Cara Budidaya Sawi Putih

MANFAAT SAWI PUTIH

Jenis sayuran yang dikenal saat ini sangat banyak. Dari sekian banyak jenis sayuran tersebut, salah satunya adalah sawi putih, yang dikenal dengan beberapa nama, seperti petsai dan sampo.  Sawi putih merupakan sayuran yang banyak disenangi orang karena rasanya yang renyah, enak, dan segar. Daun sawi putih biasanya dimasak menjadi sayuran, seperti untuk campuran mi goreng, asinan, dan sayur capcai.




Pada beberapa daerah, daun sawi putih dimakan sebagai lapalapan. Selain memberikan rasa yang enak, kandungan gizi sawi putih cukup tinggi. Menurut hasl penelitian, sawi putih banyak mengandung vitamin A, Vitamin B, Vitamin C, dan beberapa jenis mineral yang bermanfaat bagi tubuh manusia.

Karena digemari oleh masyarakat sehingga kebutuhan terhadap sawi putih cukup banyak. Dengan kebutuhan sawi putih cukup banyak, memberi peluang kepada petani untuk bercocok tanam sawi putih karena menjanjikan keuntungan yang lumayan. Dengan produksi per tanaman rata-rata 0,5 kg atau berkisar 30 ton/ha.


JENIS SAWI PUTIH

Di Indonesia terdapat beberapa jenis sawi putih. Jenis sawi putih tersebut sebagaian besar didatangkan dari luar negeri. Hal ini karena untuk dapat membentuk biji, sawi putih memerlukan suhu udara yang dingin selama beberapa waktu tertentu. Setiap jenis sawi putih memiliki perbedaan warna daun, rasa, kerenyahan, ukuran, dan ketahanan terhadap hama dan penyakit. Untuk itu, kita dituntut untuk dapat memilih jenis sawi putih yang cocok untuk suatu daerah dan disenangi oleh masyarakat.

Beberapa macam sawi putih yang sudah dikenal di Indonesia, antara lain sebagai berikut.

1. Sawi putih granat
  • berasal dari Denmark,
  • tinggi dapat mencapai 35-40 cm
  • daun berkerut dan berwarna hijau tua serta berbulu halus sampai tajam,
  • bentuk krop bulat panjang,
  • umur dipanen 60-70 hari setelah disemai.
2. Sawi putih naga oka
  • berasal dari Jepang,
  • tinggi dapat mencapai 20-25 cm,
  • daun tidak berkerut dan berwarna hijau muda,
  • benuk krop bulat lonjong,
  • umur dipanen 60-70 hari setelah disemai.
3. Sawi putih all autumn
  • berasal dari Taiwan, Pertumbuhannya kuat dan tahan terhadap penyakit busuk basah dan tepung palsu,
  • daunnya keriting dan berwarna hijau muda,
  • kropnya padat berbentuk bulat panjang,
  • umur dipanen 70 hari setelah disemai.
4. Sawi putih summer bright, summer sun, white sun, green sun
  • berasal dari Taiwan,
  • tahan terhadap panas,
  • daunnya halus dan berwarna hijau muda,
  • krop padat bentuk bulat panjang,
  • umur dipanen 50-60 hari setelah disemai.
5. Sawi putih lucky bright
  • berasal dari Taiwan,
  • dijuluki patsai pendek,
  • tahan panas dan penyakit busuk basah dan busuk hitam,
  • daun berwarna hijau tua dan halus,
  • kropnya lonjong dan padat,
  • umur dipanen 60 hari setelah disemai,

Baca juga : bertanam pisang

TEMPAT TUMBUH SAWI PUTIH

Untuk dapat tumbuh dengan baik, sawi putih memerlukan tempat tumbuh yang sesuai dengan kebutuhannya, yaitu tempat yang mempunyai daerah asalnya (daerah dingin).

