Breaking News

Sapi madura

Pemeliharaan sapi madura

Sapi madura dapat dibudidayakan sebagai ternak kerja, ternak potong (penghasil daging), ternak aduan (karapan), dan juga sebagai ternak untuk pameran. Secara ringkas manfaat sapi madura adalah.


  • sebagai penghasil tenaga di bidang pertanian.
  • sebagai sapi potong.
  • untuk aduan atau pameran sapi.
  • sebagai penghasil pupuk untuk penghasil biogas.

Pelaksanaan pemeliharaan

Pemeliharaan sapi madura berhasil dengan baik apabila hal-hal berikut terpenuhi, yaitu :
  • dipilih dari bibit sapi yang baik.
  • diberi pakan yang baik.
  • dipelihara dengan tata laksana yang baik, dan
  • dipasarkan hasil yang menguntungkan.

Tata laksana

Peternakan sapi di Indonesia pada umumnya masih dilakukan secara sangat sederhana karena tujuan pemeliharaannya sebagai besar hanya sebagai pengolah lahan pertanian. Oleh karena itu, sapi yang dipelihara biasanya dalam jumlah yang sedikit, misalnya hanya satu sampai tiga ekor ternak saja. Karena lahan pemeliharaan terutama di pulau jawa sudah padat oleh penduduk.

Cara pemeliharaan sapi madura yang khas di pulau Madura dianggap sebagai salah satu penghambat penyebaran sapi madura di luar pulau Madura. Pemeliharaan sapi madura masih tradisional, belum dikelola secara khusus untuk menghasilkan komoditas tertentu. Pemeliharaan sapi madura biasanya untuk keperluan ganda, yaitu merupakan bagian dari usaha utama dan sebagai tabungan keluarga. Sapi madura sebagai tabungan keluarga, bila sewaktu-waktu pemiliknya membutuhkan uang, sapi segera dijual.

Dengan adanya pola usaha tani dan perubahan tujuan pemeliharaan sapi madura, sistem pemeliharaanya pun mengalami perkembangan. Tujuan pemeliharaan sapi ialah untuk menghasilkan anak sapi (pedet), penghasil sapi potong, penghasil tenaga (untuk kerja), untuk aduan, untuk pameran, atau untuk dijual. Ada pula peternak yang memelihara sapi induk untuk menghasilkan anak sapi, yang digunakan untuk menghasilkan sapi sebagai tenaga kerja dan untuk dijual jika harganya baik, atau bila ada keperluan mendesak.

a. Pemasangan cincin hidung

Pemasangan cincin hidung dimaksudkan untuk mempermudah pengendalian. Caranya, dengan melubangi hidung dengan alat pelubang dincing hidung antara lubang hidung kanan dan kiri. Setelah berlubang cincin dimasukkan. Cara sederhana yang bisa dilakukan oleh peternak dipedesaan adalah melubangi septum (dinding hidung) dengan menggunakan bambu runcing. Lubang yang sudah jadi kemudian dimasuki tali, yang sekaligus menjadi kendali.

b. Kandang

Kandang merupakan bagian terpenting dalam tata laksana pemeliharaan sapi. Kandang yang baik dan memadai termasuk salah satu upaya penyediaan lingkungan yang baik dalam usaha pencapaian tujuan memelihara sapi.

