Breaking News

Fungsi tanaman azolla

manfaat azolla untuk tanaman padi

Dalam artikel ini akan dibahas fungsi tanaman azolla hal-hal yang bersangkutan dengan masalah tumbuhan paku air Azolla yang meliputi ciri-ciri Azolla, kegunaan Azolla, budi daya Azolla, dan penyakit Azolla. Di Indonesia adalah negara agraris yang mata pencaharian penduduknya sebagian besar bertani.

Makanan pokok sebagian besar rakyat Indonesia adalah beras. Untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan pokok tersebut, telah dilakukan berbagai upaya. Telah terbukti bahwa Indonesia dapat mencapai swasembada beras.

Adapun usaha yang telah dilakukan pemerintah, antara lain melalui usahan intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Banyak anggaran pemerintah yang telah digunakan dalam upaya meningkatkan produksi pertanian, baik dalam bentuk subsidi pengadaan pupuk maupun subsidi yang lain.

Namun, akhir-akhir ini subsidi pemerintah khususnya untuk pengadaan pupuk semakin dikurangi sehingga harga pupuk kimia semakin mahal untuk dijangkau petani. Harga pupuk semakin tinggi disebabkan semakin tingginya ongkos produksi pertanian (produksi beras) tidak mungkin dapat ditingkatkan jika kebutuhan pupuk tidak terpenuhi.

Para ahli pertanian berusaha mendapatkan cara-cara baru untuk memperbaiki kesuburan tanah pertanian sebagai alternatif lain dalam pemakaian pupuk kimia. Dalam usaha tersebut dipertimbangkan pula cara-cara tradisional yang digunakan oleh petani dalam meyuburkan tanah mereka.

Berbagai alternatif dapat ditempuh dalam upaya mengurangi ketergantungan akan pupuk kimia, seperti Urea. Telah diketahui bahwa akar tanaman kacang-kacangan dapat membentuk bintil dan sering digunakan sebagai tanaman penyubur ataupun sebagai pupuk hijau.

Dalam bintil akar tanaman kacang-kancangan, terdapat suatu bakteri yang secara kerja sama dengan tanaman kacang menambat nitrogen dari udara sehingga tanaman kacang tersebu kaya akan unsur N.

Dengan demikian, tanaman kacang-kacangan dapat digunakan sebagai sumber pupuk nitrogen untuk mengurangi ketergantungan akan penggunaan pupuk Urea. Untuk lahan sawah, penggunaan cara tersebut masih mengandung banyak kelemahan karenatanaman kacang-kacangan kurang baik pertumbuhannya pada lahan yang berair (sawah).

Oleh karena itu, harus dicari cara lain, dan akhirnya pilihannya pada tanaman Azolla. Tumbuhan paku air Azolla dinilai cocok sebagai pupuk hijau untuk sistem padi sawah. Beberapa nilai lebih yang dimiliki Azolla antara lain :
  1. Dapat bekerja sama dengan ganggang air Anabaena azollae sehingga mampu menambah nitrogen dari udara, tumbuh serta memperbanyak diri secara cepat walaupun hidup pada air yang kurang unsur haranya.
  2. Mudah terurai pada tanah lembab atau tergenang.
  3. Dapat meningkatkan hasil panen.
  4. Dapat digunakan sebagai makanan ternak dan ikan.

Ciri-ciri tanaman Azola

budidaya tanaman azolla

1. Ciri botani

Tumbuhan paku air Azolla telah lama dikenal oleh petani Indonesia dengan nama yang berbeda. Di beberapa daerah di Indonesia, Azolla dikenal dengan nama daerah lakut cai, kakarewoan, kapok rodek, abang apu, ki apu, toke-toke, kiambang, dan sebagainya.

Karena pertumbuhan yang sangat cepat, Azolla mampu menutup semua permukaan sawah dalam waktu yang relatif singkat. Karena kurang pengetahuan akan manfaat Azolla, petani sering mencampakannya begitu saja ke luar petak petak sawahnya.

Tindakan yang demikian tentu saja tidak tepat, bahkan sangat merugikan. Tumbuhan Azolla yang mestinya dapat digunakan sebagai pupuk organik sumber nitrogen malahan dibuang. Kekhawatiran akan merajalelanya Azolla sehingga mengalahkan tanaman padi sebenarnya tidak beralasan. 

