Breaking News

Cara menangani hama padi


Tikus merupakan salah satu binatang yang mampu memanfaatkan seluruh jenis bahan pangan. Hampir semua bahan yang disukai manusia juga diminati oleh tikus. Tingkah laku tikus yang selalu mengerat sambil menghancurkan bahan pangan atau peralatan rumah tangga merupakan salah satu penyebab yang menjadikan tikus dijuluki  sebagai binatang musuh utama di sekitar kehidupan manusia.


Sebutan sebagai binatang musuh utama manusia ini tidak saja tertuju pada kehidupan di dalam rumah tangga, tetapi juga membuktikan bahwa tikus juga menjadi musuh di perkebunan dan persawahan. Di sekitar perumahan, selain sebagai penyebab suara gaduh di malam hari, ternyata kelangsungan keawetan perabotan rumah tangga dan rangka bangunan rumah.

Tidak ternilai kerugian akibat kerusakan tersebut. Banyak perabotan rumah tangga, seperti meja kursi dan rangka bangunan, seperti kusen-kusen dan bahkan tembok bangunan, hancur akibat ulah hewan tikus tersebut.

Di perkebenan dan persawaha tikus seringkali menggagalkan hasil panen. Tikus akan merusak batang-batang padi yang masih muda, batang-batang kedelai, jagung, sayuran, dan buah-buahan. Pada waktu musim panen tikus juga sangat suka untuk memanjat batang jagung untuk menggapai jagungnya atau merobohkan batang kedelai dan padi untuk meraih biji dan malai-malainya.

Selain merusak kebutuhan hidup manusia dan merusak berbagai macam bentuk peralatan rumah tangga, tikus juga dapat digolongkan sebagai sumber malapetaka bagi kesehatan manusia. Penyakit yang bersumber dari tikus antara lain mengakibatkan tipes dan penyakit perut akibat bakteri salmonela yang dibawanya adalah penyakit yang sering diderita oleh manusia. 

Karena tingkah laku tikus yang merugikan kehidupan manusia, pengurangan ledakan jumlah tikus harus tetap dilakukan. Cara menangani hama padi seperti yang dirusak oleh tikus tidak dapat dilakukan secara orang per orang tetapi harus secara serentak. 


Jenis-jenis Tikus Pembawa Penyakit 

Jenis tikus yang sering berhubungan dengan manusia hanya sedikit. Dari 160 jenis tikus yang mendiami kepulauan yang ada di Indonesia, ternyata yang umum kita jumpai hanya sembilan jenis, Jenis-jenis tikus tersebut adalah.
  1. tikus rumah.
  2. tikus sawah.
  3. tikus polenesia.
  4. tikus riol.
  5. tikus wirok.
  6. tikus belukar.
  7. tikus duri kecil.
  8. mencit sawah (piti sawah).
  9. mencit rumah (piti rumah).
Tidak mudah memberantas semua jenis tikus yang berhubungan langsung dengan manusia. Dalam usaha pemberantasan, harus diperhatikan tingkah laku setiap jenis. Setiap jenis tikus tersebut mempunyai tingkah laku yang berbeda. Ada yang mampu membuat liang dan ada pula yang tidak mampu atau hanya berlindung di bawah dedaunan kering.

Cara Pemberantasan Hama Tikus

Memberantas tikus tidak semudah membasmi nyamuk yang hanya dengan sekali semprot. Pemberantasan dan pengendalian harus dilakukan dengan cara yang tepat. Ada pemberantasan yang cukup dengan satu cara, ada pula yang menggunakan kombinasi banyak cara.

Banyak cara dapat dilakukan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Tetapi pemberantasan tanpa peran serta masyarakat secara terus-menerus tidak akan memberikan hasil yang baik. Peran serta masyaratak secara penuh menjadi syarat utama yang harus dilakukan. Pemberantasan yang dilakukan secara orang per orang dan bersifat sementara hanya akan membuat tikus berpindah ke tempat lain.

