Breaking News

Bertanam rumput gajah

Bertaman rumput gajah merupakan rumput unggul untuk hijauan makanan ternak, baik untuk sapi potong maupun untuk sapi perah. Peternak yang sudah maju dalam penyediaan hijauan makanan ternak, banyak memilih rumput gajah sebagai hijauannya karena di samping zat gizinya tinggi, rumput gajah banyak produksinya.


Di Indonesia, bahan makanan hijauan memang peranan sangat penting karena bahan tersebut diberikan dalam jumlah banyak. Kesemuanya ini dapat dibuktikan bahwa ternak yang diberikan hijauan sebagai makanan tunggal mampu tumbuh baik dan berkembang baik, seperti sapi kerbau, domba, dan kambing.

Bagi masyarakat peternak maupun petani ternak sudah merupakan hal yang biasa memberikan rumput gajah sebagai makanan ternak. Di negera-negara maju, seperti Jepang, para peternak telah menyediakan pangan ternaknya untuk musim dingin pada musim panas, Ketika rerumputan tumbuh subur kemudian diawetkan. Dengan sistem pengawetan ini, makanan ternak dapat dijamin tersedia sepanjang tahun.

Syarat keterlaksanaan.
  • jenis rumput yang ditanam.
  • keadaan tanah, sumber air, dan iklim.
  • dekat dengan jalan.
  • tingkat pengetahuan peternak.


1. Jenis rumput yang ditanam

Ada beberapa macam jenis rumput unggul yang bisa dijadikan sebagai hijauan makanan ternak. Sepertinya, penyebaran rumput gajah cukup luas karena ia hidup di daerah tropis, produksinya tinggi, cepat tumbuh, bisa tumbuh hampir di sembarang jenis tanah pada ketinggian 0-3.000 m, dengan curah hujan kurang dari 1.000 mm per tahun.

2. Keadaan tanah, sumber air, dan iklim

Rumput gajah akan cepat tumbuh dan berkembang baik apabila kondisi yang dikehendaki seperti kesuburan tanah, sumber air, dan iklim terpenuhi. Kesuburan tanah sangat penting bagi pertumbuhan rumput gajah untuk meningkatkan produksinya. Namun, kesuburan tanah ini tidak ada artinya jika sumber air dan iklim tidak terpenuhi.

3. Dekat dengan jalan

Yang dimaksud dekat dengan jalan adalah sebagai sarana transportasi untuk pengangkutan hasil produksi rumput dari lahan rumput sampai ke peternak.

4. Tingkat pengetahuan peternak

Walaupun suburan tanah, iklim, serta topografi memenuhi masyarakat, itu tidak akan berarti apabila kemauan atau minat atau pengetahuan untuk diri tidak ada, atau tingkat pengetahuan bertanam itu sendiri yang tidak ada maka jenis rumput unggul yang dibutuhkan oleh hewan ini tidak mungkin bisa dikembangkan.

Manfaat rumput gajah

rumput gajah

Agar ternak yang dipelihara dapat berproduksi dengan baik, hendaknya kita mempunyai kebun rumput sendiri sehingga persediaan makanan ternak sepanjang tahun dapat terpenuhi. Kalau hanya mengandalkan rumput-rumput liar, cukup menyulitkan karena rumput tersebut kualitasnya rendah dan penyediaan hijauannya kurang terjamin sehingga dapat mengakibatkan penurunan produksi, baik produksi susu maupun produksi daging. Untuk itu, perlu adanya bertanam rumput jenis unggul (rumput gajah).

Manfaat bertanam rumput jenis unggul (rumput gajah) adalah.

  • Meningkatkan kualitas makanan ternak.
  • Meningkatkan produksi, baik produksi susu maupun daging.
  • Meningkatkan pengetahuan tentang arti penting budidaya rumput unggul, dan
  • Memanfaatkan kebun-kebun kosong.
Baca juga : Usaha ternak sapi


Keterlaksanaan

Pada dasarnya, perbedaan mutu rumput gajah dapat dipengaruhi oleh dua faktor, yakni sifat genetis dan lingkungan. Dalam hal ini, sebelum bertanam rumput gajah kita harus melakukan, antara lain memilih lokasi, memilih bibit, pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan, dan defolisasi.

