Breaking News

Ternak Lele Pemula

Pembenihan ikan lele dapat dilakukan dengan cara intensif, semiintensif, dan tradisional. Pembenihan ikan lele sangat mudah untuk dilaksanakan sehingga tingkat kebersihannya pun tinggi. Hal ini terbukti bahwa pembenih ikan lele selalu berhasil dalam membenihkan lelenya. Apakh kunci keberhasilan tersebut? Kuncinya adalah sanggup mencoba dan mencoba terus. Kegiatan pembenihan ikan lele dengan cara intensif hampir sama dengan kegiatan Pembenihan dengan cara semiintensif. Apabila saudara mencoba membenihkan dengan cara yang satu, akan lebih mudah mengerjakan dengan cara yang lainnya.

Pembenihan Ikan Lele

A. Langkah Persiapan

1. Persiapan wadah

Sebelum digunakan untuk pembenihan, terlebih dahulu wadah perlu dipersiapkan secara hati-hati dengan langkah-langkah sebagai berikut.
  1. Mempersiapkan wadah pemijahan berupa bak atau bak modifikasi (tiruan), dengan ukuran 3 x 1 x 0,8 m.
  2. Mempersiapkan wadah penetasan berupa bak atau bak modifikasi, dengan ukuran 1 x 0,40 x 0,20 m.
  3. Mempersiapkan bak pendederan I yang berukuran 1 x 0,5 x 0,5 m.
  4. Mempersiapkan bak pendederan II, ukurannya disesuaikan dengan kondisi.
  5. Mempersiapkan bak pemeliharaan induk dengan ukuran 3 x 1 x 1,5 m.
Beberapa hal yang harus dilakukan setelah mempersiapkan wadah, yaitu sebagai berikut.
  1. Bersihkan wadah-wadah tersebut jangan sampai ada kotoran atau lumut yang tersisa.
  2. Untuk menghindari tumbuhnya jamur, perlu diberi larutan PK 20 ppm. Cara membuat larutan PK, timbanglah PK serbuk 20 mg, kemudian larutkan ke dalam 1 liter air atau 1 sendok teh PK yang dilarutkan dalam 2 gelas air.
  3. Isilah bak penetasan telur dengan air bersih sebanyak 2/3 volume bak. Hitunglah berapa liter.
  4. Hitunglah kebutuhan PKnya.
  5. Masukan PK tersebut ke dalam bak penetasan, biarkan selama 15-20 menit.
  6. Setelah itu, larutan PK dibersihkan, gantilah dengan air yang bersih, sebanyak 2/3 dari volumenya.

2. Persiapan Induk

Calon iduk lele perlu dipersiapkan sedini mungkin dengan pemeliharaan khusus. Hal ini dilakukan apabila induk yang akan dipijahkan belum matang kelamin. Akan tetapi, sebelumnya perlu dilakukan seleksi calon induk yang baik agar nantinya didapatkan keturunan yang baik pula.

Kriteria induk baik adalah .
  1. Gerakan lincah.
  2. Tidak cacat fisik, dan
  3. Tidak terserang penyakit atau parasit.

Adapun untuk menentukan lele jantan atau betina, dapat dilihat pada ciri-ciri berikut ini.

A. Lele Jantan
  1. Warna kulit dada agak tua jika dibandingkan dengan induk betina.
  2. Lubang kelamin agak menonjol, memanjang ke arah belakang dan terletak di belakang anus.
  3. Perut lebih langsing jika dibandingkan dengan betina.
  4. Apabila perut diurut ke arah anus, akan mengeluarkan sperma (bagi yang telah masak kelamin).
B. Lele Betina
  1. Warna kulit dada agak terang.
  2. Kelamin berbentuk oval (bulat daun). warnanya kemerah-merahan, lubang agak lebar dan terletak di belakang anus.
  3. Perut lebih gembung dan lunak

3. Pemeliharaan Induk Lele

Kondisi induk lele saat ini belum matang kelamin sehingga membutkan pemeliharaan tersendiri. Dalam pemeliharaan induk lele perlu diperhatikan kondisi air dan pakan. Usahakan air yang digunakan adalah air sehat dan pakannya mengandung nilai gizi yang tinggi, baik berupa pelet kandungan protein 25% ke atas atau cincangan bekicot dicampur dengan dedak dan pelet.