Tikus itu pun akan kembali lagi ke tempat semula apabila keadaan sudah aman baginya. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam upaya memberantas tikus adalah sebagai berikut.
  1. Area yang dijadikan daerah bebas tikus harus seluas mungkin.
  2. Pemberantasan harus dilakukan secara diulang-ulang.
  3. Pemberantasan tidak mengandalkansatu macam cara.
  4. Tingkah laku tikus harus diperhatikan.
  5. Kebersihan lingkungan harus tetap dijaga.
  6. Pemilihan waktu pemberantasan harus tepat.
  7. Pemilihan lokasi umpan harus sesuai dengan kesukaan tikus.
  8. Pemilihan umpan harus tepat.

Bentuk Pemberantasan Hama Tikus

Bentuk pemberantasan hama tikus  yang dapat dilakukan adalah sanitasi, kesamaan waktu tanam, fisik dan mekanik, kimia, kontrol biologi, pengurangan jumlah anakan tikus, dan jarak selang tanam.

A. Sanitasi

Sanitasi atau kebersihan lingkungan adalah syarat utama untuk mengendalikan jumlah tikus. Pemberantasan menggunakan cara ini merupakan salah satu upaya pencegahan dan pemberantasan yang paling efektif dan murah. akan tetapi, cara ini memerlukan ketekunan karena setiap hari masyarakat harus selalu menjaga lingkungan dalam keadaan bersih.

Kebersihan lingkungan menjadi syarat utama keberhasilan. Upaya kebersilan lingkungan paling tidak akan mengusir tikus dari tempat persembunyiannya di sekitar kita. Tikus merasa tidak tenang untuk tinggal lama di tempat yang bersih.

Kebersihan lingkungan tidak hanya di lakukan di sekitar rumah tetapi juga di persawahan atau perladangan. Penumpukan jerami atau samaph harus dihindari. Memperhatikan tumpukan tersebut untuk kurun waktu lama dapat memberi peluang tikus membuat sarang  disekitarnya.

Dengan kata lain, tumpukan jerami dan sampah memberikan perlindungan beberapa jenis tikus untuk tetap merasa aman. Untuk mendapatkan lingkungan yang bersih dari tumpukan sampah, dapat dilakukan pembenaman ke dalam tanah. Air juga dapat membantu mencegah tikus membuat sarang di bawah jerami.

Tempat-tempat yang wajib tetap dijaga kebersihannya adalah pematang dan jalan-jalan utama di sekitar persawahan. Sebaliknya, tempat-tampat yang harus bersih di perumahan adalah di bawah lemari, pojok-pojok tembok, tumpukan kaleng bekas di pekarangan, dan tempat-tempat lain yang biasanya gelap dan kotor.

B. Kesamaan waktu tanam

Pemberantasan di areal persawahan atau perkebunan melalui kesamaan waktu tanam merupakan salah satu pemberantasan alami yang dapat dilakukan dengan mudah. Kesamaan waktu tanam tidak akan memberikan kesempatan bagi tikus untuk dapat berkembang sepanjang tahun.

Pengaturan waktu tanam mengakibatkan kesukaan tikus juga terbatas. Akibat selanjutnya adalah perkembangbiakan tikus akan terganggu. Pada saat tidak tanam atau dijumpai tanaman, tikus juga merasa akan kelaparan. Keadaan lahan bera yang amat luas untuk kurun waktu tertentu secara tidak langsung menyebabkan tikus kelaparan.

Tetapi, yang menjadi masalah dengan keadaan lahan tidak tanam ini adalah larinya tikus ke sekitar perumahan. Untuk itu kebersihan di sekitar rumah pada masa persawahan tidak tanam pun harus dijaga.

C. Pemberantasan fisik dan mekanik

Pemberantasan fisik dan mekanik merupakan pemberantasan tradisional yang sudah lama terbukti keberhasilannya. Pemberantasan ini harus diikuti oleh peran aktif masyarakat setempat.

1. fisik
a. Gropyokan

Pemberantasan fisik dapat dilakukan dengan cara penggropyokan yang dilakukan secara serentak pada suatu tempat dan dilanjutkan ke tempat lain hingga jumlah tikus menyusut. Mengingat bahwa tikus yang berada di persawahan mempunyai tingkah laku untu membuat, bantuan anjing peliharaan dapat bermanfaat. Anjing dapat mencium bau tikus yang bersembunyi di dalam lubang. 