A. Tanah

Untuk mengetahui tanah yang sesuai bagi suatu tanaman, kita dapat menggunakan cara yang sederhana, yaitu dengan memihat perakaran dan ukuran tanaman. Sawi putih memiliki perakaran yang halus dan pendek serta berat krop dapat mencapai 1,5 kg. Dengan keadaan sawi putih seperti ini secara umum kita dapat mengetahui bahwa sawi putih menghendaki tanah yang bersifat :
  1. subur, yaitu yang banyak mengandung makanan yang berupa unsur hara,
  2. gembur, yaitu tidak padat atau tidak lengket,
  3. banyak mengandung humus,
  4. banyak mengandung air tetapi tidak becek karena pada tanah yang becek sawi putih lebih mudah terserang oleh hama dan penyakit,
  5. agak asam-netral (pH 5,5 - 6,5)

B. Iklim

Tanaman sawi putih dapat tumbuh baik pada daerah dataran tinggi dengan suhu udara yang agak dingin. Akan tetapi, sawi putih juga dapat tumbuh pada daerah yang agak panas, namun hasilnya tidak sebaik apabila ditanam di daerah dataran tinggi dengan suhu agak dingin.

Tanaman sawi putih dalam pertumbuhannya menghendaki banyak air, tetapi tidak menyenangi tempat yang becek. Oleh sebab itu, waktu penanaman sawi putih perlu disesuaikan dengan ketersediaan air. Apabila terdapat sarana pengairan, penanaman sawi putih dapat dilakukan sepanjang waktu. Pada umumnya sawi putih ditanam pada awal dan akhir musim penghujan.

BERCOCOK TANAM SAWI PUTIH

Setelah kita menimbang-nimbang dan ternyata usaha budi daya sawi putih dapat mendatangkan hasil dan memberikan keuntungan yang lumayan, langkah selanjutnya adalah membuat rencana yang baik, kita berharap dapat memperoleh keuntungan dan dapat menghindari kerugian yang mungkin akan terjadi.

Keuntungan dalam bercocok tanam sawi putih dapat diperoleh melalui :
  1. produksi tanaman per luas tanah cukup tinggi dengan mutu yang baik dan laku dijual,
  2. penggunaan sarana produksi pertanian, seperti pupuk, pestisida, bibit dan biaya secara hemat sesuai dengan kebutuhan serta menghindari penggunaan biaya untuk kegiatan yang tidak diperlukan atau belum jelas manfaatnya.
  3. pemanenan dan penanganan hasil panen serta pemasaran yang baik dengan harga yang pantas.
Ketiga hal diatas sejalan dengan anjuran pemerintah pada saat ini, yaitu untuk menerapkan saptausaha tani bahwa dalam setiap kegiatan bercocok tanam agar diperoleh hasil yang maksimal.

Anjuran Saptausaha tani tersebut meliputi tujuh hal, yaitu sebagai berikut :
  1. penggunaan bibit unggul,
  2. pemupukan yang seimbang,
  3. pengaturan air yang baik,
  4. pemeliharaan tanaman yang teratur,
  5. pengendalian hama dan penyakit terpadu,
  6. pemanenan yang tepat,
  7. penanganan hasil dan pemasaran yang baik.
Pada hakikatnya untuk mencapai hasil yang maksimal diperlukan cara bercocok tanam yang benar dan teratur serta memenuhi persyaratan tepat yang dikehendaki oleh tanaman. Untuk dapat berhasil dalam bercocok tanaman sawi putih, kita dituntut untuk mengetahui dan menggunakan teknik budidaya yang benar.

Pada bagian bercocok tanam ini akan dibahas tentang pemilihan jenis sawi yang ditanam, penentuan waktu tanam, pengolahan tanah, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, tanaman, dan pemanenan.

A. Penelitian Pasar

Kegiatan budidaya sawi putih merupakan kegiatan ekonomi yang bertujuan menghasilkan keuntungan. Untuk mendapatkan keuntungan tersebut sebelum melakukan kegiatan budi daya keta perlu melakukan penelitian pasar, yaitu mengetahui keadaan pasar yang akan menampung produk yang kita hasilkan.

Dalam meneliti keadaan pasar ini, kita mencari keterangan tentang hal-hal berikut.

