Breaking News

Usaha peternakan domba

Domba atau biri-biri adalah hewan peliharaan. Masyarakat di pedesaan Jawa biasanya menyebut dengan nama wedhus gembel. Usaha peternakan domba ini mempunyai peran penting bagi perekonomian masyarakat di pedesaan. Hasil yang dapat diperoleh dari peternakan domba ini berupa daging, bulu (wool), kulit, susu, dan kotoran yang dapat digunakan sebagai pupuk tanaman. 


Di Indonesia pada umumnya domba dipelihara sebagai penghasil daging. Domba ini mempunyai prospek atau masa depan yang baik karena daging domba dapat diterima bagi masyarakat. Di samping itu, semakin sadar masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi dalam menu makanan sehari-hari, terutama protein hewani. Sampai saat ini kebutuhan akan protein hewani (daging) belum tercukupi, kalau hanya dari ternak potong sapi dan kerbau, sehingga perlu ditambah dari ternak potong domba.

Manfaat dan keuntungan yang dapat diperoleh dari beternak domba adalah sebagai berikut.
  1. Domba mudah dipelihara karena mudah beradaptasi terhadap berbagai lingkungan.
  2. Domba mempunyai sifat hidup berkelompok sehingga tidak akan terpisah dari kelompoknya ketika digembalakan.
  3. Dengan menggunakan modal yang relatif kecil, ternak domba dapat diusahakan. Ternak ini membutuhkan kandang yang sederhana saja, memerlukan tanah yang tidak luas, dan dapat menerima makanan dari berbagai hujauan.
  4. Domba cepat berkembang biak. Dalam waktu lebih kurang dua tahun, domba dapat beranak tiga sampai empat kali dan setiap kali beranak dapat melahirkan anak sampai dua ekor.
  5. Domba dapat berfungsi sebagai tabungan pada saat musim panen peternak dapat membeli beberapa ekor domba, sedangkan pada saat paceklik peternak dapat menjualnya.
  6. Domba dapat menambah pendapatan.
  7. Kotoran ternak domba dapat digunakan sebagai pupuk tanaman.
  8. Daging domba merupakan salah satu sumber protein hewani.

Syarat Beternak Domba

Kita perlu memperhatikan dan harus memenuhi beberapa hal penting dalam memulai peternakan domba, yaitu sebagai berikut :

1. Kesungguhan berternak domba

Kesungguhan ini mengandung unsur kesenangan atau kesukaan yang merupakan salah satu faktor atau syarat mutlak sebelum seseorang mengambil keputusan untuk beternak domba. Bila tindakan untuk beternak domba ini tidak dilandasi dengan rasa sungguh-sungguh, akan terjadi kegagalan.

2. Tujuan pemeliharaan

Sehubungan dengan usaha yang akan dilaksanakan, seorang peternak mempunyai tujuan yang hendak dicapai. Tujuan beternak domba adalah untuk.
  • Memperoleh keuntungan.
  • Sekedar mengisi waktu luang atau membuka usaha sampingan. Bila nilai manfaat beternak domba itu sudah sama dengan atau bahkan melebihi kebutuhan, peternak akan memperoleh kepuasan. Waktu luang terisi karena peternak memperoleh kesibukan.
  • Sekedar mengisi sumber daya yang menganggur, seperti tanah kosong, modal, dan keahlian. Pengangguran sumber daya itu merupakan motivasi seserorang untuk beternak.

3. Sumber daya yang tersedia

Beternak berkaitan dengan benda hidup sehingga untuk menjamin kelancaran beternak harus tersedia sumber daya yang dibutuhkan. Sumber daya ini adalah.
  • Lokasi (tanah) yang sesuai untuk peternakan. Lokasi tidak jauh dari rumah peternak dan transportasi lancar dan ke pusat penjualan produksi peternakan (alat-alat peternakan, ransum, obat-obatan) serta dekat dengan daerah pemasaran hasil.
  • Modal yang memadai. Modal dapat berasal dari milik pribadi, pinjaman, atau kerja sama dengan pihak lain.
  • Tenaga kerja yang terampil. Tenaga kerja itu dapat berasal dari baik tenaga kerja keluarga sendiri maupun orang lain.
  • Pengetahuan beternak. Hal itu penting sekali karena dengan mengetahui cara-cara beternak, sifat-sifat ternak yang hendak diusahakan dan pemasaran ternak, akan menjamin kebersihan dan keterkembangan usaha yang dilakukan.

