Breaking News

Manfaat kulit hewan

Salah satu dari hasil ikutan ternak yang nilai ekonomisnya tinggi. Kulit pada umumnya dimanfaatkan dan diolah menjadi kulit samak. Kulit yang telah disamak mempunyai harga yang cukup mahal di pasaran. Kulit samak sangat diperlukan oleh industri-industri, seperti industri sandal, sepatu, dan pakaian. Kulit itu kemudian diolah dan menghasilkan produk. Hasil produk itu di pasar mempunyai harga jual yang tinggi. Itulah sebabnya, pengusaha industri sandal atau sepatu berani membeli samak dengan harga yang cukup tinggi. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang yang tertarik untuk melakukan usaha penyamakan kulit, baik secara besar-besaran maupun sebagai pekerjaan sambilan di rumah (home industri).



Dalam penyamakan kulit, tidak semua bagian dari kulit dapat disamak. Kulit yang memenuhi syarat adalah kulit yang baik dan bebas dari cacat sehingga hasil penyamakan dapat sempurna dan memuaskan. Cacat pada kulit, pada umumnya disebabkan oleh kekuranghatian pada waktu proses menguliti ternak. Selain itu, terdapatnya kuman-kuman pembusuk dalam kulit, serta proses pengeringan yang terlalu panas, cepat, atau terlalu lama. Akibatnya, kulit yang rusak itu dapat juga disebabkan oleh adanya vlek-vlek busuk, goresan yang terlalu dalam, dan cacat karena dimakan kutu. Kulit yang cacat dan tidak digunakan sebagai kulit penyamak, akan menjadi limbah dan dibuang.

Limbah yang tidak berguna sebagai bahan kulit penyamak, seperti kulit bagian kaki, kulit bagian kepala, dan kulit yang dianggap cacat masih dapat digunakan dan diolah. Limbah itu diproses menjadi bahan makanan yang sangat tinggi nilai gizinya, yaitu kerupuk kulit. Kerupuk kulit (kerecek) mengandung gizi yang cukup tinggi, dengan kandungan protein sekitar 80%. Protein ini sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia sebagai zat pembangun sehingga sangat berguna untuk pertumbuhan anak-anak balita.

Kerupuk kulit dapat digunakan sebagai hidangan sehari-hari dalam suatu keluarga untuk memenuhi kebutuhan gizi terutama di daerah pedesaan. Selain bergizi tinggi, makanan ini mempunyai rasa dan aroma yang sangat khas dan enak dimakan. Kerupuk kulit ini banyak digemari masyarakat, baik anak-anak maupun dewasa, yang tinggal di perkotaan ataupun di pedesaan, dari kalangan atas atau dari kalangan bawah.

Selain dapat diolah menjadi kerupuk kulit, limbah kulit dapat juga diolah menjadi lem dan zelatin. Indonesia tiap tahun masih kekurangan produksi lem kulit sehingga sampai saat ini masih mengimpor lem kulit dari luar negeri. Hal ini seharusnya tidak perlu terjadi sebab usaha peternakan di Indonesia cukup maju dan produksi kulit di Indonesia cukup tinggi. Akan tetapi, produk sampingan dari ternak ini (kulit) belum dimanfaatkan secara optimal sehingga produksi lem kulit di Indonesia relatif masih sangat sedikit. Penyebabnya adalah orang Indonesia masih awam tentang seluk beluk teknik perkulitan. Selain itu, para pengusaha belum tertarik untuk bergerak di sektor industri lem kulit.


Langkah Awal

A. Syarat 

Persyaratan khusus tidak diperlukan dalam memanfaatkan limbah kulit. Berikut hal yang perlu diperhatikan.

1. Ada keinginan dan kemauan

Segala macam pekerjaan jika dilakukan tanpa ada kemauan yang keras, hasilnya akan sia-sia bahkan dapat mendatangkan kerugian. Untuk itu, kemauan keras adalah syarat utama yang diperlukan untuk mengolah limbah kulit.

