Breaking News

Beternak ayam bangkok

Prospek budidaya ayam bangkok


Ayam bangkok atau lebih dikenal dengan ayam aduan sudah sejak dahulu dikenal oleh masyarakat  Indonesia, baik di kota maupun di desa. Dalam sejarah bangsa atau legenda, kita mengenal cerita mengenai kinantan, ciungwanara, atau cindelaras yang mengatakan bahwa sabung ayam merupakan keagamaan masyarakat. Namun, perkembangan selanjutnya banyak mengarah pada hal-hal kurang baik, sebagai ajang perjudian. Dengan kata lain, ayam-ayam yang dipelihara semata-mata untuk taruhan.



Pada masa sekarang ayam bangkok (setelah pemerintah melarang segala bentuk perjudian) dipelihara bukan hanya untuk kegemaran, melainkan sudah berkembang menjadi lahan bisnis yang cukup menguntungkan. Permintaan terhadap ayam bangkok dari hari ke hari semakin meningkat. Hal itu dapat kita lihat dengan semakin banyaknya masyarakat beternak ayam bangkok yang menjurus pada usaha budidaya.

Tujuan pemeliharaan ayam bangkok beda dengan pemeliharaan ayam buras atau ayam ras. Walaupun dapat menghasilkan daging atau telur, ayam bangkok dipelihara untuk mendapatkan jantan saja. Seekor ayam bangkok yang sudah 'jadi' dewasa bernilai jual yang cukup tinggi. Dengan banyak permintaan ayam jantan dewasa, diharapkan para peternak ayam bangkok berlomba-lomba untuk menghasilkan ayam jantan yang baik. Ayam jantan bangkok yang bagus kualitasnya akan menghasilkan keuntungan yang tinggi. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa budidaya ayam bangkok mempunyai prospek yang cerah.

Para peternak diharapkan selalu memperlihatkan faktor-faktor yang mendasar, antara lain, pembibitan, pemberian pakan, serta terlaksana (menegemen). Ketiga faktor itu merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan. Apalah artinya pembibitan jika masalah yang lainnya diabaikan. Demikian juga fakor yang satu diperhatikan, tetapi yang lainnya tidak diperhatikan dan terabaikan. Maka, usaha ini tidak akan berhasil. Kita dapat melihat dan mengamati dengan seksama bahwa masih banyak para peternak ayam bangkok yang memelihara ayam dengan cara tradisional. 

Seandainya ada perlakuan khusus, itu hanya terjadi hanya pada ayam-ayam bangkok yang sudah dewasa, misalnya perawatan fisik saja. Jika seorang peternak ayam mengusahakan dengan benar-benar dan ingin mendapatkan hasil yang baik serta bedaya guna, sebaiknya pemeliharaan ayam bangkok secara tradisional ditinggalkan saja. Sudah selayaknya pemeliharaan serta usaha ayam bangkok harus memperhatikan faktor-faktor di atas dengan baik dan seksama. Hal itu bukan berarti bahwa cara pemeliharaan para peternak ayam bangkok yang selama ini diusahakan keliru, tetapi kita mengusahakan bagaimana caranya agar dapat memperoleh hasil yang lebih baik lagi.

Sehubungan dengan usaha budidaya ayam bangkok yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, artikel ini mengingatkan kembali bahwa betapa pentingnya hal-hal yang telah diuraikan itu. Pada dasarnya artikel ini menyadari bahwa masih banyak banyak peternak yang jauh lebih berpengalaman. Namun, masih banyak hal yang penting justru diabaikan, misalnya dari segi pembibitannya, pemeliharaannya, segi makanannya, dan segi pengelolaan secara menejemen yang kurang baik.

Mengenal Ayam Bangkok

1. Biologi ayam bangkok

Sifat biologis ayam bangkok tidak terlalu berbeda dengan jenis ayam yang lain. Walaupun ada, perbedaan lebih banyak terlihat dalam hal fisik, antara lain besar bandannya, pertumbuhannya, dan warna bulunya. Pada galur murni ayam bangkok asli terdapat bulu hias yang merah mengkilap dengan dasar bulu hitam kehijau-hijauan. Hal itu disebabkan oleh asal-usul dari keturunan (gallus-gallus) yang memiliki bulu serupa pada leher serta punggung.

Ukuran tubuh ayam bangkok diketahui berdasarkan penimbangan bobot badannya. Ayam bangkok dewasa dapat mencapai bobot sekitar 2-2,5 kg dan berat minimal sekitar 1,5 kg. Para peternak harus mengetahui terlebih dahulu umur dewasa ayammya, yaitu mulai dari waktu menetasnya telur menjadi anak ayam sampai dengan anak ayam itu mulai bertelur untuk yang pertama kalinya (untuk ayam betina) dan keluarnya sperma dari bagian organ reproduksi (untuk ayam jantan). 

Umur ayam dewasa berkisar antara 7-8 bulan karena pada umur tersebut alat-alat reproduksi sudah mulai bekerja serta menghasilkan hormon. Jika indung telur ayam betina dibuahi oleh sperma jantan, indung telur akan menjadi telur. telur akan dierami oleh induk betina kurang lebih 21 hari sehingga menetas menjadi anak ayam.

Induk ayam betina ketika sudah dewasa anak bertelur. Telur yang dihasilkan antara 10-15 butir dalam satu masa bertelur. Bobot telur ayam bangkok berkisar antara 40-50 gram per butir. Peningkatan berat telur akan berlanjut sejalan dengan pertambahan umur ayam betina tersebut. 