Fungsi kandang adalah sebagai berikut.
  • Tempat berlindung ternak dari gangguan lingkungan, misalnya hujan, terik matahari, lembap udara, angin, dan binatang pemangsa.
  • Memudahkan peternak dalam menangani ternaknya, seperti memudahkan mengamati penyakit, memberi pakan, mengawinkan, dan mengamati birahi.
  • Menjaga keamanan sapi, misalnya menjaga dari bahaya pencurian.
Syarat-syarat kandang yang baik dan memenuhi syarat adalah sebagai berikut.
  • Bahan pembuat kandang perlu dipertimbangkan secara ekonomis.
  • Lingkungan kandang harus memenuhi syarat.
  • Kandang harus kuat sehingga sapi dapat tinggal dengan nyaman di dalamnya.
Pada umumnya, sapi madura dipelihara di kandang tertutup dengan ukuran sebagai berikut.
  1. Panjang 6 meter.
  2. Lebar 4 meter.
  3. Tinggi 2-2,5 meter.
  4. Dinding dan lantai terbuat dari bambu.
  5. Atapnya rumbia atau genting.
  6. Berbentuk segi empat, segi enam, atau setengah lingkaran.
Kandang tetutup tidak sehat bagi sapi maupun lingkungan karena cahaya matahari tidak dapat masuk ke dalam kandang. Padahal, sinar matahari dapat membunuh bibit penyakit yang ada di dalam kandang, seperti jamur atau jasad renik lainnya. Kandang tertutup menghambat sirkulasi udara di dalam kandang. Padahal, udara di dalam kandang harus selalu bertukar dengan udara segar. Udara yang tidak segar mempermudah timbulnya penyakit.

Lantai Kandang sapi madura umumya sudah dibuat miring ke arah belakang. Atap genting baik untuk kandang karena dapat menahan hujan dan panas matahari sehingga pada siang hari tidak panas dan malam hari tidak dingin. Selain itu, celah-celah genting dapat membantu pertukaran udara di kandang.

c. Perawatan sapi madura

Para peternak memiliki sapi antara satu sampai dua ekor, yang perawatannya dilakukan oleh tenaga keluarga. Perawatan yang bisa dilakukan ialah memberikan obat yang berupa campuran telur, kopi, dan jamu terkadang obat itu ditambah dengan ramuan tradisional, seperti kuyit, temulawak, temu item, bawang putih, jahe, dan kencur. Jamu itu diberikan setiap dua bulan sekali. Air minum diberikan dua kali sehari secara teratur, biasanya pada siang dan sore.

Sapi aduan dipelihara lebih baik, kandangnya bersih, makanan dan minumannya diperhatikan. Ketika menjelang bertanding, setiap minggu sapi-sapi diberi jamu, bir, telur, madu, kopi, dan santan kelapa. Sapi dijemur setiap hari, dimandikan serta kulit dan tanduknya dihaluskan..


Sapi Madura Sebagai Penghasil Daging

Peternak sapi madura yang secara khusus jarang menghasilkan daging. Dagingnya dimanfaatkan setelah sapi dianggap tidak lagi bermanfaat untuk mengerjakan tanah pertanian, sudah tua, atau karena hal lain. Dengan demikian, daging yang dihasilkan bermutu rendah dan harganya murah. Padahal, restoran dan hotel bertaraf internasional menghendaki daging dengan mutu tinggi. Daging dengan mutu tinggi banyak dihasilkan oleh peternak luar negeri. Biasanya daging bermutu tinggi diperlukan oleh masyarakat tinggi menengah ke atas, hetel, dan restoran yang bertaraf internasional.

1. Pertambahan berat badan

Berat badan dan kecepatan tubuh ternak merupakan petunjuk penting dalam menentukan kemampuan menghasilkan daging. Berdasarkan pengalaman, sapi madura mempunyai pertambahan berat badan yang rendah. Berat badan sapi madura pada umur enam bulan hingga umur tiga tahun bertambah antara tiga ons sampai empat ons per hari per ekor. Pertambahan berat badan akan meningkatkan bila sapi diberi makan bermutu tinggi (konsentrat). Berat badan sapi madura sampai umur dua tahun bertambah tiga ons (sapi betina) per ekor per hari dan sapi jantan 3,4 ons per ekor per hari.

2. Mutu daging dan kerkas (kerangka) sapi madura

Salah satu jenis sapi potong yang baik adalah sapi madura karena badan lebar, kaki pendek, badan dalam, dan mutu daging cukup baik. Sapi madura dapat dijadikan penghasil daging yang baik. Warna daging sapi madura lebih menarik dan segar dibandingkan dengan sapi lain, seperti sapi bali. Oleh karena itu, perlu dikembangkan dan dilestarikan walaupun sapi madura termasuk sapi yang lambat pertumbuhannya.