2. Bahan baku mudah didapat

Bahan baku untuk membuat kerupuk kulit atau lem kulit adalah kulit segar atau kulit kering/kulit awetan. Semua jenis kulit dapat digunakan sebagai bahan baku kerupuk kulit. Masyarakat tidak akan mengalami kesulitan untuk mencari kulit sebab di daerah pedesaan sebagian besar penduduknya adalah petani dan peternak.

3. Alat yang digunakan tersedia

Alat-alat yang dibutuhkan dalam pembuatan kerupuk kulit atau lem kulit, cukup sederhana dan banyak tersedia di pedesaan. Hanya yang perlu didatangkan dari kota adalah termometer untuk pembuatan lem kulit.

4. Tercukupi sinar matahari

Dalam pembuatan kerupuk kulit atau lem kulit diperlukan sinar matahari yang cukup. Sinar matahari diperlukan untuk menjemur kulit sebelum diolah lebih lanjut. Oleh karena itu, proses membuat produk itu, sebaiknya dilakukan pada musim kemarau.

5. Biaya atau modal

Biaya untuk membuat kerupuk kulit atau lem kulit relatif sangat sedikit sehingga dapat terjangkau oleh masyarakat di pedesaan.


B. Alat yang digunakan

Proses pembuatan kerupuk kulit atau lem kulit tidak membutuhkan alat-alat yang khusus, tetapi alat-alat yang digunakan sangat sederhana.

Alat yang digunakan untuk membuat kerupuk kulit

  • Panci atau kuali.
  • Bejana, bak air, dan tong.
  • Tungku pemanggang.
  • Lempengan seng bekas.
  • Pisau.
  • Alat penjemur kulit.

Alat yang digunakan dalam membuat lem kulit

  • Bak perendaman yang digunakan untuk merendam kulit dapat berupa tong bekas, blek, atau bak yang terbuat dari tanah liat.
  • Penjepit kayu ini digunakan untuk menjepit kulit dari bak perendaman.
  • Tempat pemanasan (ekstraksi) alat yang digunakan untuk pemanasan disebut waterbath dan alat ini sudah dapat mengatur sendiri suhu atau pemanas yang diinginkan. Waterbath digunakan agar larutan lem tidak terbakar akibat pemanasan. Apabila tidak mempunyai alat ini, dapat dipakai alat pemanas biasa dan harus benar-benar dijaga suhunya.
  • Termometer digunakan untuk mengukur suhu.
  • Kain penyaring yang digunakan untuk menyaring sebaiknya kain yang halus misalnya kain blacu.
  • Alat pengaduk.
  • Alat pencetak dapat digunakan dari blek, seng, atau almunium.
  • Alat pengering ini merupakan dari kawat atau tali plastik yang dianyam dan berfungsi untuk tempat pengeringan kulit.

C. Bahan yang digunakan

1. Bahan yang digunakan dalam pembuatan kerupuk kulit

  • Kulit, semua jenis kulit ternak pada umumnya dapat dijadikan bahan baku kerupuk kulit. Gunakanlah kulit-kulit yang tidak dapat disamak (kulit yang rusak atau sisa-sisa penyamakan), agar tidak mengeluarkan modal yang besar.
  • Bahan bumbu, garam, ketumbar, asam kawak, dan bawang putih.
  • Minyak goreng.

2. Bahan yang digunakan dalam pembuatan lem kulit

  • Kapur.
  • Kulit.

D. Proses pengulitan

Sebelum melakukan pembuatan kerupuk kulit atau lem kulit, perlu pengadaan bahan baku berupa kulit. Bahan baku yang sering diperginakan dalam pembuatan kerupuk kulit adalah kulit-kulit ternak yang berasal dari sapi dan kerbau. Bahan kulit sapi atau kerbau dapat dibeli di rumah-rumah pemotongan hewan atau di tempat perusahaan penyamak kulit. Namun, kalau kita mempunyai bahan baku dari ternak sendiri yang hendak dipotong, dalam proses pengulitan perlu hati-hati agar kulit yang diperoleh baik kualitasnya.