1. Memilih lokasi

Untuk menentukan tempat atau lokasi yang hendak dijadikan sebagai areal penanaman rumput gajah, perlu dipertimbangkan faktor-faktor kesuburan tanah, iklim, topografi yang berkenaan dengan pemupukan, sumber air, dan usaha pengairan.

Kesuburan tanah dan iklim akan menentukan dan menunjang kecepatan pertumbuhan rumput gajah. Kesuburan tanah di sampin menentukan produksinya yang tinggi, juga memperingan dalam pengelolannya. Rumput gajah dapat hidup pada ketinggian antara 0-3.000 m, yaitu dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Curah hujan yang diperlukan sekitar 1.000 mm per tahun.

a. Topografi (keadaan tanah)

Di dalam memilih lokasi untuk tanaman rumput gajah, kita harus memilih topografi lokasi tersebut karena berhubungan dengan pengolahan tanah dan alat-alat mekanisasi. Kemiringan tanah juga sangat mempengaruhi pemupukan karena semakin tinggi kemiringan tanah semakin kurang efisien pemupukannya.

Topografi juga mempengaruhi usaha kita dalam melakukan pengangkutan produksi rumput gajah ke lokasi peternakan. Lokasi penanaman rumput gajah untuk mendapatkan pengairan yang cukup topografi sangat menentukan, apabila dalam kemarau panjang, sering mengalami kekeringan.

Topografi sering diklasifikasikan ke dalam perbedaan kemiringan permukaan lahan dan bentuknya. Lahan dengan permukaan 0-2 derajat umumnya disebut lahan datar, lahan dengan kemiringan 2-5 derajat merupakan lahan bergelombang, lahan dengan kemiringan 5-8 derajat merupakan lahan bergelombang sampai berbukit, dan lahan yang kemiringannya 8-15 derajat merupakan lahan berbukit.

b. Sumber air dan usaha pengairan

Untuk memudahkan pengairan pada penanaman rumput gajah maka topografi pun perlu dipikirkan, misalnya pada saat pertumbuhan dan saat musim kemarau panjang.

2. Memilih bibit dan bahan tanam

Rumput yang hendak ditanam tentu saja dipilih dari bibit yang menguntungkan, baik itu jenis maupun produksi rumput. Rumput yang kita tanam adalah rumput yang memenuhi persyaratan sebagai berikut :
  • Kandungan zat gizi dalam rumput sangat tinggi.
  • Produksi dalam satuan luas cukup tinggi.
  • Cocok dengan lingkungan kita (iklim dan topografi).
  • Mudah dikembangbiakkan.
Setelah menentukan kriteria tersebut, langkah selanjutnya adalah menanam rumput jenis unggul (rumput gajah), yang akan memberikan produksi yang tinggi, enak, toleran terhadap lingkungan, mudah berkembang biak, dan nilai gizinya tinggi. 

Bahan tanam rumput gajah ada dua, yaitu bahan pols dan bahan stek.

a. Bahan pols

Pols adalah sobekan atau bahan rumpun rumput gajah. Pols yang baik diperoleh dari sobekan rumpun rumput gajah yang sehat dan mengandung akar yang banyak serta anakan baru. Rumput gajah yang ditanam dengan pols, bagian vegetatifnya harus dipotong. 