Cara memelihara induk lele
  1. Persiapkan bak dengan ukuran 3 x 1 x 1,5 m.
  2. Bersihkan bak hingga tidak ada kotoran.
  3. Isilah bak dengan air sebanyak 2/3 dari volume bak dengan air sehat (pH 6,5 - 9 dan suhu 24 - 28 derajat celcius).
  4. Tebarkan 30 ekor/ m2, ukuran lele 20 cm.
  5. Lepaskan induk lele jantan dan lele betina terpisah untuk menghindari kawin liar.

Berilah pakan tiga kali sehari dengan jumlah pakan total setiap hari 5% x berat ikan. Timbanglah berapa berat lele seluruhnya, caranya adalah sebagai berikut.
  1. Tangkaplah lele lima ekor sebagai contoh, kemudian timbanglah! berapa beratnya.
  2. Hitunglah berat keseluruhan lele dengan rumus Jumlah lele keseluruhannya dikali berat lele contoh dibagi jumlah lele contoh (Jms x Blc : Jmc).
  3. Timbanglah pelet kandungan protein di atas 25% sebanyak 5% x berat lele keseluruhan = A kg
  4. Bagilah A kg dengan 3, A/3 kg = B kg karena akan diberikan tiga kali, yaitu pagi, siang, dan sore.

Usahakan air yang ada dalam bak selalu mengalir seimbang, antara air yang masuk dan air yang keluar. Untuk menentukan jumlah pakan berikutnya, lakukan penimbangan setiap minggu dengan cara seperti di atas. Setelah panjang lele kira-kira 25-30 cm, periksalah apakah induk lele sudah matang kelamin. Jika sudah matang kelamin, lele siap dipijahkan.

4. Pemilihan Induk Lele Matang Kelamin atau Gonad

Agar  pemijahan lele berhasil dengan baik, pemilihan induk lele matang kelamin perlu dilakukan secara seksama.

Berikut ini adalah tanda-tanda lele matang kelamin.

a. Lele jantan matang kelamain
Tanda-tandanya apabila perut lele diurut ke arah anus atau ekor, lele akan mengeluarkan sperma atau cairan seperti susu. Dengan demikian, lele jantan dikatakan telah matang kelamin.

b. Lele betina matang kelamin.
Tanda-tandanya apabila perut lele telah membesar, jika diraba terasa lunak, lubang kelamin membesar dan berwarna kemerah-merahan. Apabila dimasukkan sedotan teh botol ke dalam lubang kelamin sedalam 4 cm, kemudian menyedotnya, telur lele akan terbawa. Apabila sebanyak 90% dari telur tersebut bergasir tengah 1 mm, dikatakan lele betina telah matang kelamin.

B. Pemijahan Ikan Lele

1. Pemijahan secara intensif

Pemijahan intensif adalah suatu pemijahan yang manusia ikut campur dari proses awal hingga akhir (pembuahan buatan) dalam kegiatan pemijahan. Dengan demikian, segala sesuatunya diharapkan terawasi.