Azolla dapat ditumbukan bersama tanaman padi tanpa ada pengaruh yang merugikan terhadap tanaman padi, tetapi justru menguntungkan. Tumbuhan paku air Azolla tersebar luas di segala penjuru dunia.

Sampai saat ini, diketahui ada enam jenis Azolla yang hidup di bumi, antara lain Azolla filiculoides, Azolla caraliniana, Azolla mexicana, Azolla mierophylla, Azolla nilotica, dan Azolla pinnata. Penggolongan tersebut didasarkan pada bentuk vegetatif dan struktur reproduksi.

Pemetaan penyebaran Azolla berdasarkan tipe ekosistemnya menunjukkan bahwa di negara-negara industri ditemukan jenis Azolla filiculoides, Azolla caroliniana, dan di bagian barat Amerika ditemukan Azolla mexicana. 

Di beberapa negara tropik dan subtropik didominasi oleh jenis Azolla pinnata. Semua jenis Azolla mengandung ganggang biru Anabaena azollae yang berfungsi sebagai pengikat nitrogen udara.

2. Ciri fisiologi

Daya tarik dari tumbuhan paku air Azolla adalah adanya kemampuan dalam bersimbiosis dengan ganggang biru Anabaena azollae dalam menambat nitrogen bebas sehingga dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan.

Meskipun tumbuhan ini sudah dikenal hampir 150 tahun yang lalu, baru 20 tahun lebih terakhir ini dipelajari secara intensif mengenai aspek morfologi, genetika, dan proses biokimia Azolla anabaena.

Bentuk sporophia azolla (bentuk yang sering dijumpai di sawah) terdiri dari percabangan batang yang mengapung pada permukaan air dan merupakan tempat tumbuhnya daun dan akar. Ganggang biru Anabaena menempati rogga khusus antara lembaran daun bagian atas dan bawah.

Pada rongga tersebut, terdapat rambut permukaan (epidermal) yang berfungsi sebagai alat untuk pertukaran zat antera Azolla dan Anabaena. Sifat unik simbiosis Azolla-Anabaena adalah tetap hadirnya Anabaena pada tingkat mengesporokap pada siklus seksualnya.

Karena adanya asosiasi yang berkelanjutan antara Anabaena azollae dan Azolla maka jarang ditemukan dalam keadaan bentuk hidup bebas. Bentuk simbiosis antara ganggang biru dan Azolla mempunyai peranan penting pada penanaman padi sawah sehingga banyak menarik perhatian para ahli agronomi.

Azolla sebagai tempat hidup ganggang biru Anabaena azollae dalam istilah biologi disebut inang dan Anabaena azollae disebut simbion. Pada tanaman inang terkandung klorofi A, pikosianin, alopikosianin, dan pikoeritrosianin.

Pada sistem simbiosis yang terjadi, simbion (anabaena) menyumbang klorofil lebih kurang 20% dan protein total sekitar 16%. Hasil akhir dari proses yang terjadi pada Alolla adalah gula. Telah dibuktikan bahwa gula hanya dihasilkan oleh inang (Azolla), bukan oleh simbion (Anabaena azollae), dan gula tersebut kemudian diberikan kepada simbion.

Sebaliknya, simbion menambat nitrogen bebas yang kemusian dialirkan oleh inang, selanjutnya diproses menjadi asam amino, dan akhirnya dipakai bersama (inang-simbion). Demikian gambaran pembagian tugas antara inang dan simbion.


Kegunaan tanaman Azolla

Manfaat Azolla untuk padi

1. Sebagai pupuk organik

Secara tradisional, Azolla telah lama digunakan sebagai pupuk hijau (organik) pada tanaman padi sawah. Kemampuan dalam menambat nitrogen bebas secara simbiotik dengan ganggang biru Anabaena azollae merupakan suatu keuntungan utaman mengapa Azolla digunakan sebagai pupuk hijau.

Penggunaan Azolla semakin meningkat dan meluas ke segala penjuru dunia. Salah satu alasan semakin meningkatnya penggunaan Azolla adalah semakin tingginya harga pupuk nitrogen kimia (anorganik), misalnya Urea.