Hal ini dimaksudkan agar tanaman rumput baru tidak terlampau banyak penguapan, sebelum perakaran baru bisa aktif mengisap air. Setiap pols yang ditanam minimal 2-3 batang rumput gajah dan harus diambil dari bagian rumpun yang berada di tepi sebab di sinilah terletak calon anakan yang baru.

b. Bahan stek

Stek adalah potongan batang yang akan ditanam. Sebelum membuat stek, kita harus mengetahui stek rumput gajah yang baik. Stek rumput gajah yang baik diperoleh dari.
  • batang yang sehat dan tua.
  • panjang stek 10-25 cm.
  • stek mempunyai 2-3 buah buku.
  • cara memotongnya benar.
Batang rumput gajah yang masih muda kurang baik untuk dibuat stek karena batang tersebut karbohidratnya masih kurang dan energi petumbuhannya yang masih rendah. Jika stek diambil dari kebun rumput gajah yang sudah ada, bisa diambil dua bulan setelah pemangkasan.

3. Pengolahan tanah

Pengolahan tanah bertujuan mempersiapkan media tumbuh yang optimal bagi tanaman. Tanah yang diolah secara sempurna berarti.
  • membersihkan tanah dari tumbuh-tumbuhan liar yang mengganggu.
  • membuat perakaran berkembang secara sempurna.
  • memperbaiki kelembaban tanah.
  • memperbaiki kelestarian dan kesuburan tanah serta persediaan air.
Pada umumnya, tanah yang tanpa irigasi pengolahan tanah dilakukan pada akhir musim kemarau. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa penanaman akan dilakukan pada awal musim penghujan.

Agar lebih mudah menetapkan atau mengatur jarak antara pengolahan tanah dan saat penanaman yang tepat, perlu diperhatikan data-data curah hujan bulanan di daerah setempat sekurang-kurangnya selama 5 tahun. Pengolahan tanah untuk tanaman rumput gajah, meliputi pembajakandan penggaruan. Namun, semua itu tergantung pada jenis kesuburan tanah.

a. Pembajakan
Pengolahan tanah dilakukan dengan pembajakan dengan alat mekanisasi ataupun dilakukan dengan sapi dan kerbau bagi tanah yang topografinya 0-2 derajat (tanah datar).

b. Penggaruan
Penggaruan atau penggemburan bertujuan :
  • menghancurkan bongkahan-bongkahan besar menjadi struktur remah.
  • membersihkan sisa-sisa akar dari tanaman liar.
  • meratakan tanah.
Pada golongan tanah ini, jika dilakukan pemupukan awal, baik itu pupuk organik maupun anorganik, sebaiknya dilakukan pada waktu pengolahan tanah pertama (pembajakan) sehingga sewaktu dilakukan penggaruan pupuk sudah bercampur rata.

4. Penanaman

Penanaman rumput gajah dilakukan pada awal musim penghujan. Tujuannya agar pada waktu rumput gajah dalam masa pertumbuhan, banyak tersedia air. Penanaman rumput gajah dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan bahan pols dan dengan stek.

1. Penanaman rumput gajah dengan pols
Caranya :
  • Pols ditanam di tempat yang sudah dilubangi.
  • Sebelum bibit pols ditanam, bagian vegetatifnya harus dihilangkan.
  • Setiap pols yang ditanam terdiri atas 2-3 batang tanaman.
  • Setelah pols ditanam, tanah di sekitarnya dipadatkan agar akar segera menyerap makanan.
Keuntungan menanam rumput gajah dengan pols adalah tanaman rumput lebih cepat tumbuh dibanding dengan cara stek. Kerugian menanam rumput gajah dengan pols adalah lebih banyak mengeluarkan tenaga dan biaya.

2. Penanaman rumput gajah dengan stek
Pada umumnya, petani di Indonesia menanam rumput gajah dengan menggunakan stek. Sebelum kita melakukan penanaman, perlu dipersiapkan alat dan bahan.