Banyak kerkas sapi madura rata-rata 50 persen dari bobot badan atau setengah dari badan hidup. Banyak kerkas dan mutu daging ditentukan oleh umur pemotongan dan mutu makan yang diberikan. Oleh karena itu, untuk meningkatkan mutu kerkas, diperlukan perbaikan mutu makanan dan umur pemotong harus lebih muda. Untuk mencukupi pakan sapi, para peternak sering menggunakan jerami padi, jerami jagung. Para peternak pada umumnya menyimpan ke dua jenis pakan itu untuk mencukupi kebutuhan ternaknya.

Jumlah pemberian pakan pada musim kerja biasanya lebih tinggi bila dibandingkan di luar musim kerja. Selisih jumlah pemberian pakan hanya sekitar 1,5 kg per ekor. 

Tujuan Pemeliharaan

Bahan segar (kg)

Berat kering

Protein kasar (%)

(kg)

% berat badan

Penggemukan

Sapi aduan (karapan)

Sapi kerja

Sapi tabungan

25,5

18,0

15,7

15,2

4,86

4,92

3,97

3,96

1,9

2,0

1,6

1,6

8,3

8,9

9,2

9,2

Rata-rata

18,5

4,40

1,8

8,9

Berdasarkan data di atas, diketahui bahwa tujuan pemeliharaan amat bergantung pada pemberian pakan. Pemeliharaan dengan tujuan menggemukkan sapi aduan pemberian pakannya lebih tinggi dibandingkan sapi pekerja. Kebutuhan pakan sapi madura sebesar 1,8 % dari berat badan kadar protein 8,9%. Pakan yang diberikan peternak pada sapinya sering masih belum memenuhi kebutuhan atau belum memenuhi syarat. 

Pada musim kemarau dan musim hujan juga dapat perbedaan jenis ragam pakan. Hal itu disebabkan oleh hasil perbedaan persediaan hasil panen yang dilakukan peternak. Rumput segar dan rumput kering paling banyak digunakan sebagai pakan sapi. Pakan yang lainnya, jerami padi, jerami jagung, daun-daunan, dan kulit jagung. Rumput hampir tersedia setiap hari karena mudah diperoleh.


Pemberian Pakan

Pemberian pakan mempunyai kedudukan yang sangat penting di samping upaya pemulihan dan tata laksana. Pemberian pakan membutuhkan biaya pemeliharaan. Oleh karena itu, dengan pakan yang baik akan dihasilkan ternak sapi yang bermutu tinggi hingga bermanfaat bagi manusia, baik daging, tenaga, maupun kulitnya. Pakan yang diberikan pada sapi akan digunakan untuk memenuhi beberapa kebutuhan hidup sapi, seperti kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan, penggemukan, pekembangbiakan, produksi susu, atau aktivitas gerak

1. Bahan Pakan

Bahan pakan dapat digolongkan menjadi hijauan dan konsentrat.

a. Hijauan

Hijauan pakan ternak dapat berupa rumput, kacang-kacangan, dan limbah pertanian. Rumput merupakan bahan pakan yang paling bayak diberikan kepada ternak sapi, yaitu 70-100% dari bahan pakan. Rumput pakan hijauan yang berasal dari limbah pertanian adalah.
  1. jerami sorgum,
  2. pucuk tebu,
  3. jerami kacang tanah,
  4. jerami kacang kedelai,
  5. jerami ketela rambat, dan
  6. pucuk singkong.
Nilai pakan hijauan limbah pertanian sangat bergantung pada macam limbah, varetas tanaman, kesuburan tanah, pemupukan, saat dan cara panen. Kriteria nilai pakan dapat menggunakan kadar protein yang kasar dan bahan kering yang tercerna. Hijauan dibagi menjadi seperti berikut.
  1. Limbah berkadar protein rendah. Limbah ini mempunyai kadar cerna rendah pula. Contohnya, jerami padi, jerami jagung, jerami sorgum, dan pucuk tebu.
  2. Limbah pertanian berkadar protein sedang untuk keperluan hidup pokok. Limbah ini memiliki kadar sedang, contohnya jerami jagung bagian atas.
  3. Limbah pertanian berkadar protein cukup untuk keperluan produksi. Limbah ini memiliki kadar cerna tinggi.
Penggunaan limbah dalam ransum dapat diberikan secara khusus atau dengan tambahan. Penggunaan limbah yang diberikan secara khusus hanya mungkin apabila diberikan tambahan protein sehingga ransum menjadi seimbang. Untuk meningkatkan penggunaan limbah pertanian, diperlukan upaya teknologi terapan yang praktis dan ekonomis agar peternak memperoleh keuntungan lebih.