Pemberantasan secara fisik di persaahan dan perladangan membutuhkan ketekunan. Ketekunan ini dimaksudkan karena tidak jarang tikus mempunyai lubang galian sarang dengan banyak pintu keluar. Tidak tertutupnya salah satu pintu keluar menebabkan tikus lepad dari kejaran.

Sebelum dilakukan pembongkaran lubang galian tikus, terlebih dahulu dipersiapkan penutupan setiap liang pintu keluar. Penutupan liang pintu keluar dapat dilakukan dengan menggunakan tanah atau perangkap dari bambu. Tius selalu membuat liang dengan banyak pintu keluar. Jumlah pintu keluar tikus paling sedikit dua buah dan tidak jarang dijumpai 4-5 buah pintu keluar.

b. Pengairan

Pengairan merupakan cara yang efektif dan dapat memberikan hasil yang amat baik. Apabila lubang tikus dialiri air, tikus akan keluar dan ditangkap atau dibunuh. Tikus mengalami kesulitan untuk berlari cepat di atas genangan air, kondisi basah atau berair.

2. Mekanik

Cara mekanik ini juga membutuhkan peran serta masyarakat, tetapi dapat dilakukan tanpa merusak sarang galian lubang tikus. Banyak cara dapat dilakukan dengan menggunakan cara ini yaitu pengemposan, perangkap hidup, perangkap mati, perngkap lem, dan suara.

a. Pengemposan

Tikus diberantas dengan cara memasukkan atau cara memberikan asap yang mematikan ke dalam lubang. Pengemposan dapat digunakan dengan menyediakan alat pengepos dan membakar jerami yang ditaburi bubuk belerang. Cara ini biasanya diawali dengan menutup semua lubang untuk masuk keluarnya tikus. Disisakan satu pintu keluar sebagai tempat pengempos.

Belerang dan jerami jering dibakar dalam alat pengepos untuk mendapatkan asap yang cukup banyak. Selanjutnya, asap pembakaran campuran belerang dan jerami kering diarahkan pada lubang yang sengaja tidak ditutup. Sayangnya cara pengeposan hanya akan memberikan hasil yang bak pada saat tanah basah. Alat pengepos ini dapat berupa alat yang sederhana dan murah, yakni bambu.

b. Perangkap hidup

Perangkap hidup dimaksudkan untuk menangkap tikus dalam keadaan hidup. Perangkap ini hanya dapat menangkap seekor atau dua ekor saja. Tetapi, yang harus diperhatikan adalah tikus berpenciuman tajam dan bersifat jera umpan. Dengan demikian, apabila telah berhasil menangkap tikus, perangkap harus dicuci bersih.

Tanpa pencucian, akan sia-sia menggunakan perangkap itu kembali. Tikus akan merasa curiga dan tidak akan memasuki perangkap walaupun umpan yang diberikan beraneka macam dan sangat memikat. Perangkap hidup tersebut dapat terbuat secara sederhana dari bambu atau kawat.

c. Perangkap mati

Penggunaan perangkap mati atau perangkap jepi tidak dapat digunakan secara terus-menerus. Tikus yang tertangkap akan mati. Kematian tikus ini akan mengundang kecurigaan tiku-tikus lain sehingga tidak akan mendekati perangkap. Perangkap mati hanya dapat digunakan untuk periode yang singkat, yaitu 2-3 hari saja atau setelah perangkap berhasil menangkap tikus.

d. Perangkap lem

Lem perekat juga dapat digunakan untuk mengurangi jumlah tikus. Namun, cara ini juga akan mengundang kecurigaan tikus lain yang ingin mengunjungi umpan. Perangkap ini akan menyebabkan jera umpan bagi tikus yang ingin memakannya. Tikus lain, yang telah melihat temannya terjerat lem perekat, tidak akan berani mendekat. Lem ini berasal dari getah karet atau bisa dibeli langsung ditoko yang menyediakan lem tikus.

e. Suara

Suara dapat digunakan untuk mengusik tikus tetapi tidak mampu mebasminya. Pengusiran tikus menggunakan suara dapat dilakukan di persaahan atau perumahan. Walaupun suara dapat digunakan untuk mengusir tikus cara ini mempunyai banyak kelemahan. Pada saat suara hilang, tikus akan kembali ke tempat semulanya.