Langkah-langkah pemijahan tersebut adalah sebagai berikut.

a. Persiapan alat dan bahan
1. Alat
Alat yang digunakan, yaitu :
  • hapa atau bak,
  • tabung reaksi atau tabung
  • alat suntik,
  • alat pemisah ekstrak hipofisis, atau centrifuge,
  • kertas saring, tisu, kapas
  • handuk, bantal, busa
  • golok,
  • jarum besar,
  • alat penggerus,
  • baki atau piring.
  • bulu ayam bersih dan kering, dan
2. Bahan
Adapun bahan yang diperlukan, yaitu sebagai berikut :
  • induk ikan lele jantan dan betina matang kelamin.
  • ikan lele dewasa sebagai donor.
  • akuades atau air hasil destilasi (penyulingan).
  • larutan garam faal (NaCl 0,65 - 0,90%), cara membuatnya 65-90 gr garam dapur larutkan dalam akuades 1 liter,
  • larutan garam faal/psikologis, dan
  • alkohol 96%.
b. Penentuan dosis
Perbandingan berat antara induk jantan dan betina sebaiknya 1:1 sehingga apabila berat induk betina 3 kg, induk jantan juga harus 3 kg. Dosis di sini, artinya jumlah cairan hormon yang berasal dari ikan donor yang akan disuntikan kepada ikan penerima, berasal dari jumlah berat yang sama antara ikan donor dan ikan penerima.

Dosis yang biasa digunakan adalah sebagai berikut :

Penyuntikan tahap 1 : 0,5 dosis untuk lele jantan 1 dosis untuk lele betina
penyuntikan tahap 2 : 2 dosis untuk lele betina.

Pada dosis seperti di atas, ikan donor yang dibutuhkan adalah sebagai berikut .
1. 0,5 dosis = 1,5 kg
2. 1 dosis = 3 kg
3. 2 dosis = 6 kg
jumlah = 10,5 kg
Donor yang dipergunakan sebaiknya ikan yang masih sejenis. Contoh apabila yang akan dipijahkan ikan lele, ikan donornya sebaiknya ikan lele juga. Akan tetapi, apabila ikan yang sejenis jumlahnya terbatas, dapat digunakan donor yang bersifat universal ikan emas.

c. Pembentukan ekstrak hipofisis

1. Cara pengmbilan kelenjar hipofisis 
Pengambilan kelenjar hipofisis sebaiknya dilakukan per tahap penyuntikan disesuaikan dengan dosisnya. Ikan donor dibunuh dengan jalan memotong kepalanya sampai putus, kemudian diletakkan dengan pisisi mulut mengadap ke atas. Potonglah tulang kepala bagian bawah mulai dari dekat lubang hidung ke arah bawah sampai tulang tengkorak terbuka dan bagian insang dibuang.

Potonglah berkas-berkas (jaringan) saraf yang berwarna putih di sebelah depan sehingga akan terlihat posisi otak ikan. Angkatlah otak ikan, posisi kelenjar hipofisis akan tanpak. Kelenjar ini masih terbungkus selaput tulang.

2. Pembuatan suspensi
Setelah kelenjar hipofisis diambil, pengerjaan selanjutnya adalah sebagai berikut. Bersihkan jaringan dari berkas jaringan yang membungkusnya, dengan cara meletakkan jaringan tersebut di atas kertas saring. Masukan kelenjar itu ke dalam alat penggerus. Gunakanlah kelenjar dengan alat mortar (alu). Penggerusan cukup hanya memecahkan cairannya. Masukkan beberapa tetes larutan garam faal, kemudian geruslah lebih lanjut hingga kelenjar lumat, tambahkan laruta garam faal lagi sebanyak 2 cc atau 1 sendok teh. Aduk hingga bercampur benar.

Pindahkan larutan tadi ke dalam tabung reaksi atau tabung yang sejenis, kemudian lakukan pemutaran dengan menggunakan centrifuge selama 5 menit atau kocoklah selama 15 menit, kemudian diamkan selama 15 menit. Setelah batas waktu yang ditentukan, akan tampak dalam tabung reaksi cairan yang jernih (filtrat) berada di bagian atas dan endapan berada di bagian bawah. Ambillah cairan bening tersebut dengan menggunakan alat suntik, cairan tersebut siap untuk disuntikan.

d. Cara penyuntikan

Arahkan alat suntik ke atas dan buanglah udara jika ada. Usahakan udara tidak ada di dalamnya. Tutuplah kepala induk lele betina dengan handuk yang telah dibasahi. Tusukkan jarumnya sedalam 2-2,5 cm dengan sudut kemiringan 30 derajat pada bagian otot sirip punggung, arahkan jarum suntuk ke ekor. Masukkan suspensi secara perlahan-lahan sambil menarik jarum suntik tersebut. dengan jari hingga larutan menyebar merata. Masukkan kembali ke dalam bak asalnya, tunggulah hingga empat jam.

