelejar hypofisa yang telah diambil di masukkan ke dalam tisu grinder. Hancurkan kelenjar hypofisa tersebut dengan memutar-mutar alu tisu grinder. Tambahkan air aquades sebanyak 2 ml ke dalam tisu grinder yang berisi kelenjar hypofisa.
  10. Ambil kelenjar hypofisa dari tisu grinder dengan cara menyedot dan menggunakan jarum suntik. Selanjutnya, kelenjar hypofisa tersebut dimasukkan ke dalam tabung sentripugal.
  11. Putarlah sentripugal selama 3-4 menit.
  12. Ambil kelenjar hypofisa dari tabung sentripugal dengan menyedot menggunakan jarum suntik.
  13. Suntikan kelenjar hypofisa ke tubuh ikan. Penyuntikan dilakukan pada punggung ikan.
Setelah disuntik dengan kelenjar hypofisa, induk ikan tersebut dapat dilepas ke kolam pemijahan. Selanjutnya, langkah kerja pemijahan induk ikan sama dengan pemijahan induk secara tradisional. Sebelum penyuntikan induk ikan, kolam pemijahan telah dipersiapkan.


F. Penetasan telur ikan

Induk ikan mas akan memijah sepanjang hari sampai subuh. Sebelum dilakukan pemijahan induk ikan mas, terlebih dahulu dilakukan persiapan wahah penetasan wadah penetasan. Wadah penetasan telur ikan dapat berupa kolam atau hapa.


1. Penetasan telur ikan di kolam

Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam penetasan telur di kolam adalah :
  • kolam yang terisi air.
  • kakaban yang telah berisi telur ikan, dan
  • alat pemberat berupa pohon pisang atau bambu.
Langkah kerja penetasan telur di kolam.
  1. Angkat kakaban dari kolam pemijahan yang telah berisi telur.
  2. Bersihkan kakaban dari kotoran yang berupa sampah atau lumpur. Cara membersihkan kotoran dari kakaban dengan cara menggoyang-goyangkan kakaban di atas air secara perlahan-lahan.
  3. Tempatkan kakaban yang telah berisi telur di kolam penetasan. Kakaban diletakkan 5-10 di bawah permukaan air. Untuk itu. di bawah permukaan air (di atas kakaban) tersebut diberi pemberat.
  4. Bila air kolam penetasan keruh karena lumpur, dianjurkan kekeban dibersihkan dengan cara menggoyang-goyangkan kakaban secara perlahan-lahan sebanyak 2 kali sehari sampai telur menetas.
  5. Alirkan air terus menerus ke dalam kolam penetasan.
  6. Telur ikan akan menetas 36-48 jam atau 2 hari setelah pemijahan.
  7. Kakaban diangkat setelah 2-3 hari telur menetas, sedangkan larva dibiarkan menyebar di kolam.
  8. Selanjutnya, kakaban dicuci, dikeringkan, dan disimpan untuk dipakai lagi.


2. Penetasan telur ikan di hapa

Pada prinsipnya penetasan telur ikan di hapa dan di kolam adalah sama. Penetasan telur ikan di hapa lebih baik karena larva terhindar dari pemangsa atau hewan pemakan larva, senagkan penetasan telur di kolam harus dilakukan persiapan kolam penetasan agar tidak terdapat hewan pemakan larva.

Alat ayang dibutuhkan untuk penetasan telur ikan di hapa adalah.
  1. hapa dengan ukuran mata jaring lebih kurang 0,5 mm,
  2. patok dari kayu atau bambu,
  3. kakaban yang telah berisi telur, dan
  4. kolam.
Langkah kerja penetasan telur di hapa.
  1. Pasang hapa dengan ukuran 1 x 2 x 1 mm di kolam per bak. Jumlah kakaban yang dipasang disesuaikan dengan jumlah ikan. Pemasangan kakaban dilakukan dengan mengikat keempat sudut hapa ke patok yang telah disiapkan.
  2. Angkat tempat telur yang telah berisi telur dari kolam pemijahan. Jika dalam tempat telur terdapat kotoran berupa lumpur, terlebih dahulu dibersihkan dengan cara menggoyang-goyangkan secara perlahan-lahan.
  3. Masukan tempat telur yang telah berisi telur ke dalam hapa yang telah dipasang sebelumnya.
  4. Beri pemberat pada tempat telur tersebut sehingga berada 5-10 cm di bawah permukaan air.
  5. Alirkan air terus-menerus ke dalam kolam atau hapa.
  6. Telur ikan akan menetas setelah 36-48 jam.
  7. Tempat telur diangkat setelah 2-3 hari telur menetas. Waktu mengangkat tempat telur, harus hati-hati karena larva ikan dapat menyangkut ke dalam tempat telur.
  8. Cuci, keringkan, dan simpanlah tempat telur untuk pemijahan selanjutnya.

