Breaking News

Cara penanganan pasca panen padi

Ilustrasi penanaman padi: Pixabay

Dalam usaha bidang tanaman pangan, khususnya padi, kegiatan penanganan dan pengolahan produk setelah dipanen sangat perlu. Tanpa memperhatikan hal tersebut sudah dapat dipastikan bahwa hasil panen tersebut akan mengalami penurunan, baikdari segi mutu atau pun hasilnya.

Penanganan pasca panen atau lepas panen terdiri dari saat panen sampai penanganan atau pengolahan pascapanen. Penganganan saat panen bertujuan agar diperoleh hasil yang lebih memuaskan, baik jumlahnya maupun mutu.

Sementara itu, cara penanganan pasca panen padi bertujuan untuk :
  • Agar hasil tanaman yang telah dipungut tetap dalam keadaan baik mutunya atau tetap segar seperti waktu panen.
  • Agar hasil tanaman menjadi lebih menarik dalam sifat-sifatnya seperti warna, rasa, atau aroma.
  • Agar hasil tanaman memenuhi standar perdagangan, yaitu menarik para pembeli.
  • Agar hasil tanaman selalu dalam keadaan siap dengan mutu yang terjamin untuk dijadikan bahan baku bagi para pembeli yang memerlukannya.
  • Agar hasil tanaman dapat dicegah dari kerusakan dan atau dapat diawetkan lebih lanjut dengan baik untuk sewaktu-waktu di gunakan atau dijual ke pasar dengan mutu yang tetap terjamin.

Hal Yang Terjadi Selama Penanganan Pasca Panen

Sampai saat ini masih sedikit para petani yang memperhatikan penanganan pasca panen. Beberapa petani beranggapan bahwa kehilangan selama habis panen hanya sedikit. Sebenarnya anggapan seperti itu salah karena sehabis panen banyak bahan yang rusak, terserang hama gudang, atau penyakit yang dibawa pada saat memanen.

Proses yang terjadi sehabis bahan dipanen adalah sebagai berikut.

a. Kerusakan secara fisik

Komoditas yang habis dipanen akan mengalami kerusakan. Hal itu terjadi karena sebagian besar komoditas dipanen bukan saat yang baik untuk menanam. Akibat dari hal tersebut akan menyebabkan padi-padi akan kosong di dalamnya atau keriput.

Selain itu, proses selanjutnya akan menyebabkan komoditas tersebut mudah diserang hama gudang serta waktu pengeringannya juga semakin lama.

b. Berkembangnya penyakit yang dapat menimbulkan kerusakan

Jenis jamur dan jenis ragi akan berkembang selama proses penyimpanan. Untuk itu, padi harus dikeringkan terlebih dahulu sebelum disimpan. Setelah dikeringkan, padi harus diwadahi pada tempay ang kering serta disimpan pada ruangan yang tidak lembab.

c. Berkembangnya hama gudang

Berkembangnya hama gudang selama penanganan pasca panen adalah hama yang dapat dilihat dengan mata ataupun yang tidak dapat dilihat dengan mata. Biasanya hama gudang yang dapat dilihat dengan mata, antara lain, tikus, dan burung. 

Hama gudang yang tidak dapat dilihat dengan mata antara lain adalah seperti kuku dan larvanya. Hama gudang ini akan menyebabkan menurunnya mutu produk dan jumlahnya.

d. Kehilangan dan berbagai kerusakan fisik

Kurangnya pengetahuan para petani dalam melakukan perontokan padi dapat mengakibatkan banyaknya kehilangan. Selain itu, kehilangan juga dapat terjadi selama pengangkutan dan penjemuran.

Hal itu disebabkan banyak yang bocor, dimakan binatang, dan tercecer pada saat penjemuran. Kerusakan-kerusakan akan terjadi pada saat ditumbuk dengan benda-benda yang keras sehingga banyak produk yang pecah dan menjadi tepung.


Cara Penanganan Pasca Panen Padi

Hasil tanaman dapat dikatakan bahwa sebagian besar diproduksi di Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Beberapa jenis padi ada yang menjadi bahan pangan pokok. Untuk beras hampir semua orang saat ini mengkomsumsinya, sedangkan sorgum dan jagung khusus bagi warga Jawa Timur, terutama di Madura sebagian bahan pangan pokok.

