Cara membuat mesin tetas telur

Cara membuat mesin tetas telur tradisional bekerja secara konvensional adalah yang menggunakan tenaga panas matahari. Seperti yang diketahui bahwa matahari merupakan sumber egergi yang tidak ada habisnya.


Sumber panas matahai ini telah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti tenaga penggerak motor, pembangkit listrik, dan lain-lain. Begitu juga untuk proses penetasan, telah bisa pula dilakukan dengan panas matahari.

Alat tetas ini dikenal lebih dari 10 tahun. Menurut kabar, yang pertama kali menggunakan alat tetas ini diganti dengan serbuk gergaji. Jumlah telur yang ditetaskan dapat mencapai sekitar 1.000 butir, tergantung pada besar kecilnya alat tetas yang dibuat.

Dari hasil yang dicapai, penetasan dengan alat ini tidak bisa mencapai seperti menggunakan alat tetas lampu minyak atau lampu pijar. Persentase hanya berkisar 60-70%. Hal ini bisa dimaklumi karena pengaruh beberapa faktor.

Misalnya, pengontrolan suhu yang sulit, kelembapan udara yang kurang, timbulnya bekteri dan jamur pada sekam atau jerami yang dipakai sebagai penyimpanan panas dan lain-lain. Yang lebih menyakinkan adalah panasnya tergantung pada kondisi matahari. Jadi, dapat dikatakan hanya mampu bekerja dengan baik pada saat musim kemarau.


Bahan baku

Untuk membuat mesin tetas telur ini menggunakan bahan baku dari kayu kaso, papan lapis, bambu, kayu reng, paku, tali rafia, gabah atau sekam padi atau kalau tidak ada bisa juga menggunakan serbuk gergaji. Perlatan yang dibutuhkan antara lain gergaji, pasah, pahat, palu, parang, dan pisau.

Sebenarnya alat ini memadai jika digunakan di daerah pedesaan yang jauh dari kota. Di plosok desa, umumnya lebih mudah mencari bahan baku berupa sekam atau gabah dan bambu. Namun, bukan berarti tidak cocok unuk daerah perkotaan, tetapi akan lebih sesuai jika digunakan oleh masyarakat desa. Anda yang tinggal di kota tidak bisa salahnya untuk mencoba membuat alat tetas telur sendiri karena mudah dan sangat sederhana


Bagian yang diperlukan dan cara pembuatannya

Untuk membuat alat tetas ini, tidak diperlukan suatu pedoman yang pasti. Artinya, besar kecilnya alat tergantung pada kebutuhan dan disesuaikan dengan bahan baku yang ada. Yang penting adalah harus dibuat sebaik mungkin dan memenuhi syarat sebagai alat tetas yang baik.

1. Keranjang pengeraman

Ilustrasi keranjang pengeraman. Pixabay

Dalam melakukan penetasan dengan menggunakan tenaga panas matahari, diperlukan keranjang yang berfungsi sebagai tempat pengeraman. Keranjang ini dibuat dari anyaman bambu yang telah dibelah dan dihaluskan.

Untuk membuatnya memang agak sulit bagi anda yang belum bisa. Kecuali jika anda pernah membuat tiker atau keranjang sendiri, tentunya bukan menjadi masalah. Pekerjaan menganyam biasanya lebih banyak dilakukan oleh masyarakat pedesaan sebagai sambilan, seperti membuat keranjang, kipas, tikar, tudung, bakul, alat penampi beras, dan lain-lain sehingga untu membuat keranjang pengeraman bukanlah pekerjaan yang sulit.

Untuk itu, jika anda memang tidak bisa membuat sendiri, serahkanlah pembuatannya kepada yang sudah terbiasa, anda tinggal menyerahkan berapa besar ukuran yang dibutuhkan. Ukuran yang dibutuhkan untuk membuat keranjang pengeraman tidak mutlak, tergantung pada kebutuhan.

Jika telur yang akan ditetaskan berjumlah banyak tentunya dibutuhkan ukuran keranjang yang besar. Sebagai percobaan cukup membuat keranjang dengan ukuran tinggi 80 cm dan lebar diameternya 50 cm.

