Breaking News

Obat tradisional ternak

Tumbuhan Sebagai Obat Ternak

Pemanfaatan material tumbuhan sebagai bahan ramuan obat tradisional oleh sebagian besar masyarakat adalah salah satu tradisi dan kepercayaan yang sudah dimanfaatkan secara turun temurun. Tradisi pemanfaatan tersebut sebagian sudah dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Namun, masih banyak tradisi pemanfaatannya yang belum dicatat dan disebarluaskan.


Penduduk yang bermukim jauh dari perkotaan dan tradisinya masih kuat menerapkan cara pengobatan tradisional dengan menanfaatkan bahan-bahan tumbuhan yang tersedia di sekitar pemukiman. Keberadaan berbagai jenis tumbuhan di daerah pedesaan dapat digunakan sebagai bahan utama bagi masyarakat untuk menjaga kesehatan dan pengobatan berbagai penyakit pada manusia ataupun hewan

Sebagian besar peternak Indonesia adalah petani peternak kecil yang memiliki ternaknya dalam jumlah sedikit. Umumnya, jenis ternak yang dipelihara adalah sapi, kambing, domba, kerbau, ayam, dan kelinci dengan pemeliharaan yang masih tradisional. Umumnya pengandangan ternaknya dilakukan di dekat rumah. Bahkan, ada yang menempatkannya di bawah satu atap dengan rumah tinggalnya. Penggunaan tumbuhan obat ternak juga masih terbatas pada jenis-jenis ternak tersebut.

Pada umumnya, pengobatan ternak tradisional umumnya menggunakan tumbuhan. Akan tetapi, ada juga dari hewan dan bahan-bahan lainnya. Penggunaan obat tradisional bagi ternak bukan saja untuk gangguan kesehatan, melainkan juga bertujuan untuk kenaikan berat badan ternak dan penambahan kekuatan ternak kerja dan hewan aduan atau pacuan. Umumnya, penggunaan obat tradisional itu digunakan oleh masyarakat pedesaan yang jauh dari tempat perawatan ternak.


Penularan Penyakit Pada Ternak

Pada dasarnya, hewan ternak sama dengan manusia, yaitu dalam hidupnya juga mudah terserang penyakit, apalagi kalau pemeliharaannya kurang diperhatikan. Berbagai penyakit juga menyerang ternak, terutama pada waktu pertukaran musim, pada awal musim hujan dan musim kemarau.

Berdasarkan sifatnya, penyakit ternak digolongkan menjadi penyakit menular dan tidak menular. Penyakit menular berarti penyakit tersebut mampu berpindah dari hewan yang sakit ke hewan lainnya yang peka. Penyebab penyakit menular adalah organisme kecil, seperti virus, rickettsia, bakteri, jamur, dan beberapa parasit darah, cacing, dan kutu. Penyakit tidak menular terutama barhubungan dengan makanan, seperti kurang mineral, tanaman beracun, dan racun.

1. Terjadinya penyakit karena kontak antara hewan peka dan sumber penyebab penyakit hewan yang sakit.

a. Hewan sehat melakukan kontak atau berdekatan dengan hewan sakit.

Beberapa penyakit dapat menular karena hewan berdekatan atau lewat perkawinan.

b. Hewan sehat memakan tanaman beracun

Beberapa tanaman secara alami ada yang mengandung zat beracun bagi ternak. Dalam jumlah berlebihan atau di atas batas toksinnya, efek keracunan terlihat sehingga keadaan hewan terganggu. Kejadiannya dapat juga karena rumput atau tanaman yang tersemprot racun serangga terarit dan termakan oleh ternak.

c. Hewan sehat memakan atau minum racun

Racun seperti racun serangga yang disimpan sembarangan oleh pemiliknya dan terminum oleh ternak dapat menyebabkan efek yang fatal sehingga ternaknya akan keracunan dan mati. Kejadian dapat juga karena tempat racun tidak dicuci bersih, kemudian digunakan sebagai tempat minum ternak.


2. Terjadinya penyakit karena hewan melakukan kontak dengan bahan-bahan yang dicemari bibit penyakit atau racun

  • Hewan memakan rumput atau tanaman yang tercemar bibit penyakit, seperti kuman, parasit, atau racun.
  • Hewan meminum air yang tercemar bibit penyakit, seperti kuman, parasit, atau racun.
  • Hewan ditempatkan pada kandang bekas hewan sakit yang bibit penyakitnya masih hidup pada kandang tersebut.