Hal yang sama juga dilakukan pada indk lele jantan. Penyuntikan dilakukan dua tahap.

1. Tahap pertama
Disuntik sebanyak 0,5 dosis untuk lele jantan. 1 dosis untuk induk lele betina.

2. Tahap kedua
Disuntik sebanyak 2 dosis untuk induk lele betina, sedangkan induk lele jantan tidak disuntik. Setelah itu induk ikan lele tersebut disuntik, kemudian induk dimasukkan legi ke dalam bak asalnya. Tunggu selama sepuluh jam, pada saat ini telur dan sperma lele sedang mengalami proses pematangan. Untuk iduk lele betina perut menjadi lebih gembung.

e. Pembuahan telur dengan cara pengurutan (stripping)

Induk lele betina biasanya jika  disuntikan bereaksi, telur cepat matang sehingga telur lele akan dengan mudah keluar dari lubang kelamin, biasanya telur akan muncul dan menapak pada lubang kelamin. Jika demikian, induk lele betina harus segera ditangkap. Tangkap induk lele betina secara hati-hati, tutuplah kepala dengan handuk basah. Lakukanlah pengurutan dengan ibu jari ke arah anus. Tempatkan telur tersebut ke dalam baki atau tempat yang tidak mudah bereaksi.

Usahakan sebelum induk lele diurut baki harus kering betul karena jika tidak kering, telur akan segera lengket. Induk lele jantan ditangkap dan dipegang dengan menggunakan handuk. Sebelum melakukan pengurutan, pastikan dahulu telur lele tadi yang ada di baki, apakah telah siap dibuahi? jika sudah, lele jantan segera diurut, caranya sama dengan pengurutan induk lele betina. Sperma yang keluar dipastikan menetas pada kaki tempat telur lele berada.

Campurkan sperma tadi dengan telur lele dengan cara mengaduk-aduk hingga merata, gunakanlah bulu ayam yang bersih dan kering yang telah dipersiapkan. Tambahkan akuades sedikit, aduk-aduklah lagi hingga merata benar. Jika sudah diaduk, diamkan sejenak. Jika kelebihan sperma, buanglah dengan cara mengganti airnya sampai tiga kali.

f. Penetasan telur

Setelah telur lele terbuahi, warnanya akan berubah menjadi hijau kecoklat-coklatan, bentuknya menjadi agak membesar dan telur menjadi lengket. Letakkan telur secara merata dalam bak penetasan yang telah disiapkan tadi. Usahakan telur tidak terlalu padat. Apabila telur telah menetas menjadi larva, larva akan menjadi padat sehingga pemeliharaannya agak sulit. Berikan aerasi dengan menggunakan aerator jika tersedia (jangan terlalu besar). 

Apabila tidak tersedia, sirkulasi air harus tetap ada walaupun tidak terlalu besar. Hal ini untuk mendapatkan oksigen yang cukup. Waktu yang dibutuhkan hingga telur menetas, yaitu 18-24 jam, suhu air yang dibutuhkan dalam penetasan, yaitu 27-29 derajat celcius. Setelah telur menetas, biarkan larva di tempat tersebut sampai tiga hari. Larva akan tampak seperti jarum kecil dan ada gelembung kecil berwarna hijau (yolk sac).

g. Pembuahan telur dengan cara pengurutan pada induk betina

Pengurutan induk lele betina dilakukan seperti yang telah dikerjakan, sedangkan untuk perlakuan induk lele jantan sperma diambil dari kantong sperma dalam tubuh lele tersebut sehingga induk lele jantan harus dimatikan. Hal ini dilakukan karena pengurutan pada induk lele jantan sering sukar dikerjakan.