Dalam perkembangbiakan dan pertumbuhan, ayam bangkok tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh, antara lain fertilitas, daya tetas, produksi telur, dan kekebalan bawaan. Oleh karena itu, dasar-dasar biologis dipengaruhi juga oleh 3 faktor, yaitu :
  1. faktor lingkungan yang mencakupi temperatur, suhu cahaya, dan kelembaban udara.
  2. faktor genetika, yaitu bangsa, tipe ayam (pedaging, petelur, atau kombinasi keduanya), dan
  3. adanya interaksi dari kedua faktor tersebut.
Sekalipun kita berternak ayam bangkok itu dari keturunan murni, tetapi tidak didukung oleh keadaan lingkungan yang baik (kualitas pakan, program pengendalian hama dan penyakit, atau pemeliharaan pada kandang yang memenuhi syarat untuk kesehatan ayam), hasilnya tidak bisa diharapkan dengan baik. Potensi dari genetikanya tidak akan menurunkan hasil secara optimal atau sifat yang seharusnya dimiliki oleh ayam bangkok murni tidak dapat ditampilkan dengan baik jika faktor pemeliharaan tidak dipenuhi.

Pejantan yang kurang baik tidak memiliki bertarung yang tinggi, kurang mempunyai semangat, cepat menyerah, otot lembek, tulang mudah keropos. Jika ayam jantan dipelihara berkualitas bibit jelek, produktifitas ayam yang dihasilkan akan tetap kurang baik.


2. Karakteristik ayam bangkok

a. Otot dan refleksi urat saraf

Sistem perototan ayam berfungsi untuk menggerakkan tubuh dan melindungi organ bagian dalam. Untuk mendapatkan gerak tubuh yang lentur dan lincah, diperlukan otot yang besar, kekar, serta kuat. Otot yang jelek akan mengakibatkan gerak ayam menjadi lamban. Sistem otot pada ayam dapat dibedakan menjadi empat bagian, yaitu seperti berikut.
  1. Otot dada yang meliputi bagian dada dan sayap, yang merupakan otot besar dari bagian otot yang lainnya, berfungsi sebagai penggerak otot pangkal sayap. Untuk itu, otot dada harus tebal dan liat sehingga sayap dapat digerakkan dengan cepat untuk memukul lawannya.
  2. Otot paha, yaitu harus yang membungkus tulang paha, hendaknya memiliki susunan yang kompak, liat, dan kenyal.
  3. Otot bawah kulit yang terletak di bawah kulit bagian dasar tangkai bulu berfungsi  sebagai penggerak bulu. Misalnya, apabila bulu leher tidak mengembang sempurna, akan mudah bagi lawan memasukkan pukulan ke bagian kepala ayam.
  4. Mucullus ambiens adalah otot yang berfungsi pada saat ayam bertengger. Secara khusus otot ini tidak banyak berfungsi pada ayam aduan. Sekalipun demikian, otot ini perlu untuk menambah tenaga berdiri sesudah jatuh dihantam lawan.
Untuk mengetahuinya dengan pasti, seorang peternak harus langsung meraba bagian otot secara keseluruhan dengan merasakan apakah tebal, liat, dan kekar atau sebaliknya. Pada dasarnya setiap otot mempunyai susunan saraf serta pembuluh darah, saraf dapat menggerakkan otot apabila ada rangsangan dari luar yang diampaikan ke otak. Selanjutna, rangsangan dijawab dengan bentuk perintah gerakan ayam bangkok atau ayam aduan, ketika bertarung, memerlukan kecepatan gerak yang tinggi sehingga urat saraf harus bekerja dengan normal.


b. Tubuh ayam bangkok

Kepala ayam bangkok berbentuk buah pinang dan matanya merah terang. Kedua hal itu menandakan sistem peredaran darah berjalan dengan sempurna ke seluruh bagian tubuh. Selain itu, kulit muka agak tebal sehingga dapat menjadi perisai yang kokoh. Pada umumnya masyarakat menyukai ayam bangkok dengan tulang menonjol lurus pada bagian kepala  sehingga kelihatan bola matanya cekung dan bersinar. 

Banyak orang mengatakan bahwa paruh yang kuat mempunyai dua alur seperti parit sehingga paruh tersebut tidak mudah patah dan lepas dalam bertarung. Karena paruh merupakan senjata untuk melukai lawan, tidak kalah penting bentuk leher yang menjadi pendukung harmonis antara kepala dan anggota badan harus kekar dan kuat. 

Pada dasarnya bagian kepala merupakan bagian yang penting sebab bagian yang mudah untuk dilukai lawan. Oleh karena itu, para peternak dianjurkan untuk memperhatikan hal tersebut. Kepala yang kurang menyakinkan akan mudah sekali dilukai lawan dan akan menyebabkan semangat untuk bertarung berkurang apabila kepala telah terluka.

Kepala yang kokoh dan lincah, selain mampu menghidari dan meredam serangan, juga berguna untuk melakukan serangan balik secara cepat. Dalam bertarung, sering terlihat ayam yang menyembunyikan kepalanya dibalik sayap lawan. Hal itu dilakukan selain untuk menghindari patukan lawan, juga untuk melakukan serangan balik ke bagian kepala dan leher lawan.