3. Penularan penyakit karena bibit penyakit yang dibawa oleh serangga

Terjadinya penyakit pada hewan sehat selain karena melakukan kontak dengan bahan-bahan yang dicemari bibit penyakit, juga karena penularan bibit penyakit yang dibawa oleh serangga, seperti nyamuk dan lalat. dibawa oleh peternak yang baru merawat ternak sakit menular atau karena penyakit yang terbawa angin.

4. Pencegahan penyakit dilakukan dengan mencegah kemungkinan cara-cara penularan penyakit secara umum

Vaksinasi merupakan cara pencegahan penyakit yang terbaik bagi penyakit-penyakit menular, terutama daerah yang sudah terjangkau oleh petugas penyuluh lapangan (PPL) atau petugas penyuluh setempat (PPS) dari Dinas Peternakan setempat. Sementara itu, di daerah pedesaan yang masih jauh informasi, biasanya petani menggunakan tumbuhan dan bahan-bahan lain dalam pencegahan dan pengobatannya. Di samping itu, petani membuat kandang sedemikian rupa yang memberikan kenyamanan pada ternak ataupun bagi si pemelihara.


Cara penularan atau kejadian penyakit pada ternak

a. Cara penularan penyakit

  1. Kontak langsung.
  2. Hewan sehat memakan tanaman beracun.
  3. Hewan sehat meminum atau menjilat racun seperti racun serangga dan racun tikus yang disimpan sembarangan.
  4. Kontak dengan bahan tercemar, bibit penyakit, atau racun.
  5. Bibit penyakit yang dibawa serangga, pekerja kandang, atauangin.

b. Cara pencegahan penyakit

Untuk mencegah penyakit harus dilakukan hal berikut.
  1. Hindari terjadinya cara-cara penularan penyakit.
  2. Lakukan vaksinasi pada hewan.
  3. Jauhkan hewan berkudis dari hewan sehat, baik yang baru dibeli maupun yang dipinjam untuk pemacak.
  4. Semprot kandang bekas hewan berkudis dengan basudin 60 yang encernya 0,1% (1 sendok teh basudin 60 + 1 ember air).

Penyakit dan Penanggulangannya

1. Mencret (diare)

Penyakit mencret terdapat pada sapi, kambing, ayam, atau semua jenis ternak. Penyakit ini mengakibatkan ternak kurus, malas makan, lemah, dan mudah mati jika tidak mendapat pertolongan. Tanda-tanda, kotorannya encer dan berbau, bulu tubuhnya kusam atau berdiri. Penyebabnya adalah makanan, bibit penyakit, atau kombinasi dari keduanya. Ternak yang sakit harus cepat dipisahkan dari kelompoknya untuk mencegah penularan pada yang lain.

Ternak yang tidak terkena penyakit, secepatya dipindahkan ke kandang lain. Penganggulangan pertama, buanglah sisa makan yang telah diberikan dan gantilah pakan yang mempunyai serat kasar tinggi. Pada kambing, sapi, dan domba jangan diberikan hijauan muda atau rumput semua. Campurlah pakan rumput dengan jenis lain yang sedikit kasar. Kandang harus tetap bersih.

Pengobatan penyakit mencret

  • Berikan campuran daun muda jambu biji, air teh pekat yang dicampur madu, dan parutan kunyit. Campuran ini diberikan dalam bentuk pakan tertama pada ayam, sapi, kambing,dan domba.
  • Berikan ketela pohon yang dipanggang sampai hangus dan direbus.
  • Berikan campuran arang kayu jati yang dihaluskan kira-kira 1/4 kg yang dicampur dengan sedikit air setelah disaring.
  • Berikan seduhan air hangat dengan beras yang disangrai, kemudian ditumbuk dan disaring.
  • Parutkan temu ireng, kunyit, kencur, lempuyang, yang dicampur dan ditambah dengan tempe busuk, kemudian bungkuslah campuran ini dalam kantong plastik,diamkan satu malam. Keesokan harinya campuran itu diperas. Air perasannya diminumkan pada sapi sebanyak tiga kali sehari.
  • Campurkan garam 1 sendok makan, gula 1 sendok makan, dan air 8 gelas kemudian berikan pada ternak yang sakit.
  • Parutlah batang pohon pisang bagian pangkal yang berada dalam tanah. Campurkan perasan tersebut dengan garam, buah pisang raja, Suapkan pada ternak yang sakit.
  • Masak campuran 5 gram kapur sirih, segenggam daun jambu biji dalam 1 liter air. Didihkan sampai tinggal separuhnya. Saring dan minumkan pada hewan sekali sehari selama 3 hari.
  • Bakarlah bawang merah sampai hangat, lalu ditumbuk dan dicampurkan ke dalam pakan ayam.