  1. Jenis atau macam sawi yang laku dijual, dengan harga yang pantas.
  2. Jumlah permintaan sawi putih ini pada umumnya dimakan dalam bentuk sayuran segar dan mempunyai sifat tidak tahan disimpan (mudah layu dan busuk). Dengan mengetahui kebutuhan per hari atau per minggu, kita dapat menentukan beberapa luas penanaman setiap minggu. Penanaman yang sekaligus mengakibatkan persediaan sawi melebihi permintaan sehingga tidak laku dijual.
  3. Waktu harga yang terbaik karena harga sayuran kadang-kandang naik dan kadang-kadang turun. Untuk itu, kita harus mengetahui waktu harga baik sehingga diupayakan bahwa panen dilakukan pada saat harga terbaik.

B. Penyusunan Jadwal Kerja

Setelah kita mengetahui keadaan pasar, langkah selanjutnya adalah menentukan waktu tanam dan jadwal kerja. Sawi putih biasanya dipanen pada umur 55 - 65 hari setelah tanam, dihitung mulai saat penaburan benih. Pemanenan yang terlambat kurang baik karena kropnya mengeras, tidak renyah, kurang manis, dan akhirnya harganya rendah atau tidak laku dipasarkan.

Waktu tanam ditentukan dengan menghitung mundur 55 - 65 hari dari waktu panen. Contoh : apabila sawi putith dipanen pada awal Juli, penanaman dilakukan 55 - 65 hari sebelumnya. Selama 55 - 65 hari kerja, kegiatan budi daya sawi putih disusun dengan urutan pesemaian, pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan tanaman, dan pemanenan. 

Berikut contoh jadwal kegiatan budidaya sawi putih.

No
Kegiatan
Dilaksanakan
Minggu
Hari ke –
1
2
3
4
5
6
7
1. 
Pesemaian
      a.  Pengolahan tanah pesemaian
      b.  Pembuatan      naungan
      c. Penaburan benih
      d.      penyapihan


0
0
1
2


*

*


*



*



*






*

2.
Pengolahan tanah
       a.  membajak atau mencangkul

1
2


*


*

*
*

*
*

*
*

*
*

*
*
3.
Penanaman
3






*
4.
Pemeliharaan tanaman
      a.  pemupukan
      b.  penyiangan
      c.  pemberantasan hama dan penyakit
d.      pengairan

2 **
5

2,4,6,8







5.
Pemanenan dan pascapanen
      a.   pemanenan
      b.  penanganan hasil
     c.    pemasaran

9
9
9







1. Pesemaian

Pesemaian merupakan tempat menumbukan biji menjadi bibit yang siap untuk dimakan di lapangan. Tanaman yang memiliki biji kecil seperti sawi putih perlu disemaikan sebelum ditanam.

Keuntungan dari pesemaian adalah :
  1. Penggunaan benih lebih hemat,
  2. Pemeliharaan tanaman muda lebih mudah diawasi dan dilakukan karena tanaman muda terkumpul pada areal yang sempit,
  3. penghematan waktu karena pesemaian dan penyiapan lahan dapat dilakukan bersamaan, dan
  4. produksi tanaman lebih baik.

Kebersihan kegiatan pesemaian ini ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut.
  1. Mutu benih. Benih yang sehat dan baik akan memiliki daya tubuh yang baik pula. Untuk mencegah serangan hama dan penyakit biasanya benih direndam dalam larutan pestisida.
  2. Air. Benih yang beru tumbuh menjadi tanaman muda memerlukan banyak air. Kekurangan air menyebabkan pertumbuhan terhambat dan bahkan menimbulkan kegagalan pesemaian. 
  3. Media semai. Untuk dapat tumbuh baik diperlukan media semai yang baik, yaitu yang cukup subur, gembur, dan mampu menyimpan air. Media sampai biasanya merupakan campuran tanah, pupuk kandang, kompos, sekam, dan bahan lannya bergantung ketersediaan bahan.
  4. Kedalaman penyemaian. Benih apabila disemai terlebih dahulu, kemungkinan benih akan mati. Sebagai patokan ukuran ke dalam pesemaian adalah ukuran benih.

a. Menyiapkan Bedengan pesemaian

Pesemaian dapat dilakukan pada bedengan pesemaian atau tempat lain. Kita akan membatasi pada bedengan pesemaian. Bedengan untuk pesemaian dipilih tempat yang dekat dengan sumber air, dekat dengan tempat penanaman, tempat yang mudah terjangkau dan teramati. Biasanya, bedengan pesemaian dibuat pada bagian pinggir kebun yang akan ditanami.