Penggunaan Azolla sebagai pupuk dasar pada penanaman padi sawah dapat meningkatkan hasil panen secara nyata. Rata-rata kenaikan produksi mencapai 9,6-13%. Pemberian pupuk Azolla pada persemaian padi dapat meningkatkan kualitas benih, sedangkan pemberian pupuk Azolla setelah penanaman padi dapat meningkatkan laju pertumbuhan padi menjadi lebih baik.

Dalam tanaman Azolla terkandung unsur N,P, dan K. Unsur N merupakan kandungan utamanya yang berkisar 3-5% (bervariasi bergantung pada jenis, iklim, dan cara perbanyakan). Pemberian Azolla sebanyak 25-30 ton Azolla dapat mencakup 62,5-75 kg N/Ha tanaman padi sawah.

Setelah Azolla diberikan pada padi sawah maka akan segera terjadi dekomposisi (peruraian) dan berperan membantu pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. Dengan pemupukan Azolla, dapat ditingkatkan jumlah bulir gabah sebanyak 5 buah, juga ditingkatkan antara 1-2 gram bobot gabah dari setiap 1.000 bulir gabah.

Membudidayakan Azolla dapat meningkatkan kesuburan tanah. Kandungan ligninnya relatif tinggi. Sekitar 39% bahan Azolla kering dapat diubah menjadi bahan organik tanah. Laju peruraian jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan laju peruraian jerami padi.

Di samping sebagai sumber N, Azolla juga berpotensi sebagai sumber pupuk K. Yang menjadi pertanyaan adalah dari mana datangnya dan apa pengaruhnya Azolla terhadap tanaman padi. Azolla mempunyai kemampuan menyerap K dari lingkungan air, tempat tumbuhnya.

Pada umumnya, di lingkungan, di lingkungan perairan terkandung K2O sebanyak 1-5 ppm, yang kemudian diserap oleh Azolla, lalu dilepaskan ke tanaman padi pada waktu digunakan sebagai pupuk hijau.

Ketika Azolla mengalami peruraian, kandungan K dilepaskan dalam bentuk siap pakai (tersedia) bagi tanaman padi. Jumlah K yang dilepaskan selaras dengan K yang dibutuhkan oleh tanaman padi untuk pertumbuhannya.

Dari India dilaporkan bahwa pupuk Azolla yang diberikan secara kombinasi dengan pupuk nitrogen dengan dosis 200 gr/m dapat meningkatkan hasil panen padi jenis IR20, dan yang ditambahkan lagi dengan pupuk P memberikan hasil yang lebih tinggi.

Lebih lanjut, dikemukakan  bahwa penanaman padi sawah bersama dengan tanaman Azolla dapat menghambat tumbuhnya hulma karena permukaan air pada tanah sawah tertutup oleh Azolla.

Penggunaan Azolla juga dilaporkan dari Thailand. Para petani terdorong untuk memanfaatkan Azolla sebagai pupuk padi sawah karena harga pupuk kimia nitrogen terlalu mahal. Patani tidak mampu memenuhi dosis pemupukan tanaman padi sesuai yang dianjurkan oleh pemerintah, sedangkan Azolla sangat cocok karena hanya dalam waktu relatif singkat dapat dipakai sebagai sumber nitrogen (3 kgN/ha/hari).

Keunggulan Azolla yang lainnya, yaitu Azolla sangat tahan pada kondisi keasaman yang rendah, tanah yang kurang subur, dan pada temperatur yang relatif tinggi. Potensi Azolla sebagai pupuk tanaman padi, juga dimanfaatkan di Srilangka.

Di laporkan bahwa pemakaian pupuk Azolla dapat meningkatkan hasil panen sebesar 22% dan menghambat pertumbuhan gulma sebesar 52%. Selain sebagai sumber N, Azolla juga diketahui sebagai sumber bahan organik sawah sehingga dapat memperbaiki tekstur tanah, kapasitas tukar kation (KTK), dan mempertahankan kelembapan tanah. Jadi, banyak memberikan keuntungan bagi pertumbuhan tanaman padi.