2. Cacingan

Penyakit cacingan merupakan penyakit saluran pencernaan yang umum dijumpai pada ternak yang menimbulkan infeksi (luka) pada usus. Pada infeksi yang berat, terlihat tanda-tanda, kurus pada ternak, bulu agak berdiri, dan tidak mengkilap, hewan pucat dan lesu, nafsu makan menurun, dan kandang-kandang sembelit atau mencret. Apabila diperiksa pada kotorannya, biasanya dapat ditemukan potongan cacing.

Penyakit cacing itu menulari semua ternak. Dalam hal ini, kebersihan kandang sangat terjaga terutama pada ayam karena kotoran ayam capat menulari yang lainnya. Pada ternak sapi dan kambing jangan menggembalakannya pada daerah-daerah dekat rawa, sungai, sawah yang banyak terdapat siput air. Mengarit rumput dilakukan setelah hari panas atau sekitar pukul 12.00-15.00. Penggunaan obat-obat tradisional untuk memberantas cacingan sangat dianjurkan.

Pengobatan penyakit cacing

  • Temu ireng sebanyak 2 ons dihaluskan dan dicampurkan dengan 1,5 liter air, kemudian disaring dan diminumkan kepada sapi, kambing, atau domba sebanyak 1-3 kali.
  • Tunas muda sente dirajang dan dicampur dengan nasi atau ubi kayu, lalau diberikan kepada sapi, kambing, atau domba.
  • Biji pinang tua ditumbuk halus dan ditambah sedikit air, lalu diminumkan atau diampurkan ke dalam pakan ayam, sapi, kambing, domba.
  • Bawang putih ditumbuk dan ditambah air sedikit, lalu diminumkan dan dicampurkan pada pakan ayam.
  • Jangung pisang hijau, atau bagian tandan bunga pisang yang tidak menjadi buah dimasak dengan air sampai mendidih, airnya diminumkan kepada pedet atau anak sapi.
  • Sebanyak 2 potong tempe busuk, 1 genggam temu ireng, sedikit jinten, dan brotowali dicampur dalam 10 gelas air. Masaklah sampai mendidih, saring, dan minumkan kepada semua ternak.

3. Kudis

Kudis atau buduk adalah penyakit yang diakibatkan oleh infeksi parasit kulit. Tanda-tanda penyakit itu adanya kerak-kerak pada permukaan kulit, hewan selalu menggesekkan bagian tubuh yang terserang kudis, bulu rontok, kulit menjadi kaku dan tebal. Penyakit itu paling sering menyerang ternak kambing. Pada infeksi berat penyakit kudis dapat mengakibatkan ternak mati karena kurangnya nafsu makan. Biasanya bagian tubuh yang lebih dahulu terserang adalah daerah kaki, ambing, dan telinga. Penyebabnya terutama kandang yang kurang bersih.

Untuk mencegahnya, kandang harus dibersihkan dari kotoran atau bahan-bahan tempat bersarang kutu-kutu dan kuman-kuman. Kemudian, ternak (terutama pada kambing) dimandikan dengan air suam-suam kuku sambil menggosok bagian yang terserang kudis dengan sabun atau buah mengkudu. Setelah itu, ternak dijemur dan ditempatkan pada kandang terpisah, lalu diberi pengobatan.