Cara Beternak Domba

1. Pembuatan Kandang

Agar usaha peternakan domba berhasil, perlu disediakan bangunan kandang yang baik. Kandang yang baik akan berpengaruh terhadap jumlah pakan yang dimakan, pertumbuhan, dan kesehatan. Bangunan kandang harus bertitik tolak pada kehidupan domba itu. Oleh karena itu, untuk membangun kandang domba, perlu diperhatikan beberapa hal berikut.

1. Fungsi kandang

Kandang ini sangat penting, baik bagi ternak itu sendiri maupun bagi peternaknya. Kandang domba berfungsi untuk.
  • Menghindari lingkungan yang merugikan, misalnya panas matahari, hujan, angin kencang, gangguan binatang buas, dan pencurian.
  • Menjaga kebersihan. Dengan adanya kandang, kotoran dapat dikumpulkan dan ditampung di bawah kolong dan mudah dibersihkan.
  • Mempermudah tata laksana (penanganan). Dengan adanya kandang, semua domba dapat diberi pakan dan minum secar serentak dan teratur.
  • Mempermudah melakukan pengawasan terhadap penggunaan pakan, pertumbuhan, dan penyakit.
  • Memberikan kenyamanan bagi peternak.

2. Letak kandang

Agar dapat diperoleh bagunan kandang dengan lingkungan yang higienis (bersih dari penyakit) dan menjamin ketentraman ternak, lokasi kandang harus dipilih secara baik.
  • Tempat harus lebih tinggi di antara lingkungan sekitar dan tanah mudah meresap air.
  • Saluran air mudah dibuat sehingga pada musim hujan air cepat kering dan tidak menggenang di lingkungan kandang.
  • Kandang hendaknya dibangun dekat dengan rumah peternak atau penjaga untuk menjaga keamanan ternak dan mempermudah penanganan ternak.
  • Kandang menghadap ke timur agar sinar matahari pagi banyak masuk. Selain itu, kandang diusahakan terhindar dari angin besar.

3. Konstruksi kandang

Konstruksi kandang harus diperhatikan dari segi pengaturan ventilasi (angin), arah kandang, pintu kandang, dinding, dan atap kandang.
  • Ventilasi. Bangunan kandang dilengkapi dengan ventilasi dapat dibuat dengan mengatur dinding dari bilah-bilah bambu yang sebagian terbuka. Dibuat ventilasi yang baik menggunakan domba karena berguna untuk mengeluarkan udara kotor dari dalam kandang dan menggantikan udara segar dari luar (udara segar di dalam dapat dipertahankan). Dengan demikian, kelembapan dalam kandang berkurang, rasa pengap pun dapat dihindarkan, sehingga tercipta kondisi yang nyaman bagi ternak.
  • Arah kandang diusahakan menghadap ketimur sehingga sinar matahari pagi dapat masuk. Sinar matahari pagi tidak begitu panas dan banyak mengandung sinar lembayung (ultraviolet) yang sangat penting bagi kesehatan ternak karena dapat membatu proses pembentukan vitamin D (sebagai disinfektan) dan mempercepat pengeringan kandang yang basah akibat air kencing.
  • Dinding kandang berguna untuk menyekat domba agar tidak lepas, menahan angin ke dalam kandang, dan menahan keluarnya panas dari tubut ternak pada malam hari. Dinding kandang dapat terbuat dari anyaman bambu atau papan kayu. Untuk menjamin udara dalam kandang selalu dalam keadaan segar, tidak terlalu panas pada siang hari dan tidak terlalu dingin pada malam hari, konstruksi kandang diatur agar terbuka sebagian. Misalnya, sekeliling kandang diberi dinding, tetapi sisi bagian depan terbuka. Dinding bagian atas cukup dipasang dengan bilah-bilah bambu yang jaraknya lebih kurang 30 cm sehingga kepala domba bisa keluar untuk memakan rumput yang disediakan di sisi depan. Bila di dalam kandang diperlukan ruang-ruang penyekatan cukup digunakan bilah-bilah bambu. Ruang-ruang itu digunakan, untuk memisah domba-domba yang berbeda umur, jenis kelamin, induk sedang beranak, dan bibit.
  • Atap kandang berguna untuk melindungi ternak dari panas dan hujan. Serta menjaga kehangatan pada waktu malam. Sesuai dengan fungsinya, atap disusun miring atau meluncur ke belakang sehingga air hujan tidak dapat masuk ke dalam kandang. Di samping itu, ember dibuat lebih lebar agar sinar matahari yang merugikan tidak dapat masuk. Sebagai atap kandang, dapat digunakan genteng atau rumbia.