Pada ayam terdapat sepasang sayap yang berfungsi sebagai tangan, bersama dengan kaki merupakan alat untuk memukul dan menghantam lawan. Ayam bangkok perlu diamati, apakah kedua sayap yang dimilikinya besar, kuat, dan rapat pada bagian badannya. Sayap mempunyai beberapa bagian, misalnya tulang tumpul yang tanpak menonjol pada pangkal sayap dan bulu penutup yang merupakan senjata andalan. Tulang yang tumpul berfungsi sebagai alat untuk menghantam lawan dan membuat lawan memar.

Banyak peternak dan penggemar menyukai ayam bangkok dengan kaki berbentuk persegi dan memiliki garis-garis yang kelihatan jelas. Sisik kaki sebelah bawah rapat dan teratur. Jari-jari biasanya kecil dan memanjang, sedangkan telapak kaki bagian bawah menonjol keatas, berwarna hitam. Tonjolan yang keras dapat membuat lawan mengalami memar jika terkena pukulannya. Selain itu, fungsi tulang tumpul pada pangkal sayap adalah untuk memukul dan melukai lawan. Senjata ayam yang utama terletak juga pada kaki, yaitu taji. Taji baru tumbuh setelah ayam mencapai umur dewasa.

Seluruh bagian tubuh ayam ditutupi oleh bulu-bulu yang berfungsi sebagai pelindung. bulu ayam bangkok yang mengikat lebih disukai dan dihargai dari pada bulu ayam yang kusut. Bulu yang mengikat berguna untuk menggelincirkan lawan atau membelokan arah serangan lawan. Seperti halya bulu penutup sayap, penggemar menghendaki bulu sempit dan kering dengan tangkai bulu yang besar, tetapi diameter sempit, sehingga tidak akan mudah rontok.

Ayam jantan bangkok dibedakan menjadi tiga golongan berdasarkan warna bulunya.
  1. warna hitam agak kehijau-hijauan dengan bulu hias merah kekuning-kuningan.
  2. warna dasar hitam kehijau-hijauan dan bulu hias merah kecokelat-cokelatan.
  3. warna dasar hitam kehijau-hijauan dengan bulu hias berwarna merah kehitam-hitaman.
Bulu ekor panjang dan runcing pada bagian ujung sehingga kelihatan sejajar dengan garis punggung. Bulu ekor ini mempunyai fungsi membantu keseimbangan tubuh saat maju, mundur, ataupun melompat.


c. Tulang

Tulang merupakan bagian tubuh paling keras karena terbuat dari zat tanduk. Tulang berfungsi sebagai perisai dan kerangka tubuh untuk melindungi organ-organ dalam dan menjadi salah satu senjata andalan waktu bertarung. Adapun yang termasuk bagian tulang, antara lain tengkorak, tulang rusuk, tulang leher, tulang dada, dan tulang sayap dan kaki. Agar kelihatan kokoh, paruh, taji, persendian, atau persambungan antara tulang yang satu dengan yang lain, idealnya pendek. Persendian yang terlalu panjang membuat tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Kualitas tulang dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu :
  1. faktor keturunan (genetika), dan
  2. faktor lingkungan yang meliputi makanan, kandang, alam, dan waktu pemberian makanan.

d. Ketahanan ayam bangkok

Ketahanan tubuh ayam bangkok meliputi stamina, semangat bertarung, sifat pantang menyerah, serta temperamen. Ayam bangkok dikenal sebagai ayam yang pantang menyerah, memiliki semangat bertarung yang tinggi, tidak takut menghadapi lawan walaupun tubuh lawan lebih besar.

Ayam bangkok yang baik harus mempunyai kelihaian tertentu dalam menghadapi lawan, baik ketika diserang maupun menyerang, Kualiatas ayam banyak dipengaruhi oleh campur tangan manusia, antara lain dalam meningkatkan stamina (tenaga). Dalam hal ini kita perlu menyediakan kandang yang sehat dan sirkulasi udara berjalan baik. Udara yang bersih akan membuat paru-paru dan kantung hawa berkembang secara optimal. Pernapasan yang lancar juga diperlukan pada saat ayam bertarung.

Pengembangbiakan Ayam Bangkok

1. Pemilihan induk

a. Induk jantan

Seleksi merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan mutu genetika (keturunan). Pemilihan induk yang bermutu diharapkan akan menghasilkan turunan yang bermutu pula. Seleksi pada umumnya berdasarkan kemampuan produksi, catatan dan produksi turunan, serta daya waris sifat induk. Ciri fisik ayam aduan yang baik adalah badan panjang, ayam yang berdiri akan membentuk sudut sekitar 60 derajat dari ujung kepala sampai ke ekor, lutut sedikit menekuk kebelakang, dan tulang leher kekar. Sifat khasnya adalah semangat tarung yang tinggi, pantang menyerah, stamina bagus, pandai mencari peluang untuk melancarkan serangan, pukulan keras, tepat, dan akurat. Cacat bekas tarung tidak akan menurun.

Calon pejantan yang akan dikawinkan harus sehat kondisinya, lebih baik lagi ayam yang belum pernah sakit. Sebaiknya pejantan diwaninkan pada saat jaya-jayanya. Secara garis besar dapat disebutkan bahwa induk betina dan pejantan akan mewariskan sifat-sifatnya kepada anak-anaknya dengan perbandingan yang sama, ayaitu 1:1 sistem pewarisan bersifat silang, artinya sifat induk jantan akan diwariskan kepada keturunannya yang berjenis kelamin betina, sebaliknya induk betina akan mewariskan sifat-sifatnya kepada anaknya yang jantan.