Bedengan pesemaian dibuat dengan ketentuan, antara lain :
  1. mengarah ke utara-selatan atau menghadap ke timur agar penyinaran merata,
  2. lebar bedengan lebih kurang 120 cm,
  3. panjang bedengan 5 - 10 meter atau sesuai dengan kondisi lahan,
  4. diberi naungan atau sungkup dari plastik putih. Untuk melindungi bibit tanaman muda dari hujan dan serangan hama (serangga),
  5. kebersihan dari rerumputan atau sampah dan kotoran lainnya.

b. Menyiapkan Sarana Semai

Media semai yang baik adalah yang subur, gembur, tidak mengandung unsur yang merugikan tanaman, dapat menyiapkan air agar tidak mudah kekeringan, ringan, dan mudah didapat dengan harga yang murah. Bahan yang sering digunakan sebagai media semai antara lain adalah tanah, kompos, pupuk kandang, sekam, dan gambut.

Cara membuat media semai adalah sebagai berikut.
  1. Siapkan bahan yang akan digunakan, yaitu tanah dan pupuk kandang. Pilihlah tanah lapisan atas yang subur dan gembur serta pupuk kandang yang telah masak.
  2. Ambillah masing-masing bagian tersebut dengan perbandingan 1 : 1 (1 bagian tanah dan 1 bagian pupuk kandang).
  3. Campurlah kedua bahan tersebut dan ayak dengan ayakan pasir.
  4. Hamparkan media semai pada bedengan yang telah disiapkan setebal lebih kurang 10 cm.

c. Penaburan Benih

Benih sawi putih dapat ditabur dengan menyebarkan benih pada bedengan yang telah disediakan atau menaburkan dalam alur. Menaburkan benih dalam alur menghasilkan bibit yang lebih baik dan memudahkan dalam penyapihan.

Cara menabur benih adalah sebagai berikut.
  1. Buatlah alur sedalam 2-3 cm dengan jarak 5-7 cm pada bedengan semai. Ulangi lagi sampai selesai.
  2. Taburkan benih pada alur yang telah dibuat secara merata. Untuk per tanaman seluas 1 ha diperlukan benih lebih kurang 500 gram.
  3. Tutuplah alur tersebut dengan tanah yang halus.
  4. Siramlah bedengan tersebut dengan menggunakan gembor atau embrat (ceret penyiraman tanaman).

d. Penyapihan Bibit

Sebelum dipindahkan ke kebun, bibit disapih, yaitu dipindahkan ke dalam polybag. Tujuan penyapihan ini adalah untuk menghindari kematian bibit saat dipindahkan ke kebun. Biasanya bibit sawi putih disapih pada umur dua minggu setelah semai atau telah memiliki 3-5 daun.


Cara menyapih bibit adalah sebagai berikut.
  1. Siapkan polybag berupa plastik putih dengan ukuran lebar 5 cm dan panjang lebih kurang 7 cm
  2. potonglah kedua ujung bagian bawah sebagai tempat atau saluran pembuangan air.
  3. Isilah polybag tersebut dengan media semai penuh dan buat lubang tanam di tengahnya dengan menekankan jari telunjuk.
  4. Pindahkan bibit ke dalam polybag, usahakan akar tidak putus dan daun tidak memar.
  5. Tanam dan padatkan tanah di sekitar pangkal batang.
  6. Siramlah polybag yang telah ditami.

e. pemeliharaan Bibit Pesemaian

Untuk dapat tumbuh dengan baik, bibit perlu dipelihara. Kegiatan pemeliharaan bibit, meliputi :
  1. penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari sesuai dengan kebutuhan tanaman,
  2. penyemprotan dengan pestisida apabila terjadi serangan hama dan penyakit,
  3. penyiangan untuk membuang rumput pengganggu,
  4. pengaturan sungkup, yang dibuka dan ditutup sesuai dengan kebutuhan. Jika keadaan panas sungkup dibuka dan sebaliknya.

Baca juga : cara menanam paria


2. Pengolahan Tanah 

Pengolahan tanah bertujuan untuk memperbaiki sifat tanah sehingga sesuai dengan kebutuhan sawi putih. Pengolahan tanah menjadikan tanah menjadi gembur dan bebas gulma. Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan membajak atau mencangkul tanah, kemudian membentuk menjadi bedengan.

