Breaking News

Mengenal capung dan habitatnya

Mengenal capung dan habitatnya, capung merupakan kelompok serangga bangsa Odonata yang sudah lama dikenal dan ada di bumi kita ini sekitar 230-280 juta tahun yang lalu, Pagi atau sore hari, capung tampak aktif terbang di sekitar perairan, seperti persawahan, kolam, danau, atau sungai.

Capung tersebar luas di seluruh dunia, terutama di daerah tropik. Keanekaragaman jenisnya cukup tinggi, yaitu sekitar 5.000 jenis. Di indonesia capung dapat ditemukan hampir di setiap pulau dengan jumlah lebih kurang 757 jenis.  Beberapa jenis di antaranya bersifat endemik (hanya dijumpai hidup di daerah tertentu). Misalnya, jenis Gynacantha penelope yang hanya terdapat di Sulawesi.

Mengenal capung

jenis hewan capung

Tubuh capung beruas-ruas, dengan permukaan halus tanpa ditutupi oleh bulu-bulu. Capung berwarna terang dengan corak beranekaragam. Ukurannya bervariasi, bisa dibedakan dari panjang perut dan rentangan sayap. Berdasarkan ukuran itu, capung bisa dikelompokkan menjadi :

a. Capung sangat kecil
Panjang abdomen 8-18 mm, panjang rentangan sayap 20-30 mm.

b. Capung kecil 
Panjang abdomen 20-40 mm, panjang rentangan sayap 35-60 mm.

c. Capung sedang
Panjang abdomen 45-50 mm, panjang rentangan sayap 65-70 mm.

d. Capung besar
Panjang abdomen 55-85 mm, panjang rentangan sayap 75-115 mm.

Seperti anggota serangga lainnya, tubuh capung terdiri atas tiga bagian, yaitu kepala, dada, dan perut. Selain itu, capung dilengkapi dua pasang sayap dan tiga pasang kaki. Kepala capung cukup besar dibandingkan dengan ukuran tubuhnya. Bentuknya membulat atau memanjang ke samping dengan bagian belakang melekuk ke dalam. Kepala ini mudah digerakkan.

Bagian yang sangat mencolok pada kepala ialah adanya sepasang mata majemuk yang berukuran besar. Mata itu hampir memenuhi permukaan kepala. Di antara kedua mata majemuk terdapat sepasang antena (sungut) pendek, halus seperti benang.

Mulut capung berkembang sesuai dengan fungsinya sebagai pemangsa, yaitu dengan rahan bergigi kuat berguna untuk menggigit mangsa. Anakan capung (larva), yaitu tingkatan sebelum dewasa, mempunyai bibit bawah (labium) yang bisa dijulurkan secara tiba-tiba hingga mencapai panjang 1/3 panjang tubuhnya.

Labium ini berfungsi untuk menangkap mangsa. Bentuknya seperti mangkuk atau sendok, dilengkapi sepasang pengait pada ujungnya. jika tidak sedang digunakan, baium disimpan dibawah kepala. Dada capung terbagi dalam tiga ruas, masing-masing ruas dilengkapi oleh sepasang kaki. Pada ruas ke 2 dan ke 3 tempat berpangkal masing-masing sepasang sayap. 

Perut capung tersusun 10 ruas, bentuknya memanjang, agak melebar atau ramping seperti jarum. Bagian ujung dilengkapi bangunan tambahan yang bentuknya bervariasi dan dapat digerakkan. Alat kelamin jantan terdapat pada ruas perut ke 2,9 dan 10, sedangkan alat kelamin betina hanya dijumpai pada ruas ke 10.

Kaki capung ramping, tertutup duri-duri halus. Kaki ini tidak untuk berjalan, tetapi untuk menangkap mangsa dan berpegangan pada saat hinggap. ketika terbang, posisi kaki berada dibawah tubuh. Namun, jika terlihat ada mangsa, kaki tersebut akan segera direntang ke depan sehingga berbentuk keranjang dan siap untuk menangkap mangsa.