4. Peralatan dan perlengkapan kandang

  • Tempat pakan pada kandang berkolong dibuat menempel pada dinding sisi depan. Bahan tempat pakan bambu atau papan kayu. Tempat pakan ini pada prinsipnya dapat menampung pakan tanpa tercecer. Penempatan tempat pakan ini harus terhindar dari sinar matahari dan hujan.
  • Tempat air minum. Domba termasuk salah satu ternak yang tahan air minum, tetapi sebaiknya air minum tetap disediakan sepanjang hari. Tempat minum dapat berupa ember plastik atau tempat lain yang diletakkan di luar kandang (menempel pada dinding kandang) sehingga domba dapat minum dari dalam kandang.
  • Perlengkapan kandang adalah tenaga, tenaga ini penting sekali pada kandang kolong karena baik peternak maupun ternak itu sendiri mudah keluar masuk kandang. Bak penampungan kotoran di bawah kolong.

 2. Pemilihan Bibit

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan bibit domba, yaitu sebagai berikut.

1. Keturunan

Bibit domba berasal dari ketutukan yang baik, yaitu keturunan cepat dewasa dan cepat besar, tetapi pertambahan bobot badan sesuai dengan umumnya.

2. Bangsa

Bibit berasal dari bangsa yang murni sehingga didapatkan keturunan yang baik. Pada umumnya dipilih bangsa domba yang besar atau menurut kesukaan peternak sesuai dengan yang sudah umum diternakan di daerah sekitar. Bangsa domba luar negeri belum banyak dipelihara di Indonesia. Oleh karena itu, seorang peternak sebaiknya mengetahui dan mengenal domba, terutama jenis domba yang ada di Indonesia sebagai berikut.

Domba asli Indonesia yang disebut domba lokal atau domba kampung, mempunyai tanda-tanda sebagai berikut.
  • tubuh kecil.
  • warna bulu bermacam-macam.
  • jantan bertanduk.
  • bobot badan domba jantan 30-40 kg, betina 15-20 kg.
  • tahan terhadap daerah yang kurang baik.
  • pertumbuhan lambat.

Domba ekor gemuk berasal dari Indonesia bagian timur, yaitu madura, sulawesi, dan lombok. Tanda-tanda yang dimiliki domba ini adalah :
  • bentuk badan lebih besar.
  • jantan bertanduk, betina tidak bertanduk.
  • ekor panjang, pada bagian pangkalnya besar, dan mampu menimbun lemak yang banyak yang berguna pada waktu kekurangan makanan.
  • berbulu kasar dan gembel.
  • bobot badan jantan 50-70 kg, betina 30-40 kg.

Domba Priangan berasal dari daerah priangan atau garut, Jawa Barat. Ciri-ciri yang dimiliki domba itu adalah :
  • badan agak besar dan lebar dengan leher yang kuat. Domba itu dapat digunakan sebagai domba aduan dan penghasil daging.
  • jantan bertanduk besar, kokoh dan kuat, melengkung ke belakang berbentuk spiral, pangkal tanduk kanan dan kiri hampir bersatu.
  • betina tidak bertanduk.
  • bulu lebih panjang dan halus dari pada domba asli.
  • daun telinga kecil dan meruncing. Telinga sedang besarnya.
  • bobot badan domba jantan 60-80 kg, sedangkan betina 30-40 kg.
  • ekor berukuran sedang agak lebar dan kuat.
  • warna bulu bermacam-macam, putih, hitam, cokelat, atau capuran tiga warna tersebut.

3. Keadaan Eksterior (luar) 

Penilaian keadaan eksterior domba dapat dilakukan dengan mengamati dan memegang ternak yang bersangkutan.