Seekor atau dua ekor tikus ditangkap hidup-hidup. Tikus yang tertangkap diberi kalung berlonceng dan selanjutnya dilepas kembali. Tikus yang diberi lonceng tersebut akan berlari terus-menerus sepanjang hari sampai kelelahan dan akhirnya mati.

Tikus-tikus lain yang mendengar suara ini akan segera berlari ketakutan. Sayangnya tikus-tikus ini akan kembali begitu suara berhenti karena tikus pembawa lonceng mati.

D. Pemberantasa tikus menggunakan zat kimia

Pemberantasan tikus menggunakan zat kimia ini dapat dilakukan dalam dua cara, yaitu
  1. Pemberantasan secara akut atau racun cepat.
  2. Ironis atau racun lambat.
1. Racun akut

Pemberantasan dengan racun akut dapat dilakukan dengan cara memasang umpan yang dicampur dengan racun. Racun tikus yang bisa digunakan adalah Zinkfostor. Racun dicampur dengan pakan kesukaan tikus dengan perbandingan 1 : 99.

Penggunaan racun ini biasanya berhasil baik untuk awalnya, tetapi tikus lain akan mengalami jera umpan. Tikus yang memakan umpan beracun akan mati di sekitar umpan. Matinya tikus tersebut mengakibatkan tikus lain tidak berani mendekat.

2. Racun kronis

Pemberantasan menggunakan cara racun kronis ini tampaknya paling efesien. Selain tidak memerlukan banyak tenaga, juga hasilnya akan kelihatan sangat nyata. Cara ini tidak memperhatikan kecurigaan bagi tikus lain. 

Tikus yang memakan umpan tidak selalu mati di sekitar pakan. Biasanya tikus akan mati pada jarak puluhan atau ratusan meter dari tempat umpan. Racun tikus ini mempunyai peran sebagai zat antikoagulan. 

Tikus yang memakan racun ini akan merasa haus sepanjang hari sehingga tikus selalu mencari untuk minum. Tikus yang memakan umpan ini akan mati dalam waktu 1-3 hari setelah memakan umpan.

Racun yang bersifat kronis bisa diusahakan berupa walfarin, tomorin, racumin, diphacin, dan klerat. Racun dicampur dengan umpan dengan perbandingan 1 : 19. Sayangnya harga racun ini cukup mahal.

E. Pengendalian secara biologis

Kehidupan binatang di alam selalu mengikuti hukum alam, yaitu ada yang dimangsa maupun ada yang memangsa. Setiap binatang selalu mempunyai musuh yang ditakutinya. Musuh tersebut secara langsung atau tidak dapat mencederai atau memangsanya.

Matinya salah satu binatang karena dimangsa oleh binatang lainnya merupakan salah satu alat yang efisien untuk menanggulangi ledakan populasi binatang tersebut. Berkurangnya populasi individu binatang karena dimangsa oleh binatang lain biasanya disebut pengendalian secara biologi.

Mengurangi populasi menggunakan alat pengendalian biologi ternyata berlaku juga bagi kehidupan tikus. Jumlah tikus dapat dikurangi secara alamiah karena dimangsa oleh hewan lain. Sebelum dijumpai peralatan dan bahan kimia pembasmi atau mengurangi ledakan populasi, jumlah tikus di alam dikendalikan oleh musuh biologinya.

Di masa lampau, pada saat populasi binatang yang menjadi musuh biologinya masih stabil, diperkirakan populasi tikus juga tetap stabil. Tidak pernah dijumpai ledakan jumlah tikus. Namun, untuk mengurangi populasi tikus menggunakan hukum alam melalui alat pengendali biologi belum tentu membawa keberhasilan.

Terdapat beberapa penyebab tidak berlakunya hukum alam bagi tingginya populasi tikus di alam. Salah satu penyebabnya adalah rusaknya lingkungan binatang, yang berakibat pada hilangnya atau berkurangnya salah satu sumber kehidupan.