Bentuk sayap capung khas, yaitu lonjong dan tembus cahaya. Adanya sayap ini merupakan salah satu tanda untuk mengenal capung dengan mudah. Sayap yang jumlahnya dua pasang ini, terdiri dari sepasang sayap depan dan sepasang sayap belakang. Sayap depan berpangkal pada ruas dada ke 2, sedangkan sayap belakang berpangkal pada ruas ke 3.

Pada permukaan sayap terdapat gamaran seperti jala berupa gurutan-gurutan. Pada capung yang jenisnya berbeda, jika kita amati dengan cermat, terlihat perbedaan struktur dari guratan-guratan permukaan sayapnya. Perbedaan guratan sayap itu merupakan salah satu patokan yang digunakan untuk membedakan jenis yang satu dengan yang lainnya.

Bentuk, ukuran, warna, dan corak sayap pada setiap jenis capung sangat bervariasi. Pada umumnya, capung bersayap terang dengan warna menarik, seperti cokelat kekucingan, hijau kebiruan, dan merah. Capung jantan umumnya mempunyai warna labih cemerlang dibandingkan capung betina.

Pengelompokan jenis capung

Untuk mengenal jenis capung di lapangan dapat dilihat dari ukuran, bentuk, warna, perilaku, dan habitatnya. Pengenalan yang lebih rinci harus menggunakan mikroskop, yaitu dengan melihat guratan-guratan pada sayap, susunan alat kelamin, serta ciri-ciri khas lain yang diperlukan. Berdasarkan bentuk tubuh dan sayap secara umum, capung bangsa odonata dibedakan dalam 2 kelompok anak bangsa, yaitu anak bangsa Anisoptera dan anak bangsa Zygoptera. 

Perbedaan capung anisoptera dan capung zygoptera

a. Capung Anisoptera

capung anisoptera

Capung Anisoptera mempunyai kepala bulat, letak kedua mata sangat berdekatan, seolah-oleh hanya terpisah oleh garis. Bentuk perutnya agak melebar, baik dewasa maupun larva. Bentuk kedua pasang sayapnya tidak sama, pasangan sayap belakang melebar ke arah pangkal. Pada saat hinggap atau beristirahat, kedua pasa sayap merentang di sisi tubuh.

b. Capung Zygoptera

capung zygoptera

Capung Zygoptera mempunyai bentuk kepala memanjang ke samping. Kedua mata terpisah dengan jarak yang nyata. Bentuk perutnya ramping menyerupai jarum, baik dewasa maupun larva. Bentuk keempat sayap hampir sama. Pada saat hinggap atau beristirahat, sayap dilipat ke atas tubuh dan saling menempel.

Daur hidup

larva kelahiran capung

Dalam hidupnya capung mengalami perubahan bentuk (metamorfosis) secara sederhana, yaitu dari telur berubah menjadi larva atau nimfa (anak capung), dan akhirnya menjadi capung dewasa. Tingkat telur dan larva berada di dalam air.

a. Telur dan perilaku peletakannya

Telur capung berbentuk bulat atau lonjong dan runcing pada kedua ujung, berwarna kucing pucat. Telur diletakkan satu-satu dalam kelompok dan dilapisi oleh zat semacam agar. Jumlah telur yang diletakkan oleh seekor capung betina dewasa tidak sama, tergantung pada jenisnya.

Dalam satu kali masa bertelur, capung Anisoptera bisa menghasilkan beberapa ratus telur sampai ribuan, sedangkan capung Zygoptera hanya sekitar 100-400 butir. Pada umumnya, telur akan menetas 13-35 hari setelah diletakkan. Akan tetapi, di daerah tropik berkisar antara 5-40 hari.

Perilaku capung betina dalam meletakkan telur ada berbagai cara, sesuai dengan perkembangan ovipositor (alat pelatak telur). Capung yang alat peletak telurnya tidak berkembang akan menjatuhkan telurnya ke dalam air atau menempelkannya pada ranting tanaman air.