Di dataran Cina, pemanfaatan Azolla sebagai pupuk padi sawah memiliki sejarah yang paling tua. Secara tradisional, fase vegetatif Azolla telah digunakan sebagai cara untuk memperbanyak tumbuhan Azolla. Selain digunakan sebagai pupuk hijau, Azolla juga dipakai sebagai makanan ternak seperti babi.

Penggunaan Azolla sebagai pupuk tanaman padi juga dikembangkan di dataran Afrika Barat. Di Senegal bagian timur, kebutuhan petani akan pupuk nitrogen sekitar 120 kg/ha dan setelah dari kebutuhan tersebut dipenuhi dari penggunaan pupuk Azolla.

2. Sumber bahan makanan ternak dan perikanan

Azolla pakan ikan

Mengatasi masalah tentang semakin mahalnya bahan dasar untuk membuat makanan ternak maka Azolla juga telah diteliti dan dicoba untuk digunakan sebagai makanan ternak. Dari pembahasan ini, diketahui bahwa Azolla dapat digunakan sebagai campuran makanan ternak ayam sebanyak 10% pada masa pertumbuhan awal, 20% pada masa pembesaran, dan 15% pada masa bertelur.

Makanan ternak itik yang diberi campuran Azolla sebanyak 20% tidak menunjukan perubahan bagi produksi atau ukuran telur itik. Usaha pemanfaatan Azolla sebagai bahan makanan tambahan ternak tersebut dilakukan di Filipina.

Dalam usaha perikanan, tumbuhan Azolla dapat dipakai sebagai sumber makanan ikan. Di Cina, usaha budi daya ikan bersama tanaman padi bukan merupakan hal yang baru. Setelah dikembangkan bersama dengan penanaman Azolla, ternyata produksi ikannya meningkat tiga kali lipat. Adapun jenik ikan yang dibudidayakan, yaitu ikan mas.

Penelitian menunjukan bahwa jumlah Azolla yang termakan oleh ikan tawes mencapai 50-80% dari berat ikan. Keuntungan lain yang diperoleh dengan sistem polikultur (padi-Azolla-ikan), yaitu bahwa gulma hampir tidak ditemukan yang berarti mengurangi biaya untuk penyiangan.

3. Menanggulangi pencemaran lingkungan

Pencemaran lingkungan dapat disebabkan oleh melimpahnya unsur-unsur kimia tertentu, seperti N dan P yang terkandung dalam bahan buangan dari pengolahan limbah, yang dibuang ke sungai. Unsur-unsur tersebut terkumpul di sungai dan danau sehingga terjadi proses eutropikasi, yaitu proses yang menyebabkan matinya berbagai jenis organisme air.

Untuk mengatasinya, perlu dilibatkan berbagai proses, seperti proses kima biologi, biokimia, dan biologi yang memerlukan biaya mahal. Berbagai tumbuhan air telah digunakan untuk mengambil kembali N dan P dari perairan, namun hasilnya menunjukkan bahwa P masih tetap tersisa setelah N terambil.

Dengan menggunakan Azolla, unsur P yang tersisa dapt terambil. Azolla yang telah ditumbuhkan pada air yang tercemar tersebut setelah dipanen dapat digunakan sebagai pupuk hijau. Dengan demikian, Azolla dapat memberikan keuntungan ganda, di samping mengurangi ongkos untuk menangani masalah limbah. Selain itu, biomasa Azolla juga dapat bisa dipakai sebagai pupuk hijau.

Azola memiliki kemampuan mengakumulasi bahan pencemar logam berat, seperti Cd, Pb, Cu, dan lan-lain. Dengan demikian, Azolla dapat digunakan untuk mengambil logam berat yang mencemari lingkungan. 

Yang perlu mendapat perhatian bahwa Azolla yang mengandung logam berat tidak boleh digunakan untuk makanan ternak karena mengandung racun. Secara praktis, Azolla dapat pula digunakan utnuk menekan perkembangan nyamuk.

Cara Budidaya Tanaman Azolla

cara membudidayakan tumbuhan azolla

1. Cara mendapatkan bibit

Bibit Azolla dapat diperoleh dengan memperbanyak Azolla yang ditemukan di sawah. Cara ini dapat dilakukan khusus untuk daerah yang sudah ditemukan adanya Azolla. Umumnya, pada tanah sawah yang mendapat irigasi sepanjang tahun dapat ditemukan Azolla. Untuk menghindari kekeliruan, sebaiknya dikenali secara betul mengenai bentuk tanaman Azolla.