Secara garis besar pengolahan tanah sawi putih meliputi penggemburan tanah, pembuatan bedengan dan saluran air, serta pemberian pupuk dasar.

a. Penggemburan Tanah

Penggemburan tanah dilakukan dengan membajak atau mencangkul tanah dengan kedalaman 20-25 cm. Cara menggemburkan tanah adalah sebagai serikut.
  1. Tanah yang akan ditanami sawi putih dibajak atau dicangkul sedalam 20-25 cm. Dalam pembajakan atau pencangkulan usahakan tanah dibalik.
  2. Buanglah sisa tanaman berupa rerumputan atau bebatuan.
  3. Biarkan selama satu minggu supaya lebih kering agar gas beracun dan keasaman tanah berkurang.
  4. Selanjutnya, bongkahan tanah yang telah kering tersebut dihancurkan dengan cangkul atau bajak sehingga butiran tanah menjadi halus.

b. Pembuatan Bedengan dan Saluran Air

Setelah tanah digemburkan, dibuat bedengan. Ukuran bedengan adalah sebagai berikut.
  1. Lebar 1-1,5 m.
  2. Tinggi 20 cm atau 1 kali lebar cangkul.
  3. Jarak antar bedengan 40 cm atau dua kali lebar cangkul. Jarak antar bedengan ini sekaligus berfungsi sebagai saluran air.
  4. Panjang bedengan disesuaikan dengan keadaan tanah. Usahakan panjang bedengan tidak melebihi 10 m.
Cara membuat bedengan adalah sebagai berikut.
  1. Pasanglah ajir pada tanah yang akan dibuat bedengan.
  2. Pasanglah tali pada kedua ujung bagian pinggir bedengan agar bedengan yang dibuat lurus.
  3. Naikkan tanah bagian yang dijadikan saluran air ke kiri atu ke kanan bedengan.
  4. Ratakan permukaan bedengan tersebut.

c. Pemberian pupuk dasar

Tanaman agar tumbuh dan berproduksi dengan baik memerlukan makanan yang cukup. Makanan tersebut berupa unsur hara (zat makanan) yang terdapat dalam tanah. Unsur hara yang terdapat dalam tanah sering tidak mencukupi kebutuhan tanaman sehingga perlu tambahan unsur hara dari pupuk.

Penanaman pupuk dapat dilakukan sebelum penanaman dan sesudah penanaman. Pemberian pupuk sebelum tanam disebut pemupukan dasar. Jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang (kotoran ayam, sapi, kambing, dan kerbau) dan sedikit pupuk buatan.

Pemberian pupuk kandang tersebut selain menambah unsur hara juga membuat tanah lebih gembur dan meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air sehingga tidak cepat kering. Dosis pemupukan dasar tergantung pada kesuburan tanah. Pada tanah yang kurang subur diperlukan tambahan pupuk yang lebih banyak dibandingkan dengan tanah yang subur. Banyaknya pupuk kandang yang diberikan cukup satu genggam per lubang tanam.


d. Pengapuran Tanah

Pembereian kapur pada tanah dapat mengurangi keasaman tanah dan membuat unsur hara (zat makanan) lebih mudah diambil oleh tanaman. Keasaman tanah yang dikehendaki oleh sawi putih mengubah keasaman tanah menjadi 6-7 pH.

Jumlah kapur yang diperlukan bergantung pada keasaman tanah dan jenis kapur yang digunakan. Semakin tinggi keasaman tanah semakin banyak kapur yang dibutuhkan dan sebaliknya. Untuk mengetahui jumlah kapur, pertama dilakukan pengukuran keasaman tanah.

Keasaman tanah diukur dengan pH meter. Alat ini mungkin sulit didapatkan. Untuk itu, petani dapat meminta bantuan petugas penyuluh pertanian (PPL) setempat untuk membantu pengukuran keasaman tanahnya.