Pada kelompok ini capung betina terlihat terbang dekat permukaan air, sambil mencelupkan ujung perut yang mengandung telur. Capung dengan alat peletak telur yang berkembang baik akan mencelupkan ujung perut pada posisi tegak dan menusukkan alat peletak telur ke permukaan lumpur di dasar kolam yang dangkal atau ke dalam jaringan tanaman.

b. Larva atau Nimfa anakan capung, perilaku dan perkembangannya

Larva capung ini jarang dikenal karena hidup di daerah perairan, berukuran panjang antara 10-60 mm. Di dalam air, larva ini hidup sebagai pemangsa binatang-binatang air yang berukuran kecil, seperti protozoa (hewan bersel satu). Selain itu, serangga air lainnya pun menjadi mangsanya, seperti jentik nyamuk dan kumbang air. Larva berukuran besar bisa memangsa berudu atau benih ikan.

Dengan menggunakan komponen matanya yang besar, larva capung mampu mengetahui keberadaan mangsa. Pada jarak jangkauannya dengan mangsa, capung akan menjulurkan labium dan menangkapnya. Beberapa larva capung dengan aktif mengejar mangsanya, tetapi sebagian ada yang bersembunyi menunggu sampai mangsanya mendekat.

Di dalam air, larva capung biasanya tinggal di sekitar tanaman air, di tempat-tempat gelap, pada permukaan batu, permukaan lumpur atau bersembunyi di dalam lumpur. Larva capung bernapas menggunakan insang, yang berupa 2 atau 3 lembar berbentuk daun, kantung, atau duri. Pernapasan berlangsung dengan memompa air masuk dan keluar melalui rektum (lubang pembuangan).

Pada capung Anisoptera, insang terdapat pada rektum, sedangkan insang capung Zygoptera terletak di ujung perut, selain untuk bernapas, juga berguna sebagai sirip atau pengatur keseimbangan pada saat berenang di dalam air.

Dalam perkembangannya, larva capung mengalami 10-12 stadium instar (tingkatan larva). Perubahan dari setiap stadium ditandai dengan pergantian kulit. Proses pergantian kulit dipengaruhi oleh keadaan makanan dan suhu perairan.

Setiap pergantian kulit memerlukan waktu 3 hari, bahkan ada yang sampai 6 bulan. Oleh karena itu, umur larva relatif lama. Dia dapat hidup beberapa bulan sampai beberapa tahun. Stadium larva yang sudah siap berubah ke bentuk dewasa akan merangkak ke luar dari air.

Biasanya, larva menempel dengan posisi tegak, yaitu pada batang tanaman atau batu yang ada di sekitar perairan tempat hidupnya. Di tempat tersebut, larva akan mengalami pergantian kulit terakhir dan selanjutnya akan muncul capung dewasa. Capung dewasa muncul dari sobekan yang berbentuk huruf x pada permukaan atas ruas dada.

Dua hari pertama setelah menjadi cupung dewasa, tubuhnya masih lunak, berwarna pucat, dan gerakannya belum aktif. Oleh sebab itu, sering menjadi incaran musuhnya, yaitu burung atau katak. Capung ini akan terus tumbuh hingga mencapai ukuran maksimum.

c. Capung dewasa dan perilakunya

Seperti larva, capung dewasa hidup sebagai pemangsa. Capung cukup cekatan menangkap mangsa. Mangsa utamanya adalah serangga-serangga terbang yang dapat ditangkap dan dimakan sambil terbang.

Capung berukuran besar sering memangsa kupu-kupu. Capung melahap mangsa dengan rakus tanpa ada sisa. Setelah makan, capung akan hinggap pada suatu tempat. Capung tidak mempunyai alat sengat. Oleh karena itu, kita tidak perlu khawatir jika ingin memegang langsung dengan tangan.

Capung dikenal sebagai serangga yang terbang tangkas, cekatan dan kuat. Kecepatan terbangnya 40-50 km/jam dan dapat menempuh jarak di atas 35 mil per jam. Capung Zygoptera terbang lebih lambat dibandingkan dengan capung Anisoptera.