Adapun ciri-ciri ayam bangkok yang baik untuk dijadikan sebagai bibit adalah sebagai berikut.
  1. bulu menunjukan sebagai ayam bangkok murni, warna dasar hitam dan bulu hias wiring kuning atau jragrem.
  2. pemukaan bulu penutup tubuh menghikap.
  3. kulit berwarna kuning kemerahan, kulit ayam dominan warna putih kuning, tanpa ada warna merah, menunjukkan bahwa ayam tersebut mengandung darah ayam kampung.
  4. Pejantan harus berbadan sehat, agak bundar, dan tinggi.
  5. dalam posisi diam maupun berjalan, ayam itu tegak lurus.
  6. mata tampak jeli, tajam, dan bersinar.
  7. kuku dan paruh pendek.
  8. daerah anus dan sekitarnya kelihatan basah, lembut, dan lebar.
  9. secara umum, induk tidak mempunyai kelainan atau cacat tubuh.
  10. secara keseluruhan, ayam tersebut mempunyai aktivitas gerak yang tinggi dan lincah.
Satu hal yang harus diingat adalah agar pejantan bibit mempunyai garis keturunan yang mendekati ayam bangkok murni. 


b. Induk betina

Induk betina yang baik harus diseleksi dengan berbagai cara.
  1. kulit ayam betina berwarna kuning kemerah-merahan, seperti halnya induk jantan.
  2. induk merupakan keturunan jari pejantan yang dahulu pernah menjadi ayam petarung.
  3. induk betina diusahakan agar berasal dari pejantan yang mempunyai pola dan gaya tarung yang berbeda dengan pasangannya, misalnya induk jantan harus mempunyai sifat bertarung atas, sedangkan betinanya mempunyai sifat bertarung bawah.
  4. induk selalu kelihatan sehat dan riang.
  5. umur induk sebaiknya tidak terlalu muda.
  6. bentuk tubuh normal dan tidak cacat.
  7. mata jeli, tajam, dan bersinar.
  8. kuku dan paruh pendek.

Perbedaan ayam yang berproduksi telur tinggi dan rendah

Bagian tubuh
Produksi Tinggi

Produksi Rendah

Jengger

Bulu


Kepala/muka


Kulit


Mata

Paruh


Cuping/pial


Anus  


Tabiat
Lebar, merah panas, kasar dan bersih

Padat, pendek, lebar kering, ujung ekor rusak

Agak tebal, bulat lebar, halus dan bersih

Lembut, tipis, dan longgar


Bulat terbuka besinar

Pendek, lurus, kuat, dan tajam


Bulat lancip, merah, kering, dan halus


Lebar, agak budar, lembut, dan sedikit basah

Lincah, jinak, gembira, dan aktif mencari makanan.
Kecil, pucat, kering, dan berkerut

Lembut, panjang, tidak lebar, dan bergelombang.

Cekung, kasar, pucat, dan kecil.


Keras, kering, dan melekat pada daging

Lonjong dan suram

Panjang dan pangkal agak kekuning-kuningan.

Kecil, kasar, suram, pucat, atau agak biru.

Sempit, kasar, dan kering.


Malas, penakut, gelisah, dan suka terbang.

Secara khusus kriteria ini tidak berpengaruh besar bagi kualitas anaknya, tetapi jumlah telur yang banyak akan memiliki peluang untuk menghasilkan anak ayam yang banyak.



2. Persiapan pengembangbiakan ayam bangkok

a. Kandang

Sebelum membuat kandang, kita harus memperhatikan lingkungan di sekitar lokasi. Persyaratan lokasi antara lain sebagai berikut.
  1. letak kandang jauh dari keramaian.
  2. daerah yang akan dijadikan lokasi kandang dipertimbangkan secara ekonomis, seperti transportasi, keterbatasan sumber air bersih, dan bahan pakan.
  3. lokasi kandang hendaknya tidak berada pada tanah yang labil.
Dalam hal perencanaan tersebut perlu juga diperhatikan ketentuan-ketentuan berikut.
  1. kontruksi kandang tidak mudah roboh dan mempunyai umur teknis yang cukup lama.
  2. ukuran dan model kandang harus disesuaikan dengan terget dan rencana peternak.
  3. bahan-bahan yang diperlukan cukup ekonomis, efisien, serta praktis.
  4. konstruksi diatur sedemikian rupa sehingga tidak memudahkan binatang liar masuk kandang.
  5. susunan kandang perlu diatur, posisi kandang tidak berdekatan dengan gudang dan kamar tidur.
  6. ventilasi kandang harus baik.

b. Sarang pengeraman

Sarang tempat bertelur dan mengeram disediakan dalam petak-petak dengan ukuran 100 cm x 100 cm x 75 cm, dan memakai pembatas dari gedek (tepas) dengan landasan dari kayu. Gedek berfungsi untuk mempertahankan kesejukan ruangan sehingga tidak merusak bulu ayam. Lantainya dibuat bertingkat agar kotorannya jatuh ke bawah. Sarang yang ideal beralaskan pasir dan tanah, gunanya adalah agar mudah menyerap sinar matahari sehingga pada malam hari masih terasa hangat. Kehangatan berpengaruh terhadap telur-telur, misalnya tidak akan pecah jika terinjak kaki ayam karena telur akan selalu bergeser-geser.