G. Perawatan larva ikan

Larva ikan tidak diberi makan sampai berumur 3 hari. Selama tiga hari larva mendapat makan dari kuning telur yang terdapat pada tubuh larva tersebut. Pada hari yang ke empat larva diberi kuning telur yang dilarutkan di dalam air.

Cara pembuatan larutan kuning telur adalah sebagai berikut.
  1. Telur ayam direbus sampai matang.
  2. Ambil kuning telur tersebut dan bungkus dengan kain halus.
  3. Remas kain yang telah berisi kuning telur ke dalam air.
  4. Setiap kuning telur dilarutkan pada air 1-2 liter air bersih.
  5. Air yang telah berisi kuning telur tersebut diberikan kepada larva ikan secara merata.
  6. Pemberian kuning telur sebanyak 2-3 kali sehari.
  7. Pemberian kuning telur kepada larva sampai larva berumur 7-10 hari atau dengan cara larva tersebut ditebar pada kolam pendederan.
Hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan larva adalah sebagai berikut.
  1. Alirkan air secara terus-menerus ke dalam wadah penetasan telur.
  2. Cegahlah hama atau hewan pemakan larva, seperti Notonecta dan cyster.
  3. Beri larva makanan secara teratur. Makanan yang diberikan harus berukuran lebih kecil daripada bukaan mulut ikan.

Pembesaran Benih Ikan

Pendederan adalah usaha membesarkan benih ikan yang baru menetas sampai ukuran tertentu. Pendederan benih ikan terdiri dari bendederan benih 1, pendederan benih 2, dan pendederan benih 3. Setiap tahap pendederan memiliki perbedaan dalam hal ukuran ikan dan padat penebaran benih ikan. Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pendederan benih ikan adalah :
  1. kolam pendederan,
  2. cangkul,
  3. pupuk,
  4. kapur,
  5. ember,
  6. benih ikan, 
  7. pakan benih ikan.

Langkah kerja persiapan dalam pendederan banih ikan

  • Keringkan kolam pendederan selama 3-5 hari tergantung pada cuaca. Pengeringan dasar atau tanah kolam pendederan sampai tanah retak-retak.
  • Buatlah kamali atau parit saluran mulai dari pipa pemasukan sampai pipa pengeluaran. Ukuran kamalir adalah 50 cm dan kedalaman 30 cm. Kamalir ini berfungsi untuk mempercepat pengeringan kolam dan tempat berkumpulnya benih ikan pada saat pemanenan benih ikan.
  • Buatlah kubangan di depan pipa pengeluaran air. Kubangan tersebut berukuran panjang 1 m, lebar 1 m, dan kedalaman 0,5 m. Kubangan berfungsi agar saat pemanenan, benih berkumpul pada kubangan tersebut sehingga memudahkan pemanenan benih ikan.
  • Cangkul dasar kolam dengan membalikkan tanah dasar kolam.
  • Ratakan tanah kolam pendederan.
  • Perbaikilah kolam atau pematang kolam yang bocor.
  • Tebar pupuk kandang pada kolam pendederan sebanyak 200 gr/m2 dan pupuk TSP 10 gr/m2. Pemupukan bertujuan untuk menumbuhkan makanan alami, seperti (zooplankton dan phytoplankton), sebagai makanan benih ikan.
  • Tebarlah kapur pada kolam pendederan secara merata sebanyak 100-200 gr/m2. Penebaran kapur bertujuan untuk membasmi hama dan penyakit pada kolam pendederan.
  • Alirkan air ke dalam kolam pendederan sampai kedalaman 10-20 cm.
  • Saluran pemasukan dan pengeluaran air ditutup.
  • Biarkan kolam tersebut selama 4-6 hari.
  • Setelah hari ketujuh, air kolam pendederan dinaikkan sampai kedalaman 30-40 cm.


1. Penebaran benih ikan

Jika penetasan telur ikan dilakukan pada kolam berarti kolam tersebut sekaligus sebagai kolam pendederan. Oleh sebab itu, persiapan kolam dilakukan 4-5 hari sebelum penetasan telur ikan, sedangkan langkah kerja persiapan kolam penetasan selama dengan persiapan kolam pendederan. Jika penetasan telur ikan dilakukan di hapa, lama persiapan kolam pendederan sesuai dengan langkah kerja persiapan kolam pendederan. Pendederan benih dilakukan setelah 5-7 hari kolam pendederan dibiarkan (direndam air). Penebaran benih ini hanya berlaku untuk penetasan telur ikan di hapa, sedangkan penetasan telur di kolam langsung di dederkan di kolam.

Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam penebaran larva ikan adalah :
  1. larva atau benih ikan.
  2. ember.
  3. kolam pendederan.
  4. seser halus.