Jumlah kapur (dolomit atau kapur pertanian ) yang dibutuhkan untuk mengurangi keasaman tanah per hektare.
  1. Tingkat keasaman tanah = 4,5 - 5,0 jumlah kapur (ton/ha) = 5,5-7,5 ton.
  2. Tingkat keasaman tanah =  5,0 - 5,5 jumlah kapur (ton/ha) = 3,0 - 5,5 ton.
  3. Tingkat keasaman tanah = 5,5 - 6,0 jumlah kapur (ton/ha) = 0,7 - 3,0 ton
Jenis kapur yang dapat digunakan, antara lain :
  1. kapur pertanian,
  2. kapur bakar, yaitu kapur yang dibuat dengan membakar batu kapur, dan
  3. kapur tembok, yaitu kapur bakar yang telah disiram dengan air, biasanya berupa tepung.
Pengapuran sebaiknya dilakukan sekurang-kurangnya dua minggu sebelum tanam dengan cara menebarkan di atas permukaan bedengan. Beberapa petani biasanya melakukan pengapuran bersamaan dengan pemberian pupuk dasar.


3. Penanaman

Setelah bibit siap ditanam, yaitu telah mempunyai 5 - 7 helai daun bedengan telah siap untuk ditanam. Sebelum ditanam, kita melihat kembali apakah lubang tanam yang telah diisi dengan pupuk kandang masih gembur.

Setiap lubang tanam diisi dengan satu bibit yang baik, yaitu bibit yang mempunyai tanda-tanda sebagai berikut :

  1. bibit tampak segar dan tidak layu,
  2. tidak terserang hama dan penyakit,
  3. tanaman tampak kuat dan buku antara daun agak pendek.
Cara menanam sawi putih adalah sebagai berikut.
  1. bersihkan lubang tanam.
  2. buka polybag bibit sawit dan tanam pada lubang yang telah disediakan.
  3. padatkan tanah di sekitar pangkal batang.
  4. siram bibit yang sudah ditanam.



4. Pemeliharaan Tanaman

Setelah sawi putih ditanam, kegiatan bercocok tanam selanjutnya adalah pemeliharaan tanaman sampai siap panen. Kegiatan memelihara tanaman ini, meliputi pemupukan, pengairan, penyiangan, penggemburan tanah, pengendalian hama dan penyakit serta pembuangan bakal bunga, dan anak umbi.

a. Pemupukan

Pemupukan dilakukan untuk menyediakan unsur hara yang cukup bagi pertumbuhan tanaman. Apabila hanya mengandalkan unsur hara yang tersedia dalam tanah, kadang-kadang tidak mencukupi kebutuhan tanaman. Akibatnya, pertumbuhan dan produksi kurang baik.

Sawi putih untuk memproduksi baik memerlukan 13 jenis unsur hara dari dalam tanah. Beberapa jenis unsur hara tersebut tersedia cukup dalam tanah dan unsur ditambahkan melalui pupuk. Unsur hara yang sering ditambahkan adalah unsur hara nitrogen, posfat, dan kalium.

Bagi sawi putih yang dipananen adalah krop atau daun. Oleh sebab itu, permukaan bertujuan sawi putih membentuk krop yang besar dan padat. Putuk yang diperlukan untuk membentuk daun adalah pupuk nitrogen.

Jenis pupuk yang diberikan adalah campuran pupuk urea dan pupuk TSP dengan perbandingan 2 : 1 (dua bagian urea dan satu bagian TSP). Jumlah pupuk yang diberikan adalah kurang lebih 9 gram atau 2 sendok makan per tanaman. Pupuk diberikan dengan cara dibenamkan dalam lubang tanam yang dibuat di sekitar pangkal batang.

b. Penggunaan Pupuk Cair

Beberapa petani sawi putih menggunakan pupuk cair untuk meningkatkan produksi. Pemberian pupuk cair membantu sawi putih untuk .
  1. mempercepat pertumbuhan tanaman,
  2. mengingkatkan produksi per luas tanah, dan
  3. menjadikan tanaman lebih subur dan daun lebih hijau, lebih sehat, dan lebih lebar.
Pupuk cair diberikan dengan menyemprotkan atau menyiramkan larutan pupuk pada pangkal batang. Pupuk cair yang disemprotkan biasanya dilakukan bersamaan dengan pengendalian hama dan penyakit. Sebelum pupuk cair tersebut digunakan terlebih dahulu dilarutkan dalam air sesuai dengan dosis yang dianjurkan, yaitu yang tertera pada lebel atau kantong pupuk.


c. Pengairan

 Pada masa pertumbuhan daun, sawi putih memerlukan air yang cukup. Air tersebut berasal dari air hujan atau air pengairan. Apabila tidak ada hujan, bedengan sawi putih diairi. Untuk mengairi sawi putih dapat dilakukan dengan menggenangi saluran air di antara bedengan atau menyiram bedengan.