Pengamatan dari samping
  • tubuh tambak besar, pendek
  • pertumbuhan harmonis, simetris
  • seluruh ukuran tubuh besar dan dalam
  • tungging rata
  • bagian bawah perut rata
  • leher pendek, tebal
  • tumit kuat
Pengamatan dari belakang
  • tumbuh mulai dari bahu sampai keujung pantat cukup lebar
  • tungging rata
  • paha dalam
  • letak kedua kaki dengan posisinya agak lebar
Pengamatan dari depan
  • kepala pendek, lebar
  • dada lebar
  • jarak kedua kaki depan dalam posisi tegap
  • kulit yang menutupi seluruh tubuh tampak bulat

Penilaian dengan cara memegang
Pemegangan dilakukan mulai dari leher, punggung, pinggang sampai ke pantat. Caranya adalah dengan meletakkan kedua belah tangan mengelilingi leher, kemudian dilanjutkan ke belakang kedua bahu dan sekitar punggung sampai ke ujung pantat, sehingga keadaan daging yang padat serta tubuh yang berisi dapat diketahui.


4. Kesehatan

Secara umum domba yang sehat dapat diketahui dengan memperhatikan kelincahan dan keaktifan bergerak, pandangan tajam atau cerah, kotoran yang tidak terlalu encer, dan tubuh yang tidak cacat. Bibit jantan yang baik dengan kriteria domba sehat, tubuh gagah, besar, dada lebar, kaki lurus kuat, tumit tinggi, lincah, nafsu kawi besar dan normal, alat kelamin normal, dan keturunan kembar.

Bibit betina yang baik dengan kriteria domba sehat, badan besar, dada lebar, mata bening, bulu bersih mengkilat, tidak cacat, kaki lurus tidak bengkok, alat kelamin sehat, turunan kembar, bulu halus, kenyal dan besar, sifat keibuan tinggi, dan anak labih dari satu ekor.


Pengembangbiakan Domba

Keberhasilan pengembangbiakan domba sangat dipengaruhi oleh perkawinan. Oleh karena itu, diperlukan perhatian dari peternak pada saat ternak akan dikawinkan. Ternak domba dewasa kelamin biasanya berumur 7-8 bulan, tetapi sebaiknya domba dikawinkan setelah dewasa kelamin dan tubuh. Tanda-tanda domba birahi adalah seperti berikut.
  1. Domba sering tidak mau makan (bukan karena sakit) karena birahi.
  2. Domba gelisah, banyak bersuara, dan keluar dari kandang untuk mencari pejantan.
  3. Domba akan mengosok-gorokkan bagian badan dikandang atau ditempat lain dan menggerak-gerakkan ekornya.
  4. Jika bertemu betina lain, domba naik-naik seperti pejantan.
  5. Tanda-tanda khusus adalah merah, bengkak dan basah pada kelaminnya.
Domba sebelum dikawinkan, sebaiknya diberi pakan tambahan berupa jagung atau dedak padi setiap hari selama tingga minggu. Bulunya pada pantat dan pada kelamin digunting untuk mempermudah perkawinan. Domba mempunyai lama birahi rata-rata 17 hari atau antara 14-21 hari. Sebaiknya domba selalu diamati masa birahinya, selama 3 hari, dan dikawinkan pada saat yang tepat, yaitu pada hari kedua birahi atau setelah 18-20 jam dari timbulnya birahi. Ada dua cara mengawinkan domba, yaitu kawin individual dan kawin kelompok.

1. Kawin individual

Kawin ini dilakukan dengan cara membawa domba betina ke kandang jantan. Pejantan dibiarkan mengawini betina sebanyak dua kali agar domba betina dapat hamil.  Setelah perkawinan terjadi betina dibiarkan berjalan untuk menghindari tumpahnya sperma.

2. Kawin kelompok

Kawin ini dilakukan dengan cara membiarkan pejantan hidup bersama-sama dengan betina selama dua bulan, pada akhir bulan kedua domba yang sudah kawin dipisahkan dari kelompoknya. Pejantan yang akan kawin hendaknya, tidak terlalu muda atau terlalu tua, tetapi hendaknya seimbang. Domba sebaiknya jangan terlalu kurus atau terlalu gemuk, tetapi bertubuh sedang pada kondisi cukup. 

Setelah domba kawin, tentunya hal yang diharapkan selanjutnya adalah hamil. Lama hamil domba rata-rata 145 hari atau antara 144-156 hari. Tanda-tanda domba hamil adalah :
  • birahi tidak timbul.
  • gerak tidak banyak lagi, (suka menyendiri).
  • nafsu makan tinggi.
  • bulu bersih dan mengkilap.
  • perut bagian kanan makin lama makin besar jika dibandingkan dengan perut sebelah kiri sebelum domba diberi pakan.
  • suka makan tanah dan cabang kering.
  • domba yang baru pertama kali hamil, ambing dan puting susunya keras.