2. Langkah kerja penebaran benih ikan di kolam pembesaran benih ikan (pendederan)

  1. Isilah ember dengan air sebanyak 20-220 liter. Air tersebut diambil dari air dalam hapa tempat penetasan telur ikan. Hal ini bertujuan agar suhu air di ember dan suhu air di dalam hapa sama sehingga benih ikan tidak stres.
  2. Tangkaplah benih ikan di dalam hapa dengan menggunakan seser halus kemudian benih ikan tersebut pindahkan ke dalam ember yang berisi air.
  3. Tebarlah benih ikan yang ada di ember ke kolam pendederan. Cara memasukan air kolam pendederan ke dalam embar yang telah berisi larva ikan sidikit demi sedikit sampai suhu air yang di ember dengan suhu air di kolam pendederan sama. Untuk mengukur suhu air kolam pendederan dengan suhu air di ember dapat dilakukan dengan mencelupkan tangan ke dalam air dalam ember dan ke dalam kolam atau menggunakan termometer. 
  4. Tebarlah sebanyak 400-600 ekor/m2 (pendederan 1) benih ikan dengan ukuran 1-3 cm.
  5. Berilah makanan tambahan berupa dedak sebanyak 300-500 gr selama pendederan benih. Pemberian makan tambahan dilakukan tiga kali sehari.
  6. Setelah 2 minggu penebaran larva dilakukan, ambillah contoh (sampling) ikan. Pengambilan contoh ikan tersebut dilakukan dengan menangkap benih ikan di kolam pendederan secara acak. Pengambilan benih contoh dapat menggunakan anco atau seser.
  7. Setelah benih ikan berukuran 3-5 cm, di lakukan penjarangan padat penebaran benih ikan di kolam pendederan. Sebelum di lakukan penjarangan benih ikan, dilakukan pemanenan pada kolam pendederan I. Cara pemanenan benih ikan akan dijelaskan pada bab berikutnya.
  8. Pendederan 2 dilakukan dengan ukuran benih 3-5 cm dan kepadatan 75-100 ekor/m2. Sebelum dilakukan pendederan 2, dilakukan persiapan kolam pendederan seperti langkah kerja persiapan kolam pendederan. Selama pendederan, benih ikan diberi makan tambahan berupa dedak. Pendederan 3 dilakukan setelah benih ikan mencapai ukuran 5-8 cm. Benih ikan ini berasal dari benih ikan pendederan 2. Padat penebaran pendederan 3 sebanyak 60-90 ekor/m2. Sebelum pendederan ke 3 ini dilakukan, persiapkan kolam pendederan. Langkah kerja persiapan pendederan ini sama dengan persiapan kolam pendederan.
  9. Selama kegiatan pendederan 3 ini benih ikan diberi makan tambahan berupa dedak atau pelet ukuran kecil.

Pemanenan Benih

Pemanenan merupakan akhir dari kegiatan suatu budi daya ikan. Banyak petani ikan yang gagal karena kurang memahami cama memanen ikan. Oleh karena itu, Sebaiknya petani ikan memperhatikan alat dan bahan yang diperlukan serta langkah-langkah pemanenan yang benar.


A. Alat dan bahan yang diperlukan untuk memanen ikan

  1. seser atau cambit (alat untuk menangkap benih ikan).
  2. hapa (alat untuk menampung benih ikan).
  3. ember.
  4. patok dari bambu atau kayu.


B. Langkah kerja pemanenan benih ikan

  1. Pemanenan benih ikan dilakukan pagi hari sekitar pukul 06.00 - 09.00 atau sore hari pukul 04.00-06.00.
  2. Pemasangan hapa pada kolam yang terdekat dengan kolam yang akan dipanene. Pemasangan hapa dilakukan pada saluran pemasukan kolam yang terdekat.
  3. Pemasangan saringan pada saluran pengeluaran. Saringan yang dipasang memiliki mata jaring yang lebih kecil daripada ukuran ikan.
  4. Tutuplah saluran pemasukan kolam pendederan.
  5. Buka saluran pengeluaran air secara perlahan-lahan agar benih ikan tidak terbawa tinggal pada dasar kolam yang kering.
  6. Setelah air kolam pendederan kering, tangkapalah benih ikan menggunakan seser. Penangkapan benih ikan dimulai dari kubangan yang terletak di depan saluran pengeluaran. Jangan menangkap banih ikan dari saluran pemasukan (hulu) kerena dapat memabukkan benih ikan yang berada dikubangan atau saluran pengeluaran (hilir).
  7. Alirkan air seadanya dari saluran pemasukan. Hal ini untuk mencegah benih ikan mabuk (pingsan).
  8. Jika benih ikan terlihat mabuk atau pingsan, segera tutup saluran pengeluaran dan alirkan air sepenuhnya dari saluran pemasukan. Tanda-tanta benih ikan mabuk adalah benih ikan terlihat berada di atas permukaan air.
  9. Pemanenan dihentikan sementara kemudian dilanjutkan sore harinya.
  10. Benih ikan yang telah ditangkap segera dikumpulkan pada hapa yang telah dipasang sebelumnya.


Type and hit Enter to search

Close