Pengobatan kudis

  • Campuran belerang dan oli bekas atau minyak kelapa yang kental dioleskan dengan cara menggosokkannya secara merata.
  • Dapat digunakan insektisida, seperti basudin 60 secara hati-hati menurut petunjuk yang di berikan. Insektisida diencerkan menjadi 0,1% (1 ml basudin ditambah 1 liter air), lalu digosokkan secara merata di bagian yang terserang. Apabila kudis sudah menyerang seluruh tubuh, ternak dapat direndamkan di dalam air beberapa saat dengan hati-hati, jangan sampai terkena bagian kepala (sebatas leher). Kemudian ternak dijemur di panas matahari dan dijauhkan dari ternak lain.
  • Ternak juga dapat juga direndam dengan tumbuhan daun muda pohon pinang sambil menggosok bagian yang terserang penyakit.
  • Ternak diasapi dengan belerang yang dibakar memakai tempurung kelapa.
  • Untuk sapi, pengobatannya dilakukan dengan memberi ternak dengan tokek yang dipanggang dan diteteskan asam aki bekas pada yang terserang.
  • Daun sambiloto ditumbuk halus, lalu dioleskan pada bagian yang terserang kudis setelah ternak dimandikan.
  • Daun sirsak ditumbuk, lalu dioleskan pada bagian yang terkena kudis.
  • Segenggam daun kenari yang dicampurkan kulit batang duku yang ditumbuk dan sedikit belerang digosokkan pada ternak.

4. Perut kembung

Perut kembung disebabkan oleh adanya kegagalan pengeluaran gas secara normal dan proses pembentukan gas asal makanan dalam perut terlalu cepat. Tanda-tanda penyakit itu, hewan terlihat gelisah dan sulit bernapas. Daerah perut sebelah kiri terlihat kembung sedikit ke atas dan bila dipukul akan terdengar suara kendang. Apabila tidak diberikan pertolongan, biasanya berakibat fatal, yaitu kematian. Biasanya, penyakit itu menyerang ternak sapi, kambing, kerbau, dan domba.

Penyakit itu biasanya disebabkan oleh pemberian pakan yang basah atau pakan yang diarit pagi hari yang masih berembun, dapat juga terjadi karena pemberian jenis polong-polongan dan biji-bijian yang terlalu banyak. Untuk itu, hindari pemberian pakan basah dan berikan rumput dan jenis lain dengan seimbang. Apabila tidak ada pakan lain karena keadaan terpaksa maka untuk pencegahannya rumput atau pakan tersebut dibasahi dengan minyak kelapa atau minyak kacang. Dapat juga ternak dicekok terlebih dahulu dengan minyak-minyak tersebut.

Pengobatan perut kembung

  • Pada mulut hewan diikatkan kayu agar tetap terbuka. Hewan dicekok dengan minyak kelapa atau minyak kacang yang dicampur parutan jahe sebanyak satu gelas. Perut yang kembung ditekan-tekan sehingga dapat membantu pengeluaran gas.
  • Kulit mahoni ditumbuk dan tambahkan sedikit air, lalu diminumkan kepada ternak.
  • Daun sembukan diremas atau ditumbuk, lalu dicampur dengan minyak kelapa yang sudah dipakai (jelantah) kemudian dibalurkan atau digosok-gosokkan di bagian perut yang menonjol sebanyak dua kali sehari.
  • Sebilah pelepah daun pepaya dimasukkan ke dalam anus ternak untu membantu mengeluarkan gas.
  • Masukan 10 buah asam jawa yang masak ke dalam air hangat, tambahkan gula merah, dan lima buah kunyit yang direbus, aduk-aduk sampai merah. Campuran itu diminumkan dengan menggunakan botol atau batang bambu. Usahakan agar mulut ternak dapat terbuka dengan cara menyelipkan sebatang kayu atau bonggol jagung di atara rahang bawah dan rahang atas.
  • Buatlah campuran dari minyak kelapa seember kecil dengan air kelapa muda, lalau campuran itu diminumkan sekaligus.
  • Pohon pisang yang sudah membusuk diperas airnya, lalu minumkan pada ternak.
  • Bagian yang menonjol dari perut dibaluri atau digosok-gosok dengan kapur sirih.
  • Kulit kayu nangka dicampur dengan garam atau air laut dan ditempelkan atau diusapkan pada bagian perut.

5. Keracunan

Keracunan terjadi karena ternak mengonsumsi pakan yang mengandung racun. Beberapa jenis tanaman berupa rumput-rumputan atau daun-daunan mengandung zat razun. Tanda-tanda hewan keracunan tanaman adalah mulut berbusa, kejang-kejang, kebiruan pada selaput lendir, dan pendarahan pada kotorannya. Keracunan yang banyak dan berlangsung lama dapat menimbulkan kematian mendadak.