Ada tanaman paku air yang lain banyak ditemukan disawah, yaitu Salvinea.Perbedaan yang mencolok antara Salvinea dan Azolla, yaitu bentuk, ukuran, dan warna daunnya. Daun Azolla kecil, halus, dan berwarna hijau muda.

2. Faktor lingkungan yang mempengaruhi

a. Air

Agar Azolla dapat tumbuh dengan baik diperlukan kondisi lingkungan yang sesuai dengan tempat dan cara hidupnya. Oleh karena itu, air merupakan faktor pembatas utama. Sebagai tumbuhan air yang memiliki struktur yang lunak, Azolla tidak dapat bertahan lama pada kondisi permukaan tanah yang kering dan terkena terik sinar matahari, hanya bertahan beberapa hari pada areal tanaman padi yang kering.

Ada beberapa spesies yang cukup bertahan pada permukaan tanah yang lembab atau permukaan lumpur, tetapi tidak bisa berkembang karena tidak tersedianya air untuk menyebar. Jadi, untuk menjamin keberhasilan dalam budidaya Azolla diperlukan air yang cukup.

Akan tetapi, patut mendapat perhatian bahwa Azolla mudah hanyut terbawa air, terutama di daerah-daerah yang mudah terkena banjir. Filipina yang merupakan negara yang sudah lama membudidayakan Azolla sering mengalami hal yang demikian, terutama pada musim penhujan.

Oleh karena itu, ada orang yang berpendapat bahwa Azolla sebetulnya dapat tumbuh lebih baik selama musim kemarau jika irigasi cukup. Hal yang demikian juga terjadi pada budidaya padi karena pada musim hujan hama dan penyakit tumbuh dengan subur.

b. Cahaya

Sebagai tumbuhan yang melakukan fotosintesis, Azolla memerlukan cahaya yang cukup. Pada kondisi lingkungan yang memungkinkan, sinar matahari dapat menyinari sepanjang hari dan tidak berpengaruh negatif terhadapt pertumbuhan Azolla. 

Sebagai tumbuhan yang sering ditumbuhkan bersama tanaman padi, pada waktu tanaman padi semakin tinggi dan banyak beranak, Azolla sangat terbatas mendapatkan sinar matahari dan akibatnya pertumbuhan Azolla agak terhambat.

Pada umumnya, tanaman padi ak mulai menghalangi cahaya matahari bagi Azolla kira-kira ketika tanaman padi berumur 45 hari setelah tanam. Adapun intensitas cahaya yang diperlukan oleh Azolla agar dapat tumbuh secara optimal adalah 25-75 k.lux.

c. Temperatur

Di Indonesia yang memiliki iklim tropika tidak banyak mengalami hambatan untuk dapat menumbuhkan Azolla. Dengan suhu rata-rata 28-32 derajat celcius di wilayah Indonesia, Azolla dapat tumbuh dengan baik. 

Akan tetapi, yang sering menjadi hambatannya adalah tingginya temperatur dan tingginya kelembapan sehingga banyak hama pengganggu dan jasad renik tumbuh dengan subur. Dilaporkan bahwa Azolla juga mampu tumbuh pada suhu yang relatif tinggi 40 derajat celcius.

d. Unsur hara

Azolla memerlukan ketersediaan unsur hara dalam lingkungan air sebagai tempat hidupnya. Usur fosfat merupakan kebutuhan utama untuk mengandung daya tumbuh dan berkembangnya Azolla. Pada umumnya, lingkungan perairan masih kurang tersedia akan unsur tersebut.

Unsur fosfat yang terkandung dalam tumbuhan Azolla berkisar 0,2-0,3 % pada bobot kering. Ciri-ciri tumbuhan Azolla yang kekurangan unsur fosfat, antara lain tumbuhan menjadi lebih kecil, berwarna pink hingga menjadi merah, pertumbuhannya lambat, dan kandungan total N rendah.