Selama dalam pengeraman, usahakan kutu tidak masuk ke kandang karena akan mengganggu ayam. Ayam tidak betah dan akan selalu turun sehingga banyak telur yang tidak akan menetas. Salah satu tindakan untuk menghindari kutu adalah dengan jalan menaburkan bubuk kapur barus di bawah sarang pengeraman.


c. Memilih telur tetas

Tidak semua telur yang dieramkan akan menetas. Untuk mengetahui telur yang baik, harus diperhatikan bentuknya. telur bagian luar akan bertanda rata, bersih, dan tidak cacat ataupun retak. Bagian dalam hendaknya kuning telur berada di tengah, tidak goncang (stabil), dan tidak terdapat bintik-bintik darah. Bagian dalam telur bisa dilihat dengan cara memakai teropong.

Adapun kriteria pemilihan telur yang baik adalah sebagai berikut.
  1. terlur diusahakan berasal dari induk yang betul-betul sehat dan baik dan tidak dalam kondisi tererang penyakit.
  2. bentuk dan ukuran telur oval, yakni ujung satunya kelihatan runcing dan ujung lainnya tumpul. Jangan pilih telur yang cenderung bulat dan lonjong.
  3. telur tetas hendaknya bersih dan kerabangnya benar-benar bebas dari segala kotoran yang menempel. Telur yang kotor dapat dibersihkan dengan memakai kapas yang terlebih dahulu dicelupkan ke dalam alkohol 70%. Sewaktu membersihkan, kita perlu menjaga supaya kerabangnya jangan sampai retak karena telur yang retak tidak bisa menetas.
  4. masalah penyimpanan perlu diperhatikan. Telur hendaknya disimpan dengan posisi bagian tumpul berada di atas. Penyimpanan yang kurang baik akan menyebabkan telur rusak sehingga penetasannya kurang baik. Umur penyimpanan telur hendaknya tidak melebihi 12 hari, sejak dikeluarkan dari kloaka. Jika terlalu lama disimpan, akan berkurang daya tetasnya. Suhu yang ideal untuk penyimpanan telur berkisar 10-13 derajat celcius dengan kelembaban 80-85%. Telur calon anak ayam jantan biasanya besar dan panjang, sedangkan calon anak ayam betina besar dan bulat.
Menurut beberapa peternak, untuk mendapatkan anak ayam jantan, perkawinan hendaknya dilakukan siang hari dan sore hari karena saat itu nafsu ayam betina lebih besar dari pada jantan. Sebaliknya, perkawinan yang dilakukan pagi hari akan menghasilkan anak ayam betina karena pagi hari nafsu ayam jantan lebih besar daripada betina.


d. Cara menetaskan telur

Penetasan telur dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara, yaitu melalui induk sendiri, mesin tetas, atau melalui itik yang sedang mengeram. Setiap makhluk hidup mempunyai naluri dan kemampuan untuk menghasilkan keturunan. Ayam, sebagaimana jenis unggas lainnya, menghasilkan anak melalui telur, tetapi tidak semua telur akan menetas. Ada induk betina yang tidak kawin menghasilkan telur. Namun, telur yang dihasilkan tidak subur (infertil) dan tidak menetas jika dierami. Sebaliknya, betina yang dikawinkan dengan pejantan akan manghasilkan telur yang subur (fertil) atau bertunas dan akan menetas 21 hari setelah dierami.

Induk betina akan mengeram setelah bertelur sebanyak 10-15 butir. Tanda-tanda ayam mau mengeram adalah sebagai berikut.
  1. bulu-bulu penutup tubuh dan leher berdiri atau tegak, sayap reningkali mengembang disertai suara yang khas.
  2. panas tubuh mulai meningkat.
  3. ayam sering menata telur, lalu menghangati telur tersebut dengan panas badannya.
  4. ayam lebih menyukai tempat yang gelap dan jarang keluar mencari makan.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, sebaiknya kita memberikan perlakuan tertentu ketika induk betina akan mengerami dan memilih telur. Kandang perlu diperhatikan agar tetap dalam kondisi bersih dan kering. Induk yang dipilih sebagai pengeram harus bertubuh besar dan berbulu lebat. Dengan demikian, seluruh telur yang dierami mendapatkan panas yang merata.

Penetasan telur dengan mesin tetas

Banyak peternak yang menggunakan mesin tetas telur untuk menetaskan telur untuk menetaskan telur. Kontruksi setiap mesin tetas dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai induk telur yang sedang mengeram. Penerapan teknologi tepat guna ini banyak memiliki keunggulan, terutama dari segi jumlah telur yang ditetaskan.

Daya tetas induk betina yang baik sedikitnya 75% dari semua telur. Jika daya tetas berada dibawah angka tersebut, peternak perlu mencari penyebabnya. Ada kemungkinan disebabkan oleh induk betina kekurangan gizi sehingga organ-organ reproduksi kurang berfungsi secara optimal dan kualitas isi telur yang dihasilkan rendah. Selain itu, Ada kemungkinan pejantan kurang sempurna dalam mengawini induk betina. 

Daya tetas induk ayam yang rendah dapat disebabkan oleh hal-hal berikut.
  • induk kurang pandai mengeram.
  • ada gangguan yang dialami induk ketika mengeram, misalnya kutu atau gurem yang banyak di serang telur atau cuaca kurang mendukung.
  • terjadi salah penanganan,  misalnya ketika induk mengeram, sering diperhatikan atau diganggu orang.
Untuk menghitung daya tetas, gunakan rumus berikut .
daya tetas = jumlah telur yang menetas : jumlah telur yang subur x 100%.

e. Pemeliharaan anak ayam

Banyak pendapat mengatakan bahwa anak ayam yang lahir satu sampai dua hari belum begitu memerlukan makan, kecuali air bersih untuk kebutuhan minumnya. Anak ayam masih mempunyai persediaan makanan berupa kuning telur di perutnya. Sebagian orang mengatakan bahwa sekalipun mempunyai sisa kuning telur, anak ayam masih membutuhkan makanan. Terlepas dari pendapat tersebut, para petani tidak ada salahnya melakukan dan memperhatikan anak ayam, sama seperti makhluk lainnya.