Menguliti ternak potong adalah memisahkan kulit dari badan ternak dengan memisahkan antara kulit bagian dalam dan dagingnya. Berikut proses pengulitan ternak potong.
  1. Kulit dipisahkan dari dada bawah ke arah leher, lalu dari dada bawah ke arah pusar. Namun, sebelum itu lakukan sayatan mulai dari titik penyembelihan atau gelambir menuju tengah-tengah perut dan terakhir di ekor.
  2. Buatlah sayatan melingkar di persendian lulut pada keempat kaki.
  3. Kulitilah keempat kaki tersebut, dimulai dari kaki depan kiri dan kaki belakang kiri kemudian kaki sebelah kanan.
  4. Kemudian, bagian bahu dikuliti dengan memakai pisau secara hati-hati disertai terikan.
  5. Bagian samping badan ternak dikuliti mulai dari paha atas ke bawah.
  6. Gantungkan kaki bagian belakang dan rentangkan. Tinggi gantungan lebih kurang 1,5 meter agar bagian bahu masih menyentuh tanah.
  7. Pisahkanlah kulit dari bagian ekor dengan pisau secara hati-hati.
  8. Pisahkan kulit bagian pantat, lalu tariklah dengan tangan.
  9. Kulit ditarik ke bawah dengan pelan-pelan sampai di daerah punuk.
  10. Mulai dari punuk, kemudian ke sisi bahu kiri dan kanan serta leher dikuliti secara pelan-pelan dengan memakai pisau sambil ditarik dengan tangan.
  11. Setelah kulit lepas, kemudian disimpan di tempat yang baik.
Dalam proses pengulitan, sama sekali tidak boleh memakai pisau yang runcing karena dapat merusak atau menggores kulit. Untuk itu, pakailah pisau yang ujungnya bulat dan tajam.


Proses Pembuatan Kulit Rambak (kerupuk kulit)

Proses pembuatan kerupuk kulit melalui dua cara, yaitu dengan perendaman dan pemanggangan memakai bara api.

A. Pembuatan kerupuk kulit dengan perendaman

Langkah-langkah pembuatan kerupuk dengan perendaman sebagai berikut

1. Penyiapan bahan kulit

Bahan kulit yang sudah dikumpulkan direndam terlebih dahulu. Hal ini bertujuan, terutama untuk kulit-kulit kering, agar kulit menjadi lemas kembali seperti semula dan memudahkan membuang atau menghilangkan bulu dari kulit. Air yang digunakan untuk merendam kulit itu adalah air hangat dan usahakan suhu air tetap stabil. Selama perendaman, kulit terus diaduk-aduk agar proses perendaman cepat selesai.

Jika bulu sudah dimulai tampak melepas, angkatlah kulit-kulit itu dari perendaman. Setelah itu, kulit dikerok untuk menghilangkan bulu dan kotoran-kotoran lain yang masih melekat pada kulit bagian dalam, seperti sisa daging dan lemak.

2. Proses pengolahan

Selesai melakukan pengerokan dan semua bulu sudah bersih, cucilah kulit dengan air dingin. Setelah itu, kulit direndam lagi dengan air yang telah mendidih. Apabila kulit sudah terasa lunak dan lembut, kulit diangkat lalu dicuci dan ditiriskan. Setelah dingin, kulit kemudian dipotong-potong. Berikut ada dua cara pemotongan kulit.
  • Kulit disayat tipis membujur (kulit yang disayat sejajar dengan permukaan kulit). Cara pemotongan ini banyak dilakukan untuk kerupuk kulit yang digunakan sebagai pelengkap sayuran dicampur dalam masakan.
  • Kulit dipotong melintang tipis. Jenis kerupuk ini digunakan untuk makanan kecil atau keripik.
Setelah melakukan pengirisan, kulit dijemur dua sampai dengan tiga hari. Setelah itu, kulit diberi bahan bumbu, seperti garam, ketumbar, asam kawak, dan bawang putih. Bahan bumbu itu, sebelumnya dihaluskan, kemudian dibalur atau dioleskan pada kerupuk kulit itu. Kulit sekali lagi dijemur selama satu sampai dua hari atau sampai kering. Tempat penjemuran sebaiknya dialasi dengan memakai bara-bara.