Setelah domba bunting selama hampir lima bulan saatnya akan melahirkan. Tanda-tanda domba hendak melahirkan adalah :
  • domba terlihat gelisah dan bersuara.
  • otot pada pankal ekor sebelah kanan dan kiri kendor.
  • ambing domba besar tegang dan turun.
  • domba takut dengan napas cepat.
  • domba sering mengengok ke belakang.
  • sering menggantung dan alat kelamin kendor.
  •  domba menahan kesakitan dengan menggigit benda-benda yan ada di sekitarnya.

Apabila terlihat tanda-tanda itu, bulu di sekitar ekor, pertu bawah, dan paha bagian dalam serta di bagian ambing dicukur sehingga bersih. Induk domba yang akan beranak hendaknya disediakan kandang yang beralaskan jerami kering dan bersih serta suasana yang tenang.

Proses kelahiran adalah sebagai berikut. Pertama, air ketuban keluar, kemudian disusul anak domba dengan tali pusat putus setelah anak domba keluar atau jatuh dilantai kandang. Anak domba biasanya dapat berdiri sekitar 15 menit setelah lahir. Pada saat anak domba lahir, induk domba menjilati anaknya untuk menghilangkan lendir. Jika lendir menutupi muka anak domba, anak domba akan sulit bernapas. Oleh karena itu, peternak perlu membantu dan membersihkan lendir pada anak domba, terutama pada mukanya. Bila mengalami kesulitan beranak domba, perlu dibantu dengan cara menarik anak domba ke arah bawah.

Bersamaan dengan mengejangnya hinga anak lahir. Lendir yang terdapat pada mulut dan hidung anak domba dibersihkan. Jika anak domba belum dapat bernapas, hembuskan udara pada hidungnya atau tepuk-tepuk rusuknya. Tali pusat diikat sepanjang 5 cm di luar ikatan. sisa tali pusat yang menempel 10 cm diolesi dengan yodium tinctur. Selanjutnya, pantat, ambing, dan ekornya dicuci dengan lysol atau air hangat. Ari-ari yang jatuh ditanam, sedangkan ari-ari yang masih tergantung dipotong. Selanjutnya, jerami yang basah diganti dengan yang kering.

Apabila induk yang baru beranak mati atau tidak mengeluarkan air susu atau mempunyai kelebihan anak atau menolak anaknya yang keluar terakhir, diperlukan induk angkat. Hal itu dapat dilakukan dengan cara induk angkat dimasukan ke dalam kandan dan anak angkat diolesi cairan yang berasal dari induk angkatnya sehingga induk tersebut mau menyusui. Di samping itu, dapat dilakukan penyemprotan bau-bauan pada anak angkat sehingga domba tersebut dapat berkumpul.

Induk domba dapat dikawinkan kembali setelah 60 hari dari beranak. Induk domba menyapih anaknya setelah anaknya berumur 2-3 bulan. Batas umur domba yang diternakan paling lama 5 tahun untuk betina dan 8 tahun untuk jantan. Pengembangbiakan domba antara jantan dan betina sebaiknya seimbang. Pejantan yang berumur sekitar 15 bulan mampu mengawini 10 ekor betina, sedangkan pejantan yang berumur sekitar 3 tahun mampu mengawini 35 ekor betina. Untuk mendapatkan hasil yang baik.

Kebutuhan dan pemberian pakan domba

Pakan ternak mempunyai peran yang sangat penting karena akan menentukan keberhasilan dan pengembangan usaha peternakan tersebut. Pemberian pakan yang baik bagi anak domba akan menghasilkan produksi yang baik pula. Pakan yang diberikan hendaknya memenuhi persyaratan, yaitu mengandung nilai gizi yang lengkap, disukai ternak, dan mudah dicerna. Pakan yang utama diperlukan adalah rumput hijau dan konsentrat.

Hijauan (rumput-rumputan dan daun-daunan) merupakan makanan pokok bagi ternak domba. Rumput hijau seperti setaria dan rumput gajah, dapat diperoleh dengan cara menanamnya di pekarangan, di pinggir selokan. Dengan demikian, peternak akan lebih cepat dan lebih mudah memperoleh hijauan tersebut. Selain itu, untuk mendapatkan daun-daunan dengan cepat dan mudah, dapat juga ditanam pohon gamal (kacang-kacangan) sebagai penambah gizi makanan dan sebagai pagar hidup. 