Penyebab rusaknya lingkungan tersebut adalah sebagai berikut.
  • Beberapa hewan liar diburu atau diambil dari alam oleh manusia yang tidak pernah memikirkan untu membudidayakannya.
  • Tempat kesukaan hidup binatang liar telah rusak sehingga tidak ada lagi masanya nyaman untuk berkembang biak.
Dapat dipastikan bahwa kedua faktor inilah yang menyebabkan pengendalian secara alamiah tidak dapat berlangsung. Binatang pengendali biologi tikus sudah mengalami krisis jumlah karena tempat hidup kesukaannya telah hilang. 

Bahkan, binatang ini selalu terusik karena diburu manusia. Jenis-jenis binatang liar yang tergolong mampu berperan sebagai alat pendendali biologi tikus adalah garangan, rese, kelelawar, burung hantu, dan ular.

1. Hewan garangan

Garangan merupakan musuh biologi tikus yang dapat dijumpai di semak-semak, rawa, belukar, atau padang rumput terbuka. Binatang ini tergolong pemakan segalanya sehingga mampu memanfaatkan pakan berupa bahan dari tumbuhan atau binatang lain meskipun pakan kesukaannya biasanya berpa binatang, misalnya udang, remis, keong, dan kadal.

Di alam, terutama di persawahan, garangan merupakan musuh tikus. Tikus diburu dan di mangsa sebagai makanan pokok setiap harinya. Garangan ini mempunyai kemampuan memburu tikus dengan baik. Larinya sangat cepat dan bahkan pada waktu menuruni tebing pun tidak takut jatuh.

Kemampuang larinya yang cepat ini membuatnya mampu memburu tikus dengan mudah. Kuku tangan dan kakinya yang amat kuat serta leher dan giginya yang amat ampuh menjadikan sebagai pemburu tikus yang ampu pula.

Kemampuan untu menggali lubang membuatnya mampu menangkap tikus yang sedang  bersembunyi. Tingkat perkembangbiaknya tergolong cepat, yaitu masa bunting sekitar 7-8 minggu dengan jumlah anak 2-3 ekor setiap kelahirannya.

Sayangnya populasi jenis binatang ini semakin mengkhawatirkan karena jenis binatang ini diburu oleh manusia untuk dimakan atau dianggap sebagai musuh ayam. Anggapan bahwa garangan adalah musuh anakan ayam memang ada benarnya.

Akan tetapi, keadaan ini terlalu berlebih-lebihan karena untuk mencari anak ayam garangan menempuh risiko bertemu manusia. Garangan hanya akan mencai pakan di sekitar perumahannya apabila pakan di daerah persawahan telah habis.

2. Hewan Rese

Rese atau di daerah lain dikenal dengan sebutan tanglung, dedes, atau genduru merupakan salah satu kelompok binatang yang mengguntungkan. Jenis ini dapat dijumpai di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Madura, dan Bali.

Seperti halnya garangan, rese mempunyai kebiasaan mecari pakan berupa binatang lain atau tumbuhan dan buah-buahan. Namun, kesukaanya memangsa binatang lain lebih banyak. Jenis pakan yang disukainya adalah binatang kecil, seperti ular, tikus, dan katak. Karena kesukaannya terhadap tikus, rese tergolong sebagai binatang yang menguntungkan manusia. 

Rese sering berkeliaran di siang hari. Walaupun hidup liar di daratan, sekali-kali rese dapa memanjat. Tempat hidup kesukaannya adalah semak-semak belukar, atau rumput-rumput di sekitar perumahan penduduk.

Karena lebih sering dijumpai di semak belukar atau perladangan di sekitar pemukiman dibandingkan di hutan, jenis ini mempunyai kemampuan membantu mengurangi populasi tikus, baik di sekitar perumahan maupun persawahan. jenis binatang ini mudah dikenal oleh sebagian masyarakat karena kekhasannya.

Rese mudah dikenal karena mengeluarkan bau harum yang amat tajam. Bau harum ini dikeluarkan dari bagian pangkal ekornya. Akan tetapi, bau harum ini pula yang dijadikan alasan oleh manusia untuk memburunya. Tidak mengherankan bahwa sekarang jumlah rese di alam semakin menurun dan sudah semakin jarang dijumpai.