3. Proses penggorengan

Setelah kulit yang dibumbui tersebut kering, siap untuk digoreng. Ada dua tahap dalam proses penggorengan.
  • Penggorengan tahap pertama dengan menggunakan minyak goreng dengan api yang kecil dan merata selama setengah sampai dengan dua jam. Tujuan dari penggorengan ini adalah agar kulit tidak saling lengket satu sama lain. Setelah kulit dalam penggorengan timbul bintik-bintik dan agak melembung, maka kulit diangkat dan didinginkan. Kerupuk kulit yang telah digoreng pada tahap ini, sudah dapat dijual di pasar sebagai kerupuk atau rambak mentah.
  • Penggorengan tahap kedua adalah penggorengan kerupuk yang akan dijual sebagai hidangan atau kerupuk yang siap dimakan. Minyak yang akan digunakan untuk menggoreng kerupuk ini harus benar-benar panas. Adapun cara menggoreng kerupuk ini sama dengan menggoreng kerupuk pada umumnya. Warna dari kerupuk ini adalah putih kekuning-kuningan. Setelah digoreng, kerupuk ditiriskan agar minyak yang melekat dapat hilang, kemudia dibungkus dengan plastik dan siap dipasarkan.

B. Pembuatan kerupuk kulit dengan menggunakan bara aipi

Ada proses pembuatan kerupuk itu sebagai berikut.

1. Pembuangan bulu atau rambut

Pada proses ini, kulit kering tidak direndam dalam air, tetapi dipotong kecil-kecil. Kulit yang telah dipotong kecil-kecil itu, kemudian dipanggang dengan alat pemanggang di atas bara api yang sangat panas. Campurkan bara api pada kulit dalam alat pemanggang. Bolak-baliklah kulit tersebut agar semua bulu/rambut terkelupas. Biarkan kulit sampai berwarna hitam (bangus), pada permukaan luarnya. Akan tetapi, tetaplah dijaga agar kulit terhindar dari kerusakan akibat pembakaran. Setelah selesai dipanggang, kulit dikerok sampai semua bulu yang terdapat pada kulit terkelupas.

2. Proses pengolahan

Setelah semua bulu terkelupas, kulit kemudian dicuci dan direndam semalam agar benar-benar bersih. Setelah itu, kulit direbus sampai matang. Biasanya keadaan kulit luar hasil pemanggangan kurang bagus. Untuk itu, selesai direbus kulit perlu dirapikan atau diperbagus dengan cara mengiris (memotong) bagian bagian kulit yang agak terbakar. Kulit yang telah direbus itu sudah dapat dipasarkan dan tinggal diolah kembali dengan bahan bumbu menurut selera, seperti diberi bumbu sate atau bumbu rendang. 


Proses Pembuatan Lem Kulit

Lem adalah bahan yang digunakan sebagai bahan perekat. Segala macam kulit hewan, seperti sapi, kerbau, domba, kijang, dan hewan lainnya dapat dibuat menjadi lem. Secara kimiawi, kulit terdiri dari air, protein, mineral, dan lemak. Semua zat ini sangat dibutuhkan oleh tubuh. Protein yang terbanyak dalam kulit adalah collagen (protein kulit), yaitu sekitar 98% dari seluruh protein. Collagen inilah yang dapat menghasilkan lem, dan protein ini dapat pada kulit bagian bawah.

A. Proses perendaman

Rendam kulit kering dengan menggunakan air selama 2 - 3 hari atau sampai berat kulit menjadi  2 - 2,5 kali berat kulit kering. Gunakan air yang mengalir untuk merendam kulit itu, jika tidak ada gantilah air setiap hari dan kulit diaduk-aduk. Perendaman kulit bertujuan untu membasahkan kulit dan sekaligus menghilangkan semua kotoran yang menempel pada kulit.