Seiap keranjang harus dilengkapi dengan penutup. Bahan yang digunakan adalah bambu. Ukurannya sedikit lebih besar daripada mulut keranjang. Tutup ini berfungsi menjaga agar suhu dalam keranjang pengeraman tidak cepat menguap.

2. Kotak keranjang


Kotak keranjang digunakan sebagai wadah keranjang yang telah berisi telur waktu pengeraman  berlangsung jika keranjang langsung dimasukkan dalam peti pengeraman nantinya akan mempersulit waktu keluar masuknya keranjang. Untuk memmudahkannya, digunakan sarana bantu berupa kotak keranjang.

Kotak keranjang ini bisa dibuat sendiri. Selain pembuatannya mudah, bahan bakunya juga hanya berupa papan lapis dan kayu reng. Kayu reng yang akan dijadikan kerangka kotak tidak perlu diamplas, tetapi cukup dipasah saja untuk menghilangkan seratnya.

Reng yang dipakai berukuran 2 x 3 cm. Kemudian dipotong dengan ukuran panjang 85 cm, sebanyak 4 potong dan panjang 60 cm, sebanyak 8 potong. Sedangkan papan lapisannya dipotong dengan ukuran 85 x 60 cm, sebanyak 4 lembar. Setelah kayu reng dipersiapkan, selanjutnya dibentuk kerangka.



Ukuran kotak panjang ialah tinggi 85 cm dan lebar panjang 60 cm. Setelah pembuatan keranjang selesai selanjutnya keempat papan lapis sebagai dindingnya dipaku. Jarak paku sebaiknya agak rapat agar kotak lebih kuat. Sedangkan bagian atas dan bawah dibiarkan terbuka. Jadi, dindingnya saya yang tertutup.

3. Peti pengeraman

Peti pengeraman digunakan sebagai wadah kotak dan keranjang pengeraman. Setelah telur dimasukkan dalam keranjang dan ditata untuk kemudian ditutup, kotak keranjang dimasukkan dalam peti lalu keranjang itu dimasukkan dalam kotak.

Hal ini akan diterangkan lebih lanjut dalam bagian pelaksanaan penetasan. Ukuran yang diperlukan untuk pembuatan peti tergantung pada kebutuhan. Kalau telur yang hendak ditetaskan banyak, dengan jumlah keranjang sampai lebih dari 4 buah per peti, ukuran peti pun harus besar.



Sebagai bahan percobaan, anda bisa membuat peti pengeraman dengan ukuran tinggi 100 cm, panjang, 240 cm, dan lebar 100 cm. Ukuran sekian itu dapat digunakan sebagai wadah 3 keranjang bersama kotaknya. Caranya sebagai berikut :
  • Membuat kerangka peti pengeraman tidak jauh berbeda dengan membuat kerangka alat tetas lampu minyak, hanya saja kerangka peti tidak memerlukan kaki. Bahannya dari kayu kaso yang sudah dipasah, dan potonganyang lancip. Selanjutnya potonglah menurut ukuran yang dibutuhkan, yaitu panjang 240 cm sebanyak 4 buah dan panjang 1 meter sebanyak 8 buah.
  • Potongan kayu kaso itu selanjutnya dirangkai sehingga membentuk kerangka. Hubungan antara ujung kayu yang satu dengan lainnya harus dibuat lurus agar kerangka menjadi lebih kuat. Kayu kaso yang digunakan berukuran 4 x 5 cm. Dengan cara itu, kekuatan rangka tidak hanya tergantung pada paku, tatapi juga karena adanya purus. 
  • Potonglah papan lapis untuk dinding dan alasnya, yaitu 3 lembar dengan ukuran 240 x 100 cm dan 2 lembar ukuran 100 x 100 cm.
  • Papan lapis ukuran 240 x 100 cm sebanyak 3 lembar digunakan untuk dinding belakang, dinding depan, dan alas peti, papan yang 2 lembar ukuran 100 x 100 cm untuk dinding samping kanan dan kiri, sedangkan bagian atas peti dibiarkan terbuka.
  • Setiap papan lapis dipasang pada kerangkanya dengan paku triplek. Untuk menambah kekuatan jarak antarpaku jangan terlalu jauh. 