Untuk mencegah agar ternak tidak keracunan, pemberian jenis pakan harus diperlihatkan atau jangan menggembalakan ternak di daerah  yang banyak tumbuh tanaman yang mengandung racun, seperti tanaman antanan, bayam merah, eceng, jelateng, pakis haji, dan pakis kembang. Pengobatan pada hewan keracunan jarang berhasil, terutama apabila racun tersebut sudah beredar dalam darah.

Pengobatan keracunan

  • Apabila keracunan baru terjadi, portolongan dapat dilakukan dengan memberikan arang aktif atau air kelapa muda. Berikan 2-3 potong arang seempu jari atau air kelapa muda.
  • Air kelapa muda sebanyak 1-2 buah dengan dagingnya yang ditambah minyak kelapa, diminumkan kelapa ternak.
  • Asem sebanyak 1/2 kg ditambah garam dan gula tebu/aren secukupnya, disedu dengan air hangat, lalu diminumkan kepada ternak.
  • Minyak goreng sebanyak 4 sendok diminumkan kepada ternak.
  • Air daun jati muda sebanyak 2 gelas diminumkan kepada ternak.
  • Apabila keracunan disebabkan oleh insektisida, minumkan santan kelapa yang hangat kepada ternak.

6. Sakit mata

Sakit mata disebabkan oleh peradangan pada selaput lendir mata. Penyebabnya dapat berupa fisik atau benda, seperti ujung rumput, duri, debu, atau berupa bibit penyakit, seperti virus dan bakteri. Tanda-tandanya mata selalu berair, selalu tertutup, berkedip-kedip menghindar sinar, kelopak mata membengkak, atau mata menjadi merah. Mata menjadi keruh dan terjadi borok pada selaput bening sehingga dapat menimbulkan kebutaan.

Pencegahan sakit mata

Pencegahannya, ternak yang sakit harus dipisahkan dari ternak yang sehat karena penyakit mata cepat sekali menular, terutama yang disebabkan virus. Kandang harus dibersihkan untuk menghindari lalat yang dapat menyebabkan bibit penyakit. Hindarilah makanan yang berduri tajam atau alang-alang. Periksalah dengan hati-hati ternak yang sakit mata dan amati dengan cermat, apakah terkena benda tajam atau bakteri atau virus. Apabila matanya terkena benda tajam atau duri, keluarkan pelan-pelan.


7. Demam

Demam ternak ditandai dengan suhu tinggi pada ternak, badan panas, dan kelihatan lemah. Biasanya nafsu makan menurun dan selalu dalam posisi tidur.

Pengobatan demam ternak

  • Sebanyak 2-3 buah air kelapa muda dengan daging buahnya diminumkan kepada ternak.
  • Kunyit ditumbuk sebanyak 1 kg ditambah 1 gelas madu dan 5-10 butir telur, lalu diminumkan kepada ternak.
  • Buah kundur diperas dan ditambah 10 butir telur, lalu diminumkan kepada ternak.
  • Daun sambiloto direbus, airnya diminum atau ditumbuk, kemudian digosokkan ke seluruh tubuh.
  • Rimpang kencur dan jahe diparut dengan jumlah yang sama, kemudian dicampurkan ke dalam pakan.
  • Buat campuran daun kapuk yang dipres dengan beberapa butir telur, lalu disuapkan kepada ternak.
  • Daun kapuk sebanyak 300 gram diberi air dan dipres, disaring, kemudian dicampur sedikit garam dan gula merah. Minumkan pada ternak dua kali sehari.
  • Daun rambutan dipres atau diremas dengan air, lalu dicampur dengan beberapa butir telur ayam kampung, dan minumkan kepada ternak.
  • Daun pepaya dan cabai rawit ditumbuk dan disuapkan kepada ternak.