Perendaman kulit, selain menggunakan air biasa, dapat juga menggunakan air kapur yang pekat (kental). Larutan kapur dapat dibuat dengan perbandingan 1 kg kapur dilarutkan dicampur dengan 10 liter air. Jadi, apabila kita ingin menggunakan air sebanyak 50 liter, maka dibutuhkan kapur sebanyak 5 kg.

Rendamlah kulit dalam larutan kapur serta kulit diaduk sekurang-kurangnya satu sampai dua kali dalam sehari. Proses perendaman berlangsung selama 2-4 minggu. Usahakan ketebalan kulit dalam perendaman sama agar bersamaan waktunya matang. Untuk mengetahui, proses perendaman ini sudah selesai maka lakukanlah hal berikut.

Kulit dipotong dan lihat penampangnya apabila kulit tampak seperti kaca dengan warna agak kebiru-biruan berarti proses pengapuran sudah selesai. Apabila ingin merendam kulit yang lain lagi, buanglah semua larutan kapur bekas perendaman dan gantilah dengan larutan kapur yang baru.


B. Pembersih kapur

Cucilah kulit hasil perendaman dengan larutan kapur di air yang mengalir. Jika tidak di air yang mengalir, air harus kerap diganti sehingga semua kapur yang menempel pada kulit hilang sama sekali. Untuk memudahkan pembuangan atau keluarnya kapur, lemparan kulit yang agak besar sebaiknya dipotong-potong terlebih dahulu. Sedangkan untuk kulit yang tebal, selain dicuci kulit perlu diaduk-aduk atau diinjak-injak. Untuk mengetahui apakah kapur sudah hilang sama sekali di penampang kulit, teteskan larutan indikator phenolphtalin (larutan ini dapat dibeli di apotek). Apabila penampang kulit berwarna merah setelah diberi indikator, maka pembuangan kapur telah selesai.


C. Pemanasan dalam air (ekstraksi)

  1. Kulit yang sudah bersih dimasukan ke dalam tempat pemanas yang telah berisi air.
  2. Usahakan seluruh kulit terendam dalam air.
  3. Kemudian, panaskan dengan suhu 65-70 derajat celcius. Untuk mengetahui suhu pemanasan, perlu diukur dengan menggunakan termometer. Apabila tidak mempunyai termometer, suhu panas cukup ditaksir dan jangan sampai air mendidih.
  4. Pertahankan suhu panas stabil dalam jangka waktu 4-6 jam.
  5. Setelah 6 jam, suhu panas dinaikkan menjadi 80 derajat celcius, atau sampai air hampir mendidih.
  6. Pada suhu air 80 derajat celcius, pertahankan suhu panas stabil dalam jangka waktu 4-6 jam. Setelah 6 jam berikutnya, suhu panas dinaikkan menjadi 100 derajat celcius.
  7. Waktu yang diperlukan dalam proses pemanasan ini, berkisar antara 12 sampai dengan 18 jam.
  8. Selama proses pemanasan, kulit tetap diaduk-aduk secara pelan-pelan, tetapi tidak kerap.
  9. Pada proses pemanasan yang pertama selesai (65-70 dejarat celcius), kulit disaring dalam keadaan masih panas.
  10. Setelah itu, kulit diberi air dan dipanasi lagi (75-80 derajat celcius) selama 4 sampai dengan 6 jam. Kemudian disaring lagi, seperti proses yang pertama.
  11. Kulit itu diberi air dan dipanasi lagi dengan suhu sekitar 100 derajat celcius selama 4-6 jam. Proses selanjutnya sama seperti pertama dan kedua.
  12. Lakukan hal ini berulang-ulang sampai dengan penyaringan tahap keenam. Suhu atau panas dari penyaringan ketiga sampai dengan penyaringan keenam sama, yaitu sekitar 100 derajat celcius.
  13. Apabila kulit sudah tidak mengeluarkan lem lagi, ampas kulit dikeringkan dan digiling untuk diberikan pada ternak. Sebab, kulit ini masih mengandung zat gizi yang sangat dibutuhkan sebagai makanan ternak.
  14. Sebaiknya untuk membuat lem, pemanasan tidak langsung di atas api tetapi menggunakan waterbath. Alat ini dilengkapi dengan api. Oleh karena harga waterbath cukup mahal dan pembuatan lem ini sebagai pekerjaan kerajinan rumah tangga, tidak ada salahnya menggunakan pemanas biasa kompor atau kayu bakar. Jika akan menggunakan kompor atau kayu bakar harus hati-hati dan diperhatikan pemanasannya agar larutan lem tidak terbakar.