Cara mengambil sperma lele

Letakkan lele jantan dengan posisi terlentang. Bukalah rongga tubuhnya dengan menggunakan gunting. Hati-hati menguntingnya jangan sampai merusak organ dalamnya. Setelah kantong sperma ditemukan (testes) dengan berwarna kuning kemerah-merahan, amatilah apakah testes berisi sperma atau kosong. Apabila kosong akan tampak seperti cacing. Jika testes berisi sperma, ambillah testes tersebut.

Letakkan testes tersebut di atas kertas saring. sayatlah secara insisi, keluarkan sperma tersebut dari testes. Lakukan pembuahan buatan, dengan cara mencampurkan telur yang ada di baki piring dengan sperma yang telah dikeluarkan dari testes. Aduk-aduklah hingga merata. Tambahkan akuades sedikit atau lakukan seperti pembuahan buatan yang telah di jelaskan di atas.

2. Pemijahan secara semiintensif

Pada pemijahan secara semiintensif, campur tangan manusia pada kegiatan awalnya masih diperlukan tetapi pada pembuahannya lele dibiarkan sendiri (alamiah). Induk lele yang telah disuntik (perlakukan/dosis seperti di atas) ditempatkan pada bak pemijahan. Penempatan induk lele betina dan jantan dengan satu bak pemijahan hanya dipisahkan dengan penyekat yang terbuat dari kain terililin atau sejenisnya. 

Jika induk lele betina dan jantan sudah gelisah, penyekat segera diambil agar terjadi pemijahan sendiri. Kurangilah volume air bak pemijahan hingga kedalaman 20 cm (sebelum lele mijah). Induk lele betina akan menggerakkan ekornya untuk meratakan letak telur-telurnya. induk lele akan menjaga sampai menetas kira-kira memerlukan waktu 27 jam.

C. Pemilihan Benih Lele

1. Pemeliharaan Larva

Semua telur ikan lele akan menetas sampai kira-kira memelukan waktu 27 jam. Setelah menjadi larva, bak penetasan tetap diberi aerasi tetapi jangan terlalu besar. Setelah umur tiga hari, larva dijarangkan dan dipindahkan sebagian ke bak pemijahan yang lain. (jika dirasakan terlalu padat). Usahakan kedalaman air tetap 20 cm. Usahakan air tetap mengalir dalam bak pemeliharaan larva walaupun tidak terlalu banyak. Jagalah suhu antara 27-29 derajat celcius. Usahakan bak pemeliharaan larva tidak terlalu banyak kena sinar matahari karena ikan lele mempunyai sifat tidak terlalu senang dengan sinar matahari. Jadi, berilah pelindung sinar matahari pada bak pemeliharaan larva walaupun tidak semua tertutup.

a. Pemberian pakan
Pakan yang diberikan untuk mendapatkan pertumbuhan benih lele yang optimal benih berumur 3-11 hari, pakan yang diberikan berupa bubur yang terbuat dari campuran kuning telur, tepung udang, tepung bubur nestum, atau emulsi kuning telur saja. 

Cara membuat pakan campuran:
Tepung kuning telur 1/3 bagian, tepung udang 1/3 bagian, tepung bubur nestum 1/3 bagian.
 
Jadi, jika ingin membuat 3 ons pakan, setiap bahan 3 ons. 

Cara membuat emulsi kuning telur 
Telur ayam direbus, kemudian diambil kuning telurnya. Kuning telur tersebut dilumat dalam air bersih kira-kira 1 liter.

