Breaking News

Cara membuat tahu

Tahu dibuat dari bahan dasar kedele. Proses pembuatan tahu dilakukan dengan cara mengambil proein yang terkandung di dalam kedele untuk selanjutnya diproses dengan menggunakan bahan penggumpal sehingga diperoleh gumpalan putih yang disebut tahu. Tahu termasuk makanan enak dan sehat karena mengandung nilai gizi yang tinggi. Sehubungan dengan nilai gizinya yang tinggi itu, tahu sangat bermanfaat bagi tubuh kita. Untuk itu, tidak mengherankan jika banyak orang yang gemar makan tahu dan jumlah penjual tahu pun semakin bertambah.


Bahan Dasar

Tehu terbuat dengan menggunakan bahan dasar kedele. kita mengenal ada berbagai jenis kedele, seperti kedele hitam, kedele putih, dan kedele kuning. Sebenarnya semua jenis kedele dapat dibuat tahu. Hanya saja, yang banyak ditemukan di tempat-tempat penjualan tahu adalah tahu yang dibuat dari kedele putih.  Tahu yang dibuat dari kedele putih sering disebut dengan tahu pitih. Tahu ini lebih disukai masyarakat karena mempunyai penampilan yang menarik, yaitu putih bersih. Warna putih itu memberikan kesan bahwa tahu dibuat secara bersih.


Bahan Penggumpal

Tahu dibuat dengan cara menggumpalkan protein yang diperoleh dari kedele dengan menggunakan zat penggumpal. Ada tiga zat penggumpal tahu, yaitu asam cuka, manyon, dan batu tahu. Dari ketiga jenis bahan penggumpal tersebut, asam cuka dan manyon adalah bahan yang paling banyak digunakan oleh para pembuat atau perajin tahu. Asam cuka lebih mudah diperoleh dan dibeli di pasar daripada batu tahu. 

Manyon dapat diperoleh pada waktu proses pembuatan tahu sedang berlangsung dengan cara menampung air tahu sebagai hasil pemisahan antara air tahu dan gumpalan tahu sebelum tahu dicetak. Banyak perajin atau pembuat tahu tidak lagi menggunakan batu tahu karena di samping bahan itu sulit didapatkan, juga membawa resiko tinggi. Resiko yang terjadi adalah apabila penambahan batu tahu tidak tepat (berlebihan), tahu akan berasa pahit, dan tidak laku dijual.


Syarat Pembuatan Tahu

Telah dijelaskan di atas, produk tahu dibuat dengan cara menggumpalkan protein kedele dengan bahan penggumpal. Protein itu diperoeh dengan cara menggiling kedele sehingga semua protein yang ada di dalamnya dapat terambil. Dengan demikian, untuk memudahkan pengambilan protein dari kedele, saat proses penggilingan perlu diberi air dalam jumlah yang cukup.

Penggunaan air mutlak diperlukan saat proses pembuatan tahu. Oleh karena itu, syarat utama proses pembuatan tahu adalah tersedianya air bersih dalam jumlah yang cukup. Syarat lain yang tidak kalah penting adalah kondisi alat dan tempat pembuatan tahu yang bersih dan sehat. Tahu mempunyai sifat mudah rusak. Untuk itu, agar tetap dalam keadaan baik, tahu harus diolah dan disimpan dalam keadaan bersih. Kondisi alat dan lingkungan tempat pengolahan yang kotor dapat mempercepat kerusakan tahu.


Cara Pembuatan Tahu

Secara umum proses pembuatan tahu di mana pun sama. Apabila ada perbedaan, perbedaan itu hanya terdapat pada jenis bahan penggumpal protein yang digunakan atau urutan kerja pada pembuatan tahu.

Produk tahu dalam proses membuat lamanya membutuhkan bahan-bahan sebagai berikut.
  1. Kedele tua dalam kondisi baru dan baik.
  2. Asam cuka 5%.
  3. Air bersih serta jernih.
Jenis peralatan yang diperlukan untuk membuat tahu terdiri atas :
  1. ember/baskom/panci/bak perendaman dari semen.
  2. kompor.
  3. pengaduk.
  4. takaran air.
  5. kain saring.
  6. penggiling kedele/blender/lumpang dan alu atau alat lan yang dapat untuk menghancurkan kedele.
  7. alat pencetak tahu.
  8. alat pengukur suhu.
Adapun proses kerja pembuatan tahu adalah sebagai berikut.