8. Luka

Luka pada ternak disebabkan oleh berbagai hal. Misalnya, akibat menggosokkan bagian tubuh ke benda keras, seperti yang terjadi pada kembing dan sapi atau akibat perkelahiran yang terjadi pada ayam. Akibatnya, dapat menimbulkan penyakit lain, seperti belatung atau peradangan. Pengobatan tradisional yang biasa digunakan yaitu :

Pengobatan luka

  • Luka dibersihkan dengan air daun sirih yang sudah direbus, lalu dibubuhkan campuran kapur sirih dan kunyit.
  • Apabila akibat pemotongan, misalnya benjolan atau kutil, lukanya diobati dengan campuran daun mangkok yang ditumbuk dengan sari udang atau petis udang, kemudian oleskan pada bagian yang luka.
  • Apabila terjadi peradangan, dibubuhkan campuran biji pinang, tawas, dan kapur sirih pada luka tersebut.
  • Daun kapuk (randu) ditumbuk, lalu ditempelkan pada bagian yang luka.
  • Kunyit digoreng sampai masak, lalu ditumbuk dan ditempelkan di bagian luka.
  • Kunyit kayu hidup diparut, diperas, dan dicampur dengan kapur, lalu ditempelkan pada bagian luka.
  • Kunyit kayu ditumbuk dan dijemur, setelah agak kering digosokkan.
  • Bubuk batu baterai dicampur dengan minyak tanah, lalu ditempelkan pada luka.
  • Akar kayu ular direbus dan dibuat bubuk, lalu dicampur dengan air panas, kemudian campuran dikunyah dan disemburkan pada luka.

9. Radang susu

Radang susu disebabkan oleh infeksi kuman pada sel-sel kelenjar susu. Radang susu itu menyebabkan ambing membengkak dan kemerahan warnanya : ternak kesakitan apabila disentuh. Apabila ambing diperah, air susunya dapat berwarna pucat, kuning tua, kehijauan atau kemerahan. Air susu kadang-kadang encer atau kental. Biasanya, penyakit itu menyerang ternak sapi dan kambing.

Untuk mencegah penyakit itu, seharusnya kandang selalu bersih dan kering agar kuman-kuman tidak bersarang. Kandang yang becek dan kotor merupakan sumber infeksi kuman. Pada waktu memerah susu seharusnya tangan dicuci dahulu dengan bersih. Daerah sekitar ambing dan putting susu dibersihkan juga. Setelah memerah, putting susu dicelupkan ke air pembersih.

Pengobatan radang susu

  • Induk diberi campuran kuning telur dan madu.
  • Kunyit dihaluskan, direbus, ditambah gula merah, dan beberapa butir telur, lalu diminumkan kepada ternak.
  • Puting susu dibersihkan dengan air hangat, lalu dibalurkan dengan campuran kunyit dan asam jawa yang dihaluskan.
  • Puting dan ambing susu dibersihkan dengan air hangat, lalu dibalurkan dengan campuran kunyit dan asam jawa yang dihaluskan.
  • Puting dan ambing susu dibersihkan dengan rebusan air sirih, kemudian dibalurkan atau ditempelkan campuran kencur dan jahe yang dihaluskan.

10. Puru

Puru adalah penyakit kulit menular yang menyebabkan adalah virus. Jika hewan terserang penyakit puru, akan kelihatan benjolan-benjolan atau keropeng di daerah sekitar mulut (bibir dan liang hidung). Di daerah sekitar mulut akan menjadi membengkak dan berbau tidak enak. Jika penyakitnya meluas dan menyerang bagian kelopak mata, kaki, ambing, dan sebagainya. Penyakit itu cepat menimbulkan kekurusan pada ternak karena menurunkan nafsu makan.

Pencegahannya, selain menjaga agar kandang bersih dan berikan rumput atau pakan yang lunak.

Pengobatan puru

  • Bagian yang terserang dibersihkan dengan air suam-suam kuku dan setelah kering dioleskan belerang.
  • Biji jarak pagar ditumbuk, kemudian digonseng dan ditambahkan minyak kelapa sedikit, lalu dioleskan di waktu masih agak panas. Sebelumnya, bagian yang terserang dibersihkan.
  • Kunyi dibakar sampai hangus, dihaluskan, ditambahkan minyak kelapa, lalu ditempelkan pada luka.
  • Jarak merah yang isi batangnya dikerok, dihaluskan, lalu dibalurkan pada luka.

11. Kejang rumput

Kejang rumput terjadi akibat kekurangan mineral terutama kadar mg (magnesium) di dalam darah. Hewan yang terserang penyakit ini mengalami kekejangan, seperti terjatuh tiba-tiba, kaku, sering kencing, dan kecajang-kejang 2-3 hari berikutnya. Penyebabnya kekurangan mendapat rumput atau pakan yang tua yang mengandung kadar magnesium tinggi. Penyakit ini sering menyerang kambing atau domba.