Pemberian air pada sawi putih harus sesuai dengan umur tanaman dan keadaan tanah. Pada tanaman muda memerlukan banyak air, sedangkan pada tanaman yang tua membutuhkan sedikit air.


d.  Penyiangan

Adanya gulma di antara tanaman sawi putih akan menjadi pesaing bagi sawi putih dalam mengambil unsur hara dan air. Selain itu, gulma mengakibatkan bedengan padat sehingga menghambat pembentukan umbi. Penyiangan dilakukan 2 -3 kali, tergantung pada pertumbuhan gulma. Penyiangan biasanya dilakukan bersamaan dengan pemupukan, sambil menyiang dilakukan penggemburan tanah.


e. Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama dan penyakit merupakan hal yang menghambat peningkatan produksi sawi putih. Akibat serangan hama dan penyakit ini dapat mengurangi hasil sampai 60%. Pengendalian hama dan penyakit ini dianjurkan secara terpadu, yaitu menggunakan berbagai cara pengendalian dengan menjaga keseimbangan lingkungan serta mencegah terjadinya kerusakan lingkungan. Pengendalian hama dan penyakit bertujuan mencegah kerusakan, bukanya menyembuhkan tanaman yang terserang.

Cara pengendalian hama dan penyakit dibedakan menjadi berikut.
  1. Pengendalian teknik bercocok tanam, yaitu menggunakan teknik bercocok tanam yang baik. Cara bercocok tanam yang baik, seperti menggunakan bibit yang unggul, membuang bagian tanaman yang terserang, membersihkan lingkungan tanaman yang menjadi sarang hama dan penyakit, memberikan pupuk dalam jumlah dan waktu yang tepat, dan menanam secara bergiliran.
  2. Cara fisik mekanis, yaitu melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit, memberikan sungkup, memberikan mulsa, dan memasang perangkap merupakan cara pengendalian fisik.
  3. Cara biologis, yaitu menggunakan musuh alam dari hama dan penyakit.
  4. Cara kimia, yaitu menggunakan bahan kimia berupa pestisida untuk mengendalikan hama dan penyakit.
Keempat cara pengendalian hama dan penyakit di atas masing-masing memiliki kelemahan dan keunggulan. Dalam prakteknya dianjurkan untuk menggabungkan cara-cara tersebut dan menghindarkan adanya kerusakan lingkungan, seperti pencemaran pestisida. Dengan demikian, pengendalian kimia harus menjadi pilihan terakhir apabila cara lainnya tidak berhasil.

Apabila menggunakan pengendalian kima harus :
  1. menggunakan pestisida yang diizinkan dan tidak mencemari lingkungan,
  2. menggunakan pestisida dengan dosis yang dianjurkan, sesuai dengan jenis hama dan penyakit yang menyerang,
  3. menggunakan pestisida yang mudah terurai serta tidak berbahaya bagi jenis makhluk hidup lainnya,
  4. menghindarkan penggunaan pestisida sejenis dalam waktu yang lama karena akan membuat hama dan penyakit kebal. Bentuk pestisida yang dijual dapat berupa butiran, tepung yang larut dalan air dan cairan yang larut dalam air. Pestisida dalam bentuk butiran diberikan dengan menaburkan pada tempat tertentu, sedangkan pestisida dalam bentuk tepung dan cairan yang larut dalam air disemprotkan pada tanaman.
Dalam melakukan penyemprotan pestisida, hendaklah menjaga keselamatan kerja, yaitu
  1. menggunakan pelindung berupa penutup hidung dan mantel pada saat menyemprot tanaman,
  2. membuat larutan semprot sesuai dosis yang dianjurkan,
  3. jangan makan dan minum atau merokok selagi menyemprot tanaman,
  4. jangan menyemprot tanaman dengan arah yang berlawanan dengan arah angin,
  5. jangan membuang pestisida atau kelebihan larutan pestisida dalam saluran air.
Beberapa hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman sawi putih antara lain sebagai berikut.