Jenis padi yang berkembang sangat banyak, baik padi yang berumur pendek maupun berumur panjang. Dari kedua jenis itu secara mendasar tidak ada perbedaan penanganannya. Penyusutan jumlah dan isinya terjadi karena gabah banyak yang terbuang pada saat panen, hilang pada saat pengangkutan, tercecer pada saat perontokan, atau hilang pada saat penjemuran.

Jenis padi yang berumur pendek biasanya kehilangannya lebih banyak. Hal itu disebabkan padi tersebut mudah rontok. Apabila panen 1 ton gabah maka gabah yang hilang sekitar 1,5 kuintal. Jumlah tersebut merupakan jumlah yang tidak kecil. Oleh karena itu, hal itu merupakan sesuatu yang memerlukan penanganan seperti berikut.

1. Pemanenan padi

Kira-kira sepuluh dari sebelum panen, tanah sawah dikeringkan untuk memperlancar pekerjaan pemanenan dan juga menurunkan kadar air gabah. Penentuan saat panen mesti setepat mungkin, tidak pada saat biji padi masih hijau atau terlalu kering. Sebabnya adalah sebagai berikut.
  • Pemanenan pada saat biji padi masih hijau akan berakibat menurunkan mutu gabah tersebut. Gabah seperti itu banyak mengandung kapur sehingga hasil berasnya rendah dan menghasilkan bekatul lebih banyak.
  • Pemanenan pada saat biji padinya sudah terlalu tua akan menyebabkan mudah rontok sehingga banyak yang hilang atau tercecer.
Pelaksanaan pemanenan sebaiknya dilakukan antara pukul 09.00 pagi sampai 17.00 sore hari. Hal itu berdasarkan pertimbangan sebagai berikut.
  • Apabila pemanenan dilakukan pada pagi hari yang masih banyak embun atau hujan, kadar air gabah masih banyak atau gabah tersebut masih basah. Hal itu akan memperberat pada saat pengangkutan dan pengeringan. Pada saat perontokan banyak gabah yang tidak dapat dipisahkan dari tangkainya. Selain itu, bila dipanen dilakukan dengan mesin, hal itu akan mempersulit kerja mesin karena dapat menyebabkan selip atau kemacetan.
  • Waktu pemanenan sebenarnya tidak hanya berlangsung dari pulu 09.00 secara terus menerus sampai dengan pukul 17.00 tetapi perlu adanya waktu istirahat, yaitu sekitar 12.00 sampai dengan 13.30. Pada saat itu terik matahari akan menyebabkan kesulitan waktu memanen, serta para pekerja dapat memanfaatkan waktu istirahat sehingga merasa segar untuk bekerja kembali.
Cara pemanenan ada dua cara, yaitu secara manual (sederhana) dan secara mekanis.

a. Pemanenan padi secara manual

Pemanenan padi secara manual menggunakan parang sabit dilakukan dengan memotong batang padi kira-kira 20-30 cm di atas tanah. Bulir padi bersama batangnya kemudian ditumpuk di atas tikar selanjutnya dilakukan perontokan secara manual.

b. Pemanenan padi secara mekanis

Pemanenan padi secara mekanis biasanya menggunakan alat yang dinamakan Binder dan Combine Hanvester. Jenis binder pada prinsipnya adalah alat untuk memotong padi pada tangkai bulirnya kemudian mengikatnya dengan rapi. Selanjutnya ikatan padi tersebut ditinggalkan ditempat. Pemungutan untai padi di kerjakan dengan tenaga manusia atau dengan mesin pemungut.

Combine Henvester adalah alat pemotong dan pengumpul yang sekaligus digabung dengan perontok dan pemisah gabah dari tangkai dan kotoran lainnya. Gabah yang dihasilkan dengan peralatan itu lebih bersih dan kehilangannya lebih rendah.

Kehilangan padi selama proses pemanenan terjadi karena :
  • gabah sudah rontok sewaktu dipanen dan jatuh dibawah.
  • gabah jatuh pada saat dilakukan pengangkutan.
  • khususnya pada musim penghujan, ada padi yang roboh dan tertinggal pada saat pemanenan.
  • gabah dimakan hama seperti tikus, ayam, dan sejenisnya pada saat ditumpuk menunggu proses perontokan.