4. Rak penetasan


Rak penetasan dibuat dari bahan yang sama, yaitu kayu kaso dan papan lapis. Funsi utama rak penatasan ialah untuk penetasan labih lanjut, yaitu telur yang dieramkan dalam keranjang, 4 atau 5 hari sebelum menetas, dipindahkan ke rak penetasan. 

Ukuran rak tergantung pada jumlah telur yang ditetaskan dan bisa berbentuk tunggal atau bertingkat. Untuk membuatnya sedikit lebih sulit karena hampir menyerupai sebua tempat tidur.

Sebagai langkah percobaan bisa kita membuat rak penetas dengan ukuran panjang 160 cm, lebar 100 cm, tinggi dari lanti sampai rak pertama lebih kurang 75 cm, dan jarak rak pertama dengan rak berikutnya sekitar 30 cm.

Sebagai tiang sekaligus kaki, rak menggunakan kayu kaso sebagai atas dan bawah. Samping kakan dan kiri menggunakan kayu reng, sedangkan sebagian atas tiap rak menggunakan papan lapis.

Mungkin bagi anda agak sedikit kesulitan membuat rak seperti ini, kecuali jika anda ahli dalam tukang kayu. Untuk itu, jika anda merasa kesulitan, serahkan saja pembuatannya pada tukang kayu. 

5. Fungsi karung goni

Dalam proses penetasan dengan alat ini, diperlukan sarana bantu berupa karung goni. Fungsinya sebagai penahan gabah atau sekam agar tidak keluar melalui celah-celah keranjang. Goni juga berguna sebagai isolator panas dan penutup bagian atas agar panas tidak mudah hilang. Selain itu, digunakan juga sebagai alas rak penetasan agar gabah tidak mudah tumpah dari pinggir rak.

Jumlah karung goni yang diperlukan tergantung pada kebutuhan. Untuk mendapatkannya bisa membeli di pasar atau bisa juga bekas tempat barang lain seperti gula, tepung terigu, dan sebagainya, asalkan karung itu bersih dan tidak robek.



Prosedur kerja alat tetas tenaga panas matahari


Karena alat ini benar-benar tradisional proses kerjanya pun sangat sederhana. Dapat dikatakan proses pengoperasian sepenuhnya menggunakan tenaga panas matahari. Yang berfungsi paling dominan adalah sekam atau gabah karena gabah inilah yang nantinya dapat menyimpan panas dan menyebarkan secara merata ke seluruh telur.

Sedangkan yang lain, hanya merupakan sarana bantu untuk mempermudah proses penetasan dan memudahkan pekerjaan. Proses penetasan biasanya dengan meletakkan peralatan yang telah lenkap berikut isinya. Setiap peti pengeraman diisi 3 atau empat keranjang, terjantung besar kecilnya peti.

Antara peti yang satu dengan yang lain dijajarkan rak penetasan. Dengan demikian, rak penetasan berbeda di antara 2 peti pengeraman dengan maksud untuk memudahkan pemindahan telur di atas rak jika tiba waktunya.


Cara melaksanakan penetasan

Pelaksanaan penetasan dengan alat ini agak sedikit berbeda dengan pelaksanaan menggunakan jenis alat tatas lain. Prosesnya benar-benar tradisional sehingga memerlukan penanganan khusus. 

Dari berbagai cara yang dilakukan, yang terkenal dalam melaksanakan proses penetasan dengan alat ini adalah cara yang dari Bali dan Kalimantan Selatan. Untuk itu, kita bisa meniru salah satu dengan sedikit modifikasi.

1. Penetasan cara bali

Pertama, gabah atau sekam dijemur kering sambil dibali-balik agar keringnya merata. Bersamaan dengan itu, telur yang sudah terpilih dijemur selama kurang lebih 1 jam hingga suhunya mencapai 39 derajat celcius. 

Setelah itu, gabah kering dimasukkan kedalam karung. Setiap karung sebaiknya berisi 2 kg gabah. Pada waktu menjemur pertama kali gabah dan telur, sebaiknya dilakukan pukul 09.00 pagi. Hari kedua gabah kembali dijemur selama 2 jam sambil dibalik-balik, tetapi tetap dibiarkan dalam karung.