b. Konsentrat

Bahan pakan konsentrat dapat digolongkan sebagai sumber energi dan sumber protein
  1. Sumber energi (tenaga), bahan pakan yang menjadi sumber energi adalah bahan pakan yang mengandung kadar protein kurang dari 20% dan serat kasar kurang dari 18%. Contohnya, dedak padi, beras, biji gandum, ubi kayu, atau jagung.
  2. Sumber protein, Bahan pakan yang memjadi sumber protein adalah bahan pakan yang mengandung 20% protein atau lebih, Conohnya, bungkil kedelai, bungkil kelapa, atau bungkil kacang.

2. Penyusunan Ransum 

Untuk menyusun pakan, lebih dahulu ditentukan tujuan pemberiannya. Kebutuhan makanan dipenuhi dari bahan pakan yang tersedia. Penyusunan pakan akan disesuaikan dengan kebutuhan ternak dengan memanfaatkan bahan yang ada.

a. Tujuan pemberian pakan ransum

Tujuan pemberian ransum merupakan salah satu upaya pemenuhan zat makanan untuk hidup pokok, pertumbuhan, penggemukan, dan perkembangbiakan ternak, serta untuk produksi susu.

b. Kebutuhan makanan

Setelah ditentukan tujuan pemberian ransum, ditentukan pula kebutuhan ternak akan ransum.


Sapi Sebagai Tenaga Kerja

Ternak sapi di Indonesia tidak dapat lepas dari kehidupan para petani. Sebagian besar kegiatan petani dalam mengelola sawah belum menggunakan mesin pertian (traktor) hanya sebagian kecil saja yang sudah menggunakannya. Untuk itu, digunakan tenaga sapi atau kerbau. Keadaan itu juga terjadi di negara Asia lainnya, khususnya negara di kawasan Asia Tenggara. Di negara yang belum maju, ternak sapi berfungsi sebagai ternak kerja di bidang pertanian dan sebagai ternak tarik dan ternak beban. Ternak sapi juga memegang peran penting dalam pengangkutan di pedesaan atau pedalaman. 

Jasa sapi atau kerbau juga dimanfaatkan oleh pabrik gula tradisional, yakni untuk menggerakkan alat penggiling tebu dalam pembuatan gula. Sapi merupakan ternak yang paling cocok sebagai ternak kerja di bidang pertanian kerena sapi mempunyai kelebihan, antara lain tubuhnya berat, kuku besar, dan sendinya kuat. Sapi bekerja di sawah antara 3 jam dan 7 jam per hari. Sapi mulai dipergunakan untuk membajak sawah pada umur 2 tahun sampai 4 tahun, dan tidak dipakai kerja lagi pada umur 10 tahun. Sapi diistirahatkan pada umur 10 tahun, bahkan umur 20 tahun.

Dalam satu hari, sapi dapat mengerjakan sawah antara 0,1 ha sampai 0,25 ha. Waktu bajak mulai sekitar 06.00 - 10.oo pada pagi hari dan pukul 13.00 - 16.30 pada sore hari. Dalam satu hari, sepasang sapi dapat membajak sawah rata-rata seluas 810,5 m2 untuk pagi hari. Jika bekerja pada pagi dan sore, sapi mampu membajak seluas 1.354 m2. Dengan kata lain, 1 hektar sawah dapat diselesaikan dalam waktu 12 hari jika sapi hanya bekerja pagi hari atau 7 hari jika sapi bekerja pagi dan sore hari.

Agar seekor sapi meu membantu kerja, diperlukan upaya melatih sapi untuk bekerja ketika umurnya masih muda. di pedesaan sering kita lihat anak sapi mengikuti induknya dalam mengolah sawah, baik membajak atau pun menggaru. Latihan ini akan berhasil dengan baik bila dimulai pada sapi yang berumur kurang dari 2 tahun, bahkan semakn awal semakin baik. Melatih sapi memerlukan kesabaran dan keterampilan yang tinggi.