2. Perontokan padi

Perontokan padi merupakan proses lanjutan setelah pemanenan. Perontokan itu akan menentukan juga jumlah kehilangan gabah selama proses, yaitu biasanya kehilangan sekitar 2-6 pesen. Untuk melakukan perontokan, setiap daerah mempunyai cara khusus, baik yang masih tradisional maupun yang mekanis.

a. Perontokan padi secara manual

Perontokan padi secara manual langsung menggunakan tenaga manusia, yaitu dengan cara diinjak-injak, dipukuli, atau dibanting.

1. Perontokan padi dengan cara diinjak

Cara itu memerlukan alas untuk tempat menggilas. Biasanya alas terbuat dari anyaman bambu, tikar atau lembaran plastik. Kemudian, kaki menginjak-injak sambil memutar-mutar sehingga gabah yang ada di dalam tangkai lepas. Setelah selesai, jeraminya dibuang, begitu seterusnya.

Selain itu, dapat juga digunakan alas yang berupa meja, yang bagian bawahnya dilubangi sehingga gabah yang diinjak-injak langsung jatuh ke bawah dan jerami terpisah dengan gabahnya. Perontokan dengan menginjak-injak baik dilakukan untuk gabah yang disiapkan untuk benih.

2. Perontokan padi dengan cara memukuli atau padi dibanting

Padi dirontokkan dengan memukulinya apabila pemanenannya dilakukan dengan cara menyabit. Caranya adalah dengan memukul-mukul gabah tersebut dengan tongkat kayu atau membanting-bantingkan malai padi pada tikar sampai padinya betul-betul rontok. Dengan cara itu akan banyak gabah yang hilang karena sewaktu dibanting, gabah akan lepas dari wadahnya. Cara itu tidak baik untuk gabah yang akan digunakan sebagai bibit.

b. Perontokan padi secara mekanis

Perontokan padi secara mekanis dilakukan dengan menggunakan mesin thresher. Mesin itu pada prinsipnya dapat digerakkan dengan menggunakan tenaga manusia atau menggunakan tenaga listrik.  Mesin itu banyak digunakan para petani pedesaan, biasanya digerakkan oleh tenaga manusia dengan jalan menggenjotnya supaya gigi mesin itu berputar.
  • silinder perontok, yang dipasang gigi perontok.
  • gigi perontok yang terbuat dari paku atau kawat.
  • ruang untuk memasukkan padi yang akan dirontokkan.
  • ruang pengeluaran gabah.
  • alat penggenjot untuk memutar silinder.
Jenis mekanis dijalankan dengan menggunakan listrik yang terdiri dari :
  • silinder perontok yang ditancapkan oleh gigi perontok.
  • gigi perontok yang terbuat dari paku atau kawat baja yang berfungsi untuk merontokkan gabah.
  • saringan, yaitu untuk memisahkan gabah dari kotorannya.
  • pengembus untuk mengeluarkan kotoran, khususnya daun-daun dan padi yang hampa. Elavator untuk mengeluarkan gabah ke tempat penampungan yang telah di siapkan.
Cara kerjanya :

Padi yang telah lama di panen dimasukkan ke dalam mesin perontok dengan cara memasukkan malainya. Sementara itu, ujung lainnya tetep dipegang. Karena adanya perputaran yang cepat, padi-padi tersebut akan terpukul dan lepas dari malainya, kemudian jatuh melalui saringan sedangkan tangkai dan malainya terlempar ke luar.

Setelah melalui saringan, gabah diembus oleh pengembus sehingga kotoran yang ringan akan terlempar keluar. Gabah akan turun terus ke tempat penampungan yang telah disediakan. Selanjutnya, oleh elevator gabah akan dikeluarkan dari mesin perontok dan masuk ke dalam alat-alat pengangkut untuk dikeringkan.