Alat:
  1. cangkul,
  2. sabit,
  3. tambang,
Bahan :
  1. stek rumput gajah.
  2. pupuk kandang.
  3. pupuk ZA
  4. Urea.
Cara menanam :
  1. Ruas bagian bawah harus masuk ke dalam tanah. Ruas tersebut berfungsi sebagai tempat pertumbuhan akar.
  2. Stek kedudukannya bisa berdiri atau berbaring, tetapi pada umumnya penanam dilakukan dengan stek berdiri.
  3. Setelah stek selesai ditanam, tanah segera dipadatkan agar calon akar cepat kontak dengan tanah.
  4. Jarak tanam adalah 70 x 90 cm.
Keuntungan menanam rumput gajah dengan menggunakan stek :
  1. Pengangkutan dan penanam bibit lebih mudah dibanding dengan cara pols.
  2. Lebih tahan lama apabila disimpan di tempat yang sejuk.
  3. pengambilan bibit lebih mudah dibanding dengan cara pols.
Kerugian bertanam rumput gajah dengan stek adalah tidak tahan injak atau renggutan hewan.

5. Pemeliharaan

Pemeliharaan rumput gajah, antara lain meliputi penyiangan, pendangiran, pemupukan, pemotongan, dan defolisasi.

a. Penyiangan

Setiap menanam tanaman perlu diadakan penyiangan. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan rumput-rumput liar yang mengganggu tanaman pokok. Penyiangan dilakukan setelah tanaman rumput berumur lebih kurang 1 bulan karena pada umur satu bulan tanaman rumput gajah perakarannya sudah kuat dan sudah aktif menyerap unsur hara yang terkandung di dalam tanah.

b. Pendangiran

Pendangiran pada tanaman rumput gajah perlu dilakukan, baik itu dilakukan pada masa pertumbuhan maupun setelah dilakukan pemangkasan rumput. pendangiran perlu dilakukan karena permukaan tanah yang terus-menerus terkena hujan akan menjadi padat.

Tujuan pendangiran adalah :
  • agar tanah tetap gembur atau remah.
  • membantu dalam memudahkan perakaran untuk menembus tanah.
  • mendekatkan unsur pada perakaran rumput gajah.
  • membersihkan perakaran tanaman liar yang menganggu tanaman pokok.
c. Pemupukan

Pemupukan pada rumput gajah perlu dilakukan, baik itu dilakukan sewaktu pengolahan tanah maupun sewaktu masa pertumbuhan. Pemupukan dilakukan menurut keadaan tanah atau kesuburan tanah setempat. Tujuan memupuk.
  • memberikan zat-zat makanan kepada tanaman agar zat-zat yang kurang bisa terpenuhi.
  • memperbaiki struktur tanah.
Tanah yang terus-menerus ditanami dan tidak pernah dilakukan pemupukan, akan menimbulkan masalah bagi tanah. Untuk itu, para peternak dan petani peternak harus memperbaiki keadaan tanah dengan melakukan pemupukan. 

Pemupukan bisa dilakukan dengan pupuk kandang atau pupuk buatan. Jika melakukan pemupukan dengan pupuk kandang, sebaiknya dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah, yakni satu minggu sebelum rumput gajah ditanam.

Pupuk kandang atau pupuk organik sangat bermanfaat untuk memperbaiki struktur tanah. Lembaga penelitian peternakan BPLPP melalui seri ternak 1976 menganjurkan untuk tumbuhan rumput yang insentif dilakukan pemupukan sebagai berikut.
  1. Pupuk P dan K diberikan 2 kali setahun, pertama pada waktu pengolahan tanah dan kedua 6 bulan kemudian, masing-masing 200 kg DS dan 200 kg ZA/ha.
  2. Pupuk N diberikan 200 kg ZA/ha/tahun, diberikan setiap kali 2 -4 kali pemotongan.
Dapat juga digunakan pupuk kandang 40 ton/ha/tahun diberikan pada waktu pengolahan tanah dan setelah pemotongan.

d. Pemotongan

Pemotongan rumput gajah harus diperhatikan dengan baik karena sangat berpengaruh kepada produksi rumput gajah. Tujuan pemotongan antara lain :
  • menyamakan pertumbuhan rumput gajah.
  • memperbanyak tumbuhnya tunas-tunas baru.
  • meningkatkan produksi rumput gajah.
Pemotongan pertama dilakukan setelah berumur 50-60 hari atau setelah tanaman mencapai tinggi 1 meter. Di dalam kondisi tertentu, walaupun tanaman baru mencapai tinggi 60-90 cm, tetapi sudah mencapai umur 50-60 hari, harus dilakukan pemotongan agar segera tumbuh anakan baru.