Perkembangan pertnian dengan mekanisasi pertanian menyebabkan fungsi sapi sebagai tenaga tarik atau ternak kerja akan hilang. di eropa misalnya, tenaga sapi telah diganti dengan tenaga mesin. Di dunia hampir sebagian besar sumber tenaga di bidang pertanian adalah tenaga hewan ternak, terutama di negara prancis, seperti RRC, India, Indonesia, Korea, dan Filipina. Sapi juga merupakan ternak tarik gerobak yang sangat baik. Dalam kondisi yang baik, sepasang sapi dapat menarik gerobak sejauh 48 km dalam waktu 12 jam. Disamping itu untuk membajak dan menarik gerobak, sapi juga dipakai untuk pacuan. Madura dikenal dengan aduan sapi dan pemeran sapi.


Perkembangbiakan

Perkawinan sapi madura umumnya masih berlangsung alami, yanki sapi betina dikawinkan langsung dengan sapi jantan pada keadaan sapi birahi. 

1. Birahi

Ternak sapi yang telah mencapai dewasa akan mengalami masa birahi. Masa birahi adalah masa bagi sapi betina siap menerima pejantan untuk mengawininya. Untuk dapat mengawininya dengan tepat waktu, perlu diketahui saat yang tepat kapan sapi betina birahi. Untuk itu, perlu diketahui tanda-tanda sapi birahi.
  • Sapi betina menguak-nguak.
  • Kelamin (vulva) berwarna merah.
  • Mengeluarkan lendir.
  • Vulva mengembang dan hangat bila diraba.
Sapi madura umumnya dikawinkan pertama kali pada umur sekitar 2 tahun lebih. Dengan demikian, diharapkan sapi madura akan beranak pertama kali pada umur 3 tahun. Jarak beranak pada sapi madura berkisar antara 12 bulan dan 14 bulan.

2. Nilai s/c (Jumlah perkawinan per kehamilan)

Nilai s/c untuk sapi madura merupakan salah satu penilaian yang dikhususkan untuk betina tentang fertilitas atau kesuburannya. Nilai s/c pada sapi madura antra 1,7 sampai 2. hal ini berarti untuk satu kali kehamilan sapi madura memerlukan minimal dua kali perkawinan.

3. Anga kelaminan (AK)

Angka kelahiran adalah salah satu cara penilaian hasil perkawinan yang lahir sempurna. Penambahan jumlah sapi madura termasuk rendah dibandingkan dengan perkembangan sapi potong lainnya di pulau Jawa. Hal ini disebabkan rendahnya angka kelahiran sapi madura. Besarnya angka kelahiran bergantung pada.
  • ketetapan dalam mengawinkan.
  • kesuburan penjantan, dan
  • kesuburan betina.

4. Program kawin suntik pada sapi madura

Program kawin suntik dikenal sejak tahun 1983. tetapi masyarakat madura terutama para petani peternak pada saat itu sangat rendah. Walaupun demikian, pelaksanaan kawin suntik tetap berjalan dengan menggunakan stok mani beku.

5. Hambatan dalam perkembangbiakan.

Hambatan dalam perkembangbiakan sapi madura biasanya berasal dari manusia, alam, dan hambatan sesial ekonomi.

a. Hambatan dari manusia

Peternak di Madura kurang antusias terhadap teknologi baru sehingga pengebirian dan kawin suntik lambat perkembangannya. Hal itu terjadi karena peternak tidak mudah menerima teknologi baru sebelum mereka mengetahui keuntungan yang akan didapatkan dengan teknologi baru tersebut pada saat itu.

b. Hambatan alam

Curah hujan yang rendah merupakan penyebab utama kesulitan pakan, baik dalam hal jumlah maupun hal mutu. Akibatnya, pakan sapi kurang memenuhi syarat yang dibutuhkan. Keadaan itu akan mempengaruhi perkembangbiakan sapi.

c. Hambatan sosial ekonomi

Tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi para peternak di Madura sebagian secara umum masih rendah sehingga pengelolaan sapi madura menjadi kurang baik.