1. Pemilihan bahan

Untuk mendapatkan tahu yang baik, perlu dipilih kedele yang tua serta masih baru dan baik. Kondisi kedele seperti ini, bila diolah dengan cara yang benar, akan menghasilkan tahu yang memiliki rasa dan aroma yang enak serta bentuk yang baik. Pemilihan kedele dapat dilakukan secara sederhana, yaitu dengan menggunakan indera perasa kita. Kedele yang tua biasanya mempunyai permukaan kulit yang halus atau tidak keriput. Kedele yang masih baru dan baik kulitnya berwarna cerah mengkilat. Sebaliknya kedele yang sudah lama disimpan warna kulitnya cenderung pudar dan suram. Selain itu, kedele yang sudah lama tersimpan, berbau agak apek.

2. Pemilahan (sortasi) kedele

Sortasi atau pemilahan perlu dilakukan untuk mendapatkan kedele yang bebas dari kotoran, seperti kerikil, tanah, kedele cacat, rusak, busuk, dan benda asing lain yang mengotori kedele. Sortasi dapat dilakukan dengan mempergunakan tangan, yaitu dengan cara menghamparkan kedele yang dipilih di atas tampah atau nyiru. Selanjutnya, kedele yang baik dipisahkan dari kedele yang rusak dan benda-benda lain yang mengotorinya.

3. Pencucian dan perendaman

Pencucian dilakukan untuk membersihkan kedele dari kotoran-kotoran yang menempel. Air bersih yang digunakan untuk mencuci adalah sumber air dari sumur atau ledeng. Pencucian dikerjakan dengan tangan. kedele digosok-gosok sampai bersih. Pencucian diakhiri apabila air bekas cuciannya tampak jernih.

Perendaman dilakukan apabila kedele telah bersih. Maksud dari perendaman ini adalah agar kedele menjadi lunak dan gampang digiling. Waktu yang digunakan unuk merendam kedele adalah selama 6-8 jam. Selama perendaman, semua kedele harus terendam air. Air perendaman perlu diganti setiap saat dengan air bersih sambil kedele dicuci agar tidak timbul bau yang tidak dikehendaki.

4. Penggilingan kedelai

Setelah direnam, selanjutnya kedele dibilas dengan air bersih dan disaring sampai semua air menetes habis. Kedele yang telah lunak, hasil dari perendaman, digiling atau dihancurkan dengan menggunakan alat penggiling. Alat yang dapat digunakan adalah penggiling batu, mesin penggiling, atau alat penghancur (blender). Penggilingan atau penghancuran kedele dimaksudkan agar protein yang terkandung dalam kedele dapat dengan mudah diambil dan dipisahkan dari bahan-bahan yang lain.

Selama penggilingan berlangsung, perlu diberikan air hangat dan alirkan ke dalam bahan yang sedang digiling. Pemberian air ini bertujuan agar sari atau susu kedele dapat terdorong keluar. Di samping itu, pemberian air juga memudahkan proses penggilingan. Semakin banyak susu kedele yang keluar, semakin bagus, karena hasil tahu yang diperoleh berjumlah banyak. Hasil penggilingan berupa bubur kedele yang siap diolah lebih lanjut.

5. Pemasakan

Bubur kedele yang diperoleh dari hasil penggilingan dicampur dengan air sebanyak delapan kali berat kedele dan dimasak sampai mendidih. Waktu pemasakan adalah 5 menit setelah bubur mendidih. Pemasakan bubur kedele dapat digunakan api kompor, kayu, atau sekam padi kering.

6. Penyaringan

Penyaringan bertujuan untuk memisahkan susu kedele dari ampas kedele. Bubur kedele disaring dalam keadaan panas dengan menggunakan kain saring. Hasil penyaringan berupa susu kedele dan ampas kedele. Ampas kedele dikumpulkan dan dapat dimanfaatkan menjadi bahan makanan lain, seperti tempe atau dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak.

7. Penggumpalan

Proses penggumpalan dilakukan terhadap protein kedele yang terkandung di dalam susu kedele dengan menggunakan asam cuka 5%. Susu kedele dalam keadaan hangat, (suhu antara 70-80 derajat celcius), secara pelan-pelan diaduk sambil ditambahkan asam cuka 5%. Penambahan asam cuka dihentikan, apabila semua protein telah menggumpal. Hal ini ditandai dengan terbentuknya gumpalan putih dan cairan di sekitar gumpalan itu terlihat bening atau jernih. Setelah itu, dibiarkan sebentar agar gumpalan tahu itu mengendap. Selanjutnya, cairan di atasnya sebagian dibuang dan sebagian lagi disimpan untuk dijadikan manyon.