Karena kondisi masih sangat lemah, anak ayam membutuhkan perawatan yang baik. Ayam membutuhkan perawatan yang baik. Anak ayam memerlukan makanan serta kandang yang mampu melindunginya dari segala gangguan, seperti sengatan sinar matahari, curah hujan, dan binatang liar. Tanpa pemeliharaan yang baik, jelas tidak membuahkan hasil yang baik.

Seandainya diantara para peternak menggunakan mesin tetas, pemeliharaan anak ayam haruslah dilakukan menggunakan induk buatan, yaitu kandang yang dilengkapi lampu/alat pemanas untuk menghangatkan tubuh dan juga untuk melindunginya dari cuaca buruk. sejak menetas hingga umur empat minggu, anak ayam masih sangat lemah, terutama akibat pengaruh temperatur udara luar. Pada saat itu bulu-bulu anak ayam belum tumbuh dengan sempurna dan keadaannya pun masih labil.

Karena pertumbuhan tubuh belum sempurna, anak ayam akan mengalami kedinginan. Jika tidak diberi penghangatan dari luar anak ayam bisa mati. Penghangatan dapat diperoleh dari induk yang mengasuhnya dan dari sumber panas lain, misalnya listrik atau lampu minyak.


f. Pemeliharaan anak ayam remaja

Pada umur 2-3 bulan anak ayam mulai remaja dan sudah dapat dipisahkan dari induknya atau dilepas untuk mencari makan sendiri. Pada umur sekitar 4-6 bulan, anak ayam merupakan remaja yang sesungguhnya. Pada mesin ayam ini membutuhkan perhatian tersendiri. Pertumbuhannya mulai berkurang sehingga perlu diberi makanan tambahan yang banyak mengandung protein, yaitu sekitar 16%. Usahakan ayam tidak sampai kegemukan agar tidak mengganggu pertulangan dan perkembangan organ lain.

Perkembangan otot saraf, tulang, dan daging harus seimbang. Organ dalam dan alat reproduksi dapat berkerja normal, bulu mengkilap dan tumbuh bagus, daya tahan tubuh kuat, dan terhindar dari penyakit. Pada umur seperti itu ayam perlu dipisah dalam kandang yang berkolong, sebenyak 3-4 ekor per m2. Hendaknya ayam harus dicegah agar tidak sampai terjadi pertarungan sehingga pertumbuhannya tidak merosot.


g. Pemeliharaan ayam dewasa

Pemeliharaan ayam betina dewasa bertujuan untuk mendapatkan telur tetas yang baik dan anak ayam yang bagus, kuat dan bermutu. Calon induk betina harus dilepas, diumbar, dan dilengkapi dengan persediaan makanan yang cukup. Induk ayam dapat dikawinkan lagi setelah sebulan tidak mengasuh anaknya. Kalau induk betina menunjukan gejala ingi mengeram, rendam induk itu dalam air selama 10 menit, 4 hari berturut-turut, dengan tujuan agar suhu badan dapat menurun, sehingga terhambat kerja hormon naluri mengeram. Pada hari ke 5 atau ke 6 induk betina sudah bisa dikawinkan lagi agar bertelur.

Induk yang terlalu sering bertelur akan menghasilkan telur yang kurang baik. Pada umur 6 bulan, ayam jantan sudah mulai dewasa. Bulunya sudah berganti, bulu hiasnya sudah mulai tumbuh lebat, juga bulu ekornya. Pada tingkat ini, pertumbuhan ayam mengalami perkembangan yang pesat. Perkembangan lain ditandai dengan ayam mulai berkokok. Pertarungan belum boleh dilakukan karena pertumbuhan jiwa ayam ini dapat terganggu. Ayam ini jangan dikumulkan dengan ayam yang sudah dewasa agar tidak menjadi penakut. Pada umur 6-9 bulan ayam siap dilatih.


h. Memilih calon ayam aduan

Pemilihan ayam aduan yang bermental juara tidak mudah karena kita bisa saja terkecoh atau salah menaksir. Di pasar ada dua macam ayam aduan bangkok yang dijual, yaitu ayam bangkok asli dan ayam bangkok keturunan. Ayam bangkok asli adalah ayam yang benar-benar didatangkan dari Thailand. Keaslian ayam bangkok ditandai dengan sertifikat huruf BF 1. Selain itu, ditandai dengan adanya bulu-bulu harus berwarna kuning di antara bulu lain di seluruh tubuhnya, baik leher, sayap, punggung, maupun paha. Ayam ini sangat di gemari karena memiliki daya tahan yang kuat dan daya pukul yang akurat. 