Penyakit Sapi

Penyakit yang menyerang ternak sapi dapat dikelompokkan menjadi penyakit yang disebabkan oleh bakteri, disebabkan oleh virus, dan disebabkan oleh parasit.

1. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri

a. Penyakit septicaemia epizootica atau penyakit ngorok atau penyakit SE

Penyakit ini biasanya terjangkit menjelang musim hujan. Penyakit ini sangat berbahaya bagi ternak sapi atau kerbau. Kedua ternak itu sangat peka terhadap penyakit itu, terutama yang mempunyai kondisi lemah disebabkan kurang makan, kurang vitamin, atau oleh sebab lain, seperti terserang cacing. 

Tanda-tanda penyakit ngorok
  • mengeluarkan suara (mengorok).
  • kondisi tubuh sangat lemah.
  • terjadi gangguan pada alat pencernaan.
  • mulut mengeluarkan buih, dan hidung mengeluarkan lendir.
Penyakit tersebut dapat dicegah dengan cara berikut.
  • melakukan vaksinasi.
  • pemberian pakan yang bermutu baik dan dalam jumlah yang cukup.
  • pemberantasan parasit, baik yang diluar tubuh maupun didalam tubuh.
Pengobatan
  • Pengobatan dapat dibasmi dengan suntikan antibiotika, seperti strptomycin dan tetracyline. obat-obatan, seperti sulphadinamidin dan sulphamerezine.

b. Penyakit anthrax

Penyebab penyakit ini ialah bacillus anthracis. Penularannya berlangsung melalui tanaman dan rumput yang tercemar bibit penyakit atau tanah penggembalaan yang tercemar bibit penyakit. Penyakit anthrax masih berkembang terutama di Indonesia.

Penyebab penyakit tersebut adalah sebagai berikut.
  • Kurangnya pengetahuan peternak tentang penyakit.
  • Ternak yang terkena penyakit masih dikomsumsi.
  • Kulit atau daging ternak yang terkena penyakit anthrax masih disimpan.
  • Kuburan bangkai ternak yang terserang penyakit anthrax terlalu dangkal.
  • Kurang tepat dalam memusnahkan sisa bangkai ternak penderita anthrax.
Gejala penyakit anthrax adalah sebagai berikut.
  • Temperatur tubuh sangat tinggi.
  • Ternak sering mencret dan kotorannya sangat bau, serta sering bercampur darah.
  • Air kencing sering bercampur darah.
Pencegahan penyakit anthrax adalah sebagai berikut.
  • Vaksinasi rutin setiap tahun.
  • Dilakukan imunisasi untuk daerah ternak yang mati karena anthrax atau harus dikubur dalam-dalam dan di atas bangkai harus ditaburi kapur.
  • Dijauhkan ternak yang terserang penyakit anthrax.
Ternak yang terserang anthrax dapat diobati dengan cara berikut.
  • Pemberian antibiotik, seperti penicilin, aureomycin, dan terramycin.
  • Pengobatan dengan menggunakan antibiotik bisa manjur bila ternak masih belum sakit parah atau masih berada pada tahap awal. Dalam keadaan seperti itu ternak dapat diobati dengan sulphadiazine dan sulphamethazine.

c. Penyakit brucellosis (keguguran)

Penyebab penyakit ini ialah bakteri abartus bangs. Penularan melalui perkawinan alam, makanan dan minuman yang tercemar, dan ambing (susu). Gejala penyakit keguguran sebagai berikut, selalu keguguran jika hamil, sesudah keguguran akan keluar cairan kecokelat-cokelatan dari lubang peranakan. Penyakit ini dapat dicegah dengan cara-cara sebagai berikut, vaksinasi terutama pada sapi muda, sebaiknya penderita dijadikan ternak potong dan dipotong di rumah potong hewan.


d. Penyakit tuberculosis (TBC) 

  • Penyebab penyakit tuberculosis ialah mycobecterium tuberculosis.
  • Penularannya berlangsung melalui binatang lain dan makanan yang tercemar.
  • Gejala penyakit tuberculosis adalah batuk sering sekali, kondisi bandan sangat lemah, badan kurus, pernapasannya sangat cepat.