3. Kelelawar

Di Indonesia jumlah jenis kelelawar diperkirakan ada sekitar 130 jenis. Namun, dari jumlah sebanyak itu hanya ada satu jenis yang mempunyai kemampuan untuk membasmi tikus. Jenis kekelawar ini dikenal dengan sebutan kelelawar vampir palsu dan dapat dijumpai di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Bali, Nura Tenggara, dan Maluku.

Jenis kelelawar ini sering menggelantung di langit-langit gua atau terowongan bawah tanah. Tidak seperti pengendali biologi lainnya, seperti rese, garangan, burung, dan ular,kelelawar hanya memburu tikus kecil atau anakan tikus.

Jenis tikus dewasa yang memungkinkan dapat diburu kelelawar jenis ini adalah mencit sawah dan mencit rumah. Ukuran kelelawar ini memang kecil dan berbobot badan sekitar 15 gram. Jenis kelelawar ini dapat dibedakan dari kelelawar lainnya karena ukuran telinganya yang amat besar dibandingkan ukuran kepalanya.

4. Burung hantu

Burung hantu merupakan binatang malam. Adanya kesamaan hidup di malam hari dengan tikus ini membuatnya mudah mencari tikus. Burung ini merupakan pengendali biologi yang sangat efisien. Dalam satu malam burung hantu mampu menghabiskan sekitar 2-3 ekor tikus.

Tikus yang ditangkap tidak dimakan di tempat itu juga, tetapi dibawa ke tempatnya bertengger. Pengendalian tikus dengan menggunakan burung hantu ini telah dibuktikan sangat ampuh di sekitar perkebunan. Burung hantu yang dipelihara di sekitar perkebunan sawit terbukti mampu mengurangi jumlah tikus yang ada.

5. Ular

Ular merupakan kelompok reptil yang sangat efektif membantu petani dalam membasmi tikus. Sayangnya sekarang populasi ular sudah semakin menipis. Kebiasaan manusia yang merasa takut terhadap ular karena bisanya adalah penyebab semakin menurunnya populasi ular. 

Padahal, tidak semua jenis ular mengeluarkan bisa yang mematikan. Hanya sedikit jenis ular yang dapat digolongkan mampu mengeluarkan bisa mematikan. Ular juga diburu karena dapat dimanfaatkan sebagai obat. Kulitnya juga dapat dimanfaatkan.

Semakin berkurangnya populasi ular menyebabkan tikus semakin leluasa berkembang biak. Oleh karena itu, kebiasaan membunuh ular harus segera diakhiri.

6. Pengurangan jumlah anakan tikus

Populasi tikus dapat dikurangi dengan cara mengurangi jumlah anak yang dilahirkan. Sepasang tikus dalam satu tahun dapat menghasilkan sekitar 1.700 tikus. Jumlah itu sangat banyak. Pengendalian tikus dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah anakan yang dihasilkan dalam setiap kelahiran.

Dibanding sejumlah cara pemberantasa, cara ini dinilai sebagai cara yang paling kurang efektif. Kurang efektifnya cara ini disebabkan karena pemberantasan tidak dapat merasakan keberhasilan usahanya. Berkurangnya populasi tikus baru terasa untuk kurun waktu yang panjang, lebih dari 5 tahun.

Namun, cara yang disebut KB tikus ini tidak dianjurkan dalam pemberantasan atau hanya dapat dianjurkan untuk mengurangi atau pencegahan ledakan untuk kurun keberhasilan jangka panjang.

KB tikus ini dapat diupayakan dengan jalan memberikan umpan yang dicampurkan dengan kenjur atau buah terong-terongan liar. Kedua umpan ini mudah didapat dan mampu memandulkan induk tikus. Tikus disterilkan secara pelan-pelan dan berkelanjutan.

Pencegahan tikus dengan memberi umpan yang dapat memandulkan ini amat berguna, terutama apabila di sekitar perumahan, persawahan dan perladangan tidak ada hama tikus yang mampu merusaknya.