Kerusakan dan kehilangan gabah selama perontokan disebabkan oleh hal-hal berikut.
  • Gabah biasa masih tetap berada dalam malai sehingga hilang bersama-sama tangkai atau jerami.
  • Adanya gabah yang ikut terbang bersama kotoran ketika dilakukan penampian dan pengembusan.
  • Gabah pada saat perontokan terlempar dari alas perontok sehingga tidak mungkin lagi di kumpukan.
  • Sebagian gabah tersisa pada alat perontok, terutama perontok mesin tertutup, biasanya gabah muda yang melekat pada dinding mesin.
Untuk mengurangi kerusakan atau kehilangan tadi, ada beberapa perlakuan yang harus di perhatikan.
  • Panen dilakukan pada hari yang cerah.
  • Padi dipanen apabila betul-betul masak.
  • Adanya pengeringan awal untuk mengurangi kadar air.
  • Perputaran silinder perontok dengan ketahanan gabah terhadap pukulan disesuaikan dengan kecepatannya.
  • Pemanenan dan perontokan dilakukan dengan sebaik-baiknya.


3. Pengangkutan gabah

Yang dimaksud dengan pengangkutan gabah adalah pengangkutan gabah dari sawah ke tempat proses selanjutnya atau rumah. Pengangkutan dapat menggunakan tenaga manusia, seperti memikul dan dan menggendong. alatnya dapat pula menggunakan tenaga mesin, seperti truk, peti kemas, atau gerobak. Sebelum dilakukan pengangkutan, gabah dimasukkan ke dalam karung goni atau karung plastik.

4. Pengeringan gabah

Tujuan pengeringan gabah adalah untuk mengurangi kadar air sehingga tidak mudah mengalami kerusakan selama penyimpanan. Secara khusus tujuan tersebut adalah :
  • memudahkan penggarapan selanjutnya.
  • mencegah kerusakan karena adanya hama dan jamur.
  • mencegah kemunduran sifat fisik dan sifat biologis gabah.
  • menekan atau mengurangi biaya pengangkutan.
  • mempertahankan nilai gizi.
Hubungan antara kadar air dan perkembangan jamur dan serangga adalah sebagai berikut.
  1. Kadar air 30-60% gabah akan berkecambah.
  2. Kadar air 16-30% mudah busuk karena akan tumbuh jamur.
  3. Kadar air 12-16% jamur dapat tumbuh pada biji.
  4. Kadar air 9-12% jamur tidak dapat tumbuh
  5. Di bawah 9% serangga tidak dapat berkembang dengan baik
Pembelian gabah yang dilakukan oleh bulog mengandung kadar air 14%. Sementara itu, untuk gabah yang akan dilakukan penyimpanan kadar air yang dikehendaki paling banyak 12%. Hal itu sesuai dengan yang ada dalam tabel di atas bahwa pada kadar air 9-12% jamur tidak dapat tumbuh, kemudian gabah disimpan, akan tumbuh jamur dan mutu beras nantinya rendah.

a. Pengeringan gabah secara alami

Pengeringan gabah secara alami adalah pengeringan dengan menghamparkan gabah di atas lantai pengering. Lantai yang dimaksudkan adalah lantai yang biasa memakai pelester dari bata atau memakai hamparan yang terbuat dari tikar atau kepang (anyaman dari bambu).

Tebal hamparan sekitar 3-5 cm. Setelah bagian atas kelihatan kering, dilakukan pembalikan denan memakai kaki atau berupa serok. Pelaksanaan pengeringan dilakukan dari pukul 08.00 pagi sampai dengan 16.00 sore apabila cuaca cerah. Apabila musim penghujan, pengeringan sesuai dengan adanya sinar.

Untuk mengatasi musim penghujan agar tidak selalu mengumpulkan, menjemur, atau mewadahi setiap saat turun hujan, sebaiknya dipersiapkan plastik penutup gabah. Untuk lembar plastik disesuaikan dengan keperluan. Pada dasarnya, asal semua gabahnya dapat tertutup.

Pengeringan dilakukan sekitar 3-4 hari. Untuk mengetahui bahwa pengeringan sudah selesai, dapat dilakukan pengujuan terhadap kadar air dengan cara melihat sifat bahan yang telah dikeringkan atau dengan menggigit gabah tersebut. Apabila sudah terasa mudah patah berarti pengeringan telah selesai. Dapat juga di gunakan metes lengas (moisture meter) bagi perusahaan pengolahan padi dalam jumlah besar.