Pencegahannya dilakukan dengan memperhatikan makan yang diberikan. Jangan terlalu banyak memberikan rumput-rumput muda karena kandungan magnesiumnya rendah. Jangan menggembalakan di dekat sumur-sumur yang rumput-rumputnya baru tumbuh. Pakan dicampur dengan jerami tanaman, kacang-kacangan, padi-padian, atu rumput tua. Pengotaban dilakukan dengan memberikan rebusan akar alang-alang kepada ternak.


12. Kuku busuk

Kuku busuk diakibatkan oleh infeksi kuman pada daerah kuku. Tanda-tandanya hewan terlihat pincang, telapak dan samping kuku koyak, serta adanya bau busuk yang menusuk hidung. Penyakit ini disebabkan oleh kandang yang kurang bersih atau kotoran yang menggumpal sehingga bersarang kuman. Kandang yang lembab, becek, dan kotor merupakan sumber kuman yang dapat masuk ke kuku. Pencegahan dilakukan dengan membersihkan kandang dan memotong kuku hewan yang terinfeksi. Penyakit itu sering menyerang kambing, domba, dan sapi.

Pengobatan kuku busuk

  • Air sirih direbus sampai mendidih, kuku jari yang terserang direndamkan ke dalam air rebusan yang masih agak panas, kemudian bagian yang terkena dibalut dengan kain bersih atau perban. Hal itu diulang setiap hari.
  • Insektisida dicampurkan sedikit ke dalam air suam-suam kuku, kuku yang terserang direndam setelah dibersihkan.
  • Kunyit diparut dan disaring dengan air, kemudian diminumkan kepada ternak yang terserang penyakit atau parutan kunyit ditempelkan pada bagian yang terkena penyakit.
  • Cecak atau tokek dibakar, dihaluskan, dicampur bekatul, lalu diberikan pada ternak.

13. Kutu

Kutu pada ternak sangat merugikan karena mengisap darah dan menimbulkan kegatalan. Hal itu menyebabkan hewan gatal-gatal dan tidak tenang. Hewan cepat kurus sehingga pucat dan lesu, bulu agak berdiri. Kutu itu menyerang semua ternak. Pencegahannya dilakukan dengan menjaga agar kandang bersih dan tidak lembap serta menyemprot kandang dengan insektisida sesuai dengan petunjuknya.

Pengobatan kutu

  • Untuk kambing, sapi, bulu dicukur. Kemudian, dilakukan pengobatan dengan merendam ternak tersebut dengan insektisida, seperti basudin 60 dan servin (kira-kira 1/2 sendok teh insektisida dalam 1 liter air). Setelah direndam, ternak dijemur supaya terkena panas matahari.
  • Ternak dimandikan dan digosok dengan sabut kelapa. Setelah dijemur sampai kering, seluruh tubuhnya digosok dengan tumbukan daun randu, daun sawo, atau daun sirsak.
  • Parutan kunyit dan daun randu direbus, ternak lalu dimandikan dengan air rebusan tersebut sambil digosok.
  • Daun galing ditumbuk dan dicampur belerang dan minyak, kemudian digosok-gosokkan pada seluruh tubuh,
  • Daun kayu putih dirajang halus-halus, lalu ditaburkan pada kandang ternak.

14. Tetelo

Penyakit tetelo hanya menyerang ternak ayam. Penyakit itu sangat ganas dan dapat menimbulkan kematian 100%. Biasanya, penyakit itu menyerang di musim kemarau atau pada waktu perubahan musim. Penyakit itu dikenal juga dengan sampar ayam, pes, cekak, atau ND. Ayam yang terserang penyakit itu mempunyai tanda-tanda, antara lain ayam susah bernapas, jengger dan kepalanya kebiru-biruan, tidak dapat makan, dan sayapnya terkulai. Pencegahannya harus dilakukan sejak dini dengan cara vaksinasi. Pencegahan dan pengobatan dapat pula dilakukan secepatnya.