Selanjutnya, pemotongan dilakukan 40 hari pada waktu musim penghujan dan pemotongan dilakukan 60 hari sekali pada musim kemarau dengan menyisakan batang setinggi 10 cm dari tanah. Pemotongan yang baik atau optimal dilakukan apabila tanaman itu mencapai ketinggian 1 m menjelang berbunga.

Rumput gajah baik digunakan untuk bahan silase atau rumput potongan. Rumput gajah ini pertumbuhannya sangat cepat dan nilai gizinya cukup tinggi. Itulah sebabnya dianjurkan pemotongan dilakukan pada saat tanaman rumput itu masih muda (menjelang berbunga). Tanaman rumput ini sangat cepat mengambil makanan dari dalam tanah.

6. Defolisasi

Defolisasi adalah pengambilan tanaman yang berada di atas permukaan tanah, baik itu dilakukan oleh manusia sendiri maupun oleh renggutan ternak waktu digembalakan.

a. Saat defolisasi

Untuk menjamin pertumbuhan yang optimal, sehat, dan kandungan gizi tinggi, defolisasi dilakukan pada periode tertentu, yakni menjelang pertumbuhan vegetatif atau tanaman sedang berbunga.

Defolisasi biasanya dilakukan pada 40 hari sekali pada musim penghujan dan berumur 60 hari jika dilakukan pada musim kemarau. Salah satu hal yang perlu diketahui untuk mempengaruhi pertumbuhan kembali adalah adanya persediaan bahan makanan berupa karbohidrat di dalam akar yang ditinggalkan setelah defolisasi.

Pertumbuhan tanaman rumput dibedakan menjadi tiga periode, yaitu :
  1. Periode perkecambahan, yakni tanaman mulai tumbuh dan banyak mengandung gizinya.
  2. Periode vegetatif, yakni periode sesudah pertumbuhan menjelang berbunga.
  3. Periode berbuah, yakni tanaman sudah membentuk biji. Pada periode ini kandungan serat kasarnya sangat tinggi.
b. Kualitas rumput gajah

Kualitas rumput yang dibudidayakan atau yang dipelihara dapat ditentukan nilai gizi atau produksinya. Nilai gizi rumput ditentukan oleh tinggi rendahnya kadar proteinnya. Di daerah tropis seperti di Indonesia, dengan tingginya curah hujan dan tingginya intensitas sinar matahari, pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan dengan daerah subtropis.

Kualitas rumput dari sebidang padang rumput tidak hanya dinilai dari kesuburan pertumbuhannya dan kadar proteinnya, tetapi dapat pula diukur peningkatan hasil susu dan peningkatan hasil timbangan sapi.


Pengawetan

1. Pengertian silase dan silo

Silase adalah hijauan makanan ternak yang disimpan dalam keadaan segar (kadar air 60-70%) pada suatu tempat yang dinamakan silo. Karena hijauan yang baru dipotong kadar airnya sekitar 75-80%, untuk memperoleh hasil yang baik, hijauan tersebut harus dilakukan pengeringan terlebih dahulu selama 2-4 jam. Silo adalah tempat atau wadah yang dibuat di dalam atau di atas tanah sebagai tempat penyimpanan rumput atau hijauan.