Kerusakan atau kehilangan gabah dengan pengeringan cara alami, antara lain, terjadi karena :
  1. tercampur penyakit, misalnya jamur.
  2. banyak gabah di bagian yang sudah kering sementara bagian bawah masih basah sehingga akan membuat kerusakan proses berikutnya.
  3. kehilangan karena tercecer di lantai atau dimakan oleh ayam atau burung.
b. Pengeringan gabah secara mekanis

Pengeringan secara mekanis, khususnya, di pakai pada musim penghujan. Hal itu disebabkan pada musim penghujan sinar matahari tidak menentu, sementara kadar air biasanya lebih tinggi. Kalau tidak segera dilakukan pengeringan, gabah tersebut akan ditumbuhi jamur atau membusuk.

Yang dimaksud dengan pengeringan secara mekanis adalah menurunkan kadar air sampai persentase tertentu dengan menggunakan alat pembangkit panas. Peralatan itu ada dua jenis yaitu, Batch Dryer dan Countinue Dryer.

Pengeringan dengan Batch Dryer ini lebih sederhana dan mudah dalam pembuatannya. Peralatan itu terdiri dari dua bagian utama, yaitu kotak pengering dan bagian alat pemanas yang dilengkapi dengan pengembus. Fungsi pengembus untuk mengembuskan udara panas ke dalam kotak pengering.

Kotak pengering dapat dibuat dari seng, logam, atau batu bata yang disemen, atau batok tersebut dari kayu. Agar panas yang di dalam tidak mudah terserap oleh dindingnya, kotak harus diberi plastik tebal pada bagian dinding. Bagian lantai alat pengering diberi kayu dengan arah membujur dan melintang. 

Hal itu dilakukan untuk tempat karung-karung gaah yang dikeringkan. Bagian lantai alat pengering dapat pula menggunakan kawat kasa apabila pengeringan secara langsung. Cara pengeringan adalah gabah yang akan dikeringkan dimasukkan ke dalam karung, kemudian diatur pada kotak pengering, 2-3 tumpuk sesuai kemampuan kotak pengeringnya.

Selain itu, dapat juga dilakukan penghamparan gabah pada kawat kasa, tebalnya kira-kira 30 cm. Mula-mula pengembus dihidupkan sehingga udara akan mengalir dari bagian bawah ke atas dengan membawa uap air dari gabah.

Pengembus dihidupkan selama 1 sampai 2 jam. Selanjutnya, pemanas dihidupkan. Dengan demikian udara panas akan mengalir ke kotak pengeringan. Pengaturan suhu dilakukan dengan cara membuka pintu kotak pengering.

Suhu pengeringan berkisar antara 50-60 derajat celcius. Sementara itu, gabah yang akan digunakan untuk bibit sebaiknya suhunya 42-43 derajat celcius. Hal itu harus dikerjakan secara benar karena akan mempengaruhi hasilnya.

Lama pengeringan gabah akan tergantung pada beberapa faktor, antara lain, sebagai berikut.
  1. Kadar air awal, semakin tinggi kadar air awal akan semakin lama pengeringannya.
  2. Tebal timbunan gabah, semakin tebal gabah semakin lama pengeringan.
  3. Kecepatan aliran udara pengering, semakin cepat aliran panas akan semakin cepat pula waktu pengeringan.
  4. Kelembapan udara panas, semakin tinggi kelembapan udara panas (kandungan air makin tinggi) akan semakin lama waktu pengeringan.
  5. Suhu udara pemanas, semakin tinggi udara pemanas akan semakin cepat waktu pengeringan. (perlu diingat bahwa suhu tertinggi pengering adalah 60 derajat celcius).
Secara umum waktu pengeringan untuk mendapatkan kadar air 12% adalah 25 jam. Hal itu masih tergantung pada hal di atas.

5. Pembersihan gabah

Pembersihan dimaksudkan untuk menghilangkan bagian-bagian gabah yang kosong atau kotoran yang tidak dikehendaki sehingga akan didapat gabah yang bersih. Kotoran tersebut, antara lain, sisa daun, batang, bijian lain, debu, dan kerikil.

Pada dasarnya pembersihan adalah pemisahan gabah yang baik dari kotorannya. Untuk itu, ada dua cara pembersihan gabah, yakni dengan penggunaan tenaga manusia dan dengan menggunakan mesin.