Frekuensi pemberian pakan 5-8 kali dalam sehari. Biarkanlah pakan pada benih lele hingga kenyang. Tanda-tandanya adalah apabila diberi pakan lagi, benih lele sudah tidak mau lagi makan.

b. Penjarangan
Benih lele perlu dilakukan penjarangan apabila dalam bak tersebut telah dirasakan terlalu padat. Hal ini pasti akan terasa karena benih lele tumbuh menjadi besar. Jika tidak dilakukan penjarangan, benih akan banyak yang mati. 

Cara melakukan penjarangan :
Tangkaplah benih tersebut dan masukan ke dalam bak lainnya hingga dirasakan benih sudah tidak terlalu padat lagi.


2. Pendederan I 

Setelah benih lele berumur 12 hari, sebaiknya segera dilakukan pendederan I sampai berumur 7 minggu. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut. Pasanglah hapa dengan ukuran 1 x 0,5 x 0,5 m dalam kolom, usahakan kedalaman airnya 30 cm. Jika hapa tidak tersedia, buatlah kolam atau bak yang dianjurkan dengan ukuran 2,5 x 0,75 x 0,60 m. Kedalaman airnya 30 cm. Jika hapa, bak, atau kolam telah tersedia, benih segera dipindahkan. Kepadatan di perkirakan 50-100 ekor per liter air atau kepadatan semakin kurang akan lebih baik.

Usahkan dalam penangkapan dan memindahan benih dilakukan dengan perlahan-lahan. Pakan yang diberikan berupa campuran tepung maezena, tepung ikan, tepung kuning telur, konsentrat 521, dan tepung daun. Campurkanlah, kandungan protein diusahakan kira-kira 30%. Jika tidak ada pakan, dapat diganti dengan pelet yang dijual di toko-toko.  Pemberian pakan empat kali dalam sehari, dilakukan pada pagi, siang, sore, dan malam. berikan pakan sampai benih lele kenyang.

3. Pendederan II

Setelah berumur 7 minggu, benih perlu dipindahkan ke dalam kolam pendederan II, ukuran kolam disesuaikan dengan kondisi. Lama pemeliharaan dalam kolam pendederan II sekitar 7-8 minggu sehingga pada saat itu benih lele berumur sekitar 15 minggu, sampai didapat benih berukuran 15 cm. Padat penebaran 150-200 ekor/m2. hitungalah padat penebarannya. Jadi, volume kolam pendederan II harus diketahui. 

Setelah diketahui kepadatan keseluruhan, lepaskan benih tersebut dengan hati-hati. Waktu pelepasannya lebih baik pagi atau sore hari, yaitu pada suhu tidak terlalu tinggi. Pakan yang diberikan berupa cincangan bekicot dicampur dengan dedak halus dan daun pepaya. Berikanlah 4-5 kali sehari, yaitu pada pagi, siang, sore, dan malam hari. Pakan diberikan sampai benih lele kenyang. Langkah berikutnya benih lele siap dibesarkan dalam kolam pembesaran, dengan aturan yang agak berbeda.

Jika lele sudah dalam tahap pembesaran dikolam terpal atau kolam beton penggantian air  harus rutin jika air sudah berbau segeralah diganti 50% agar menjaga kesehatan lele tersebut. apabila ikan lele berada di kolam tanah tidak perlu pergantian air hingga masa panen. hal ini dilakukan karena pengalaman pribadi. apabila air diganti 100% ikan dipuasakan makan dulu 1-2 hari karena ikan stres tidak mau makan. setelah melewati puasa ikan akan kembali lahap jika diberi makan. dan perlu diingat jika memelihara lele lakukanlah penyortiran lele  supaya besar lele tersebut di kolam rata besarnya. apabila ada yang kecil dan yang besar dicampur makan ikan lele yang besar akan memakan yang kecil. Ini dikarenakan sifat lele yang kanibalisme.


Sumber : Khoironi 

 

Type and hit Enter to search

Close