2. Bentuk silo

Silo biasa dibuat dari berbagai bahan seperti tanah, beton, dan plastik. Berbagai bentuk silo antara lain sebagai berikut.

a. Trench silo
Yaitu silo yang berbentuk parit, yang umumnya pada bagian bawah labih sempit daripada bagian atas.

b. Pech silo
Yaitu silo yang berbentuk anyaman bambu atau kayu yang sifatnya kurang permanen.

c. Tower silo
Yaitu silo yang berbentuk menara yang menjulang di atas tanah dan bagian atasnya semuannya tertutup rapat. Bentuk ini biasanya dibuat dari besi atau beton.

d. Pit silo
Yaitu silo yang berbentuk silinder (sumur) yang dibuat di dalam tanah. Silo ini pembuatannya tidak memerlukan biaya banyak. Gunanya untuk memungkinkan terjadinya kantong-kantong udara. Pengisian pada silo ini agak mudah dibanding dengan tower silo. Kekurangannya adalah dalam pengambilan silase agak sulit.

e. Bo silo
Yaitu silo ini berbentuk segi empat siku-siku. Dalam pembuatan tidak banyak memerlukan biaya. Kekurangannya hanya mudah terjadi kantong-kantong udara pada sudut siku-siku. Silo ini akan menimbulkan kesulitan dalam pengisiannya.

3. Tujuan pembuatan silase

  • untuk mengatasi kekurangan makanan ternak pada musim kemarau.
  • untuk menampung kelebihan produksi hijauan makanan ternak.
  • untuk mendayagunakan hasil dari limbah pertanian.

4. Prinsip pembuatan silase

Prinsip pembuatan silase adalah usaha untuk mempercepat dan mencapai keadaan hampa udara dan keasaman dalam penyimpanan. Karena hampa udara dan asam inilah jamur serta bakteri akan mati sehingga rumput atau hijauan akan tahan lama.

Keadaan hampa udara akan terjadi dalam pembuatan silase, antara lain apabila tempat yang tertutup rapat dan suasana asam dalam penyimpanan. Keadaan hampa udara akan tercapai jika dalam pengisian dilakukan pemadatan yang sempurna sehingga akan memperkecil kantong-kantong udara dalam penyimpanannya.

Agar dalam melakukan pemadatan itu bisa sempurna, hijauan yang akan dibuat dipotong kecil-kecil terlebih dahulu. Untuk mencegah timbulnya organisme yang akan mengakibatkan pembusukan silase maka kita usahakan untuk menurunkan pH sekitar 4 di dalam silo. Usaha penurunan  pH ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

a. Pemberian bahan pengawet secara langsung
Pemberian ini dapat ditambahkan langsung bahan kimia, seperti asam sulfat, bisulfat, natrium, sulfur dioksida, dan HCI.

b. Pemberian bahan pengawet secara tidak langsung
Pemberian ini dilakukan dengan cara menambahkan bahan-bahan yang benyak mengandung karbohidrat sebagai substart pertumbuhan bakteri. Misalnya.
  1. tetes = 3% dari bahan silase.
  2. dedak halus = 5% dari bahan silase.
  3. menir = 3,5% dari bahan silase.
  4. onggok = % dari bahan silase.
c. Proses terbentuknya silase
Hijauan yang dimaksud ke dalam silo sebagian besar sel-selnya masih hidup. Pencernaan dalam tubuh sel-sel tersebut masih berjalan dengan memanfaatkan oksigen yang berada dalam rongga-rongga timbunan. Proses respirasi ini akan cepat berhenti jika timbunan cukup padat.

d. Persiapan pembuatan silase
Sebelum melakukan pembuatan silase, harus mempersiapkan peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan, antara lain:
  1. silo sebagai tempat penyimpanan harus siap.
  2. choper sebagai alat pemotong hijauan.
  3. hijauan makanan ternak yang sudah dipanen.
  4. bahan plastik sebagai alat penutup silo

7. Pembuatan silase

Rumput atau hijauan yang akan dibuat harus dilayukan dan dipotong pendek-pendek sekitar 5-6 cm untuk memudahkan pemadatan di dalam silo. Jika hijauan ini akan dicampur dengan pengawet, dapat dicampur terlebih dahulu. Setelah itu, hijauan yang sudah dipotong dengan choper segera dimasukkan ke dalam silo sedikit demi sedikit terus dipadatkan.