Pembersihan dengan tenaga manusia sudah biasa dilakukan oleh para petani, khususnya petani kecil. Cara pembersihannya dengan menggunakan nyiru (tampah), yaitu tampah diputar-putar sampai terjadi pemisahan antara gabah yang baik dari yang jelek.

Setelah terjadi pemisahan, diambil bagian-bagian yang jelek (kotorannya). Begitu seterusnya sampai benar-benar bersih. Untuk ukuran yang lebih besar digunakan peralatan yang pada prinsipnya sama dengan tenaga manusia, hanya di embuskan oleh udara dengan memakai pengembus.

6. Penyimpanan gabah

Penyimpanan gabah bertujuan untuk mempertahankan mutu dan sekaligus mencegah kerusakan dan kehilangan termasuk penyusutan yang disebabkan oleh faktor luar atau dalam.
  • Faktor luar adalah suhu penyimpanan, kelembapan udara, pemusatan oksigen udara, serangan hama, mikroba, (jasad renik) serta cuaca.
  • Faktor dalam adalah kandungan air dalam gabah, proses pernapasan, dan pertukaran udara, pemanasan sendiri, dan lain-lain.
Faktor luar atau faktor dalam harus benar-benar diperhatikan karena hal itu akan mempengaruhi mutu beras yang akan dihasilkan. Berhubungan dengan hal itu, tempat penyimpanan atau gudang harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.
  • Tepat penyimpanan atau gudang sebaiknya dilengkapi dengan jendela, angin-angin, dan pengatur suhu udara ruang sehingga keadaan ruang akan selalu kering.
  • Bebas dari hama serta mempunyai alat pencegah hama dan perkembangan mikroba (jasad renik).
  • Dinding gudang sebaiknya terbuat dari bahan-bahan yang tidak mudah terkena air hujan sehingga tidak akan terpengaruh oleh musim penghujan.
  • Gudang sebaiknya dekat dengan tempat pengeringan dan cukup banyak menampung gabah.
Diusahakan suhu gudang serendah-rendahnya 30 derajat celcius, tetapi juga tidak boleh terlalu dingin. Kadar air gabah yang disimpan harus benar-benar kering, sesuai dengan ketentuan pada saat pengeringan. Sistem penyimpanan gabah yang biasa di lakukan oleh masyarakat kita ada dua maca yaitu:
  • Penyimpanan gabah dengan karung.
  • Penyimpanan gabah dengan curah dalam selo

a. Sistem penyimpanan gabah kering dalam karung

Gabah yang sudah kering dan bersih di masukkan ke dalam karung. Kemudian, apabila gabah akan disimpan, cara penyimpanannya harus teratur berselang seling, melintang, dan membujur. Bagian bawah diberi alas yang terbuat dari kayu disusun secara mendatar dengan jarak 10-15 cm.

Dengan demikian, tidak terjadi kontak antara karung dengan lantai. Kayu yang digunakan harus kering agar tidak tumbuh jamur. Setiap jenis padi dipisahkan sehingga nantinya akan memudahkan pengambilan.

Untuk mempertahankan kadar air, gabah tetap seragam atau tidak terjadi perpindahan air dari lapisan gabah yang satu dengan lapisan lainnya. Tumpukan karung ditutup dengan kain terpal, dan gudang dilengkapi dengan alat pemutar udara, misalnya jendela dan angin-angin.

Penyimpanan jenis itu merupakan cara penyimpanan yang luwes dan memerlukan modal yang relatif murah. Kelemahannya adalah bahwa sistem ini memakai tenaga manusia dan sebagian gabah akan mudah tercecer. Sementara itu, karung yang akan digunakan mudah diserang oleh hama, khususnya tikus.

Untuk mencegah supaya hama jasad renik (khususnya tikus), dalam penggudangan dilakukan fumigasi dengan obat-obatan. Pelaksanaan fumigasi secara teratur, misalnya tiga minggu sekali.

Untuk mencegah penggunaan bubuk, dapat digunakan fostoksin, yaitu obat jenis bubuk dalam
bentuk tablet yang digunakan untuk membunuh hama. Lima tablet fotoksin di gunakan untuk 1 ton gabah. Caranya dengan meletakkan kelima tablet tersebut di sekeliling tumpukan.