Karakteristik calon ayam aduan yang baik dapat diamati dengan ciri-ciri sebagai berikut.
  1. Kepala membulat panjang, berukuran sedang, berserta telinga berotot tebal, dengan leher membentuk sudut 155 derajat. Paruh lurus ke depan, sedikit bengkok ke bawah, paruh bagian atas beralur panjang warna putih bersih. Jengger elastis seperti spon, bagian dasar meluas ke arah belakang, ujung jengger mengecil bentuknya membelok ke belakang, pial menepis, kulit muka tipis, mata agak ke dalam, tulang mata cukup besar dan agak menonjol, biji mata hitam kecil, pancaran matanya bersinar putih kekuning-kuningan.
  2. Leher relatif panjang sesuai dengan panjang badan.
  3. Tubuh bulat menanjang, berotot panjang, badan elastis, tulang dada lurus, sayap menguncup ke dalam, sela tulang pubis (supit, capit, hurang) rapat, tulang pubis dan tulang dada menonjol, warna bulu pada pangkal leher serangan sampai ke punggung.
  4. Paha lebih daripada kaki bawah (perbandingan 4:3), bentuk paha dilihat dari samping gepeng, kaki di bawah paha kering, sisik menonjol, letak taji searah dengan ibu jari, dan jaraknya rapat. Jari kaki halus dan panjang, telapak pangkal jari harus bengkok, dan agak berjingkrak jika berdiri.
  5. Ekor besar dan kaku, jarak antara tulang berutu dan tulang duduk sempit, bulu ekor tumbuh lurus ke belakang dan ujungnya menguncup ke dalam.
  6. Tulang dada cukup besar dan tebal.

Makanan

1. Bahan pakan

Untuk mempertahankan hidup, mendukung pertumbuhan dan produktivitas, ayam membutuhkan makanan. Makanan dicerna, kemudian diserap sehingga proses metabolisme di dalam tubuh dapat berjalan dengan normal. Perbaikan kualitas pakan dapat meningkatkan produktivitas ayam, sedangkan rendahnya tingkat produksi dan bobot ayam diduga merupakan salah satu akibat dari kualitas pekan jelek. Dalam pemeliharaan secara tradisional, ayam bangkok sering dibiarkan mencari makan sendiri sehingga kualitas pakan diragunkan.

Selama ini masih banyak di antara masyarakat yang beranggapan bahwa makanan ayam berupa dedak dicampur dengan air, lalu ayam disuruh makan sekenyang-kenyangnya. Sesudah itu, mereka tidak lagi menanganinya. Kalaupun ada, Makanan berupa sisa-sisa dari pemiliknya diberikan kepada ayam. Kenyataan ini banyak ditemukan pada pemeliharaan ayam kampung atau ayam bangkok. Bahkan, hingga kini masih ada pemikiran dari peternak seperti itu, mereka tidak memperhatikan bahwa ayam pun membutuhkan kualitas pakan yang baik untuk memperoleh hasil yang baik.

Kebutuhan ternak ayam akan zat-zat makanan atau nutrisi secara garis besar dapat dirinci menjadi komponen-komponen : karbohidrat, protein, lemak, serat kasar, vitamin, dan  air. Komponen itu sangat dibutuhkan dan saling menunjang. Jika kekurangan salah satu dari zat tersebut, ayam akan mengalami gangguan proses metabolisme atau pencernaan makanan.

Vitamin merupakan zat yang penting pula untuk kebutuhan ayam walapun dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit. Sekalipun demikian, ransum yang diberikan kepada ayam walaupun dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit. Sekalipun demikian, ransum yang diberikan kepada ayam harus mengandung vitamin. Secara umum vitamin berfungsi sebagai zat pengatur tubuh, pengaruh produksi sebagai zat pengatur tubuh, pengatur produksi dan membatu metabolisme serta pertumbuhan bulu-bulu. 

Jenis vitamin yang dibutuhkan oleh ayam, antara lain adalah vitamin A, B, B6, B12, C, D, E, dan K. Air merupakan kebutuhan pokok bagi ayam. Ayam bangkok yang kekurangan air minum akan mengalami stres berat. Betapa pun pelengkapan zat-zat makanan yang diberikan, tanpa air, semuanya itu menjadi sia-sia. Air berfungsi melunakkan makanan dalam proses pencernaan, membawa semua makanan ke tempat-tempat pusat pencernaan, membantu mengedarkan sari-sari makanan, dan mengeluarkan bahan-bahan yang tidak berguna lagi, serta  mambantu pengaturan temperatur tubuh. 

Air perlu disediakan secara bebas setiap 15-20 menit ayam akan minum. Pemberian air minum dan pakan yang ideal adalah 1:3 perbandingan ini harus diperhatikan karena kalau terlalu banyak air, nafsu makan ayam berkurang serta otot-otot menjadi lembek. Kebutuhan ayam akan karbohidrat hendaknya disesuaikan dengan umur ayam. 

Ayam bangkok anakan (0-2 bulan) membutuhkan zat energi ini sebanyak 40-50% dari total runsum. Ayam remaja (2-7 bulan) dan dewasa (7 bulan ke atas), masing-masing membutuhkannya sebanyak 43-47% dan 45-51%. Dalam tubuh ayam, karbohidrat terdapat dalam jumlah kecil, sekitar 2%, yaitu berupa glukosa darah, glikogen, dan laktose. 

Karbohidrat banyak terkandung pada jagung, dedak, bekatul, kacang hijau, dan bungkil kelapa, sedangkan pakan yang mengandung serat kasar terdapat pada dedak kasar, bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, dan tepung udang. Untuk memperjelas uraiannya, lihat tabel di bawah ini.