1. Hama Ulat Tanah

Disebut ulat tanah karena selalu sembunyi di dalam tanah. Ulat ini menyerang sawi putih muda dengan cara memotong pangkal batang dan menyeretkan ke dalam tanah. Serangan biasanya terjadi pada malam hari dan pada siang hari ulat bersembunyi. Ulat ini berwarna hitam dengan panjang 2 - 4 cm dan tidak tahan sengatan matahari.

Serangan hama ini dapat dikendalikan dengan menjaga kebersihan kebun dan menyemprotkan pestisida. Apabila menyemprot pestisida hendaklah disemprot di bagian pangkal batang. Pestisida yang dapat digunakan, seperti Matador, Basudin, Dursban, Thiodan, Sumithion, dan Meotrine.


2. Hama Ulat Plutella Xylostella

Ulat ini menyerang daun-daun masih muda pada semua umur tanaman. Daun yang terserang akan berlubang-lubang. Dalam keadaan hujan rintik-rintik, daya serang ulat ini menghebat dan pada keadaan hujan lebat serangan menurun. Selain menyerang sawi putih, hama ini juga menyerang keluarga kubis lainnya. Pengendalian hama ini sulit apabila ulatnya sudah masuk ke dalam krop. Pengendalian secara kimia dengan menyemprotkan pestisida seperti Bayrusil 25 EC dan Dipterix 85 SP.


3. Penyakit Busuk Basah

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri. Serangan umumnya terjadi pada saat penyapihan, Penanaman, dan pada saat penyimpanan. Serangan ditandai dengan melunaknya bagian yang terserang, membusuk dan berair serta menimbulkan bau busuk. Untuk mengatasi penyakit ini diusahakan penanganan yang baik.


4. Penyakit Busuk Akar

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan yang menyerang mulai saat pesemaian. Tanaman yang terserang tampak layu dan apabila dicabut akar tanaman kelihatan membusuk. Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan menyemprotkan fungisida, seperti Dithane M-45, Volimek, Antracol, dan Daconil dengan dosis sesuai anjuran yang tertera pada setiap bungkusan.

Pemanenan dan Pascapanen

1. Pemanenan

Pemanenan sawi putih dipergunakan oleh jenis sawi putih yang ditanam dan keadaan lingkungan. Biasanya sawi putih dapat dipanen pada umur 55 - 65 hari setelah tanam. Tanda-tanda sawi putih yang telah siap panen apabila kropnya telah memadat dan besar. Pemanenan yang terlambat kurang menguntungkan karena daun atau kropnya akan menjadi tua. Daun yang tua tidak renyah, tidak manis, dan tampak kurang segar, sedangkan pemanenan yang terlalu awal, ukuran kropnya belum sempurna. Pemanenan dilakukan dengan memotong bagian pangkal batang. Setelah dipotong daun-daun yang tua dibuang.

2. Pascapanen

Sawi putih dikomsumsi dalam keadaan segar dan biasanya tidak tahan disimpan lama. Sawi putih merupakan jenis sayur yang banyak mengandung air. Apabila penguapan air dari daun cukup banyak menyebabkan daun atau krop layu yang akhirnya tidak laku di pasaran.

Untuk menghambat kelayuan, dilakukan dengan menghindarkan tumpukan hasil panen dari sinar matahari dan menyiram tumpukan sayur dengan air. Kegiatan pascapanen pada sawi putih bertujuan :
  1. mempertahankan mutu sawi putih, yaitu tetap segar seperti waktu dipanen,
  2. membuat sawi putih menjadi lebih menarik,
  3. mencegah kerusakan, dan
  4. menignkatkan serta menjamin mutu sawi putih.

Kegiatan pascapanan meliputi pembersihan dan pemilihan pohon sawi putih, Pembersihan dilakukan setelah sawi putih dipanen. Saat pembersihan, bagian bagian yang tidak berguna dibuang. Setelah dibersihkan dikelompokan sesuai dengan mutunya. 


Sumber : Johanes Sugandi



No comments for "Cara Budidaya Sawi Putih"