8. Pencetakan

Pencetakan tahu dilakukan dengan alat pencetak tahu. Mula-mula cetakan diberi alas kain saring. Kemudian gumpalan tahu dituangkan ke dalam cetakan hingga cetakan terisi penuh. Setelah penuh, kain yang tersisa ditutupkan ke seluruh gumpalan tahu dan dipres. Pempresan dilakukan dengan memberikan beban pada tahu yang dicetak. Besar kecilnya beban sangat berpengaruh terhadap keras atau lunaknya tahu.

9. Pengemasan

Sebelum dikemas, tahu dipotong-potong berbentuk kotak-kotak atau seperti bentuk kubus. Dari satu kilogram kering akan diperoleh 30 potong tahu dengan ukuran 2 x 5 x 5 cm. Pengemasan tahu dapat menggunakan kantong plastik. Setiap kantong berisi 10-15 potong tahu. Di dalam kemasan perlu ditambahkan air karena tahu bersifat mudah rusak.


Kerusakan Tahu

Tahu banyak mengandung air dan protein. Jumlah air dan protein yang terkandung di dalam tahu adalah sebagai berikut.
  • air : 84-90%
  • protein : 5-8%
  • lemak :3-4%
  • karbohidrat : 2-4%
Makanan yang mengandung protein dan air yang cukup tinggi mempunyai sifat mudah rusak. Demikian pula halnya yang terjadi pada tahu. Apabila dibiarkan dalam keadaan terbuka selama satu sampai dua hari, tahu itu akan menjadi rusak. Kerusakan tahu ditandai dengan terbentuknya lendir pada permukaan tahu dan terjadinya perubahan warna, rasa, dan bau. Rasa tahu akan berubah menjadi pahit dan bau khas tahu berubah menjadi bau busuk. Warna tahu yang biasanya putih, berubah menjadi kuning kemerahan.


Pengawetan Tahu

Untuk mencegah agar tahu tidak cepat rusak, hal yang harus dilakukan adalah pengawetan. Proses pengawetan dilakukan dengan merendam tahu kedalam air bersih atau dengan mengukus atau merebus tahu. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan merebus tahu dengan air kunyit dan sekaligus tahu berwarna kuning serta menjadi lebih menarik. Jika tahu akan diawetkan dengan bahan pengawet kimia, bahan pengawet itu harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
  1. dapat mengawetkan bahan makanan (tahu).
  2. tidak berbahaya apabila dimakan.
  3. tidak mengubah rasa dan berbau.
  4. menaikkan nilai ekonomi.

Penanganan Air Limbah Tahu

Air limbah atau buangan tahu adalah air yang diperoleh dari proses pembuatan tahu. Apabila dibiarkan tergenang dalam waktu cukup lama, air limbah dapat mengotori (mencemari) lingkungan. Air itu akan mengubah lingkungan menjadi tidak sehat. Jika air itu dibiarkan mengalir pada kolam-kolam ikan atau ke lahan-lahan persawahan, kehidupan ikan ataupun tanaman akan terganggu, bahkan bisa mati. Air limbah tahu perlu ditangani secara baik agar tidak mencemari lingkungan. 

Berikut ini cara penanganan sederhana yang dapat dilakukan.
  1. Menampung dan menyaring air limbah tahu ke dalam sebuah bak. Kemudian, bak ditutup agar tidak menimbulkan bau.
  2. Mengalirkan air limbah tahu yang sudah disaring ke bak pengumpul. Pada bak ini, air limbah yang berasal dari beberapa kali proses pembuatan tahu akan bercampur secara merata dan seragam.
  3. Cara terakhir ialah mengalirkan air limbah tahu, yang berasal dari bak penampungan, ke bak kedap udara dan selanjutnya diendapkan selama 20 hari. Di dalam bak kedap udara, benda-benda (polutan) berat yang dapat membahayakan lingkungan dipecah oleh mikroba secara alami sehingga menjadi tidak berbahaya. Dengan penggolongan air limbah tahu secara sederhana ini upaya pencegahan merusak lingkungan telah dilakukan.

Sumber : Endang P

Type and hit Enter to search

Close