2. Penyakit yang disebabkan oleh virus

a. Penyakit PMK (penyakit mulut dan kuku)

  1. Penyebab penyakit ini ialah picorna virus.
  2. Penyebaran penyakit ini melalui kontak langsung dengan penderita, makanan yang tercemar air liur penderita, dan virus yang terbawa angin.
  3. Gejala penyakit PMK adalah mutul, pipi, gusi, dan permukaan lidah melepuh. badan kurus dan lemah, kulit luar kuku terkelupas.
  4. Penyakit ini dapat dicegah dengan cara memvaksinasi ternak yang belum terserang penyakit minimal dua kali setahun, membatasi ruang gerak ternak.
  5. Pengobatan ternak yang menderita dan tidak kunjung sembuh terpaksa dimusnahkan, belum ada obat yang manjur untuk memusnahkan penyakit ini.

b. Penyakit Inderpest

  1. Penyebabnya ialah paramyco virus, terdapat di dalam darah, cairan tubuh, usus, atau limpa.
  2. Gejalanya temperatur tubuh naik dan mengakibatkan demam, bintik-bintik merah timbul pada mulut, pipi, gusi, dan bibir, mata mengeluarkan cairan nanah, hidung mengeluarkan cairan, mulut kering dan terasa panas bila diraba, ternak sering mencret.
  3. Pencegahan dilakukan ternak yang sakit diisolasi atau dipisahkan, ternak yang masih sehat divaksinasi, ternak yang sudah sembuh akan kebal, tetapi jarang sekali ternak yang dapat sembuh, ruang gerak ternak dibatasi, ternak yang terserang penyakit sebaiknya disembelih.

3. Penyakit yang disebabkan oleh parasit

a. Penyakit surra

  1. Penyebabnya adalah tripanosomiasis.
  2. Penularan dari satu hewan ke hewan lain melalui gigitan lalat dari genus tabanus.
  3. Gejala-gejala penyakit surra adalah sapi berbadan kurus, kurang darah, terjadi pembengkakan pada dada sampai perut, kaki belakang pincang, sempoyongan, berputar-putar dan sering mengalami kelumpuhan.
  4. Pencegahan penyakit ini adalah melakukan vaksinasi terhadap ternak yang belum terserang penyakit. pembersihan terhadap lalat-lalat pembawa penyakit.

b. Penyakit cacing hati

  1. Penyebabnya adalah cacing fasciolahepatica (cacing hati).
  2. Penularannya adalah siput air tawar.
  3. Gejala-gejala penyakit cacing hati adalah kulit menjadi pucat, kondisi tubuh lemah, selalu menyendiri, terjadi kerusakan pada hati.
  4. Pencegahan penyakit ini adalah ternak tidak digembalakan di tempat-tempat yang berair, pemberantasan siput.

c. Penyakit cacing mata

  1. Penyebabnya ialah cacing helezia sp (cacing mata).
  2. Gejalanya adalah ternak dapat menjadi buta karena larva cacing (anak cacing) berenang di mata.
  3. Pengobatan dilakukan, mata ditetesi asam borak, kemudian ditetesi air tembakau, mata ditetesi larutan piperazine adipete 3% setelah kurang dari 3 menit ditetesi asam borak kadar 3%

4. Penyakit-penyakit lain

a. Penyakit kembung (bload)

  1. Gejalanya perut kembung, perut membesar.
  2. Penyakit ini diobati dengan meminumkan campuran gula, minyak kelapa, dan telur.

b. Penyakit diare (mencret)

  1. Gejalanya kotoran cair, sering buang kotoran.
  2. Pengobatan penyakit adalah dengan memberikan daun jambu batu pada ternak.

c. Luka-luka atau lecet

Pengobatan penyakit ini adalah dengan cara membalurkan campuran minyak kelapa dan belerang.



Sumber : Ir. N.R Dewi Sopiah Azuri dan Eddy Suwartono

Type and hit Enter to search

Close