Susunan otot-otot antara sayap depan dan sayap belakang capung Zygoptera tidak seimbang sehingga gerakan antara kedua pasang sayap tersebut tidak seirama. Hal ini menyebabkan capung Zygoptera tidak dapat terbang cepat.

Pada pagi hari dengan cuaca cerah, capung aktif terbang antara pukul 08.00-10.00. Aktivitas terbang berkurang pada saat cuaca mendung. Mereka lebih menyukai menggantungkan tubuhnya pada ranting-ranting tanaman.

Di lihat dari aktivitas terbangnya, capung dapat dibedakan dalam dua tipe, yaitu tipe terbang dan tipe bertengger. Capung tipe bertengger menghabiskan sebagian besar waktunya untuk hinggap. Jenis ini biasanya menyenangi tinggal di sekitar kolam, bahkan hanya hinggap pada tanaman air yang tumbuh di kolam.

Sekali-kali capung jenis ini terbang hanya untuk menangkap mangsa atau mempertahankan wilayahnya dari gangguan capung jantan lain. Capung tipe terbang adalah capung yang aktif terbang, baik pada saat mencari makan maupun mencari pasangannya.

Jenis capung yang aktif terbang hanya disekitar perairan. Ada capung yang aktif terbang berkelompok pergi menjauhi perairan dan baru kembali setelah siap untuk kawin atau berkembang biak.

Capung dewasa, selain di tepian kolam, juga menykai tempat-tempat terbuka, dan di sekitar sawah. Beberapa jenis ada yang menyukai tempat-tempat gelam di pertanaman yang teduh. Dalam hidupnya, capung dewasa melalui dua periode, yaitu prareproduktif (sebelum masak kelamin) dan periode reproduktif (masak kelamin).

Periode prareproduktif berlangsung sejak capung mulai dewasa hingga mampu untuk terbang. Biasanya, capung tinggal di sekitar tempat hidup asal larva atau terbang menggerombol menjauhinya. Pada saat itu, terjadi perubahan warna tubuh, menjadi lebih cerah sehingga menarik lawan jenisnya. 

Lama periode ini sekitar beberapa hari sampai kira-kira tiga minggu. Periode reproduktif adalah periode masak kelamin. Biasanya, capung terbang ke habitat tempat larvanya hidup. Pada umumnya, capung jantan datang lebih dahulu diikuti oleh capung betina.

Perilaku kawin capung

kawing hewan capung

Capung mempunyai perilaku kawin yang sangat menarik. Adapun urutannya sebagai berikut. Tahap pertama sebelum kawin, capung jantan memindahkan sperma dari alat kelamin jantan utama yaitu pada ujung perut ke alat bantu kelamin jantan yang berada pada permukaan bawah ruas kedua perut.

Pemindahan sel kelamin jantan ini dilakukan dengan membengkokkan ujung perut ke arah depan. Tahap kedua, capung jantan mendekati capung betina kemudian memegang bagian belakang kepala capung betina dengan menggunakan alat penjepit yang terdapat pada ujung abdomen (perut).

Hal itu biasanya disambut dengan perkelahian kecil untuk menentukan apakah capung betina mau menerimanya atau tidak. Selanjutnya merupakan proses perkawinan. Pada saat kawin, capung betina membengkokkan perutnya sehingga alat kelamin betina yang berada di ujung perut berada tepat di bawah alat bantu kelamin jantan.

Dengan demikian, terlihat capung berduaan dalam posisi yang menarik, yang dapat berlangsung sambil terbang ataupun hinggap. Setelah proses perkawinan, capung betina menuju tempat perkembangbiakannya untuk meletakkan telur.

Capung betina terbang sendiri atau ditemani capung jantan. Kadang-kadang masih dalam posisi kawin. Keadaan ini mungkin untuk melindungi capung betina dari gangguan capung jantan lain yang merupakan saingannya. Capung jantan umumnya mempunyai wilayah yang tetap untuk pasangannya. Dengan agresif ia mempertahankan wilayahnya dari serangan capung jantan lain. Umur capung dewasa sekitar beberapa minggu atau bisa mencapai 2-3 bulan.