D. Penyaringan

Tujuan penyaringan dalam proses pembuatan lem adalah memisahkan benda yang tidak larut atau belum larut, berupa kotoran-kotoran halus, yang masih menempel di kulit pada waktu pembersihan kapur. Setiap tahap pemanasan (1-4 atau 6) kulit harus disaring dalam keadaan masih panas dan jangan ditunggu sampai dingin, sebab larutan lem semakin kental. Untuk menyaring lem panas, dapat dipakai kain blacu atau yang sejenisnya dan cukup halus. Selama penyaringan, kain penyaring jangan diperas agar kotoran-kotoran halus tidak terbawa.


E. Pengentalan

Pada umumnya lem hasil pemanasan dan penyaringan, apabila suda dingin akan membeku. Namun, apabila dikeringkan dengan sinar matahari belum cukup kental. Semakin kental lem akan semakin tidak mudah ditumbuhi jamur atau cendawan. Adapun cara pengentalan lem adalah dengan cara dipanasi seperti proses di atas. Akan tetapi, intensitas pengadukan perlu dilakukan lebih sering dan suhu pemanasannya dibuat stabil sekitar 75 derajat celcius.

Untuk memanaskan sari kulit, sebaiknya menggunakan alat pemanas berupa panci yang mempuyai permukaan lebar sehingga memudahkan penguapan dan mempercepat pengentalan. Kekentalan telah cukup atau baik jika setelah dicetak, lem akan mengeras dan tidak memeleh apabila dijemur di panas matahari.

Untuk mengetahui tingkat kekentalan lem yang baik, dapat dilakukan dengan cara mengambil beberapa sendok lem, kemudian dimasukkan ke dalam cangkir. Setelah itu, didinginkan di dalam lemari es. Jika lem tersebut dapat membeku cukup keras dan tidak meleleh pada suhu kamar (suhu udara atau suhu lingkungan), maka kekentalan lem itu telah cuku atau baik.


F. Pencetakan

Lem dapat dicetak dalam blek seng atau alumunium. Ukuran alat pencetakan sudah di tentukan. Dengan demikian hasil pencetakan lem, bentuk dan besarnya sama. Larutkan lem yang telah mengental dan masih dalam keadaan panas dituangkan ke dalam cetakan-cetakan yang telah disediakan. Lem yang sudah dicetak jangan dijemur di panas matahari. Akan tetapi, biarkan saja di tempat yang agak dingin atau teduh agar cepat membeku. Setelah itu, lem dapat dilepas dari cetakan.


G. Pengeringan

Lem yang sudah dicetak, kemudian dikeringkan di sinar matahari dengan menggunakan tempat atau wadah yang terbuat dari bahan anyaman kawat atau tali plastik. Lama pengeringan bergantung pada tebal-tipisnya hasil cetakan.


Cara Penyimpanan

Kerupuk kulit dan lem kulit mempunyai bahan baku yang sama, yaitu kulit. Kulit terdiri atas bahan organik berupa protein. Seperti hasil ternak lainnya, bahan organik mempunyai sifat mudah rusak. Hal ini disebabkan kulit merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroba, seperti bakteri dan jamur atau cendawan. Untuk itu, upaya penyimpanan kedua hasil produk itu, harus benar-benar diperhatikan. Produk kerupuk dan lem itu, harus disimpan ditempat atau ruangan yang kering dengan ventilasi cukup serta tidak lembab atau basah.


Sumber : Ir. Zumrotun

Type and hit Enter to search

Close