Selain memudahkan pengangkatan, telur cukup dijemur sekali saja pada hari pertama. Penjemuran gabah pada hari kedua dan seterusnya dilakukan dua kali sehari, yaitu pukul 09.00 dan pukul 15.00, masing-masing selama 2 jam, setiap kali penjemuran gabah dibalik-balik dan masih tetap dibiarkan dalam karung.

Jika musim penghujan, penjemuran gabah tidak mungkn dilakukan. Untuk itu, bisa digunakan cara lain. yaitu sangrai walaupun cara ini tidak efisien. Jika penjemuran telah cukup dan babah telah mampu menyimpan panas dengan baik, proses pengeraman segera bisa dilaksanakan. 

Adapun caranya sebagai berikut :
  • Siapkan beberapa karung goni, gabah, dan keranjang pengeraman.
  • Masukkan goni dalam keranjang agar jika diisi gabah tidak tercecer ke luar melalui celah-celah keranjang.
  • Jika posisi goni dalam keranjang telah baik, masukkan gabah ke dalamnya hingga ketebalan melebihi telur, atau sekitar 10 cm. 
  • Masukkan telur dan ditata di atas gabah.
  • Di atas telur diletakkan goni atau kain sebagai alas gabah.
  • Di atas kain ditaburi gabah kembali setebal 10 cm, kemudian telur disusun seperti penyusunan pertama kemudian diberi lapisan kain. Susunan kemudian diberi lapisan kain. Susunan urutannya adalah gabah, telur, kain, gabah, telur, kain dan seterusnya.
  • Jika pengisian telah penuh, bagian paling atas sebelah kiri diberi lapisan gabah kemudian keranjang ditutup.

Proses selanjutnya adalah memasukkan keranjang ke dalam peti pengeraman. Sebelum itu, alas peti pengeraman ditaburi gabah setebal lebih kurang 15 cm hingga merata. Kemudian letakkan kotak keranjang dalam peti pengeraman letakkan kotak panjang dalam peti pengeraman dengan jarak 15 cm antar kotak.

Jika gabah telah cukup padat dan merata, masukkan keranjang yang telah berisi telur dalam keadaan tertutup ke dalam kotak keranjang. Sebenarnya keranjang yang dimasukkan dalam peti tidak memakai kotak keranjang juga tidak apa-apa hanya saja nantinya akan mempersulit jika akan dikeluarkan karena terpendam gabah. 

Oleh karena itu, digunakan kotak untuk mempermudah pemasukan dan pengeluaran keranjang. Esok harinya, telur dikeluarkan dari keranjang untuk diperiksa bahwa telur yang ditetaskan benar-benar mengandung bibit.

Setelah pasti bahwa semua telur dalam keadaan baik, susunlah telur itu dalam keranjang seperti semuala. Pada waktu memeriksa telur, bersamaan dengan itu, gabah dijemur lagi selama lebih kurang 2 jam. Sesudah telur tersusun kembali dalam keranjang tidak ada lagi tindakan dalam keranjang pemeriksaan sampai hari keenam. Namun, jangan lupa, setiap 3 hari sekali telur harus dibalik atau diputar.

Untuk memudahkan pekerjaan, setiap kali melakukan pemutaran telur, sebaiknya disiapkan keranjang dan gabah baru yang sudah dijemur. Pelaksanaannya seperti pada awal. Jadi, telur yang dibalik diambil dari keranjang lama dan dimasukkan ke dalam keranjang baru dengan tata cara seperti semula.

Setelah keranjang lama kosong, keranjang baru yang sudah terisi telur dimasukkan dalam kotak yang berada dalam peti. Hari ketujuh, telur diperiksa kembali untuk memastikan bahwa telur mengandung bibit. Untuk memudahkan pekerjaan, pelaksanaannya seperti diatas.

Sambil diperiksa, telur dipindah dari keranjang lama ke keranjang baru. Hal itu dilakukan pula pada waktu pemutaran dan pembalikan telur setiap 3 hari sekali. Telur yang kosong atau bibitnya mati disingkirkan, sedangkan yang baik, tetap terus dieramkan. Proses ini dilakukan sampai hari keenam belas.