Pencegahan dengan menggunakan cara ini paling tidak akan berguna menjaga kelestarian musuh biologi tikus untuk tidak lari dari sekitar persawahan atau perumahan. Selain itu, usaha ini dapat mencegah musuh-musuh alami tikus mengganggu manusia, misalnya garangan memangsa anak ayam.

G. Jarak selang tanam

Jarak selang tanam dalam menana juga merupakan salah satu cara yang dapat membantu mengendalikan tikus. Pemberian celah tanam akan memberikan suasana terang di tengah-tengah hamparan tikus.

Suasana terang mengakibatkan tikus tidak suka tinggal di situ, terutama saat umur padi menginjak dewasa. Pemberian jarak selang tanam ini dapat dilakukan dengan cara membuat jarak 25-50 cm, untuk 1-2 meter tanaman padi.


Umpan Yang di Berikan Tikus

A. Pemilihan umpan

Pemilihan umpan yang harus diberikan pada tikus mempunyai cara tersendiri. Tidak semua umpan yang diberikan selalu didekati oleh tikus. Pemilihan umpan ini harus diusahakan berasal dari bahan yang paling murah atau merupakan bahan sisa-sisa manusia yang tidak dipergunakan kembali.

Umpan yang diberikan pada tikus dapat berupa ubi jalar, kelapa, tebu, ikan teri, dan gerusan kacang. Indra penglihatan tikus adalah indra yang kurang sempurna dibandingkan indra lainnya. Indra penciuman tikus merupakan indra utama yang selalu digunakan untuk mencari pakan.

Untuk itu, umpan harus diusahakan berupa pakan kesukaan tikus. Umpan harus menebarkan bau yang merangsang. Bau yang merangsang ini dapat dipergunakan sebagai daya tarik tersendiri bagi tikus agar mau mendekat.

Ikan teri, misalnya dapat dipilih karena menimbulkan bau yang merangsang. Umpan lain yang menebarkan bau adalah kelapa yang dibakar setengah matang, pido kacang, atau gerusan kacang goreng.

B. Pemilihan tempat umpan

Tempat juga merupakan syarat utama agar umpan yang diberikan tidak tercecer atau terkena air hujan. Memilih tempat umpan yang digunakan sebagai pemikat tikus untuk mendekat bukanlah hal yang mudah. Tempat umpan harus tidak memberikan kecurigaan bagi tikus untuk tetap menyinggahinya.

Tidak semua tempat umpan dapat digunakan sebagai penarik tikus. Tempat umpan harus dirancang sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kecurigaan tikus. Tempat umpan yang merupakan buatan manusia seperti kaleng bekas dan bentuk-bentuk lainnya merupakan tempat umpan yang kurang baik untuk dapat digunakan.

Tempat umpan sebaiknya berupa bahan yang bisa ditemukan di sekitar perumahan, misalnya yang terbuat dari bumbung bambu, serabut kelapa, pelepah pisang, dan daun kelapa. Pemberantasan dengan menggunakan umpan beracun dan peralatan perangkap hidup memerlukan cara tersendiri. Umpan tidak dapat diletakkan di sembarang tempat dan harus ditempatkan pada tempat yang sesuai.

Untuk mendapatkan jumlah tikus yang diharapkan, umpan harus ditempatkan pada lokasi yang sering dilewati oleh tikus atau ang dekat dengan tempat persembunyiannya. Di daerah persawahan dan perladangan, tempat yang bisa dilewati tikus biasanya adalah tanggul-tanggul, pinggiran jalan umum, semak-semak, pematang di sekitar jalan, dan pematang. Sebaliknya, tempat umpan di rumah adalah di atas atap, lorong-lorong, pojok dinding, atau di bawah lemari.

Strategi Pemberantasan Tikus

Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dalam pengendalian hama tikus, diperlukan strategi pemberantasan tikus yang disesuaikan dengan tingkah laku tikus. Pemberantasan terhadap tikus yang mampu membuat liang adalah salah satu pemberantasan yang amat sulit.

Kemampuannya menggali lubang dengan banyak pintu keluar mengakibatkannya susah diberantas. Pemberantasan tikus disesuaikan dengan daerah serangan tikus, yakni serangan berat dan serangan ringan.