Kekurangan fosfat pada Azolla dapat diatasi dengan pemberian pupuk TSP. Dalam banyak kondisi, Azolla juga mampu menyerap fosfat yang terdapat pada tanah sawah dengan mengatur tinggi permukaan air sehingga akar Azolla dapat menyentuh permukaan tanah. Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah derajat keasaman tanah (pH). Derajat keasaman yang sesuai, yaitu sekitar 4-6,5.

3. Memperbanyak dan pemeliharaan

Memperbanyak Azolla dapat ditempuh dengan dua cara, yaitu secara vegetatif dan generatif. Cara vegetatif dilakukan dengan membiarkan tumbuhan (fase sporofit) Azolla itu sendiri, sedangkan cara generatif adalah membiarkan Azolla dengan spora (sporokap).

a. Memperbanyak secara vegetatif

Petani dengan mudah memperbanyak Azolla melalui cara vegetatif, yaitu dengan membiarkan pada tempat khusus. Setelah memilih lokasi yang akan dipakai, lahan tersebut dibagi dalam petak-petak dengan ukuran 20 x 2 m yang dipisahkan oleh saluran air. 

Petak-petak tersebut kemudian digenangi air dengan kedalaman 10 m. Kotoran ternak sebanyak 10 kg dilarutkan dalam 20 liter air dan disiramkan merata pada setiap petak, kemudian ditebari dengan 8 kg Azolla segar.

Pupuk TSP yang telah digerus (100 g/pot) diberikan tiga kali dengan interval 4 hari, dengan cara ditaburkan merata pada setiap petak. Setelah 15 hari, Azolla dapat digunakan sebagai bibit pada tanah sawah yang siap ditanami dengan dosis 200-300 gr/m2.

Dari setiap petak tersebut diperkirakan akan diperoleh 40-50 kg Azolla basah. Perbanyakan Azolla dapat dilakukan bersamaan waktu dengan persemaian padi. Cara yang diuraikan di atas merupakan metode bahwa Azolla dan tanaman padi ditumbuhkan secara bersama-sama.

Akan tetapi, dapat juga dilakukan cara lain, yaitu dengan membiarkan Azolla tumbuh terlebih dahulu pada lahan sawah yang sudah siap ditanami selama kurang lebih tiga minggu, kemudian dibenamkan pada waktu tanam padi. Setelah tanaman padi berumur 10 hari, bibit Azolla kembali ditebarkan dan pada waktu Azolla sudah menutup permukaan tanah, dibenamkan kembali.

b. Memperbanyak secara generatif

Memperbanyak secara generatif merupakan upaya menumbuhkan dari bentuk sporokap menjadi sporofit (tumbuhan Azolla). Cara ini perlu ditempuh, terutama untuk mempermudah pendistribusian bibit Azolla antardaerah yang cukup jauh, mengingat tumbuhan Azolla birsifat lunak (mudah rusak), dan tidak bertahan lama tanpa air.

Penyimpanan bibit Azolla dalam bentuk sporokap sangat penting, terutama untuk negara-negara yang mempunyai empat musim. Proses terbentuknya benih Azolla dari sporokap ada tiga fase, yaitu tahap perkecambahan, persemaian, dan pengapungan.

1. Tahap Perkecambahan

Pada tahap ini, diperlukan waktu 7-10 hari untuk terjadinya perkecambahan. Selama proses ini, sporokap harus dilindungi dari hujan, kelembapan dijaga, dan intensitas cahaya dikurangi.

2. Tahap Persemaian

Untuk terbentuknya kurang lebih 10 tunas diperlukan 25-35 hari. Selama periode ini, kelembapan harus dijaga, intensitas cahaya diatur, dan mulai diberi pemupukan.

3. Tahap Pengapungan

Bibit Azolla dari sporokap dapat di pindahkan dari tempat perkecambahan ke air (diapungkan) untuk mempercepat perbanyakan aau pembentukan sporofit baru, kemudian dapat dikembangkan dalam kolam pembibitan khusus.

Pemeliharaan dan pemanfaatannya dapat dilakukan sama seperti pebanyakan vegetatif.