Pada hari keenam belas atau ketujuh belas, kematangan telur sudah cukup, telur dipindahkan dari keranjang ke rak penetasan. Kalau selama enam belas hari itu, ada satu atau dua hari cuaca dalam keadaan dingin dan hujan, pemindahan telur bisa dilakukan hari ketujuh belas atau kedelapan belas.

Penyusunan telur di atas rak penetas tidak terlalu sulit. Pertama rak diberi alas dari karung goni, kemudian di atasnya ditaburi gabah setebal lebih kurang 5 cm. Di atas gabah disusun telur dengan penataan yang baik.

Setelah telur tersusun rapi, taburilah kembali gabah di atas telur sampai semua telur tertutup oleh timbunan gabah. Di atas rak penetasan ini, proses pembalikan telur terus dilakukan. Bahkan, pembalikan dilakukan enam kali sehari, yaitu setiap pukul 05.00, o8,00, 11.00, 14.00, 17.00, dan 24.00. Hal itu dilakukan terus sampai telur menetas.

Yang dimaksud pembalikan telur adalah mengubah posisi telur dan bukan berarti membalik yang lancip di atas dan yang tumpul dibawah, melainkan menubah posisi rabahannya. Yang tadinya rebahan ke kiri, dibalik menjadi rebahan ke kanan.

Begitu sebaliknya, demikian juga yang semua telur berada di pinggir dipindah ke tengah dan sebaliknya. Dengan cara demikian panas yang diterima telur akan merata. Selain itu, perlu pula diperhatikan bahwa jika udara terlalu panas, lapisan atas telur dikurangi, dan jika terlalu dingin, lapisan gabah ditambah.

Kemudian untuk mendapatkan kelembapan udara, jika dirasakan sudah cukup, biarkan saja, tetapi jika dirasakan kurang, di atas telur dipercikan air sedikit demi sedikit. Yang penting jangan sampai sinar matahari langsung mengenai telur.

2. Penetasan cara kalimantan selatan

Tata cara pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan cara bali, hanya saja ada sedikit perubahan. Cara ini paling banyak dilakukan oleh suku amuntai kalimantan selatan. Pada hari pertama sampai hari ketiga, penyusunan telur dalam keranjang sama dengan cara bali.

Pada hari keempat dan seterusnya, susunannya berubah, yaitu gabah, telur, kain, telur, kain, telur, kain dan seterusnya. Jadi, lapisan gabah hanya ada pada bagian bawah. Pada hari ketujuh dilakukan pembalikan telur sambil diperiksa. Proses pembalikan dilakukan tiga kali sehari.

Pada hari kesebelas dan kedua belas, telur lapisan pertama dibalik seraya dimasukkan ke dalam keranjang baru kemudian telur baru disisipkan di atasnya tanpa alas. Di atasnya diletakkan telur lama dan diberi alas kain. Telur baru diletakkan di atas telur lama tanpa alas, begitu seterusnya.

Untuk tidak terjadi kesalahan, setiap telur harus diberi tanda untuk membedakan antara telur lama dan telur baru. Dengan begitu susunannya menjadi gabah telur, lama telur, baru telur, lama kain, telur, lama telur, baru telur, lama kain, dan seterusnya. 

Sedangkan lapisan bagian paling atas berupa gabah. Setelah mencapai hari keenam belas atau ketujuh belas, telur lama dipindahkan ke rak penetasan yang proses selanjutnya sama dengan cara bali.

Dari cara-cara yang dilakukan, baik proses penetasan cara bali maupun kalimantan selatan, pelaksanaannya benar-benar tradisional dan perlu penanganan secara lebih intensif. Dapat dikatakan bahwa cara penetasan seperti ini kurang praktis dan persentse yang bisa dicapai hanya sekitar 60-70%. Namun, tidak ada salahnya jika anda mencoba untuk mengetahui sampai di mana keberhasilan yang bisa dicapai.


Sumber : Drs. Surisno Satriyo u

No comments for "Cara membuat mesin tetas telur"