A. Serangan berat

Tikus dengan tingkat penyerangan sangat berat berlainan cara pemberantasannya di bandingkan apabila serangan terjadi sewaktu-waktu. Serangan tikus berat biasanya mengartikan adanya jumlah tikus juga banyak. Apabila terjadi serangan berat, ada empat langkah yang dilakukan.
  1. Gropyokan yang diikuti dengan penempatan umpan berupa campuran racun akut sebanyak dua kali dengan selang waktu sekitar satu minggu. Selama gropyokan, persawahan dapat tetap diairi sehingga diharapkan tikus tidak lari.
  2. Pemberian umpan racun akut dapat menggunakan sabut kelapa, bambu, perangkap hidup, mati, atau lem perekat. Tidak dianjurkann menggunakan tempat umpan berupa kaleng bekas. Kedua cara tersebut dilaksanakan pada waktu masa sawah sedang tidak ditanami sampai masa pesemaian atau tanaman muda.
  3. Langkah selanjutnya adalah pada saat tanaman menginjak dewasa pemberantasan dapat dilakukan dengan menggunakan racun kronis (antikoagulan). Penggunaan racun akut pada masa ini akan memberikan hasil sia-sia karena tikus sudah mengalami jera umpan.
  4. Selama masa tanaman berbuah, upaya pengemposan dan pengasapan dapat dilaksanakan. Pada masa ini tikus biasanya bersembunyi di dalam liang karena juga sedang mulai berkembang biak. Pada masa tanaman berbuah ini dapat juga dilakukan pemberantasan yang dikombinasikan dengan menggunakan antikoagulan.

B. Serangan ringan

Serangan tikus di areal yang tidak banyak merugikan tidak berati menunjukan bahwa jumlah tikus sanga sedikit. Walaupun serangan tikus tergolong ringan, pemberantasan harus tetap dilakukan.
  1. Sebelum melakukan penanaman perencanaan waktu tanam harus tepat dan diikuti dengan pembongkaran liang. Pembongkaran liang dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu anjing.
  2. Pada masa tanaman muda hingga tanaman dewasa pemberian racun kronis (antikoagulan) dapat dilakukan sebanyak 2-3 kali.
  3. Pada masa pemanenan, pemberantasan dengan pengasapan sangat dianjurkan.


Strategi pencegahan

Tidak dijumpainya kerugian akibat tingkah laku tikus tidak berarti bahwa tikus telah habis. Tidak dijumpainya kerugian tersebut kemungkinan disebabkan oleh tikus yang sedang tidak berada di sekitar tempat itu. Barangkali tikus tetap ada meskipun serangan tidak berarti. Akan tetapi, pada suatu ketika serangan dapat muncul dengan cepat.

Untuk menghindari ledakan tikus, upaya mencegah serann merupakan langkah paling baik dibandingkan pemberantasan. Pencegahan yang dilaksanakan secara terus-menerus akan membawa menghindarkan serangan sepanjang masa.

Pencegahan munculnya tikus dapat dilakukan dengan menggunakan strategi sederhana, yaitu tetap menjaga sanitasi lingkungan. Upaya melalui pemberantasan secara fisik, mekanik, dan kimia juga dapat dilaksanakan. Pelaksanaan seperti pada pemberantasan serangan ringan, hanya jarak pemberantasannya diperlonggar.

Pembongkaran liang sebelum masa tanam harus tetap dilaksanakan. Pemberantasan dengan menggunakan antikoagulan juga dapat dilaksanakan semasa padi tumbuh sampai panen. Pemberian umpan antikoagulan ini hanya dapat dilaksanakan satu bulan sekali.

Memberikan pengendali biologi tetap ada di sekitar persawahan adalah salah satu cara yang paling tepat. Membiarkan rase, garangan, burung hantu, ular, atau kelelawar berkeliaran di sekitar pemukiman dan perumahan adalah langkah sangat baik. Selain dapat menjaga kelestarian binatang liar, kita juga akan mendapatkan keuntungan karena jumlah tikus akan tetap ditekan.


Sumber : Ibnu Maryanto

Type and hit Enter to search

Close