Pada saat memasukkan hijauan ini harus sampai melebihi silo yang sudah disediakan agar jika mengalami penyusutan tidak terjadi cekung atau lekukan. Pada waktu musim hujan, bahan atau hijauan tidak boleh dimasukkan ke dalam silo. Setelah pengisian selesai, segera ditutup dengan plastik rapat agar udara dan air tidak dapat masuk ke dalam silo.

Agar tutup bisa rapat betul, lakukan penutupan pada lembar pertama dengan plastik, kemudian lakukan penutupan tanah setebal 50 cm. Agar benar-benar rapat maka lakukan penutupan lagi dengan alat pemberat atau bahan agar udara tidak bisa masuk.

8. Ciri-ciri silase yang baik

  • mempunyai bau yang khas, yaitu berbau asam tetapi sedap dan tidak tengik.
  • rasanya tidak pahit dan menyenangkan.
  • tiak ada tanda-tanda pembusukan, berlendir, atau tampak ada cendawan.
  • kadar air dan warnanya merata.
  • warna masih hijau dan bukan cokelat.
  • pH-nya rendah, yaitu 3,5 - 4.

9. Kerusakan silase

Kerusakan pada hijauan di dalam penyimpanan selalu terjadi. Hal-hal yang menimbulkan terjadinya kerusakan pada silase, antara lain :
  • pemadatan hijauan di dalam silo yang kurang sempurna sehingga menimbulkan kantong udara di dalam penyimpanan.
  • penutupan silo yang kuran rapat sehingga mengakibatkan udara masuk.

10. Pengambilan silase

Cara mengambil silase adalah sebagai berikut.
  • Setelah dua bulan, silo dapat dibongkar untuk diambil silasenya.
  • Sewaktu membuka silo, harus hati-hati.
  • Silase diambil secukupnya saja.
  • Silase yang baru diambil hendaknya diangin-anginkan terlebih dahulu.

Pembuatan Hay

pembuatan rumput dijadikan hay

Hay adalah hijauan makanan ternak yang sengaja dipotong dan dikeringkan agar dapat disimpan dan diberikan kepada ternak pada waktu yang lain. Prinsip pembuatannya adalah untuk menurunkan kadar air menjadi 15-20% dengan melalui pengeringan sinar matahari ataupun dengan mesin pemanas yang lain.

Pengeringan rumput di negara-negara maju sudah lama dijalankan atau dikena, bahkan sudah sejak zaman Romawi. Pemotongan rumput yang dahulu hanya menggunakan sabit dan parang, sekarang di negara barat peralatannya sudah lebih canggih. 

Bahkan, mesin pengering, mesin penggulung rumput, pengepakan, dan pencetakan rumput kering sudah banyak dipergunakan sehingga pengeringan rumput di luar neger merupakan usaha yang menyibukkan dan menguntungkan.

1. Tujuan

  • Menyediakan makanan ternak pada saat-saat tertentu, misalnya pada saat-saat peceklik atau masa kemarau panjang.
  • Memanfaatkan produksi rumput atau hijauan pada saat pertumbuhan terbaik untuk persediaan.

2. Pengeringan dan pembuatan

Pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu sinar matahari dan dengan mesin (mekanis).

a. Pengeringan dengan sinar matahari

Pengeringan dengan cara ini sangat mudah dilakukan petani peternak dan biayanya murah serta kandungan vitamin D nya lebih tinggi. Di Indonesia, pengeringan dengan sinar matahari dilaksanakan pada musim kemarau dan pada saat itu produksi rumput sudah mulai berkurang.

Penjemuran dengan pemanas sinar matahari prosesnya sangat sederhana. Setelah rumput dipotong kemudian dihamparkan di antara larikan. Usahakan agar hamparan itu tidak tebal dan dialik beberapa kali supaya cepat kering. 