Kebutuhan hijauan seekor domba per hari tergantung pada kualitas hijauan, bobot badan, umur, dan keadaan domba. Umumnya kebutuhan pakan hijauan domba sebanyak 1,5 x (10% x bobot badan). Hijauan ini sebaiknya diberikan sedikit demi sedikit 3-4 kali per hari, rata-rata 5 kg untuk satu ekor sehingga domba mempunyai waktu istirahat dan kesempatan memamah biak.

Kosentrat (sebagai makanan penguat) diberikan sebagai makan tambahan saja, bila dipandang perlu, misalnya, saat domba sedang hamil atau menyusui domba. Pejantan dan domba yang digemukkan juga perlu diberi konsentrat. Jumlah pakan penguat yang harus diberikan cukup 0,5 - 1,0 kg/ekor/hari. Pakan ini diberikan dalam bentuk basah seperti bubur pada setiap pagi. Pakan penguat yang diberikan dapat terdiri dari satu macam, misalnya katul, dedak, atau campurannya. Bungkil kelapa tidak boleh diberikan sebagai bahan tunggal. 

Bahan ini hanya bisa diberikan setelah dicampur dengan bahan lain sebanyak 50%. Anak domba yang berumur 4-6 minggu sudah dapat dilatih untuk diberikan pakan, baik hijauan maupun konsentrat. Setelah disapih, anak domba cukup diberi hijauan saja. Untuk memenuhi kebutuhan garam, garam bata sebaiknya disediakan di dalam kandang agar domba-domba dapat menjilat-jilatnya.


Pemeliharaan Domba

1. Pemeliharaan anak domba

Anak domba yang lahir biasanya langsung menyusui kepada induknya. Air susu domba itu disebut kolustrum, yaitu cairan berwarna kuning yang keluar dari induk, mulai hari pertama sampai dengan hari ketujuh. Susu itu sangat berguna untuk pertumbuhan dan pencegahan penyakit. Ada kalanya induk domba, setelah melahirkan, lemah dan tidak dapat menyusui anaknya atau sebaliknya, anak domba lahir dalam keadaan lemah dan tidak dapat menyusu pada induknya. Anak seperti itu perlu dibantu dengan cara memberikan susu lain. Anak domba pada umur 2 minggu sudah mulai mencoba makan rumput-rumputan dan setelah umur 3 minggu sedah mulai makan konsentrat. Agar perkembangan anak domba dapat lebih cepat, pakan induknya juga perlu ditambah atau ditingkatkan.

2. Pemeliharaan masa pertumbuhan

Anak domba disapih pada umur 2-3 bulan. Untuk melihat pertumbuhan anak domba, perlu diketahui pertambahan bobot badannya secara berkala. Anak domba yang direncanakan sebagai calon induk sebaiknya banyak bergerak dan mendapat sinar matahari. Anak domba jantan tidak dicampur dengan betina supaya tidak terjadi perkawinan yang tidak dikehendaki. Anak jantan yang digemukkan perlu dikebiri (dikastrasi) dan boleh dicampur dengan betina. Domba yang terserang penyakit segera diobati dan setiap bulan perlu diperiksa dan dipotong kukunya. Domba sebaiknya dimandikan agar tetap terjadi kebersihan dan kesehatannya.

3. Pemeliharaan induk hamil

Induk hamil perlu mendapat perhatian dan perlakuan yang baik. Sejak hamil tiga bulan, induknya dipisahkan dari kelompok domba yang lain. Induk itu diusahakan agar tidak terkejut, jatuh, ditanduk domba lain, dan tidak diperlakukan kasar yang dapat menyebabkan keguguran. Ternak itu juga membutuhkan udara segar, sinar matahari, kondisi badan yang gemuk, sehat, gesit, dan pekan yang sesuai dengan masa kebuntingannya. Kukunya dijaga jangan sampai panjang karena dapat menyebabkan domba jauh, lalu keguguran.