Untuk pelaksanaan gumigas, diperlukan waktu 2 hari. Setelah itu hari ke 3, kain tebal dibuka, Untuk fumigasi, jenis melation dengan dosis 200 cc kadar 57% dicampur dengan 5 liter air yang dapat digunakan untuk luas gudang 100 m ukuran gudang 10 x 10 m.

b. Sistem penyimpanan gabah kering dalam selo

Penyimpanan dengan sistem ini dilakukan dengan melengkapi gudang dengan alat pemanas dan pengembus, sehingga selo tidak hanya untuk menyimpan gabah kering, tetapi dapat juga dipakai untuk menyimpan gabah yang kandungan airnya masih tinggi. Dari kedua jenis cara penyimpanan itu masing-masing mempunyai keuntungan dan kerugian.

Sistem karung.
  • Penyimpanan luwe.
  • Kadang-kadang mudah dilayani secara mekanis.
  • Pelakuannya secara perlahan-lahan.
  • Kemungkinan tercecer besar.
  • Modal diperlukan relatif murah.
  • Mudah diserang hama.
Sistem selo.
  • Karung luwe karena sukar dibuah-ubah.
  • Mudah dilayani secara mekanis.
  • Perlakuannya cepat.
  • Kemungkinan tercecer sedikit.
  • Mudah diserang hama.
Cara kerja peralatan penyimpanan dalam selo adalah sebagai berikut : Alat pengambil gabah untuk membalikannya (elevator) digerakkan oleh motor listrik. Elevator itu ada dua jenis, yaitu elevator pengisi dan elevator pengambil gabah.

Gabah masuk kedalam selo yang diangkut dengan elevator, kemudian diatur oleh alat pengering untuk mengatur perputaran udara. Penyimpanan gabah dengan sistem selo bertujuan untuk menyimpan gabah dalam waktu yang lama.

Selama penyimpanan akan diatur udaranya sehingga suhu dalam selo diusahakan selalu tetap, baik pada siang hari atau malam hari. Selama penyimpanan, pada waktu-waktu tertentu, harus dilakukan pengeringan ulang untuk menjaga agar kadar airnya tetep.

Penyimpanan itu kurang baik apabila digunakan petani karena memerlukan modal yang tinggi dan peralatan tertentu. Para petani pada umumnya menyimpan gabah hanya bersifat sementara. Untuk beberapa daerah, sehabis panen dan sudah kering, gabah langsung dijual.

Sementara itu, di beberpa daerah petani menyimpan gabah di rumahnya untuk menunggu saat harga gabah mulai tinggi. Selain itu, ada yang mencoba untuk menjualnya dalam bentuk beras. Cara selo itu akan sangat bermanfaat apabila dilakukan oleh Bulog atau KUD yang sudah maju dalam mengelola hasil panen padi.



Penendalian dan Pemeriksaan Mutu

Pengendalian dilakukan dari tahapan proses pertama kali sampai bahan tersebut ke konsumen. Tiap-tiap tahapan proses mempunyai sifat dan kekhasan tersendiri dalam pengendaliannya.

Pada tahapan pengeringan yang harus diawasi adalah suhu, aliran udara pengeringan, dan kelembapan udara pengering. Untuk mencapai yang diinginkan itu yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan tentang kadar atau kandungan air, bahan pecah atau retak, dan bahan gosong. 

Apabila suhu pengeringan tinggi, gabah akan banyak yang gosong. Misalnya, dalam pemeriksaan di temukan bahwa gabah yang banyak gosong harus cepat-cepat dilihat dan diturunkan suhunya.

Pada tahapan perontokan, yang harus diawasi adalah kecepatan roda perontokannya apabila perontokan menggunakan mesin. Namun, apabila perontokannya dipukul atau dibanting, yang harus dilihat adalah gabah yang pecah dan gabah yang terlempar. Banyaknya gabah yang pecah memang berkaitan dengan kecepatan roda perontoknya atau terlalu kuat memukulnya.

Pada tahapan penyimpanan gabah, yang perlu diawasi terutama adalah kebersihan gudang, hama gudang, perputaran udara, dan kadar air bahan. Untuk itu, dengan jadwal yang teratur dilakukan pembersihan dan penyemprot terhadap gudang.


Sumber : Ir. M. Bakrun Dahlan

Type and hit Enter to search

Close