Setelah beberapa hari dikeringkan, rumput telah memenuhi persyaratan untuk segera dilakukan percobaab. Caranya :
  • Ambillah satu genggam rumput panjang dan pegang dengan tangan kanan dan kiri kemudian puntir sekuat tenaga. Jika rumput tersebut tidak mengeluarkan air, berarti hay telah cukup kering.
  • Kelupaslah kulit batang rumput dengan kuku jari. Jika kulitnya mengelupas, berarti kadar airnya masih tinggi dan jika kulitnya tidak mengelupas, berarti kadar airnya cukup untuk hay.
Cara menentukan kadar air hijauan dengan pengepalan adalah sebagai berikut.
  • Hijauan yang dipotong kecil-kecil dikepal erat-erat. Apabila airnya menetas keluar, berarti kadar airnya 75-85% dan tidak baik untuk dibuat silase.
  • Buka kepalan hijauan. Jika bentuk kepalan tidak berubah, berarti kadar airnya 68-75%, hijauan tersebut masih harus dijemur supaya kadar airnya turun.
  • Buka kepalan, jika bentuknya menggembang, kadar airnya cukup untuk dijadikan silase.
Perlu diingat adalah bahwa hujan yang membasahi rumput dalam waktu penjemuran akan menurunkan gizi sekitar 1/4-1/3 bagian

b. Pengeringan dengan cara mekanis

Pengeringan dengan cara panas buatan ini biasanya dilaksanakan pada daerah yang beriklim dingin (subtropis) karena panas matahari yang diperoleh tidak menjamin pengeringan hay. Pengeringan rumput dengan cara panas buatan atau mekanis ini sudah dilaksanakan di luar negeri, seperti Belanda, Jepang, dan Taiwan. Pengeringan dengan cara mekanis ini memerlukan lahan rumput yang sangat luas.

Caranya :
  • Hijauan dipotong-potong, kemudian dimasukkan ke dalam alat pengering pada temperatur sekitar 100-250 derajat celcius.
  • Lama pemanasan ditunggu sampai kadar air hijauannya menjadi 15-20%.
Keuntungan pengeringan dengan cara mekanis ini adalah sebagai berikut.
  • Proses pengeringannya cepat sehingga nilai gizi yang hilang hanya sedikit.
  • Pelaksanaannya dapat dilakukan di sembarang tempat.
Kekurangan cara ini adalah proses pengeringan dengan mekanis ini memerlukan biaya yang sangat besar. Jadi, sistem ini hanya dapat dilakukan oleh perusahaan peternakan ataupun di koperasi peternakan.

3. Pengolahan rumput kering

Tujuan dari pengolahan rumput kering adalah mengurangi kadar air di dalam rumput dan tidak mengubah warna dari rumput tersebut, hijauannya masih lentur, dan tidak getas. Kadar hay yang baik adalah 15-16%. Dalam kadar air tersebut, rumput tidak akan membusuk jika disimpan.

Hay yang baik mempunyai sifat sebagai berikut.
  • warna hijau mengkilau.
  • tidak banyak daun yang rusak, bentuk daun masih utuh atau jelas, dan tidak kotor atau berjamur.
  • tidak mudah patah jika batang dilipat dengan tangan.
  • baunya harum khas bau hay.
  • tidak mengandung bahan yang mengayu.
  • bebas dari lapuk.

4. Saat yang tepat memotong hay

Baik buruknya mutu hay ditentukan oleh umur rumput yang dipotong untuk keperluan hay. Jenis rumput yang berguna sebaiknya dilakukan pemotongan pada saat hampir berbunga, sedangkan pemotongan rumput yang tidak berbunga ditentukan oleh umurnya, yaitu batang dan daunnya masih banyak mengandung air dan batangnya belum mengayu. Saat lainnya yang baik untuk memotong rumput untuk dijadikan hay adalah apabila rumput sudah tidak berembun dan cuaca mulai cerah.


Sumber : Ponimin, mujiyono

Type and hit Enter to search

Close