Pengobatan tetelo

  • Bawang putih ditumbuk, dicampur air sedikit, lalu diminumkan. Obat itu diberikan dua kali seminggu (pencegahan).
  • Parutan atau irisan jahe, kencur direbus, dan diminumkan. Obat itu diberikan dua kali seminggu (pencegahan).
  • Daun pepaya diiris kecil, dicampurkan pada makanan, dan diberikan dua kali seminggu (pencegahan).
  • Daun gebang direbus dan direndam, dan airnya diminumkan kepada ternak (pengobatan).
  • Kulit dalam dari tanaman turi ditumbuk dan dicampur dengan air, lalu diminumkan kepada ternak.
  • Kapur dicairkan, kemudian disaring dan diminumkan kepada ayam.
  • Kapur dengan beras dihaluskan, lalu dicampurkan ke dalam pakan.
  • Batang genura dibakar dan ditumbuk, lalu dicampur dengan air hangat dan diminumkan kepada ternak.

 15. Penambahan nafsu makan

Hilangnya nafsu makan ternak disebabkan beberapa hal. Hal itu terjadi karena penyakit dan juga dari jenis ternak itu sendiri yang tidak rakus untuk makan. Akibatnya, pertumbuhannya digunakan adalah sebagai berikut.
  • Temu ireng, temu lawak, kunyit, lempuyang, kencur, dan 10-15 mengkudu ditumbuk. Campurannya diberikan sekali sebulan kepada semua jenis ternak.
  • Batang brotowali ditumbuk, ditambah sedikit air, dan diberikan ke dalam campuran pakan ternak.
  • Daun sambung, pancasuda, daun lempeni, daun kemanden, kayu jalu mampang, kayu adem mati, kayu anyeng, kayu ulet, kayu pulai pandak, kayu pranajiwa direbus, lalu diminumkan pada ternak. Rebusan itu diberikan sekali sebulan.
  • Sebanyak 15 lembar daun keladi atau talas yang ditambah lima sendok garam dimasak dan disuapkan pada sapi dan kambing. Daun itu diberikan sekali seminggu.
  • Buah mengkudu disuapkan pada hewan setiap hari sampai nafsu makan kembali.
  • Campuran gula merah dan asam jawa dimasak dan ditambahkan beberapa butir telur ayam kampung. Campuran itu diberikan pada hewan sekali seminggu.
  • Lempuyang dan telu lawak digiling, kemudian dimasak dengan air, dan dicampur kecap, air itu diberikan dua kali seminggu.
  • Untuk anak sapi, dicampurkan 3 butir telur bebek, daging buah kelapa muda, dan 3 sendok gula pasir. Campuran itu diberikan sekali seminggu.
  • Daun jarak direndam dalam air garam yang disimpan dalam wadah dari tanah liat, lalu disimpan selama beberapa bulan. Air itu diberikan sebanyak satu sendok larutan tersebut pada sapi sekali sehari.

16. Jamu tradisional untuk ternak

  • Air rebusan alang-alang disaring untuk menghangatkan badan.
  • Temu ireng, temu kunci, temu lawak, kencur, kunyit, jahe, lengkuas, dan lempuyang diiris tipis-tipis dan dicampur garam. Irisan itu dijemur dan ditumbuk seperti tepung. Masing-masing diperkirakan sama banyak. Jamu yang dicampur air itu diberikan kepada ternak sapi, kambing, dan ayam sekali seminggu untuk menambah nafsu makan dan kekebalan tubuh.
  • Sebanyak 3 buah pepaya yang masak diberikan kepada ternak untu mencegah keguguran.
  • Diracik jamu gejahan 2 kg kencur ditambah 2 kg temu ireng, 1/2 kg gula aren atau kelapa, 1.2 kg asam, 1/2 kag jahe, daun beluntas, kunyit, daun jeruk purut, temu kunci, daun sirih, ketumbar, lada, dan 10 butir kuning telur. Semua bahan diparut, dihaluskan, dan dimasak. Untuk menjaga kondisi tubuh pada waktu hamil tua, jamu itu memperlancar kelahiran dan memperlancar keluarnya air susu.
  • Ketela pohon, bekatul, jagung, gula, dan daun nangka dimasak, lalu diminumkan kepada ternak untu memperlancarkan keluarnya air susu.
  • Rendaman air tebu yang ditambahkan asem dan garam secukupnya, disaring, lalu diminumkan. Rendaman itu diberikan kepada induk sapi, kambing, kuda, domba yang baru melahirkan.
  • Sebanyak  3 sendok makan, air perasan kunyit yang ditambah dengan buah kundur, dan kuning telur diminumkan 2 kali seminggu.

Sumber : Ir. Wirdateti

Type and hit Enter to search

Close