 
Hama dan Penyakit Tumbuhan Azolla

hama tumbuhan Azolla

Seperti halnya tanaman yang lain, tumbuhan Azolla juga terancam serangan hama dan penyakit. Indonesia mempunyai iklim tropik yang sering menjadikan kondisi lingkungan menjadi panas dan lembab. Kondisi yang demikian menyebabkan berbagai serangga dan jasad renik dapat tumbuh dengan subur.

Pada waktu Azolla mencapai pertumbuhan maksimal bersama tanaman padi di sawah, tumbuhan Azolla yang sudah tua mulai membusuk. Pada mulanya, jamur menyerang pada bagian tengah tanaman, kemudian menyebar keseluruh bagian cabang tanaman.

Jamur penyebab penyakit busuk hitam yang sering menyebabkan kerusakan serius pada tumbuhan Azolla adalah Rhizoctonia solani. Jamur Rhizoctonia solani merupakan jamur yang sering dijumpai di berbagai areal pertanian di Indonesia.

Selain menyerang tanaman Azolla, jamur tersebut juga menyerang tanaman lain, seperti tanaman sayur-sayuran, jagung, dan tanaman padi. Hal yang demikian menyebabkan jamur Rhizoctonia solani sulit diberantas.

Gejala adalah serangan jamur dapat diketahui dengan mudah. pada daun Azolla, yang terserang mula-mula ditandai dengan adanya bercak cokelat, kemudian daun mengering dan kadang-kadang kelihatan adayan benang-benang halus berwarna putih.

Pada gejala selanjutnya, harus diwaspadai karena jamur akan cepat menyebar ke seluruh bagian tumbuhan dan kemudian menyebar ke tanaman yang lain. Untuk mengatasi serangan jamur penyakit dapat dilakukan beberapa cara.

Apabila serangan tidak terlalu parah, cukup diatasi dengan memisahkan antara Azolla yang terkena penyakit dan Azolla yang masih sehat. Tumbuhan Azolla yang terkena serangan jamur kemudian dibakar atau langsung dibenamkan ke dalam lumpur pada petak yang terpisah.

Karena kurangnya perhatian dan permeliharaan, jamur tersebut dapat menimbulkan kerusakan yang serius. Pada keadaan yang demikian, perlu adanya pegendalian dengan fungisida. Fungisida yang dapat digunakan, antara lain fungisida Benomyl atau Carbendazim, dan yang mudah didapat di pasaran dan sudah siap pakai misalnya, Delsene.

Sebenarnya, pengunaan fungisida tidak begitu disarankan, selama penanganan secara alami masih dapat dilaksanakan. Pemanenan Azolla yang dilakukan pada waktu yang tepat dapat menghindari serangan jamur. Pemanenan dilakukan setelah tumbuhan Azolla tampak menutup rapt permukaan air, tempat tumbuhnya.

Beberapa jenis jamur lain juga ditemukan sebagai penyebab penyakit tumbujan Azolla, antara lain Fusarium sp, Sclerotium sp, dan Rhizopus sp. Namun, di atara jenis-jenis jamur tersebut, Rhizoctonia merupakan yang paling ganas dan jenis Azolla nilotica merupakan jenis yang paling rentan dibandingkan dengan jenis yang lain.

Selainjamur, ada juga jenis organisme air lain yang juga dapat menyerang Azolla. Beberapa jenis keong, kerang, dan anak katak juga diketahui memakan Azolla. Oleh karena itu, perlu mendapat perhatian jika pada kolam pembenihan Azolla ditemukan hewan-hewan tersebut harus segera diambil.

Terutama, di lingkungan sawah tentunya patut mendapat perhatian khusus. Banyak laporan yang mengatakan bahwa adanya serangan jamur berawal dari adanya serangan hewan air, seperti keong dan kerang.

Beberapa jenis serangan diketahui sebagai pengganggu tumbuhan Azolla. Serangan yang termasuk golongan diptera, koleoptera, dan lepidoptera merupakan serangan pengganggu Azolla yang sering dijumpai.

Rata-rata penurunan produksi Azolla akibat adanya serangan hama mencapai 35%. Apabila serangan hama cukup parah, perlu adanya penyemprotan dengan insektisida. Perlakuan ini dapat dilakukan sekaligus untuk mengendalikan hama yang mengganggu tanaman pai.


Sumber:Drs. Sarjiya Antonius

Type and hit Enter to search

Close