Bahan pakan
Protein (%)
Lemak (%)
Karbohidrat (%)
Serat kasar (%)
Jagung
Gabah
Menir
Bekatul
Dedak kasar
Dedak halus
Kacang hijau
Kacang kedelai
Bungkil kedelai
Bungki kelapa
Bungkil kacang
Tanah
Ampas tahu
Tepung ikan
Tepung udang
Tepung tulang
Siput
Bekicot
9,64
7,85
9,12
10,80
12,99
15,88
27,37
38,65
44,40
20,50
43,90

24,56
61,80
46,60
6,80
13,47
5,11
3,69
1,05
2,00
2,90
3,90
8,20
1,48
14,42
4,00
6,70
6,21

10,13
7,80
2,75
2,00
1,03
0,32
68,80
62,00
88,98
61,30
32,40
43,80
54,50
21,90
29,40
43,00
25,10

51,66
3,80
0,95
2,60
75,30
81,80
0,82
10,97
1,57
4,90
15,30
8,00
3,88
7,59
6,20
10,30
12,55

11,58
0,60
11,15
1,10
7,81
9,24

Apabila kita perhatikan, ayam bangkok sering memakan cacing, serangga, dan binatang kecil lain yang ada di tanah. Hal ini tidak menunjukan bahwa ia sangat rakus, tetapi untuk mencukupi kebutuhan makanan yang mengandung protein. Sumber protein terdapat dalam bungkil kedelai, bungkil kelapa, daging, tepung ikan, dan sebagainya. Protein nabati (tumbuhan) yang mengandung asam amino perlu dikombinasikan dengan protein hewani.

Pemberian protein hendaknya disesuaikan dengan umur ayam, misalnya ayamg yang berumur satu sampai dua bulan diberi pakan yang mengandung protein sebesar 22-24% dari jumlah pakan. Pemberian protein sudah dikurangi pada ayam remaja secara bertahap menjadi 16-18% dan pada ayam dewasa dikurangi lagi hingga 14-16%.

Lemak merupakan zat makanan yang berfungsi sebagai cadangan energi. Pemupukan lemak di bahaw kulit terjadi, selain dari bahan pakan yang mengandung lemak, juga dari karbohidrat berlebihan yang tidak dapat dibuang. Pemberian makanan berlemak pada anak ayam bangkok berkisar 3-4% dari total ransum, 5-7% untuk remaja, dan 7-9% untuk ayam dewasa. Bahan pakan yang banyak mengandung pakan lemak di antaranya adalah kacang-kacangan dan minyak ikan.

Setiap makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan pasti mengandung serat kasar (SK).Banyak sedikitnya serat kasar sangat tergantung kepada jenis makanan yang digunakan. Kebutuhan serat kasar bagi ayam berbeda pada setiap kelompok umur, 4-6% untuk anak ayam, 5-7% untuk ayam remaja, dan 5-9% untuk ayam dewasa. 

Mineral juga berperan dalam pembentukan tubuh, seperti tulang, darah, kerabang, dan telur, serta sebagai pemerlancar proses pencernaan makanan. Beberapa zat yang dapat digolongkan sebagai mineral adalah kalsium (Ca). fosfor (P), natirum (Na), klorida (CI), magnesium (Mg), besi (Fe), (C0), (F), dan belerang (S).


2. Pemberian Pakan

Dari seluruh biaya yang dikeluarkan, 65-70% di antaranya diperlukan untuk pembelian dan penyediaan pakan. Oleh karena itu, pemberian pakan akan menentukan keberhasilan usaha. Beberapa jenis ransum yang diberikan kepada ayam adalah sebagai berikut.

  1. Pakan yang berbentuk halus diberikan kepada ayam yang berumur sehari sampai dengan 2 bulan, yaitu campuran dari sejumlah bahan pakan yang kemudian digiling sehingga mudah dicerna oleh tubuh ayam. Pakan halus berbentuk seragam sehingga keuntungannya adalah bagian-bagian penting akan tetap ikut termakan.
  2. Pakan yang bentuk kasar diberikan kepada ayam yang berumur dua bulan. Keuntungan pakan ini adalah menghemat biaya, pengolahan, dan kualitas makan lebih mudah diteliti. Pakan jenis kasar lebih disukai oleh ayam karena semua jenis unggas mempunyai naluri sebagai pemakan biji-bijian atau butiran. Kejelekannya adalah ayam suka memilih-milih yang disukainya saja. Bagian yang kurang disukai tidak akan dikonsumsi sehingga banyak yang terbuang percuma. Pakan bentuk biji-bijian, antara lain adalah gabah, beras, jagung, kedelai, dan kacang-kacangan yang banyak mengandung karbohidrat.
  3. Pakan berbentuk pelet sengaja dibuat dan merupakan pakan halus yang dicetak menjadi bentuk butiran yang kering dan keras. Selain itu, pakan bentuk pelet akan dimakan seluruhnya tanpa ada pilihan lain, Untuk bahan pakan ini, biaya yang dikeluarkan cukup mahal, sedangkan kandungan proteinnya pun dapat berkurang karena mengalami pemanasan. Pakan ayam ini dapat diberikan dalam bentuk kering atau lembab. Namun, pakan dalam bentuk basah tidak dapat diberikan lagi karena sudah masam.
Jika memungkinkan, peternak perlu menambah hijauan dan grif (tepung kerang) sebagai pelengkap pakan. Hijauan merupakan bahan makanan dari sayur-sayuran dan diberikan pada waktu pukul 09.00-10.00 supaya ayam mempunyai cukup waktu untuk mencernanya, sedangkan grif diberikan untuk membantu proses pencernaan, pembentukan tulang, dan pembentukan kerabang pada telur. Rata-rata ayam bangkok mengkonsumsi makanan menurut umur.


Sumber : Ir. Tisna Suwanda.

Type and hit Enter to search

Close