4. Pemeliharaan penjantan

Pejantan yang baik adalah ternak yang berbadan sehat, aktif, dan nafsu kawin besar. Pejantan yang dipelihara dengan baik dapat digunakan sampai berumur 7-8 tahun. Hal yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan pejantan yang baik adalah seperti berikut.
  • Pejantan dibiarkan bergerak bebas untuk mendapat sinar matahari, udara segara dan bersih.
  • Kandang antara pejantan dan betina dipisahkan tetapi masih berdekatan.
  • Pakan diberikan sesuai dengan kebutuhan.
  • Perkawinannya diatur. Pejantan yang sehat dan kuat dapat mengawini 5-6 kali/hari. Setelah mengawini betina, pejantan hendaknya diistirahatkan dahulu.
  • Kuku diusahakan pendek.
  • Domba dimandikan terutama pada musim kemarau untuk menaikkan daya produksi.
  • Bulu domba dicukur secara teratur, satu tahun dua kali.

5. Pencegahan dan Pengobatan Penyakit

Beberapa penyakit yang sering menyerang ternak domba, di antaranya adalah.

1. Kudis

Tanda-tandanya adalah gatal, bulu rontok, dan keropeng terjadi. Jika terjadi infeksi, terbentuk bisul-bisul bernanah. Seluruh permukaan tubuh dapat terkena kudis dan ternak dapat mati. Penyakit ini biasanya dimulai dari telinga, leher, atau bagian kepala. Penyakit itu timbul karena kandang dan ternak domba kotor. Penyakit dapat dicegah dengan memandikan domba, membersihkan kandangnya, dan mencukur bulunya.

Kalau penyakitnya belum parah, domba dapat diobati dengan menggunakan campuran belerang halus, kunyit yang diparut, dan minyak kelapa yang dipanaskan. Selain itu, obat luar yang terdiri dari 1 bagian kreolin dan 10 bagian spiritus digosok-gosokkan atau dioleskan pada tempat yang berkudis.

Kalau penyakitnya sudah parah, domba dapat diobati dengan menggunakan campuran oli bekas dan belerang. Caranya adalah 1 liter oli bekas dan 1 sendok makan belerang dioleskan pada bagian yang sakit dan bagian kandang yang biasa dipakai untuk menggosok-gosok bagian yang sakit. Pengobatan dilakukan setiap lima hari sekali.


2. Kembung

Tanda-tandanya adalah perut sebelah kiri kembung dan membesar, punggungnya agak membungkuk, dan napas cepat dan pendek-pendek. Penyakit kembung terjadi karena domba makan hijauan yang masih mudah dan basah.

Pencegahan dapat dilakukan sebagai berikut.
  • Sebelum digembalakan, domba diberi rumput kering.
  • Domba jangan digembalakan terlalu pagi.
  • Bagi ternak yang belum biasa pakan yang hendak diberikan sebaiknya dilayukan dahulu dan diberi secara bertahap dengan campuran lain.
Pengobatan dapat ditempuh dengan berikut ini.
Domba didudukkan mulutnya diganjal dengan potongan kayu kemudian perutnya dipijat-pijat sehingga angin dapat keluar. Bila perutnya berisi buih-buih, itu pun dapat diobati dengan meminumkan poloxalene dan minyak kacang.

Selain itu, domba diberi minum minyak goreng yang dicampur dengan air hangat, masing-masing setengah gelas, lidahnya diusapkan dengan garam atau gula merah.


3. Cacingan

Tanda-tanda domba cacingan adalah :
  • perut kelihatan buncit.
  • domba tidak membuang kotoran.
  • mencret.
  • badan kurus, lemah, dan pucat.
  • pertumbuhan lambat.
Penyakit cacingan muncul karena kandang tidak bersih, pakan kurang baik sehingga kondisi badan menurun, dan domba mempunyai beberapa jenis bibit cacing.

Pencegahannya dapat dilakukan dengan memberi pakan yang baik dan membersihkan kandang dan lingkungannya. Penyakit cacingan dapat diobati dengan cara seperti berikut.
  • Pemberian obat, seperti citarin, cuncurat, dan neguvon.
  • Pemberian obat tradisional 3 gram tembakau dicampur dengan 30 gram terusi halus dan 50 cc air diminumkan kepada domba. Sebelum diberi obat, domba tidak diberi makan selama 12 jam sebelumnya dan 6 jam sesudahnya. pengobatan dapat diulangi setelah satu minggu kemudian.
  • Pemberian obat cacing berupa cairan, obat itu langsung dimasukkan ke dalam sisi mulut dan dibiarkan ditelan sendiri.


Sumber :Ir. Tuti N. Sutarto dan Ir. Sutarto



Type and hit Enter to search

Close