Peranan dan ancaman capung bagi manusia

Sebagai serangga pemangsa, capung dapat ikut berperan, baik dalam bidang kesehatan maupun pertanian. Larvanya yang hidup di air memangsa jentik-jentik nyamuk. Dilaporkan bahwa larva capung merupakan pemangsa terbanyak dari jentik-jentik nyamuk jenis Aedes spp, yang dapat menularkan penyakit berbahaya pada manusia.

Selain itu, capung dewasa memangsa lalat yang sering berperan sebagai penghantar penyakit pada manusia. Larva capung dapat pula digunakan sebagai ukuran pencemaran (bersih tidaknya) suatu perairan.

Tubuhnya dapat menampung racun yang berasal dari mangsa yang tercemar oleh racun. Kehidupan capung di suatu perairan erat kaitanya dengan keadaan perairn tempat hidupnya. Oleh karena itu, dapat menjadi patokan tingkat pencemarannya. Perairan yang banyak tercemar, kurang dihuni larva capung.

Sebagian penduduk Jawa dan Sumatra memanfaatkan larva capung sebagai sumber protein hewani, dan petani ikan sering memanfaatkannya sebagai umpan untuk memancing. Di daerah Tabanan, Bali, capung dewasa jenis Orthetrum sabina, Crocothemis servilia, dan Pantala flavescans banyak diburu penduduk setempat untuk dikomsumsi.

Demikian pula di daerah Bliter, Jawa Timur capung dimakan dengan cara memanggangnya di atas api arang. Di beberapa negara Asia, capung selain dimakan, dimanfaatkan pula sebagai bahan obat. 

Di lahan-lahan pertanian, capung tampak banyak memangsa serangga yang berperan sebagai hama. Namun, sampai sejauh mana efektivitas pemangsaanya masih harus di pelajari lebih lanjut.

Selain berperan menguntungkan, capung juga mendatangkan ancaman bagi manusia. Larvanya yang berukuran besar memangsa benih ikan. Oleh karena itu, disarankan agar kolam pembenihan ikan dibuat sedemikian rupa sehingga capung tidak tertarik untuk meletakkan telur dan benih ikan bebas dari serangan larva.

Musuh capung di alam

Meskipun capung hidup sebagai binatang pemangsa, tetapi serangga ini tidak lepas dari musuhnya. Capung dewasa dimangsa oleh katak atau burung-burung pemakan serangga, seperti burung jalak, alap-alap, dan burung kuntul. Demikian pula larva capung, di kolam sering dimangsa oleh jenis-jenis ikan pemangsa, seperti ikan mujair, ikan mas, dan tambra.

Pelestarian capung

Beberapa jenis capung di Indonesia ada yang bersifat endemik di daerah tertentu atau sudah langka untuk didapat. Oleh karena itu, untuk jenis-jenis tersebut perlu mendapat perhatian agar terjaga kelestariannya.

Usaha-usaha yang perlu dilakukan, antara lain, mencegah penggundulan hutan, mengurangi penggunaan jumlah air tanah, mencegah pencemaran oleh bahan kimia. dan menjaga kesuburan perairan.

Penggundulan hutan akan mempercepat aliran air sungai sehingga berpengaruh terhadap kehidupan larva yang menyukai aliran air yang tenang. Pemanfaatan jumlah air tanah yang berlebihan sebagai sumber air, industri, dan pertanian akan mengurangi volume air suatu perairan sehingga berpengaruh terhadap kehidupan larva.

Pencemaran bahan kimia dari pabrik dan penyemprotan pestisida pada lahan pertanian yang berdekatan dengan aliran air akan meracuni larva capung. Dalam menjaga kesuburan perairan, dapat dilakukan dengan memberikan pupuk pada kolam serta membuat saluran khusus untuk mengalirkan kotoran.


Sumber :Puji Aswari

Type and hit Enter to search

Close